Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Sebuah sedan hitam memasuki area parkir khusus Dhanubrata Group. Mobil berhenti tepat di depan lobi utama gedung pencakar langit yang menjulang megah.
Pintu belakang terbuka. Han Seokjin turun dengan langkah tenang. Jas hitam yang dikenakannya tampak rapi tanpa sedikit pun kerutan. Wajah tampannya tetap datar, sementara sorot matanya yang tajam langsung menyapu suasana lobi.
"Selamat pagi, Tuan Han." Puluhan karyawan yang berpapasan spontan menundukkan kepala. Seokjin hanya membalas dengan anggukan tipis.
Di sampingnya, Asisten Kim berjalan sambil membawa tablet. "Seluruh direksi sudah menunggu di ruang rapat, Tuan."
Seokjin tidak menjawab. Ia justru mempercepat langkah ke arah lift yang akan membawanya menuju ruang rapat utama.
Jam digital di dinding menunjukkan pukul delapan tepat. Asisten Kim mendorong pintu ruang rapat. Seluruh direksi yang tengah duduk di kursi masing-masing langsung berdiri.
"Selamat pagi, Tuan Han."
"Pagi."
Ruangan kembali hening. Asisten Kim meletakkan map di atas meja.
"Saya tidak suka mengulang pekerjaan yang seharusnya sudah selesai," ucap Seokjin tegas. Tatapannya menyapu seluruh direksi yang hadir. "Mulai hari ini, kita bekerja dengan ritme baru."
Persentasi dimulai. Satu demi satu laporan dipaparkan. Namun, baru lima belas menit berjalan, Seokjin menghentikan presentasi.
"Proyek Distrik Timur."
Direktur proyek langsung berdiri. "Masih mengalami keterlambatan, Tuan."
"Berapa lama?"
"Tiga bulan."
"Mengapa?"
"Kami menunggu persetujuan direksi karena saat itu Nona Naraya mengajukan cuti."
Seokjin menatapnya beberapa detik. "Mulai hari ini saya yang akan memberikan persetujuan. Saya ingin jadwal baru sore ini juga."
"Baik, Tuan."
Presentasi kembali dilanjutkan hingga rapat itu akhirnya berakhir setelah dua jam berlalu. Dalam rapat itu, beberapa proyek dihentikan, tiga vendor diganti, dua manager menerima surat evaluasi, dan seluruh direktur pulang membawa target baru.
Ketika rapat selesai, hampir semua orang menghembuskan napas lega. Namun, saat seluruh peserta mulai membereskan berkas masing-masing. Seokjin kembali angkat bicara.
"Direktur proyek."
"Ya, Tuan."
"Besok pagi saya akan meninjau langsung proyek perluasan kawasan bisnis di Distrik Timur."
Beberapa orang yang hendak berdiri kembali duduk.
"Masalah pembebasan lahannya sudah terlalu lama berlarut-larut. Saya ingin melihat sendiri penyebabnya."
Direktur proyek segera mengangguk. "Baik, Tuan. Kami akan menyiapkan seluruh dokumen dan menghubungi tim lapangan."
"Pastikan seluruh pihak yang terlibat hadir. Saya tidak ingin ada informasi yang disembunyikan."
"Baik, Tuan."
Seokjin menutup map di hadapannya, lalu berdiri. "Rapat selesai." Ia lalu melangkah keluar ruangan dengan langkah tenang, diikuti Asisten Kim.
Barulah setelah pintu tertutup rapat beberapa direktur saling berpandangan.
"Tidak berubah sama sekali ...," gumam salah seorang direktur setelah Seokjin keluar.
"Justru lebih tegas dibanding sebelumnya."
"Semoga kita semua sanggup bekerja di bawah kepemimpinannya."
Mereka saling menatap sebelum kembali ke ruang kerja masing-masing.
*****
Sekitar pukul sebelas siang, saat antrean pelanggan mulai berkurang, bel kecil di atas pintu berdenting pelan.
Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun melangkah masuk. Kemeja putih yang dikenakannya sedikit kusut, dasinya sudah dilonggarkan, sementara kartu Identitas perusahaan masih tergantung di lehernya. Wajahnya tampak lelah, seolah sejak pagi belum sempat beristirahat.
Begitu pintu terbuka, aroma mentega yang baru keluar dari oven langsung menyambutnya. Pria itu berhenti sejenak. Matanya menyapu seluruh isi toko.
Etalase kaca dipenuhi aneka pastry berwarna keemasan, potongan cake yang dihias cantik, dan dessert dalam gelas-gelas bening. Beberapa pelanggan duduk santai di dekat jendela, menikmati kopi hangat sambil bercakap pelan.
Suasana yang hangat itu membuat bahunya yang semula tegang perlahan mengendur.
"Selamat siang, Pak." Senyum ramah Rani menyambutnya. "Ada yang bisa saya bantu?"
Pria itu membalas dengan senyum tipis. "Saya mendapat rekomendasi dari beberapa teman. Katanya kalau ingin membeli cake yang rasanya benar-benar enak, datang saja ke Sweet Cake."
Ucapan itu membuat Viola yang sedang membawa loyang dari dapur menoleh. Ia lalu menghampiri dengan celemek yang masih dipenuhi sedikit tepung. "Selamat siang. Saya Viola."
Pria itu mengangguk sopan. "Perusahaan kami akan mengadakan penyambutan untuk pemimpin baru besok pagi. Saya ditugaskan mencari snack dan dessert. Jujur ... saya sudah mendatangi beberapa toko, tapi rasanya belum ada yang benar-benar cocok."
Viola tersenyum kecil. "Kalau begitu, izinkan saya membantu."
Alih-alih langsung menawarkan menu, Viola mengambil sebuah piring kecil. Ia memotong sepotong strawberry shortcake, menambahkan tiramisu, lalu meletakkan sepotong butter croissant yang masih hangat. "Silakan cicipi dulu."
Pria itu tampak ragu. "Gratis?"
Viola mengangguk. "Kalau pelanggan belum percaya pada rasa kue saya, bagaimana mungkin mereka memesan dalam jumlah banyak?"
Kalimat itu membuat pria itu tersenyum. Ia mengambil sepotong croissant. Begitu digigit ... lapisan pastry yang renyah langsung pecah di mulut, diikuti aroma mentega yang lembut.
Matanya membulat. "Luar biasa ...," ia melanjutkan mencicipi strawberry shortcake. Krimnya ringan. Manisnya pas, potongan stroberinya segar. Tanpa sadar, ia mengangguk beberapa kali. "Saya bisa mengerti sekarang kenapa teman-teman saya sampai memaksa saya datang ke sini."
Viola hanya tersenyum. Tidak ada sedikit pun rasa bangga yang berlebihan di wajahnya. Baginya, melihat pelanggan menikmati hasil buatannya sudah lebih dari cukup.
"Saya pesan sesuai rekomendasi anda saja."
Saat Rani mencatat pesanan, pria itu mengeluarkan kartu namanya.
"Besok pagi harus sudah sampai sebelum pukul delapan."
Viola menerima kartu itu. Tatapannya hanya sekilas membaca nama perusahaan tersebut sebelum menyimpannya. Ia sama sekali tidak tahu ...
Pesanan sederhana itu akan menjadi benang pertama yang diam-diam mulai menghubungkan hidupnya dengan seseorang yang belum pernah ia bayangkan akan hadir kembali.
****bersambung.
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
ngarep boleh ya Thor