NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:41.6k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13.Masakan Pertama Levia

"Kalau memang peduli sama kesehatanku..." Levia menyilangkan kedua tangannya. "...harusnya kamu mendukung dietku, bukan menggagalkannya."

Ninis langsung kehilangan kata-kata. "Maaf, Non. Aku cuma khawatir."

"Aku tahu." Jawaban Levia terdengar tenang. "Tapi mulai sekarang, aku lebih percaya sama dokter."

Ninis hanya mampu mengangguk. "Baik, Non."

Levia kemudian melangkah menuju gantungan celemek. Ia mengambil salah satunya lalu memakainya sendiri.

Melihat itu, Bu Sari sampai membulatkan mata. "Nona... mau apa?"

"Masak," jawab Levia singkat.

"Hah?"

Baik Bu Sari maupun Ninis sama-sama terkejut.

"Nona bisa masak?" tanya Bu Sari spontan.

Ninis bahkan tertawa kecil. "Non jangan bercanda. Nanti dapurnya malah kayak kapal pecah."

"Kalau berantakan..." Levia tersenyum. "sebagai ART di rumah ini, harusnya kamu 'kan yang membereskan?" Levia menatap Ninis. "Atau kamu merasa keberatan?"

"Mana mungkin--"

"Bu Sari." Levia memotong kata-kata Ninis.

"Iya?" sahut Bu Sari.

"Hari ini Bibi sama Ninis jadi asisten saya," lanjut Levia.

Keduanya saling pandang.

"Asisten?" ulang Ninis.

"Iya." Levia mulai memberi perintah. "Keluarin beberapa bahan dari kulkas. Dada ayam tanpa kulit. Jamur. Brokoli. Wortel. Paprika. Telur. Lalu bawang putih."

Bu Sari buru-buru mengambil semua bahan itu. "Nona mau bikin apa?"

"Nanti juga tahu," jawab Levia sambil menyiapkan peralatan.

Ia mulai mencuci sayuran dengan gerakan yang cekatan. Pisau di tangannya bergerak cepat.

Tak. Tak. Tak.

Wortel, paprika, dan brokoli yang dipotong Levia memiliki ukuran yang hampir sama persis.

Bu Sari sampai melongo. "Rapi banget...."

"Sejak kapan Levia belajar motong sayur kayak gitu?" batin Ninis heran. "Aku denger di rumah mertuanya juga gak pernah masak. Bahkan saat bikin jus aja pas motong apel jarinya terluka."

Sementara itu, Vivian dalam tubuh Levia hanya tersenyum kecil. "Levia yang dulu memang gak pernah masuk dapur. Tapi aku bukan putri Pak Gultom yang dulu."

Dulu, saat masih hidup sebagai Vivian, ia sering memasak sendiri. Kesibukan sebagai desainer membuatnya lebih memilih menyiapkan makanan sehat daripada terus membeli makanan di luar. Karena itu, dapur bukanlah tempat asing baginya.

"Bu Sari."

"Iya, Non."

"Tolong panaskan wajan. Pakai sedikit minyak zaitun."

"Baik."

"Ninis."

"Iya?"

"Tolong timbang ayamnya dua ratus gram."

"Hah?" Ninis melongo. "Kenapa, Non? Beneran harus ditimbang?"

"Iya," jawab Levia mantap.

Ninis menurut meski wajahnya masih dipenuhi kebingungan.

Tak lama kemudian aroma bawang putih yang ditumis mulai memenuhi dapur. Disusul harum ayam panggang dengan lada hitam. Sayuran dimasak sebentar hingga warnanya tetap cerah.

Terakhir, Levia menata semuanya di atas piring putih dengan sangat rapi. Potongan ayam disusun di tengah. Sayuran berwarna-warni mengelilinginya. Di sampingnya ditambahkan kentang tumbuk dalam porsi yang pas.

Sederhana. Namun tampilannya tak kalah dengan hidangan restoran.

Bu Sari sampai bertepuk tangan pelan. "Masyaallah.... Cantik sekali."

Ninis hanya terpaku. Ia mengamati hidangan itu, lalu menatap Levia. Dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan.

"Sejak hampir tenggelam... Kenapa Levia berubah sejauh ini?"

Levia melepaskan celemeknya sambil tersenyum puas.

"Mulai besok, kita makan sehat bersama."

Kalimat itu terdengar biasa. Namun bagi Ninis, "Aku gak bisa kendaliin Levia lagi. kenapa bisa begini?"

Ninis tersenyum tipis begitu Levia menghilang dari dapur.

Senyum itu tidak lagi terlihat ramah.

"Kalau cara lama sudah tidak berhasil..." pikirnya pelan. "...berarti aku harus memakai cara yang baru."

 

Menjelang malam, Bram Gultom keluar dari ruang kerjanya setelah menyelesaikan beberapa berkas perusahaan. Seperti biasa, ia berjalan menuju ruang makan. Namun, langkahnya mendadak terhenti.

Di atas meja makan yang panjang telah tersaji beberapa hidangan yang sama sekali berbeda dari biasanya.

Tidak ada rendang bersantan pekat. Tidak ada ayam goreng tepung yang berminyak. Tidak ada kue-kue manis sebagai pelengkap makan malam.

Sebagai gantinya, tersaji ayam panggang lada hitam, sup bening berisi aneka sayuran, tumis brokoli dan jamur, ikan bakar dengan perasan jeruk nipis, serta semangkuk salad segar dengan saus yang dipisahkan dalam mangkuk kecil.

Warnanya begitu cerah. Penyajiannya pun sangat rapi, bahkan terlihat seperti hidangan di restoran.

Aroma bawang putih, lada hitam, dan rempah-rempah memenuhi ruang makan hingga membuat perut siapa pun yang menciumnya langsung terasa lapar.

Bram mengernyit heran. "Hm?"

Ia mendekat, lalu memerhatikan satu per satu hidangan di atas meja. "Bu Sari."

"Iya, Pak?"

"Kita lagi kedatangan tamu penting?"

Bu Sari menggeleng sambil tersenyum. "Enggak, Pak."

"Kalau begitu..." Bram kembali menatap meja makan. "Kenapa hari ini menunya beda banget?"

Sebelum Bu Sari sempat menjawab, Ninis yang berdiri di sampingnya ikut tersenyum. "Nona Levia yang masak, Pak."

Bram langsung menoleh. "Apa?"

"Nona Levia," ulang Bu Sari sambil mengangguk mantap. "Beliau yang memasak semuanya."

Bram berkedip beberapa kali. "Via?"

"Iya, Pak."

"Levia... masak?"

"Iya."

Bram masih belum percaya. "Levia masak? Yang bener?"

Bu Sari terkekeh pelan. "Saya juga awalnya gak percaya, Pak. Tapi memang benar. Saya dan Ninis cuma membantu menyiapkan bahan."

Bram masih memandangi hidangan di depannya. "Dia... benar-benar yang memasak semua ini?"

"Iya."

"Enggak beli dari restoran?" tanyanya masih tak percaya.

"Enggak, Pak."

"Enggak pesan katering?"

Bu Sari sampai tertawa kecil. "Enggak juga."

Bram mengusap dagunya pelan. "Her..."

Herman yang baru datang ikut menghampiri. "Iya, Pak?"

"Coba cubit saya."

Herman mengernyit. "Pak?"

"Saya takut masih mimpi," ujar Gultom.

Herman tersenyum geli. "Kalau saya cubit nanti malah dibilang kurang ajar."

Bram menggeleng pelan sambil terkekeh. "Anak saya... yang dulu jangankan masuk dapur, nyalain rice cooker saja gak pernah."

Tatapannya kembali tertuju pada hidangan di atas meja. "Sekarang malah bisa masak begini. Sejak kapan dia belajar masak? Kok saya gak pernah denger."

Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki. Levia berjalan memasuki ruang makan dengan senyum kecil.

"Malam, Yah."

Bram langsung menatap putrinya. "Via..."

"Iya?"

"Kamu... yang masak semua ini?"

Levia mengangguk santai. "Iya."

Bram kembali melirik Bu Sari, seolah meminta konfirmasi sekali lagi.

Bu Sari hanya mengangguk sambil tersenyum. "Benar, Pak."

Bram kembali memandang putrinya. Ekspresinya masih dipenuhi ketidakpercayaan, tetapi perlahan berubah menjadi kebanggaan.

"Sejak kapan kamu bisa masak?"

Levia tersenyum kecil. "Belajar."

Jawaban singkat itu justru membuat Bram semakin bingung.

"Belajar kapan?" pikirnya. "Bukankah selama ini yang dia pelajari cuma cara mengejar Vandra?"

Namun, melihat senyum tenang di wajah putrinya, Bram memilih tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya menarik kursi, lalu berkata dengan nada hangat,

"Kalau begitu... malam ini Ayah harus mencicipi masakan putri Ayah."

 

...✨"Perubahan sejati terlihat dari tindakan, bukan sekadar janji."...

..."Perubahan besar sering kali dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan tekad yang besar." ✨...

.

To be continued

1
abimasta
Ninis harus di pecat
Uthie
Nahh.. bagus bik Sari.. dikasih Tauin aja kecurigaan kamu sama si Ninis 😡👍
Anitha
Pak Gultom dan Levia harus lebih waspada ada parasit di rumahmu yang akan menghancurkan Nama Levia....jangan sampai lengah.

ayo Bu Sari ceritakan kalo si Ninis masuk kamar Bu Sari tanpa izin.
Kadek Sri
lanjut
Yuni Alyssa
katanya gultom mau mengawasi ninis... jangan sampe kecolongan ya... pasang aja CCTV rahasia sambil pantau...
kymlove...
ayooo bik kasih tau kelakuan mencurigakan ninis biar mereka semakin waspada
Siti Hawa
lanjut thoor, klu bisa up yg banyak ya, ku sudah kasih Bintang 5
Siti Hawa
sang at bagus
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Kadek Sri
lanjut
Uthie
si Ninis makin kurang ajar 😡😡😡
Anitha
Ada udang di balik ba'wan kali yaaa Andri...

baru kenal dengan Levia sudah menawarkan delapan Gerai,itupun penawaran Awal..
maju terus Via...kamu tambah Sukses dan di belakangmu si Ninis tambah iri.

syukurin tuh si Ninis misinya gagal terus😄
mery harwati
Andri Mahesa pengagum Levia secara diam² kah sebelum Levia nikah dengan Vandra? 🤔
kymlove...
ada apa dengan andri pak?? jahatkah??? atau apa??
Anitha
Wow kereeennnm Levia tambah Sukses tambah banyak ujiannya an si Ninis tambah iri saja
EVA OKTASARI
jangan-jangan andri ini mau deketin levia krn suka sama levia.
lin sya
siapa andri, apa dia berbahaya?
Uthie
lanjuuttttt
Elina thea
levia kamu harus hati-hati karna semakin kamu sukses,si Ninis malah tambah iri...jadi harus tetap waspada...
abimasta
andri akan mendekati livia
Kadek Sri
semoga si Andri gak punya niat buruk sama Levia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!