"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Rahasia yang Mulai Tercium
Pagi itu, mentari bersinar cerah menembus kaca jendela kamar tidur apartemen, kontras dengan mendungnya suasana hati Viona. Setelah malam panjang yang melelahkan dan penuh dengan air mata tersembunyi, Arkan kembali pergi sebelum fajar menyingsing. Pria itu selalu seperti itu—datang membawa badai gairah yang menuntut, lalu pergi tanpa meninggalkan jejak kehangatan, seolah-olah hubungan mereka hanyalah transaksi bisnis murni.
Viona menghela napas panjang, menatap tubuhnya di cermin yang kini berbalut gaun kasual sederhana bermotif bunga kecil. Hari ini adalah hari Sabtu, hari libur kantornya. Sesuai kesepakatan dalam kontrak, Viona diizinkan mengunjungi ibunya di rumah sakit, asalkan dia tetap berada di bawah pengawasan supir pribadi Arkan, Pak Doni.
"Selamat pagi, Nona Viona. Apakah kita langsung menuju Rumah Sakit Medika Utama?" tanya Pak Doni dengan sopan saat Viona masuk ke dalam mobil.
"Pagi, Pak Doni. Iya, langsung ke sana saja," jawab Viona dengan senyuman tipis yang dipaksakan.
Sepanjang perjalanan, Viona mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Dia tidak ingin ibunya melihat wajahnya yang pucat atau kantung matanya yang menghitam karena kurang tidur. Ibunya tidak boleh tahu dari mana uang ratusan juta untuk biaya rumah sakit mewah itu berasal. Biarlah rahasia kelam ini dia pikul sendirian di dalam sangkar emas milik Arkan.
Begitu tiba di Rumah Sakit Medika Utama, Viona langsung menuju ke lantai VVIP. Koridor lantai itu sangat sunyi, bersih, dan dijaga oleh beberapa petugas keamanan yang tampak berwibawa. Langkah Viona terhenti di depan pintu kamar bernomor 301. Melalui kaca kecil di pintu, dia melihat ibunya, Sarah (52 tahun), sedang duduk bersandar di ranjang rumah sakit yang nyaman sambil membaca majalah. Wajah ibunya tidak sepucat beberapa hari lalu; rona kehidupan perlahan mulai kembali ke pipinya.
Viona menarik napas dalam-dalam, menghapus sisa-sisa kesedihan di wajahnya, lalu membuka pintu dengan senyuman ceria.
"Ibu..." sapa Viona lembut.
Sarah mendongak, dan matanya seketika berbinar bahagia melihat kedatangan putri tunggalnya. "Viona! Anakku, kamu akhirnya datang."
Viona langsung menghambur ke pelukan ibunya, menghirup aroma minyak telon yang familier yang selalu menenangkannya sejak kecil. Di pelukan ibunya, Viona merasa seolah-olah dia kembali menjadi gadis polos yang bersih, bukan wanita simpanan seorang CEO.
"Ibu bagaimana keadaannya hari ini? Ada yang sakit?" tanya Viona sambil duduk di kursi samping ranjang, menggenggam tangan ibunya yang kurus.
"Ibu sudah jauh lebih baik, Viona. Dokter bilang perkembangan Ibu sangat bagus setelah operasi kemarin. Tapi..." Sarah menjeda kalimatnya, menatap sekeliling kamar VVIP yang luas dan mewah tersebut dengan tatapan bingung sekaligus cemas. "Viona, sebenarnya dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini? Kamar ini sangat mahal, obat-obatannya juga. Kamu bilang ada kerabat jauh yang meminjamkan uang, tapi siapa? Kita tidak punya kerabat sekaya ini, Nak."
Pertanyaan ibunya membuat jantung Viona berdegup kencang karena panik. Dia sudah menduga pertanyaan ini akan muncul, namun tetap saja lidahnya terasa kelu.
"Ibu tidak perlu cemas," Viona meremas lembut tangan ibunya, mencoba meyakinkan wanita paruh baya itu. "Dia adalah teman lama Ayah yang dulu pernah dibantu oleh Ayah saat merintis bisnisnya. Sekarang dia sudah menjadi pengusaha sukses di luar kota. Begitu mendengar Ayah sudah tiada dan Ibu sedang sakit, dia langsung melunasi semua utang Ayah dan membiayai semua ini sebagai bentuk balas budi. Dia orang yang sangat baik, Bu."
Maafkan aku, Ibu. Aku harus berbohong lagi,jerit Viona dalam hati yang menangis darah. Arkan bukanlah pria baik; dia adalah iblis berwajah tampan yang mengikat anaknya dengan kontrak gairah.
Sarah menatap mata putrinya dalam-dalam. Meskipun ada sedikit keraguan, dia akhirnya mengembuskan napas lega. "Syukurlah kalau begitu... Ayahmu memang orang baik semasa hidupnya. Sampaikan rasa terima kasih Ibu yang sebesar-besarnya pada teman Ayahmu itu ya, Nak."
"Iya, Ibu. Pasti Viona sampaikan," jawab Viona, mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menyuapi ibunya potongan buah apel yang sudah disediakan pihak rumah sakit.
Dua jam berlalu dengan penuh kehangatan. Viona menceritakan hal-hal ringan tentang pekerjaannya di kantor tanpa sedikit pun menyinggung nama Arkan Mahendra. Namun, kebahagiaan singkat itu mendadak sirna ketika pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka tanpa ketukan terlebih dahulu.
Cklek.
Sesosok wanita anggun berpakaian modis rancangan desainer terkenal melangkah masuk ke dalam ruangan dengan dagu terangkat tinggi. Dia mengenakan kacamata hitam besar yang kemudian dia turunkan ke hidungnya, memperlihatkan sepasang mata yang memancarkan keangkuhan mutlak.
Itu Clarissa. Tunangan resmi Arkan.
Viona seketika mematung di kursinya. Potongan apel di tangannya hampir saja terjatuh. Seluruh persendian tubuhnya mendadak terasa lemas, dan rasa takut yang luar biasa kembali mencengkeram dadanya. Bagaimana bisa Clarissa ada di sini? Apakah dia sudah tahu rahasia ini?
Clarissa melangkah mendekat dengan langkah sepatu hak tingginya yang mengetuk lantai dengan nyaring. Dia menatap sekeliling kamar VVIP itu dengan pandangan meremehkan, sebelum akhirnya tatapan matanya tertuju langsung pada Viona yang sedang duduk kaku.
"Oh, jadi benar kamu ada di sini," ucap Clarissa dengan suara melengking tingginya yang sarat akan nada sinis.
Sarah yang tidak tahu apa-apa tampak bingung melihat kedatangan wanita asing yang berpenampilan sangat mewah tersebut. "Maaf, Anda siapa ya?" tanya Sarah dengan sopan.
Clarissa tersenyum sinis, mengabaikan pertanyaan Sarah dan tetap menatap tajam ke arah Viona. "Viona, bukan? Staf administrasi dari divisi manufaktur Mahendra Group?"
Viona menelan ludahnya dengan susah payah. Dia terpaksa berdiri dari kursinya, mencoba menyembunyikan getaran hebat di kedua tangannya di balik punggungnya. "I-Iya, Nona. Saya Viona. Ada keperluan apa Anda kemari?"
Clarissa berjalan mendekati ranjang Sarah, membuat Viona refleks bergeser untuk melindungi ibunya. Clarissa melipat tangan di dada, lalu menatap Sarah sekilas sebelum kembali menatap Viona dengan pandangan menuduh.
"Aku kemari karena merasa penasaran. Tunanganku, Arkan Mahendra, kemarin tiba-tiba meminta sekretaris pribadinya untuk menandatangani jaminan pembayaran penuh dan fasilitas VVIP untuk pasien bernama Sarah di rumah sakit ini," ujar Clarissa dengan nada yang menuntut penjelasan. Matanya menyipit penuh kecurigaan. "Arkan tidak pernah peduli pada karyawan kelas bawah seperti kalian. Jadi, katakan padaku, Viona... Hubungan apa yang kamu miliki dengan tunanganku sampai dia rela mengeluarkan uang ratusan juta untuk ibumu?"
DEG!
Pertanyaan Clarissa laksana hantaman gada besar yang menghancurkan seluruh pertahanan Viona dalam seketika. Di atas ranjang rumah sakit, wajah Sarah seketika berubah pucat mendengar kata 'tunangan' dan fakta bahwa yang membiayai pengobatannya bukanlah teman lama suaminya, melainkan seorang CEO kaya raya yang sudah memiliki pasangan resmi.
"Viona... Apa maksud wanita ini? Siapa Arkan?" suara Sarah terdengar bergetar hebat, menatap putrinya dengan tatapan penuh tuntutan dan rasa kecewa yang mulai membayang.
Viona berdiri terpaku di tengah ruangan, terjebak di antara tatapan penuh kecurigaan dari Clarissa dan tatapan penuh tanya dari ibunya yang sedang sakit sakral. Rahasia kelam yang dia sembunyikan dengan rapi kini berada di ambang kehancuran total.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.