Elza adalah seorang gadis berumur 27 tahun yang dijodohkan dengan pria yang lebih muda 3 tahun di darinya, karena paksaan dari kedua orang tua, Elza tak dapat menolak perjodohan tersebut.
"What?! Apa dia calon suamiku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi Putri Yasmin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Dari Devan
"Jangan pegang-pegang," ujarku tajam saat kami telah sampai di parkiran mobil.
"Galak amat lo, seharusnya lo berterima kasih sama gue, karena gue udah bungkam mulut temen-temen lo yang suka remehin lo," balas Devan sembari menatap ku datar.
"Ya, ya, makasih Devan," ucapku sembari tersenyum paksa.
"Buruan kita ke tempat fiting, kayaknya Mama udah nunggu," kataku lagi dan Devan melajukan mobilnya membela jalan Kota Jakarta.
"Persiapkan semuanya untuk nanti malam, semuanya harus sempurna tidak boleh ada yang kurang."
***
Akhirnya kita sampai juga di sebuah pusat perbelanjaan. Devan yang tahu tempatnya menuntunku memasuki pusat perbelanjaan itu.
Tak berapa lama kita akhirnya sampai pusat perbelanjaan di mana menyediakan berbagai macam dan model gaun pengantin. Di sana kulihat Mama dan juga Tante Filza sedang berbincang ria.
"Assalamualaikum, Ma, Tante Filza," sapaku pada mereka saat telah sampai.
"Waalaikumsalam, Kok baru datang ada masalah, ya?" tanya Mama sembari menarikku duduk di tengah-tengah mereka. Sementara Devan ikut duduk di dekat Ibunya.
"Tadi ada reunian sama temen, Ma," jawabku santai.
"Oh, gitu." Mama hanya beroh saja.
"Kalau gitu, kamu pergi coba gaun yang telah kami pilih untukmu, Sayang. Devan kamu juga pergi coba," ujar Ibu Filza lembut.
"Iya, Tan-"
"Mama, Sayang. Besok kamu udah resmi jadi mantu Mama," potong Ibu Filza yang membuatku salah tingkah.
"Ah, iya, Ma," balasku sembari tersenyum.
Kemudian aku dituntun ke sebuah ruangan bernuansa crem ditemani seorang pelayan tokoh yang akan membantuku berganti pakaian.
Di depanku sekarang ini sebuah gaun pengantin berwarna putih bersih bertabur payet yang ketika terkena cahaya akan berkilau dan terlihat sangat elegan, gaun itu juga dilengkapi penutup kepala dan juga tiara.
"Mari Nona saya bantu memakaikannya," ujar salah satu pelayan menawarkan diri yang akan membantuku mencoba gaun tersebut.
Jujur saja aku langsung jatuh cinta saat pertama kali melihat gaun tersebut. Rasanya aku akan jadi putri raja semalam.
Dan benar saja gaun ini sangat pas di tubuhku seakan gaun ini memang diciptakan hanya untukku seorang.
"Wah, Nona Anda sangat cantik," puji pelayan wanita itu kepadaku yang kutanggapi dengan senyuman.
"Mari, kami bantu ke luar dan menunjukkannya kepada calon suami Anda," tutur pelayan itu malu-malu yang membuatku memutar mata jengah.
"Ma," panggilku pelan. Mama dan Mama Filza menoleh ke arahku. Kuliahat mereka berdua menatapku dari atas ke bawah sebelum senyuman terbit di bibir keduanya dan mereka pun menghampiri diri ini.
"Astaga, Sayang. Kamu cantik banget. Kita gak salah pilih gaun, 'kan Jeng," tutur Mama Filza sembari melihatku.
"Iya, Jeng, kamu benar, anak Mama memang cantik," puji Mama sembari mengusap kepalaku.
"Makasih Ma, Mama Filza," tuturku berterima kasih.
Mereka hanya tersenyum menanggapi. Aku sedikit heran seperti ada yang terlupakan. Oh, iya bocil itu ke mana?
"Ma, si Bo-" Mama menatapku aneh. Aku langsung saja tertawa kering, hampir saja aku keceplosan menyebut Devan bocil.
"He he, Devan mana ya, Ma?" tanyaku sedikit canggung.
"Oh, itu di belakang kamu," jawab Mama sembari tersenyum.
"Ah?" tanyaku sedikit terkejut kemudian aku berbalik. Namun, karena tidak hati-hati aku menginjak ujung gaunku.
Ah, pasti ini sakit. Akan tetapi, aku melihat Devan berdiri di depanku langsung kutarik saja dia agar aku bisa tertolong, tapi naas kejadian memalukan itu terjadi.
Cup!
Mataku mengerjab-ngerjab seraya menatap Devan yang berada di bawahku sekarang. Apa, di bawah? Aku langsung saja membulatkan mataku.
Cekrek! Kulihat Mama memotret kami, kulirik juga kedua pelayan itu yang tersenyum malu-malu dengan wajah merah padam menatap posisi kami
"Aiyo, kalian ini, tunggu besok saja baru melakukannya," tutur Mama malu-malu sembari mengibaskan tangannya.
Aku memutar bola mataku jengah. Aku kemudian mencoba bangkit. Namun, tidak bisa aku kembali memeluk Devan yang ada di bawah.
"Cil, bantuin bangun dong, lo gak malu difoto sama Mama," ujarku memohon.
Devan hanya memutar mata jengah kemudian mencoba berdiri dan juga membantuku berdiri.
"Lain kali hati-hati, selain aneh lo juga ceroboh," tutur Devan tepat di telingaku sesudah itu dia menjauhkan wajahnya dari telingaku.
"Lo-"
"Awas, ya lo, gue gak akan lepasin hal ini gitu aja," balasku sengit sembari menunjuknya.
"Sudah, sekarang kalian ganti baju dan terserah kalian ingin pergi ke mana, ok. Jangan khawatir masalah pernikahan kalian semuanya akan segera siap," tutur Mama Filza kepada kami.
Aku hanya mengangguk dan berlalu dari hadapan mereka untuk berganti baju.
Setelahnya aku kembali dan bertemu Devan. Enek rasanya harus bertemu dia terus-menerus apa lagi kalau kita sudah nikah entah menjadi apa hidupku untuk kedepannya.
"Ayo, gue antar lo pulang. Entar malam siap-siap ya, gue punya sesuatu untuk lo," ujar Devan sebelum berlalu dari hadapanku.
"Ma, Mama Filza, Elza pulang dulu ya," pamitku yang diangguki keduanya.
Di sini kami sekarang, Devan yang berada di sampingku sedang fokus membawa mobil.
"Elza, gue punya sesuatu yang mau gue omongin," tutur Devan lirih. Namun, masih bisa aku dengar.
Aku menoleh sekilas ke arahnya.
"Katakan," pintaku santai.
"Besok kita akan menikah. Satu yang aku minta padamu jangan pernah ada kata pisah di antara kita walaupun nantinya banyak tantangan yang menanti, aku tidak mau menutupi bahwa aku mempunyai seseorang yang aku cintai."
Deg!
Apa? Dia sudah punya orang yang dia sukai. Lalu kenapa dia ingin menikah denganku. Brengsek!
"Bagus dong kalau gitu, emang siapa nama kekasihmu itu?" tanyaku santai. Namun, dalam hati sudah kusumpah serapahi pria unyu-unyu ini di sampingku.
"Nanti malam akan kuberitahu, aku tidak ingin menjalin hubungan berlandaskan kebohongan," jawabnya santai, dan panggilannya sudah berubah menjadi aku-kamu apa ini pertanda buruk? Setelah semua ini dia ingin mencampakkan ku? Tidak-tidak. Aku tak akan membiarkannya. Jika, aku bertemu dengan wanita itu akan kuberi ia pelajaran siapa suruh beranai merayu calon suamiku yang unyu-unyu ini.
Kamu lupa Za, kamu yang datang di kehidupan Devan, kamu sendiri yang ingin menerimanya. Walaupun kamu tak mengatakannya secara terang-terangan. Kamu adalah orang asing. Aku menutup mataku sesaat mencoba meredam gejolak di dada ini yang tiba-tiba bergemuruh.
"Em, baiklah, gue tunggu lo. Ah, iya kok panggilan lo bukan lo-gue lagi, tapi aku-kamu?" tanyaku padanya.
Devan melirikku sekilas. Sebelum fokus kembali menyetir.
"Karena kamu akan menjadi istriku terlalu tidak sopan rasanya jika menggunakan panggilan itu, apa lagi kamu lebih tua dariku," jawab Devan. Aku langsung saja memutar bola mata malas. Aku tahu maksudnya. Dia ingin mengatakan aku lebih tua darinya, iya aku tahu itu, tapi umur segitu masih mudah kok.
Tak berapa lama kami telah sampai di kediamanku. Setelah percakapan singkat tadi suasana yang kurasakan agak berbeda Devan terlihat agak aneh dari sebelum-sebelumnya.
"Makasih, Cil, gue masuk dulu, dah," ujarku padanya sembari tersenyum lembut.
"Iya," balasnya dingin. Tuh kan, Devan berubah hanya dalam sehari.
"Hati-hati," tuturku sebelum masuk ke dalam pekarangan rumah.
Saat ini aku telah sampai di daerah kekuasaanku. Aku menghempaskan tas ini kesembarangan tempat begitu juga heelsku aku tidak merapikannya. Bodohlah, aku sangat lelah sekarang.
Rasanya sangat sesak saat Devan mengatakan dia telah mempunyai orang yang dia sukai. Pantas dia sangat membenciku dan tak ingin menikahiku. Seharusnya kamu sadar Za, kamu tuh gak berhak dicintai, kamu itu punya kelainan seperti yang teman-temanmu katakan. Hah, biarlah kita lihat saja malam nanti.
Tak kusadari malam pun menyapa, setelah salat Magrib tadi aku lekas bersiap karena Devan ingin mengatakan sesuatu mengenai kekasihnya. Ah, rasanya hati ini tidak rela.
Malam ini aku tampak cantik dengan dress berwarna hitam yang sangat elegan di tubuh ramping ku. Aku membiarkan rambut panjangku tergerai indah.
Aku memadukannya dengan se-set perhiasan berwarna silver dan emas. Fiks penampilanku malam ini sangat elegan, tapi menurutku ini agak berlebihan. Ah, sudahlah intinya aku tampak cantik. Setelahnya aku pun bergegas turun ke bawah menunggu pria itu.
Kulihat Mama dan Ayah yang sedang berbincang-bincang di ruang ke keluarga sembari menonton serial TV. Waktu makan malam tadi aku tidak ikut karena telah mengatakan aku akan makan malam di luar bersama Devan dan tentu saja mereka sangat menyetujui hal itu.
"Udah mau pergi ya, Kak?" tanya Ayah saat melihat seluetku mendekat.
"Belum kok, Yah, tunggu Devan dateng dulu," jawabku sembari duduk di dekat Mama.
"Yah, anak kita cantik banget 'kan, Mama sampai-sampai tidak mengenalinya," tutur Mama tiba-tiba.
"Ih, apaan sih Ma, berlebihan banget," ujarku sembari menatapnya lembut.
"Gak kok, Sayang, Mama kamu bener, Ayah juga sependapat dengan Mamamu," kata Ayah yang makin membuatku tak tahan untuk tersenyum.
Di sela-sela obrolan kami, terdengar deruh mesin mobil yang memasuki pekarangan rumah ku. Aku yakin itu Devan.
"Ehem, Pangerannya sudah datang, Yah," goda Mamaku.
"Ih, Mama. Pangeran apaan? Itu kan Devan yang datang," balasku sedikit kesal.
"Ha ha, hati-hati ya Sayang," ujar Ayah padaku.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki menggema mendekati ruang keluarga di mana aku dan orang tuaku berada.
"Selamat malam, Ma, Yah," sapa Devan ramah yang membuatku berdecih tak suka.
"Malam, Sayang. Kalian sudah ingin pergi, ya?" tanya Mama lembut.
"Iya, Ma," jawab Devan.
"Kalau begitu kalian pergilah, karena malam ini terakhir kalian bertemu karena besok kalian akan melakukan akad," tutur Ayah mengingatkan.
"Iya, Yah, kalau gitu kami pergi dulu," ujar Devan sopan aku hanya menatapnya sinis.
"Ma, Elza pergi dulu, assalamualaikum," ucapku pamit kepada keduanya.
"Waalaikumsalam," balas mereka berdua
Kami pun pergi meninggalkan kediamanku. Kenapa perasaanku tidak enak entah apa yang terjadi. Jika, Devan mengatakan dia telah mempunyai istri dan anak akan kubunuh dia. Enak saja aku ingin dia madu. No, gak ada tuh sejarahnya aku berbagi suami. Jika itu milikku maka tidak boleh dimiliki orang lain. Egois memang, Bunda Khadijah saja dijadikan ratu oleh Rasulullah menjadi wanita satu-satunya yang begitu Rasulullah cintai. Jadi, mengapa tidak, aku mencontoh kisah cinta mereka yang selalu buat baper. Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka suara. Aku pun sangat malas untuk memulai percakapan dengan Devan rasanya dadaku sangat sesak ingin mengeluarkan kata-kata makian untuknya. Namun, aku tahan.
Sepanjang perjalanan aku hanya menatap pemandangan dari balik jendela mobil. Malam yang gemerlap menurutku. Eh, tapi kenapa Devan membawaku ke pelabuhan? Untuk apa ke sini? Aku baru sadar ketika telah memasuki area pelabuhan. Wah, apa jangan-jangan Devan ingin membunuhku. Aku langsung saja meliriknya tajam.
"Ngapain kita ke pelabuhan? Lo mau bunuh gue, ha?!" teriakku padanya.
"Siapa yang ingin membunuhmu," jawab Devan datar yang makin membuatku takut. Karena sering aku lihat di TV jika seseorang membawamu ke pelabuhan malam-malam maka hanya ada satu jawaban yaitu kematian. Ih, membayangkannya saja sudah membuatku ngeri. Aku menggeleng kuat.
"Please, An, lepasin gue. Gue gak bakal ganggu lo sama cewek lo, gue bakalan batalin pernikahan ini bagaimana pun caranya, tapi lo jangan bunuh, gue," mohonku sembari menitikkan air mata. Jujur sekarang aku sangat takut. Apa lagi aku phobia kegelapan. Melihat ke luar jendela mobil saja sudah membuatku merinding.
Kulihat Devan sedikit terkejut ketika melihatku meneteskan air mata. Dia kemudian memberhentikan mobilnya yang membuatku bernapas legah.
"Thanks An, gue janji gak akan ganggu lo sama kekasih lo nanti," ujarku berterima kasih sembari menyeka air mata ini.
Namun, saat aku ingin membuka pintu, pintunya lagi-lagi dikunci.
"Siapa yang ingin membunuhmu, hm? Kamu ini kenapa?" tanya Devan lembut yang membuatku sedikit legah mungkin dia tidak jadi membunuhku.
Devan kemudian mengambil tissue yang tersedia di jok belakang kemudian mendekati ku dan menghampus jejak air mata yang masih tersisa di pipi.
"Aku tidak akan membunuhmu ok, aku janji jadi kamu tidak usah menangis percaya sama aku," ujar Devan menenangkan yang membuatku mengangguk.
Devan kemudian kembali melajukan mobilnya dan kembali berhenti.
"Kita mau apa di sini, An?" tanyaku kembali takut.
"Percaya sama aku, aku cuman mau jelasin sesuatu, aku pasangin kamu penutup mata ini, ya." Devan mengeluarkan sapu tangannya dan ingin menutup mataku. Tentu saja aku menolak bisa jadi 'kan dia akan menutup mataku dan membuangku ke laut.
"Gue gak mau," cegahku sembari menghindarinya.
"Calm down, Baby, percaya sama aku, aku gak akan berbuat macam-macam sama kamu," tuturnya meyakinkan, lagi-lagi aku mempercayai kata-katanya walaupun masih sedikit takut.
"Tapi, lo pegang tangan gue. Jujur gue phobia gelap," ujarku sembari menunduk.
"Ok," balasnya singkat dan gelap Devan menutup mata ini kemudian kudengar dia membuka pintu mobil.
"Tenang ya, aku tidak akan menyakitimu," ujar Devan meyakinkan aku hanya mengangguk. Aku mencengkeram tangan Devan begitu kuat tak perduli dia akan kesakitan, jujur saja sekarang keringat dingin telah membanjiri keningku.
Aku tidak tahu Devan membawaku ke mana karena hanya gelap yang kurasakan. Kurasakan Devan mengangkat tubuh ini lalu menurunkannya lagi. Aku makin bingung Devan membawaku ke mana. Pergerakan itu sedikit mengalihkan rasa takutku, mungkin Devan juga menyadari jika aku sangat ketakutan.
"Kita sudah sampai. Biar aku bukakan penutup matamu," tutur Devan sembari membuka penutup mata yang aku kenakan sedari tadi.
Ketika aku membuka mata hanya ada rasa takjub. Aku tidak menyangka Devan akan melakukan ini, aku menutup bibirku tidak percaya. Ayah, Mama, Mama dan Papa Devan juga turut begitu pun dengan seorang pria tampan yang mirip dengan Devan yang membawa seorang wanita cantik. Aku yakin mereka adalah Kak Axel dan Kak Nadiya mereka semua tersenyum ke arahku.
"Ian, kamu yang siapin ini semua?" tanyaku terharu. Namun, Devan sudah tak ada di dekatku.
"Mama, Mama kok bisa ada di sini?" tanyaku sembari menghampiri mereka.
Mereka hanya tersenyum menanggapi pertanyaanku kemudian lampu mati. Aku langsung saja berhenti berjalan. Aku phobia akan gelap dan aku saat ini sangat takut.
"Ma, Yah, Elza takut," panggilku lirih semua terasa aneh. Air mataku jatuh setetes demi setetes karena ketakutan.
Kemudian sebuah lilin menyala satu demi satu membentuk lingkaran dan aku berada di tengah, kulihat hiasan bunga mawar berbentuk love yang bertuliskan namaku dan nama Devan. Aku dibuat terkagum-kagum sekaligus legah karena tak merasa ketakutan lagi.
Derap langkah seseorang dari belakangku membuat diri ini berbalik. Kulihat Devan berdiri sembari tersenyum lembut ke arahku. Cahaya lilin yang lembut membuat suasana terasa romantis.
Devan kemudian berlutut di depan ku dan lampu kembali menyala.
"An, kenapa kamu berlutut buruan berdiri," pintaku padanya.
"Malam ini adalah malam yang sangat ku nanti. Yaitu, malam di mana aku menepati janjiku untuk melamarmu di kapal pesiar dengan suasana yang romantis. Aku memang bukan pria romantis seperti kebanyakan pria, aku bukan pria puitis yang pandai merangkai aksara menjadi sajak indah untuk menyenangkanmu, tapi malam ini aku berbicara kepadamu dengan penuh harapan agar kamu menerima lamaranku. Menjadi ratu di hatiku serta Ibu dari anak-anakku kelak. Elzania Saputri Wijaya maukah kamu hidup bersamaku suka maupun dukax walaupun pria muda ini masih banyak kekurangan," ujar Devan panjang lebar. Aku dibuat tak mampu berkata-kata karenanya. Suaranya yang lembut menyatu dengan melodiy yang dilantunkan seorang violin.
"Terima, terima!" teriak seseorang yang kukenal suaranya pasti dia Dinda.
"Ayo, terima, Sayang." Kudengar Mama ikut bersorak.
"Iya, aku mau," jawabku sembari menganggukkan kepala dengan air mata yang membasahi pipi. Murahan gak sih? Aku luluh terhadapnya hanya dalam 2 hari saja. Akan tetapi, terlepas dari itu semua aku mulai mencitainya, pria imutku.
Kulihat Devan mengeluarkan kotak berwarna merah dan membukanya isinya adalah sebuah cincin dengan permata yang menyala berwarna biru sangat indah. Aku tidak tahu berapa harga dari cincin ini pasti sangat mahal.
Devan kemudian memasangkan cincin itu di jari manisku.
"Yeh, selamat ya, kalian!" teriak Dinda lagi.
"Selamat ya, Sayang," ujar mereka serempak ketika telah sampai di dekatku dan juga Devan.
"Makasih Ma, Yah, Mama Filza Papa," ujarku berterima kasih.
"Selamat ya, Adik ipar," tutur Kak Axel dan juga istrinya Kak Nadya menghampiriku.
"Akhirnya Devan gak jomloh lagi malah udah mau nikah," tutur Kak Axel sembari terkekeh geli.
Acara yang Devan buat sangat mengejutkanku. Baru tadi siang aku mengatakan padanya agar dilamar di kapal pesiar dan dia telah mengabulkannya sekarang padahal hal itu hanya candaan.
"Aku tidak akan memberitahu mereka semua kalau kamu menangis ketika kuajak ke sini, kamu pikir aku punya kekasih? Ya, benar dan kekasih ku itu adalah gadis yang sedang tersenyum ini," bisik Devan tepat di telingaku.
"Duh, romantisnya, mereka," tutur Kak Nadiya yang membuatku salah tingkah dan buru-buru menjauh dari Devan.
"Pelayan," panggil Devan kepada pelayan dan para pelayan keluar dari dalam membawa makanan yang membuatku meneguk ludah saking laparnya.
"Sebaiknya sekarang kita makan malam," putus Devan yang diangguki mereka semua.
Acara yang dihadirii orang terdekat saja ini sangat hikmat. Aku tidak menyangka Devan mengabulkan perkataanku. Dia melamar ku di kapal pesiar dengan suasana yang sangat romantis.
bisa gk sih torr critnya agk sdikit dipersingkt gtu gk diulang" jdi kurang seru gitu thorr critanya itu biar ringkas padat dan berisi gtu lho,,😊🙏
cepet temukan Elza dan Devan kak