Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.
Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Tebal Dan Bukti Baru Lainnya
Siang hari. Rumah sunyi.
Alana menidurkan Cia di box bayi. Setelah Cia benar-benar tidur, Alana langsung duduk di depan laptop.
Tangannya gemetar.
Dia mulai mengumpulkan bukti perselingkuhan Johan dan Safa.
Lewat akun kedua di sosmed, Alana mencari. Dan benar.
Mereka punya satu akun khusus. Isinya foto berdua. Foto mesra.
Di salah satu foto, mereka ada di kamar hotel. Pelukan. Tertawa.
“Astaga...”
Alana menutup mulutnya. Napasnya tercekat. Jantungnya berdetak kencang.
“Tuhan... apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau gegabah.”
Dia tarik napas panjang. Mencoba tenang.
Lalu satu persatu foto itu dia simpan ke laptopnya. Dia buat folder baru. Namanya “Bukti”.
Selesai menyimpan, Alana buka grup chat komunitas ibu-ibu.
Dia ingat ada satu nama: Fitri. Dulu Fitri pernah cerita suaminya selingkuh.
Alana scroll ke atas. Baca satu-satu.
Sampai matanya berhenti di satu komentar Fitri:
“Kalau mau cari bukti, cek handphone. Biasanya disembunyikan di bagasi mobil atau laci kantor. Kalau tidak ada, cek aplikasi yang bentuknya seperti kalkulator. Atau cek akun belanja online, sosmed, dan akun ojek online.”
Alana terdiam.
Jari-jarinya mengetuk meja pelan. Pelan sekali.
“Oke... aku ngerti sekarang.”
Bisiknya.
“Aku nggak harus ribet cek sana-sini. Aku cukup mulai dari langkah kecil.
Sore hari.
Alana sudah rapi. Dia dandan manis dan terlihat cantik.
Cia anteng main di playmatt. Di meja makan, makanan sudah tersaji.
Kretek.
Pintu terbuka, Johan pulang.
Dada Alana berdegup kencang.
“Tenang Alana” batinnya.
Dia berdiri, menyambut suaminya dengan senyum.
“Sayang, udah pulang. Capek banget ya?”
Alana meraih tas dan jas Johan, lalu menggantungkannya.
“Lumayan. Hari ini aku meeting di luar dari pagi, sayang,” jawab Johan sambil melepas jam tangannya.
“Yaudah kamu temenin Cia dulu gih. Aku ambilin minum buat kamu,” kata Alana.
Johan duduk di sofa dekat Cia. Matanya memperhatikan Alana.
Hari ini istrinya terlihat segar, cantik, dan manis. Senyum Johan mengembang.
Saat Alana menyodorkan segelas air putih dingin, tatapan Johan tidak lepas dari wajahnya.
“Kamu cantik banget hari ini, sayang.”
“Kamu juga ganteng banget hari ini,” balas Alana sambil tersenyum manis.
Johan terlihat salah tingkah kemudian meneguk airnya sampai habis.
“Ah... makasih ya sayang. Capek aku hilang kalau lihat kamu secantik ini.”
Lalu Johan menoleh ke Cia.
“Cia, papa mandi dulu ya. Nanti kita makan bareng bertiga.”
*Skip*
Malam tiba.
Waktunya makan malam. Tapi Cia malah mengantuk.
Johan menggendong Cia pelan-pelan, lalu menidurkannya di kamar.
Johan kembali ke meja makan.
“Yah. Jadinya makan berdua deh. Padahal si bocil lagi lucu-lucunya, sayang.”
“Nggak apa-apa. Cia capek habis main seharian,” kata Alana.
“Sini piringnya, sayang.”
Alana menyendok nasi untuk Johan. Gerakannya tenang. Senyumnya masih sama.
Di dalam hatinya, Alana memakai topeng yang sangat tebal.
Dia menahan sakit. Menahan marah karena tahu perselingkuhan Johan.
Tapi di depan Johan, dia tetap istri yang baik. Tetap melayani seperti biasa.
Selesai makan malam.
Tiba-tiba handphone Alana bergetar. Sekali. Ada chat masuk.
Alana buka.
Dan dadanya langsung sesak. Hampir meledak.
Isinya dari Papa.
"Alana, maafin papa ya sebelumnya. Papa curiga sama Johan. Dia main judi nggak? Ada beberapa bukti transfer masuk ke rekening pribadinya. Dari klien-klien papa."
Di bawah chat itu ada beberapa foto. Bukti transfer. Nama penerima: Johan Pratama.
Mata Alana langsung memerah.
"Dia udah selingkuh. Sekarang nyuri uang kantor Papa juga? Nggak bisa dibiarin ini."
pikir Alana.
Dengan tangan gemetar, Alana membalas.
"Pa, makasih infonya. Papa nggak usah minta maaf. Nanti Alana bantu sebisanya ya pa. Oh ya, kalau Papa nggak sibuk, Alana mau main ke rumah ya. Nanti Alana kabarin lagi pa."
Kirim.
Alana meletakkan handphonenya di nakas samping tempat tidur.
Dia menarik napas. Mencoba tenang.
Dari arah sofa, Johan masih main handphone. Sambil senyum-senyum sendiri.
Begitu lihat Alana mau berbaring, buru-buru dia taruh hp nya.
Lalu ikut berbaring di samping Alana.
Pura-pura nggak terjadi apa-apa.
Alana memejamkan mata.
Di kepalanya sekarang ada dua bukti.
Bukti selingkuh. Dan bukti pencurian.
---