Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.
***
Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Perdana Ditinggal Tugas
Aira menatap kamar president suit yang sudah dipesan oleh Gunawan untuk menjadi kamar penganti Baskara dan Aira. Aira menatap ranjang, ada dua handuk yang dibentuk seperti angsa dengan kepingan kelopak bunga mawar merah dan putih yang dibentuk hati besar mengelilingi handuk tersebut. Wewangian di kamar juga berbeda. Jauh lebih harum dari kamar hotel pada umumnya.
Happy wedding, Baskara dan Aira.
Tulisan yang terbuat dari karangan bunga juga diletakkan di bagian ujung ruangan, seolah menegaskan bahwa kini Aira sudah sah menjadi istri Baskara. Aira melepaskan sepatu hak tingginya. Kakinya sudah sedikit kebas karena harus berdiri berjam-jam untuk bersalaman dengan dua ribu lima ratus undangan. Kepalanya juga sudah mulai pening karena sanggul paes solo putri dengan sembilan sunduk penthul di kepala membuat kepala Aira seperti melayang. Belum lagi matanya yang sudah terasa sulit untuk dibuka. Rasa-rasanya, Aira ingin segers tidur saja.
Aira mengembuskan napas panjang saat ia menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di ujung kamar. Ia pun menatap jari manisnya, sebuah cincin emas sederhana dengan ukiran nama Baskara Wirayudha membuat matanya menatap nyalang.
Bukan pernikahan impian, tapi harus dijalani seumur hidup, batin Aira.
Tak lama ia mendengar suara ketukan pintu. Aira mengerutkan dahi, tapi ia dapat menebak siapakah orang yang mengetuk pintu kamar hotelnya. Tidak lain dan tidak bukan adalah Baskara, suaminya.
"Sorry. Aku lupa bawa kunci kamarnya. Kamu belum beres-beres, Ai?" tanya Baskara sesaat setelah masuk ke kamar. Ia melepas sepatu dan menatanya rapi di dalam rak. Ia pun melepaskan pakaian seragam upacara dan menyimpannya rapi dengan hanger di dalam almari. Mungkin begitulah tentara, ya, selalu rapi.
Baskara terkesiap manakala melihat ranjang yang penuh dengan bunga-bunga. Ia mengembuskan napas panjang.
"Astaga! Ini pasti kerjaan Bunda," ujar Baskara seraya mengambil tas plastik laundry dari dalam lemari dan membersihkan bunga-bunga di atas ranjang itu hingga bersih.
"Bunda kamu yang ngide, Bas?"
"Iya. Padahal aku udah bilang nggak usah dihias-hias. Ranjangnya udah bersih. Bisa kamu pakai kalau kamu mau istirahat," ucap Baskara.
Ia memperhatikan Aira yang tampak kesulitan melepaskan sunduk penthul dan jepit di rambutnya. Kepalanya sudah sangat pening dan segera ingin membebaskan diri dari sanggul besarnya.
"Kamu mau dibantuin buat lepasin itu nggak?" tanya Baskara.
Aira menatap Baskara dari kaca di hadapannya.
"Nggak usah. Kamu bersih-bersih duluan aja biar bisa istirahat."
Baskara mengangguk tak acuh. Ia pun mengambil kaos dan celana pendek di dalam tas ranselnya sebelum masuk ke kamar mandi. Sedetik kemudian, Aira menyesali telah menolak tawaran Baskara karena ternyata melepaskan sanggul beserta printilannya jauh lebih sulit dari yang Aira bayangkan. Belum lagi ia harus menghabiskan banyak cleansing oil dan kapas untuk membersihkan riasan di wajahnya. Belum sasakan rambut yang terkena hairspray yang harus di sisir rapi sebelum di keramasi.
Aira melirik saat Baskara keluar dari kamar mandi. Ingin meminta bantuan, tapi gengsi karena tadi sudah menolak tawaran Baskara. Alhasil, Aira berpura-pura chill sembari sedikit bersenandung.
"Belum kelar, Ai?" tanya Baskara seraya mengusap kepalanya yang basah dengan handuk.
"Bentar lagi." Bohong banget! Aku nggak tahu ini kelar jam berapa, Bas. Toloooongin! batin Aira menjerit.
Baskara mengangguk paham. Ia meletakkan handuk di belakang pintu kamar mandi, lalu mengambil sebuah bantal dan berjalan menuju ruang tamu.
"Kamu mau kemana, Bas?"
"Aku tidur di sofa aja. Biar kamu bisa istirahat dengan nyaman di ranjang. Aku tidur duluan ya, Ai," ucap Baskara seraya berjalan dengan langkah berat, lalu berbaring di sofa.
Aira menatap nanar ranjang king size di hadapannya. Ranjang itu seolah memanggil-manggil Aira agar segera tidur.
"Argh! Rambutnya susaaah... aaah! Mama," rengek Aira.
Ia memejamkan mata sejenak, lalu mencoba mengatur napas agar sedikit lebih sabar sebelum kembali mengurai rambut kusut nan kaku seperti kripik itu.
Aira melemparkan tubuh ke atas rajang. Usai semua kesulitannya selesai. Tiga jam sudah kurang lebih Aira berjuang sendirian untuk melepaskan semua aksesoris pernikahannya hingga dapat rebahan dengan nyaman. Aira menatap jam pada ponselnya. Pukul 01.00 dini hari.
"Ah, Great! Gue bangun jam 03.00 subuh dan sekarang baru mau tidur jam 01.00!" gumam Aira.
Aira meregangkan tubuhnya, sebelum mengambil satu bantal untuk ia peluk. Sayup-sayup Aira mendengar dengkuran halus dari arah ruang tamu. Sungguh diskriminasi, Baskara bahkan sudah tertidur pulas sementara Aira masih menghitung domba.
Bruuuk!
Baru hendak memejamkan mata, Aira dikagetkan dengan suara keras dari arah ruang tamu. Sayup-sayup Aira mendengar erangan tertahan dari Baskara. Aira bangkit dari ranjang dan mencoba melihat keadaan di samping kamarnya. Ia nyaris tertawa saat melihat Baskara sudah teronggok dilantai. Matanya sayu dan tangannya berulang kali mengusap-usap dahi.
"Kamu kenapa, Bas?" tanya Aira.
Baskara kembali duduk di sofa. Ia masih mengusap dahinya yang sepertinya terantuk ujung meja.
"Sorry aku bangunin kamu ya?Nggak tahu, nih, tiba-tiba mimpi latihan salto, eh ... ternyata jatuh," ucap Baskara seraya mengusap kepalanya yang terantuk meja.
Aira menahan tawanya, kasihan juga melihat Baskara. Sofa yang ditempatinya terlalu kecil dan pasti nggak nyaman.
"Aku baru mau tidur."
"Kenapa? Kamu kelaperan?"
"Ih! Enggak! Cuma ya, mungkin kecapekan jadi malah susah tidur. Ya, udah, aku lanjut tidur ya, Bas," ucap Aira.
Baskara mengangguk. Tak lama berselang, ponselnya berbunyi. Aira terkesiap saat Baskara terus menjawab siap dengan tegas. Aira kembali melongok keluar menatap Baskara.
"Kamu dicari komandan?" tanya Aira sedikit heran. Ia melihat jam dan baru pukul 02.30 dini hari.
"Iya. Aku harus ke markas sekarang."
Aira mengerutkan dahi.
"Sekarang?"
"Iya, Aira."
Baskara mengenakan jaket kulit dan celana jeansnya. Ia juga mengambil topi hitam dan menenteng tas ranselnya.
"Bukannya kamu cuti, ya?"
Baskara menatap Aira lekat-lekat usai mengenakan sepatu ketsnya. Baskara menatap Aira dari tempatnya.
"Tentara cuti itu nggak berarti benar-benar bisa cuti. Aku memang ada kerjaan. Izin cuma sehari buat nikah, tapi kalau dipanggil setiap saat, ya, harus siap, kan? Aku pergi dulu, Ai. Besok aku pamit sama yang lain via telepon aja. Setelah ini, kalau kamu mau temenin Mama Rahma di rumah nggak apa-apa. Senyamannya aja."
Aira mengangguk paham. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Aira saat mengantarkan Baskara pergi. Pintu tertutup rapat dan Aira kini sendirian di kamar besar itu.
***
"Widih, pengantin baru udah masuk aja. Bukannya lo masih cuti, ya, Ai?" tanya Sinta heran saat melihat Aira datang dan masuk di ruang jaga IGD.
"Gue kangen sama lo."
"Cih! Bohong banget. Lo sendirian? Kok nggak dianter suami?"
Aira duduk di salah satu kursi dan mengembuskan napas kasar. Ia menguncir rambutnya, lalu menatap Sinta heran saat ia menyadari ternyata sejak tadi Sinta terus menatapnya.
"Kenapa?"
Sinta menggeleng. "Nggak ada!"
"Gue paham dari sorot mata lo, lo kepo tentang sesuatu. Buruan, mau tanya apa?"
"Soal Baskara."
"Ah, udah gue duga."
"Jujur gue kaget waktu tahu lo nikah. Soalnya, kayak nggak percaya aja, Aira dengan single lifestyle nya tiba-tiba memutuskan buat nikah. Sama tentara lagi! Kapan pacarannya aja gue nggak tahu."
Aira membuang napas kasar. "Emang nggak pacaran."
Sinta menaikkan alis kirinya. "Terus? Masa iya lo dijodohin?" tanya Sinta nggak percaya. Ia berharap, Aira akan menyanggah habis-habisan, tapi kali ini Aira hanya diam.
"Ra, seriusan lo dijodohin?" tanya Sinta, kali ini suaranya sedikit berbisik agar tidak ada yang mendengar obrolan mereka.
Aira mengangguk. "Sebelum papa meninggal. Itu permintaan terakhirnya. Gue nggak bisa nolak," ucap Aira dengan suara tercekat. Matanya bahkan langsung kembali berkaca-kaca.
Sinta menatap Aira iba, ia mengusap punggung Aira beberapa kali.
"Tapi, Baskara baik, kan, sama lo? Dia nggak kasar dan kdrt gitu, kan?" tanya Sinta kemudian.
Aira membuang napas. "Untungnya, sih, enggak. So far so good. Dia juga bilang nggak mau dijodohin, tapi nggak bisa nolak juga karena permintaan orang tuanya. Paling enggak, kita sama-sama tahu kalau pernikahan ini bukan atas kemauan kita, tapi kesepakatan yang sama-sama nggak mau mengecewakan orang tua."
"Terus? Lo nikahi?"
Aira mengangguk.
"Terus?"
"Ya udah. Jalani aja."
Sinta mendengus, lalu tertawa. "Ya, nggak bisa lo jalani aja gitu! Nikah itu nggak kayak pacaran, Ra! Nggak bisa lo anggap mudah dan sederhana yang lo pikir."
Aira tersenyum miris.
"Ya, sementara kami memandangnya cukup sederhana. Nikah terus ya udah."
"Terus?"
"Apa?"
"Orang tua lo bakal minta lo buat kasih mereka cucu. Emang kepikiran sampai ke sana?"
Aira kembali membuang napas kasar. Ia mengacak rambutnya frustrasi sembari menangkup wajah dengan kedua tangannya.
"Ah, gimana jalannya ajalah, ini gue juga udah ditinggal tugas sama Baskara."
"Hah? Tugas?"
"Iya, semalem."
"Bukannya dia cuti?Terus lo nggak mempertanyakan gitu malam pertama pernikahan kalian, tapi lo malah ditinggal sendirian?"
Aira menggeleng. "Dia tugas, ya udah."
"Astaga, Aira! Jadi tujuan lo nikah sama Baskara apa?"
"Kan gue udah bilang tadi. Semua karena orang tua kita."
"Nggak ada cinta?"
Aira mengerutkan dahi. "Gue nggak kepikiran soal itu ...."
Sinta kembali menepok jidatnya. Tidak habis pikir dengan keputusan sahabatnya itu.
"Nikah tu selamanya, Aira. Yang pakai cinta aja kadang kandas apa lagi lo yang ... Ah! speechless gue."
Aira membuang napas kasar. "Hah, nggak tahulah, Sin. Pusing gue. Sampai detik ini aja gue masih mencerna keputusan gue ini. Apalagi sekarang beneran ada cincin di sini," ujar Aira seraya menunjukkan cincin kawinnya. "Nggak tahulah nasib kedepannya gimana."
___________________________