"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan
Sejak insiden perban berdarah di ruang kerja marmer hitam itu, atmosfer di antara Senja dan Arsen mendadak berubah jadi... aneh.
Nggak, Arsen nggak mendadak berubah jadi bos baik hati yang hobi senyum. Cowok itu tetep tiran, tetep irit omong, dan tetep bikin anak-anak divisi kreatif jantungan tiap kali dia lewat. Tapi khusus ke Senja, ada sesuatu yang bergeser. Senja beberapa kali memergoki mata elang Arsen lagi terarah ke kubikelnya. Pas Senja nengok, Arsen bakal buang muka dengan lempeng seolah dia cuma lagi ngeliatin AC kantor yang bocor.
Belum lagi insiden di dalam mobil kemarin lusa yang mendadak suka lewat di otak Senja tanpa izin. Sialan banget, tiap kali Senja make seatbelt, dia otomatis inget tatapan menggelap Arsen yang tertuju ke dadanya. Mukanya pasti langsung panas seketika.
"Mbak Senja, lo dipanggil Pak Arsen lagi ke ruangannya," celetuk Rara, membuyarkan lamunan Senja yang lagi sibuk mengetik draf laporan mingguan.
Senja menghela napas, menutup tab kerjanya. "Oke, Ra. Thanks."
Senja merapikan kemeja kasualnya sejenak sebelum melangkah ke ruangan ujung koridor. Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk, dia mendapati Arsen sedang sibuk menatap sebuah tablet tebal dengan dahi berkerut. Luka di pinggang cowok itu tampaknya sudah jauh lebih baik karena hari ini gerakannya sudah kembali tegap dan luwes.
"Ada yang bisa dibantu, Pak?" tanya Senja, berdiri di depan meja marmer hitam.
Arsen meletakkan tabletnya, lalu membuka laci meja. Dia mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang berwarna hitam beludru yang kelihatan sangat mewah dan mahal, lalu menggesernya ke arah Senja.
Senja mengernyitkan dahi. "Ini... apa ya, Pak? Bapak nggak salah kasih kan?"
"Buka aja," perintah Arsen pendek.
Dengan ragu-ragu, Senja membuka kotak tersebut. Matanya langsung membelalak pas melihat isinya. Sebuah gaun malam (dress) berwarna hitam satin yang potongannya sangat elegan, simpel, tapi kelihatan harganya setara dengan tiga kali gaji bulanan Senja. Di bawah gaun itu, ada sebuah kartu undangan fisik berlapis emas.
"Nanti malam ada Charity Gala & Business Dinner yang diadakan oleh salah satu asosiasi pengusaha besar. Saya mau kamu ikut mendampingi saya ke sana," ucap Arsen datar, seolah dia baru saja menyuruh Senja membelikan gorengan di depan kantor.
Senja buru-buru menutup kotak itu lagi. "Tunggu, Pak. Tugas asisten kreatif itu nggak termasuk jadi pendamping Bapak ke acara pesta formal malam-malam begini. Harusnya Bapak ajak sekretaris utama Malik Group, atau... pacar Bapak?"
Mendengar kata 'pacar', sudut alis Arsen terangkat sedikit. "Saya nggak punya pacar. Dan sekretaris saya malam ini ada urusan lain yang lebih penting. Kamu yang paling tahu soal draf kerja sama Grand Wijaya yang mau kita presentasikan tipis-tipis ke beberapa kolega di sana nanti. Jadi, kamu yang paling kompeten."
"Tapi, Pak—"
"Ganti baju kamu di toilet VIP lantai ini. Jam enam sore kita langsung berangkat dari kantor," potong Arsen, mutlak dan tidak menerima bantahan seperti biasa. Dia kembali meraih tabletnya, mengisyaratkan kalau obrolan mereka sudah selesai.
Senja mendengus kencang, tangannya mengepal erat di sisi tubuh. "Bapak bener-bener diktator ya. Nggak nanya dulu saya ada acara apa nggak malam ini."
Arsen mendongak, menatap Senja dengan tatapan lurus yang bikin Senja mendadak salah tingkah. "Memangnya kamu ada acara malam ini?"
"Nggak ada sih," cicit Senja pelan, merutuki kejujurannya sendiri. "Tapi tetep aja—"
"Kalau begitu nggak ada masalah. Ambil gaunnya. Dan Senja..." Arsen menggantung kalimatnya sebentar, matanya menatap Senja dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan yang sulit diartikan. "...pastikan kamu pakai gaun itu dengan benar. Saya nggak mau asisten saya kelihatan berantakan di depan rekan bisnis saya."
Senja memutar bola matanya jengkel, menyambar kotak beludru itu dengan hentakan kasar sebelum berbalik keluar. Dasar cowok perfeksionis menyebalkan!
Pukul 18.15 WIB.
Senja keluar dari toilet VIP setelah menghabiskan waktu hampir setengah jam untuk bersiap-siap. Dia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Gaun satin hitam pilihan Arsen ternyata melekat dengan sangat pas di tubuhnya, memperlihatkan siluet leher dan bahunya yang tegas namun tetap sopan karena potongannya yang tidak terlalu terbuka. Rambutnya yang biasa dikuncir asal, sekarang dia biarkan tergerai rapi dengan sedikit riasan makeup natural di wajahnya.
Begitu melangkah kembali ke koridor depan ruangan Arsen, Senja mendapati bosnya sudah menunggu sambil bersandar di dinding. Arsen malam ini memakai setelan tuxedo hitam formal lengkap dengan dasi kupu-kupu. Ketampanan cowok itu malam ini bener-bener naik berkali-kali lipat, mirip kayak model majalah kelas atas.
Mendengar suara langkah sepatu Senja, Arsen menoleh.
Untuk beberapa detik, langkah Senja mendadak terhenti karena Arsen bener-bener terpaku menatapnya. Mata elang pria itu bergerak lambat, memperhatikan penampilan Senja dari atas sampai bawah tanpa berkedip. Ada kilatan ekspresi takjub yang sempat melintas di wajah datarnya, sebelum Arsen buru-buru berdeham kecil buat menguasai dirinya kembali.
"Ehem. Lumayan," ucap Arsen pendek, suaranya terdengar agak serak dari biasanya. Dia membetulkan posisi jam tangan mewahnya. "Ayo jalan. Kita hampir telat."
Senja mencibir pelan di belakang punggung Arsen saat mereka berjalan menuju lift basemen. Lumayan katanya? Buta ya mata lo, Pak? Gue udah dandan secantik ini cuma dibilang lumayan, batin Senja dongkol.
Senja belum tahu saja, kalau di balik wajah lempeng Arsen saat ini, jantung pria itu sebenarnya sempat berdesir aneh saat melihat kecantikan asistennya.