Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab_21
"Tuan, lemari besi itu masih utuh!" seru Leonard keras. Wajahnya dipenuhi keterkejutan, sementara telunjuknya mengarah ke sebuah benda hitam yang tertimbun reruntuhan.
"Ayo ke sana!" perintah Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan, sementara langkahnya semakin cepat menerobos kerumunan warga.
"Baik, Tuan!" jawab Nathan mantap. Wajahnya dipenuhi kesiapsiagaan, sementara ia segera mengikuti Adrian dari belakang.
Seorang petugas pemadam langsung mengangkat tangan.
"Maaf, jangan mendekat dulu!" seru petugas itu tegas. Wajahnya dipenuhi keseriusan. "Bangunannya masih belum aman. Sewaktu-waktu bisa runtuh."
"Ada sesuatu yang harus saya ambil." ucap Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi ketegasan.
"Keselamatan lebih penting, Pak." balas petugas itu sopan. Wajahnya dipenuhi tanggung jawab.
Nathan melangkah maju.
"Berapa lama kami harus menunggu?" tanyanya serius. Wajahnya dipenuhi rasa tidak sabar.
"Paling tidak sepuluh menit lagi sampai api benar-benar padam." jawab petugas itu tenang.
Adrian menghela napas pelan.
"Baik." ucapnya singkat. Wajahnya dipenuhi kesabaran yang dipaksakan.
Di sisi lain...
Beberapa warga masih berbisik-bisik sambil memandangi rumah yang hangus terbakar.
"Kasihan sekali Bu Ratih." ucap seorang ibu pelan. Wajahnya dipenuhi rasa iba.
"Iya." sahut pria paruh baya. Wajahnya dipenuhi keprihatinan. "Beliau tinggal sendirian sejak pensiun."
Leonard segera menghampiri mereka.
"Permisi." ucap Leonard ramah. Wajahnya dipenuhi kesopanan. "Apakah Ibu Ratih berhasil diselamatkan?"
Seorang warga menggeleng.
"Tidak ada di rumah sejak sore." jawab pria itu pelan. Wajahnya dipenuhi kebingungan.
"Apa maksudnya?" tanya Leonard cepat. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran.
"Tetangga bilang beliau pergi setelah menerima telepon." jawab pria itu serius.
Nathan yang mendengar penjelasan itu langsung menoleh.
"Menerima telepon?" tanyanya tajam. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan.
"Iya." jawab wanita paruh baya. Wajahnya dipenuhi keyakinan. "Sekitar satu jam sebelum kebakaran."
Adrian langsung mendekat.
"Apa ada yang melihat siapa yang menelepon?" tanyanya tenang. Wajahnya dipenuhi harapan.
Wanita itu menggeleng perlahan.
"Tidak." jawabnya lirih. Wajahnya dipenuhi penyesalan. "Kami hanya melihat beliau terlihat sangat panik setelah selesai berbicara."
Nathan saling berpandangan dengan Leonard.
"Tuan..." ucap Nathan pelan. Wajahnya dipenuhi kecurigaan. "Sepertinya kebakaran ini bukan kebetulan."
"Aku juga berpikir begitu." jawab Adrian dingin. Wajahnya dipenuhi keyakinan.
Tak lama kemudian...
Seorang petugas pemadam menghampiri mereka.
"Pak, sekarang sudah lebih aman." ucap petugas itu tenang. Wajahnya dipenuhi keseriusan.
Adrian mengangguk.
"Leonard, ikut denganku." perintah Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi fokus.
"Siap, Tuan." jawab Leonard mantap.
Nathan tetap berjaga di luar sambil mengamati keadaan sekitar. Adrian dan Leonard melangkah memasuki bangunan yang telah hangus. Suara kayu yang patah terdengar di berbagai sudut.
"Pelan-pelan, Tuan." ucap Leonard pelan. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan.
"Aku tahu." jawab Adrian singkat. Wajahnya dipenuhi konsentrasi.
Mereka berhenti tepat di depan lemari besi kecil yang masih tertutup rapat.
"Masih terkunci." gumam Leonard. Wajahnya dipenuhi rasa heran.
Adrian berjongkok.
"Lihat bagian sampingnya." ucap Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi ketelitian.
Leonard menyinari lemari itu menggunakan senter.
"Tuan..." ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi keterkejutan. "Ada bekas congkelan."
Adrian menyipitkan matanya.
"Berarti seseorang sudah lebih dulu mencoba membukanya." ucap Adrian dingin. Wajahnya dipenuhi kecurigaan.
Nathan yang berada di luar tiba-tiba menekan earphone kecil di telinganya.
"Tuan!" panggil Nathan keras. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan.
"Ada apa?" tanya Adrian cepat.
"Ada pria bertopi hitam keluar dari gang sebelah." jawab Nathan serius. Wajahnya dipenuhi kecurigaan. "Sejak tadi dia terus memperhatikan rumah ini."
"Jangan lepaskan dia." perintah Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi ketegasan.
"Siap!" jawab Nathan mantap.
Nathan langsung berlari.
"Hei! Berhenti!" teriak Nathan keras. Wajahnya dipenuhi tekad.
Pria bertopi itu menoleh sekilas. Begitu melihat Nathan mengejarnya, ia langsung berlari sekencang mungkin.
"Sial!" geram Nathan. Wajahnya dipenuhi rasa kesal.
Pria itu menerobos kerumunan warga hingga membuat beberapa orang berteriak kaget.
"Awas!" teriak seorang ibu. Wajahnya dipenuhi kepanikan.
Nathan terus mengejar tanpa mengurangi kecepatan.
"Berhenti kalau tidak ingin celaka!" bentaknya keras. Wajahnya dipenuhi ketegasan.
Namun pria itu justru melompati pagar rumah warga. Nathan ikut melompat.
Di saat yang sama...Leonard akhirnya berhasil membuka pintu lemari besi menggunakan bantuan petugas.
Klik...
Pintu besi itu perlahan terbuka.
"Akhirnya..." gumam Leonard pelan. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran.
Adrian segera melihat ke dalam.
Namun...Isi lemari itu hampir seluruhnya hangus.
"Sial..." gumam Leonard kecewa. Wajahnya dipenuhi penyesalan.
Adrian tetap memperhatikan setiap sudut lemari.
"Tunggu." ucap Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi ketelitian.
"Ada apa, Tuan?" tanya Leonard cepat.
Adrian mengambil sebuah kotak logam kecil yang terselip di balik dinding lemari.
"Kotak ini tidak terbakar." ucap Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi harapan.
Leonard membukanya perlahan.
Di dalamnya hanya terdapat sebuah foto lama yang sudah menguning dan sebuah kunci berukuran kecil.
Leonard langsung membelalakkan mata.
"Tuan..." ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.
Adrian mengambil foto itu.
Dalam foto tersebut terlihat lima anak SD sedang berdiri berjajar di halaman sekolah. Salah satunya adalah Rani kecil. Namun perhatian Adrian bukan tertuju kepada Rani.
Melainkan kepada seorang anak laki-laki kurus yang berdiri sendirian di ujung barisan.
Adrian terdiam beberapa saat. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah anak itu.
"Itu... aku." gumam Adrian lirih. Wajahnya dipenuhi keterkejutan, sementara kedua matanya membesar tidak percaya. "Foto ini diambil saat aku masih SD."
Nathan dan Leonard langsung menoleh ke arah Adrian.
"Jadi... anak laki-laki kurus itu benar-benar Tuan?" tanya Leonard serius. Wajahnya dipenuhi rasa terkejut.
Adrian mengangguk perlahan.
"Iya." jawab Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi kenangan yang kembali bermunculan. "Aku masih ingat... saat itu aku selalu berdiri sendirian di belakang."
Leonard kembali memperhatikan foto itu dengan saksama.
"Tuan..." ucap Leonard serius. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran. "Di belakang foto ini ada sebuah tulisan."
"Apa isinya?" tanya Adrian cepat. Wajahnya dipenuhi rasa ingin tahu.
Leonard membalik foto itu perlahan. Tangannya mendadak gemetar.
"Tertulis..." ucap Leonard lirih. Wajahnya dipenuhi ketegangan. "'Kalau sesuatu terjadi padaku, carilah Pak Hadi di Desa Sukamaju. Dia mengetahui siapa anak yang sebenarnya dicari selama ini.'"
Adrian langsung mengangkat kepalanya.
"Pak Hadi?" tanyanya pelan. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran.
Leonard mengangguk.
"Sepertinya Bu Ratih sengaja meninggalkan petunjuk ini." jawab Leonard serius. Wajahnya dipenuhi keyakinan.
Tiba-tiba...
Nathan menghubungi Adrian melalui telepon.
"Tuan!" serunya tergesa-gesa. Wajahnya dipenuhi kepanikan.
"Apa yang terjadi?" tanya Adrian cepat. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan.
"Pria bertopi itu lolos." jawab Nathan kesal. Wajahnya dipenuhi kekecewaan. "Tapi saya menemukan sesuatu."
"Apa?" tanya Adrian serius.
"Sebuah ponsel." jawab Nathan mantap. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran. "Sepertinya sengaja dijatuhkan saat dia melarikan diri."
"Jangan sentuh sembarangan." perintah Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi kehati-hatian. "Masukkan ke kantong barang bukti."
"Baik, Tuan." jawab Nathan cepat.
Belum sempat Adrian mengatakan sesuatu lagi, ponsel yang ditemukan Nathan tiba-tiba bergetar. Layar yang retak itu menyala dengan sendirinya.
Di sana hanya muncul satu pesan singkat.
"Kalian terlambat. Orang yang kalian cari sudah kami pindahkan. Bersiaplah... karena giliran Rani berikutnya."
Nathan membeku.
"Nathan!" panggil Adrian keras. Wajahnya dipenuhi kecemasan.
Nathan menelan ludah.
"Tuan..." ucapnya lirih. Wajahnya memucat dipenuhi kekhawatiran. "Mereka... ternyata sudah mengetahui keberadaan Bu Rani."