"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Tuan Arogan
Yogyakarta selalu dikenal dengan atmosfernya yang tenang, romantis, dan penuh kedamaian yang berbanding terbalik dengan hiruk-pikuk Jakarta yang berdarah. Di salah satu sudut kawasan Jogja, berdiri sebuah bangunan berarsitektur kolonial belanda kuno yang telah disulap menjadi galeri mode super elegan: Butik LiLYRa – Jogja Branch. Ini adalah cabang yang sedang dikembangkan oleh Kayna Ramida.
Sore itu, rintik hujan membasahi pelataran galeri. Kayna sedang berdiri di depan manekin, menyisir lipatan kain tenun eksklusif dengan jemarinya yang lentik. Wajah cantiknya tampak sedikit lelah, namun sepasang matanya tetap memancarkan keteguhan yang mutlak.
Tring.
Suara lonceng kuningan di atas pintu utama galeri berdenting pelan, menandakan kedatangan seorang pengunjung. Kayna tidak langsung berbalik, ia mengira itu hanya pelanggan biasa yang ingin melihat-lihat koleksi gaun malamnya.
"Selamat datang di Butik LiLYRa, silakan melihat-lihat—" Kalimat Kayna mendadak terhenti di tenggorokan saat ia membalikkan tubuhnya.
Detik itu juga, pasokan oksigen di sekitar Kayna seolah lenyap tanpa sisa. Seluruh bulu kuduknya meremang hebat saat atmosfer di dalam galeri yang hangat mendadak berubah menjadi sedingin es.
Di ambang pintu, seorang pria bertubuh jangkung berdiri dengan keanggunan tirani yang sangat ia kenali. Damara Lexander Veldens. Pria itu mengenakan setelan mantel panjang berwarna hitam legam yang masih basah oleh sisa air hujan, membungkus sempurna tubuh tegap atletisnya. Rambut gelapnya yang sedikit berantakan karena angin senja justru menambah kesan tampan yang liar dan berbahaya. Sepasang mata elang berwarna abu-abu gelap kebiruan milik Mara langsung mengunci pandangan Kayna, memancarkan binar obsesi kelam yang begitu pekat dan menuntut kepatuhan mutlak.
Tanpa pengawal, tanpa kebisingan, Mara melangkah masuk ke dalam galeri. Setiap ketukan sepatu pantofel mahalnya di atas lantai tegel kuno terdengar seperti hitungan mundur menuju hari kiamat bagi Kayna.
"Galeri yang cukup indah untuk ukuran kota yang membosankan ini, Kayna," suara bariton Mara menggema rendah, berat, dan sarat akan arogansi yang murni. Pria itu berjalan santai, membiarkan jemari kokohnya menyentuh kasar deretan gaun sutra yang tergantung di rak pajangan, seolah sedang memeriksa barang jajahannya sendiri.
Kayna mengepalkan tinjunya kuat-kuat di balik saku roknya, "Bagaimana bisa Anda ada di sini, Pak Mara? Apa yang Anda lakukan di Yogyakarta?"
Mara menghentikan langkahnya tepat beberapa jengkal di depan selembar gaun satin hijau zamrud yang mirip dengan yang dikenakan Kayna saat makan malam pertama mereka. Pria itu membalikkan tubuh, menyandarkan pinggulnya pada meja pajangan kayu jati, lalu menatap Kayna dengan senyuman sinis yang sangat tipis di sudut bibirnya.
"Mengapa kamu terkejut, kelinci kecilku?" desis Mara, nadanya begitu tenang namun penuh intimidasi yang pekat. "Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa jarak antara Jakarta dan Jogja cukup jauh untuk menyembunyikanmu dariku? Sudah pernah kukatakan, bukan? Di bawah langit negara ini, tidak ada satu jengkal tanah pun yang berada di luar jangkauanku. Ke mana pun kamu berlari, aku akan selalu menemukanmu."
"Kau benar-benar gila!" ketus Kayna, matanya berkilat penuh amarah, menolak untuk menunjukkan kelemahannya di depan sang predator. "Keluar dari galeriku sekarang juga! Kehadiranmu tidak disambut di sini!"
Mendengar usiran kasar dari Kayna, Mara justru terkekeh rendah—sebuah tawa maskulin yang terdengar sangat mengerikan di telinga Kayna. Pria itu menegakkan tubuhnya, melangkah maju perlahan hingga memperpendek jarak di antara mereka. Bau parfum sandalwood milik Mara yang dominan langsung menguasai indra penciuman Kayna, mengintimidasi akal sehatnya.
Kayna mencoba melangkah mundur, namun punggungnya mendadak membentur dinding beton galeri yang dingin. Dalam hitungan detik, Mara sudah berada di hadapannya. Kedua tangan kekar Mara menumpu pada dinding di sisi kiri dan kanan kepala Kayna, mengurung tubuh mungil gadis itu sepenuhnya dalam dominasi mutlak sang diktator.
"Gila?" Mara menundukkan kepalanya, mencondongkan wajah tampannya hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Napas hangat Mara yang beraroma mint menerpa permukaan kulit wajah Kayna yang mulai memucat. "Ya, aku memang gila, Kayna. Dan kamu sudah mencari masalah dengan orang gila ini."
"Lepaskan aku, Damara!" bentak Kayna, mencoba mendorong dada bidang pria itu, namun tubuh Mara terasa sekokoh dinding batu yang mustahil untuk digerakkan. "Apa yang sebenarnya Anda inginkan dariku?!"
Mara meraih dagu Kayna dengan cengkeraman jemarinya yang kuat namun penuh kehati-hatian, memaksa sepasang mata elang gadis itu untuk menatap lurus ke dalam manik mata abu-abunya yang sarat akan kegilaan posesif.
"memilikimu, mungkin?" Mara menaikkan satu alisnya, tersenyum dingin.
Kayna menatap tak suka pada Mara. Ia berdecih pelan. "Dalam mimpimu. Aku tidak akan sudi jadi milikmu apa lagi mencintaimu."
"Aku tidak butuh cintamu, Kayna," bisik Mara tepat di depan bibir Kayna yang mengatup rapat. Tatapan matanya menggelap, dipenuhi rasa lapar akan kepemilikan mutlak. "Aku hanya butuh tubuhmu, jiwamu, dan keangkuhanmu itu tunduk di bawah takhtaku."
"Tidak akan pernah!" tegas Kayna, suaranya parau namun penuh penekanan yang berani. "Aku lebih baik melihat diriku hancur daripada harus menyerahkan hidupku pada pria kejam dan manipulatif sepertimu!"
Cengkeraman tangan Mara di dagu Kayna perlahan mengendur, bertransformasi menjadi sebuah usapan lembut yang sangat protektif sekaligus posesif di sepanjang garis rahang dan pipi halus gadis itu. Bukannya marah karena penolakan kedua kalinya ini, ego Mara yang tersengat justru semakin membakar obsesi gelap di dalam dadanya. Keberanian Kayna untuk tetap berdiri tegak di bawah tekanannya adalah candu baru yang tidak akan pernah bisa Mara lepaskan.
"Pilihan yang sangat berani, kelinci liar," ucap Mara perlahan, ibu jarinya mengusap bibir bawah Kayna dengan tatapan mata yang begitu pekat hingga sanggup menembus jiwa. Pria itu menarik kembali tubuhnya, memberikan ruang bagi Kayna yang langsung terengah-engah meraup oksigen.
Mara membalikkan tubuhnya, berjalan menuju pintu keluar galeri dengan keanggunan seorang raja yang baru saja meletakkan umpan mematikan di sarang mangsanya. Sebelum membuka pintu, Mara menoleh sedikit ke belakang, melemparkan tatapan dingin yang sarat akan ancaman mutlak.
"Nikmati sisa waktumu di kota ini, Kayna," ujar Mara dengan senyuman iblisnya yang paling menawan. "Karena minggu depan aku sendiri yang akan menjemputmu di sini. Dan saat hari itu tiba, kupastikan kamu tidak akan punya kekuatan lagi untuk mengucapkan kata 'tidak' padaku."
Tring.
Pintu galeri tertutup rapat seiring dengan perginya sosok Damara Lexander Veldens ke dalam kegelapan malam Yogyakarta yang diguyur hujan. Tubuh Kayna seketika lemas, ia segera duduk di sofa dengan jantung yang berdegup kencang karena kegilaanyang dilakukan Mara.
"Pria itu benar-benar gila!"
...●Bersambung●...