Cinta Kirana, hidup dengan masa lalu yang tragis ditinggalkan orangtua. Menyisakan trauma sampai dengan ia dewasa. Siapa sangka, seorang datang mengganti luka dengan suka cita. Perbedaan usia, status sosial dan keterkaitan di masa lalu membuatnya Cinta terpuruk dan kembali terluka. Akankah Cinta bisa menerima kenyataan yang menghampiri?
===
“Namaku Cinta, banyak yang cinta udah pasti. Yakin masih mau sama aku?”
“I love you, Cinta. Sekarang, nanti dan selamanya.”
“Masa?”
“Mahameru pantang ingkar janji.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Partner In Crime
Bab 6
Cinta dan Asep fokus dengan layar komputer masing-masing, bersebelahan kubikel mereka. Depan sana Umar mengajari Eru, memasang kamera serta mengambil gambar. Ya, mereka sedang bersiap untuk kegiatan besok. Umar mengecek sendiri peralatan dan alat tempurnya, bukan tidak percaya dengan Abil selaku bagian peralatan dan teknisi.
“Kalau dilihat si Eru kayak siapa ya, kok nggak asing gitu wajahnya.”
Cinta menolehkan pandangan ke arah Eru dan Umar.
“Kayak siapa ya Ta?” tanya Asep.
“Oh, kayak Mahameru.”
“Hah, susah ngobrol sama elo. Kayak gue ngomong sama bol0t.”
“Ya mirip siapa, aku nggak tahu,” cetus Cinta. Berbeda dengan Asep yang kembali fokus dengan layar, Cinta masih menatap ke arah Eru dan Umar. Tepatnya pada Eru, Umar sudah bapak-bapak yang tidak layak dipandang lama-lama.
“Ganteng ya.”
“Hm. Wangi, dia,” sahut Cinta.
“Emang gue bau.”
“Banget.”
“Pe4.” Asep mendorong kursi Cinta agar menjauh membuat gadis itu terkekeh dan kembali ke mejanya. Eru sempat menoleh dan beradu tatap dengan Cinta, sudut bibirnya mengulas senyum tipis.
“Bil, udah oke ini. Bungkus, terus pisahin,” seru Umar dan Abil menunjukan ibu jarinya tanpa suara mengerjakan perintah Umar. “Perizinan dan berkas jangan lupa,” seru Umar mengetuk meja Cinta.
“Siap bos, udah di sini semua.” Cnta mengangkat zipper bag.
“Coba gue cek.”
“Ru, gue nggak asing lihat muka lo,” seru Asep.
“Oh, iya. Kang Asep suka nonton drakor juga? Saya kan mirip sama Ji Chang Wook ya.”
Cinta terkekeh dan Asep mengump4t.
“Kalau menurut aku bukan tidak asing, tapi aneh. Pas Bang Umar bilang Eru mau magang, di hati aku bilang gini, magang apa PKL sih. Kok, kayak anak SMA.”
Eru tersenyum.
“Elo juga sama,” seru Asep. “Kerja bareng elo bikin orang tanda tanya, ini bener karyawan apa mahasiswa."
“Bagus dong, aku sama Eru baby face. Awet muda.”
“Apa ba-bi. Ru, lo disebut b4bi.” Asep menunjuk Cinta.
“Ih, budeg.”
Sejak tadi tangan kanan Eru menangkup wajahnya dengan siku bertumpu di atas meja, menatap Cinta. Interaksi itu menjadi perhatian Umar yang baru saja mengecek kelengkapan berkas seolah tidak terinterupsi dengan candaan mereka. Asep pun tahu kalau Eru menatap Cinta.
“Mbak,” panggil Eru.
“Hm.” CInta menoleh dan beradu tatap dengan Eru. Ada perasaan canggung di sana, apalagi saat wajah Eru mendekat membuatnya mengernyitkan dahi. “Eh, mau ngapain.”
“itu,” tunjuk Eru ke hidung Cinta. “Komedo ya.”
Asep tidak segan meledakan tawanya begitupun dengan Umar. “Gue pikir si Eru natap karena terkesima, suka sama elo,” cetus Asep.
Umar menggeleng dan meninggalkan mereka, beberapa orang di ruangan itu sempat menoleh karena ulah Asep dan Cinta.
“Mau pake pore pack nggak, aku punya mbak.”
“Nggak,” cetus Cinta dengan wajah kesal.
Padahal dia sudah salting sendiri, ditatap begitu. Banyak pesan dari sesama karyawan Yess TV yang menanyakan Eru dan nomor Hp. Ia pun cukup dibuat deg degan ketika Eru berada di sampingnya begini. Beda dengan kehadiran Restu, Mas Yahya dan Mas Tarjo membuatnya ingin terbenam di dasar palung Mariana agar tidak berinteraksi dengan para pria itu.
“Tapi serius Ru, wajah lo nggak asing.”
“Yang penting bukan lagi nyamar, tau-tahu si Eru anaknya yang punya stasiun TV.”
“Emang kenapa mbak?” tanya Eru.
“Ya nggak asyik lagi nanti, bakalan ada tembok pembatas antara kita. Lagian ngapain juga anak dirut magang di tim produksi.”
Eru mengangguk. Entah apa jadinya kalau Cinta tahu dia bukan sekedar ada hubungan dengan dirut Yess TV, tapi pewaris dari Digital Corp juga.
...Om Langit...
Ru, ke ruangan om ya
Eru menghela nafasnya membaca pesan itu. Terlalu beresiko, akan menjadi perbincangan mahasiswa magang mendatangi ruangan direktur utama. Dia ingin magang tanpa privilege dan status diketahui oleh karyawan lain terutama Cinta.
Nggak bisa om. Penyamaran bisa terbongkar. Nanti sore aku mampir ke rumah.
***
Dua mobil sudah siap di basement. SUV untuk mengangkat tim serta bawaan mereka. Bahkan tenda dan sleeping bag termasuk alat masak portable, mengingat lokasi outdoor yang akan dikunjungi, jaga-jaga harus bermalam di outdoor. Mobil satunya sejenis campervan membawa peralatan shooting. Kamera dan alat audio. Kedua mobil tersebut ada branding Yess TV, meski yang SUV tidak mencolok seperti mobil satunya.
“Mbak Cinta belum datang ya, dia nggak mau disamper katanya bawaan banyak,” ucap Eru.
“Udah dari tadi. Tuh!” tunjuk Asep ke arah pintu basement.
Cinta dengan setelan celana cargo army dan kaos lengan panjang hitam lengkap dengan sneakers menghampiri. Rambutnya diikat rendah dan bertopi. Eru setuju dengan celoteh Asep kalau Cinta tidak terlihat meyakinkan sebagai karyawan melainkan mirip mahasiswa atau remaja. Lebih mirip penonton bayaran yang tersesat di tim produksi.
“Ayo, jalan!” titah Umar yang juga baru datang.
Supir dan Abil berada di campervan, sisanya di mobil lain dengan Asep yang mengemudi.
“Sesuai maps ya.”
“Iya, jangan ngebut. Aku belum nikah,” sahut Cinta.
“Gue juga belum, dua bulan lagi,” sahut Asep.
“Mau nikah sama siapa Ta? Elo ‘kan jomblo. Giliran ada yang deketin, ogah. Heran gue. Setiap mampir ke studio, Restu berisik nanyain elo,” tutur Umar sambil memakai seatbelt, ia duduk di samping Asep. Sedangkan Cinta dan Eru di kabin belakangnya.
“Yang jelas sama cowok. Gimana dong, nggak ada setrumnya sama dia. Masa buat hati, coba-coba.”
“Pengen nyetrum, lo pegang kabel konslet noh,” cetus Asep.
“Udah sih, fokus nyetir aja.”
Tujuan mereka adalah Cirebon. Satu jam pertama, Cinta masih kuat berceloteh dan tertawa. Satu jam berikutnya mulai bersandar dengan pandangan keluar jendela, tidak lama tertidur.
“Sepi,” ucap Umar menoleh melihat keberadaan Cinta.
“Tidur, bang,” sahut Eru. Mengarahkan ponsel melakukan selfie, kepala Cinta miring ke kanan menempel dengan lengannya meski tidak bersandar.
Mengupload ke media sosial di mana wajah Cinta ditutupi stiker dengan caption, “Partners in crime, soon”
Eru tersenyum. tidak lama lagi ponselnya pasti ramai.
egoisnya akbar hanya mementingkan ke baikan keluarganya sendiri. tanpa memikirkan orang lain.😤
siap2 reaksi cinta nrma ga ya kenyataan
kamu dah di kasih tau sama mamih kan dan di wanti² tentang gosip tidak enak nah ini maksudnya
harusnya kamu dukung dan restuin agar cinta dapet keluarga baru dari pihak keluarga laki². lah ini aneh² aja 😏
takut nama keluarga tercoreng,takut ini takut itu..
Takut saham hancur dan turun lebih pastinya..
tapi nggak mikir gimana cinta tidak mendapat keadilan untuk orang tuanya...
Perselisihan dan perpisahan pasti ada,tapi aku yakin cinta Eru itu tulus dan kuat.
lama lama Cinta juga akan luluh dan memaafkan Eru..
lagian bukan eru yang menabrak,mereka sama sama korban juga