NovelToon NovelToon
Ketika Rekor Bertemu Rindu

Ketika Rekor Bertemu Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ella

Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.

Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.

Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.

"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"

Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Melihat Rindu yang terpaku dengan lidah mendadak kelu, Kenzo langsung mengulas senyum tipis. Aura dominan dan mengintimidasi yang sempat ia tunjukkan tadi seketika mencair, kembali berubah menjadi sosok pelatih muda yang santai namun penuh kendali. Ia tahu momen mengunci mental Rindu sudah berhasil.

Kenzo melirik ke arah air kolam yang berkilau tertimpa cahaya sore, lalu kembali menatap Rindu.

"Oke, sekarang waktunya pemanasan," ujar Kenzo, suaranya kembali renyah namun tetap tegas. "Kamu mau peregangan dulu di darat, atau mau langsung pemanasan di air?"

Rindu mengerjap, berusaha menguasai dirinya kembali dari rasa deg-degan yang sempat membuat dadanya berdesir. Ia berdeham pelan, membuang muka ke arah lain untuk menyembunyikan rona tipis di pipinya yang untungnya tertutup oleh penerangan kolam yang agak temaram.

"Peregangan di darat dulu," jawab Rindu akhirnya, suaranya kali ini tidak seketus tadi. Ego tingginya perlahan mulai melunak, digantikan oleh kepatuhan naluriah seorang atlet di depan pelatihnya. "Otot gue agak kaku gara-gara kelamaan duduk di kelas tadi."

"Pilihan bagus. Kalau langsung nyebur dengan kondisi otot kaku, lo cuma bakal nyiksa diri sendiri," kata Kenzo, kembali menggunakan bahasa santai 'lo-gue' agar suasana tidak terlalu tegang.

Kenzo melangkah mundur ke area lantai yang agak luas di samping tribun, lalu memberikan isyarat dengan kepalanya agar Rindu mengikutinya.

"Sini. Mulai dari statis dulu, dari kepala sampai ujung kaki. Gue gak mau lihat gaya renang lo berantakan sore ini cuma karena lo males narik otot leher," tambah Kenzo sambil mulai mengangkat kedua tangannya ke atas, menautkan jemarinya, dan mendorongnya ke langit-langit sebagai contoh gerakan pertama.

Rindu mendengus pelan, namun kakinya tetap melangkah mendekat. Ia mengambil posisi dua meter di depan Kenzo, lalu mulai mengikuti gerakan peregangan itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rindu merasa beban berat di pundaknya sedikit berkurang bukan karena tekanan latihan itu hilang, melainkan karena ia tahu, pelatih di depannya ini tidak sedang berniat menghancurkannya.

Setelah sekitar sepuluh menit melakukan peregangan statis dan dinamis yang cukup intens, Kenzo menurunkan kedua tangannya. Ia mengembuskan napas pendek, menatap Rindu yang peluhnya mulai sedikit keluar di sekitar pelipis, membuat wajah cantiknya terlihat makin segar.

"Oke, cukup," ujar Kenzo sambil menepuk kedua tangannya sekali, memberikan isyarat bahwa sesi darat telah selesai.

Kenzo berjalan menuju meja juri, mengambil papan klipnya, lalu berjalan kembali ke tepi lintasan empat. Ia berdiri di sana, menatap permukaan air yang jernih sebelum mengalihkan pandangannya lurus ke sepasang mata Rindu.

"Sekarang masuk kolam. Silakan pemanasan," kata Kenzo. Nada suaranya terdengar kasual, namun terselip ketegasan yang menenangkan di dalamnya.

Rindu sempat terdiam sejenak, bersiap mendengar embel-embel target jarak seperti yang biasa ia terima. ‘Pemanasan 800 meter gaya ganti, go!'—kalimat terkutuk Coach Hermawan itu sudah bersiap terngiang di kepalanya. Akan tetapi, kalimat selanjutnya dari mulut Kenzo justru membuat Rindu tertegun untuk kes kesekian kalinya sore ini.

"Ini pemanasan, bukan pemaksaan. Lakukan semampu lo," tambah Kenzo santai. Ia melipat kedua tangannya di dada, sama sekali tidak menyentuh peluit atau menyalakan stopwatch di ponselnya.

"Gue cuma mau lihat seberapa nyaman lo berbaur lagi sama air. Rasain aja setiap kayuhan tangan lo. Nggak usah mikirin waktu."

Rindu menatap Kenzo selama beberapa detik. Kalimat 'lakukan semampu lo' terasa begitu asing, namun entah mengapa terdengar sangat mewah di telinganya. Selama ini, kata 'semampu lo' adalah hal tabu yang dianggap sebagai bentuk kemalasan oleh ayahnya.

Tanpa sepatah kata pun, Rindu memakai kacamata renangnya, membenarkan letak cap (penutup kepala), lalu duduk di tepi kolam. Ia memasukkan kedua kakinya ke dalam air dingin yang menyegarkan, merasakan sensasi familier yang sempat ia benci beberapa minggu terakhir.

Byur!

Dengan gerakan meluncur yang sangat mulus dan estetis khas seorang atlet elite Rindu menjatuhkan dirinya ke dalam kolam. Ia mulai mengayunkan tangannya, mengambil gaya bebas dengan ritme yang lambat dan santai.

Kenzo berjalan perlahan mengikuti pergerakan Rindu dari atas tepi kolam. Matanya yang jeli langsung menganalisis setiap gerakan gadis itu. Secara teknik, Rindu memang luar biasa. Tetapi, Kenzo bisa melihat ada keraguan di setiap tarikan napasnya, seolah ada beban tak kasat mata yang menahan laju tubuhnya di dalam air.

"Rileks, Rin. Airnya gak bakal nenggelamin lo," gumam Kenzo pelan dari atas, memastikan suaranya terdengar di sela-sela Rindu mengambil napas ke permukaan.

Kenzo berjalan perlahan menyusuri tepi kolam, menyamakan langkahnya dengan ritme kayuhan Rindu yang sedang mondar-mandir menyelesaikan putaran pemanasannya. Sepasang matanya yang tajam dan berpengalaman sebagai mantan atlet kejurnas tidak sedetik pun lepas dari pergerakan tubuh gadis itu di dalam air.

Ia mengangkat papan klipnya, lalu mulai menggoreskan pena, mencatat detail demi detail dengan sangat teliti.

Catatan Analisis Pelatih: Rindu Prameswari

Kelebihan (Potensi Elite)

Streamline & Hydrodynamics: Posisi tubuh (body position) saat meluncur sangat sempurna. Dada dan pinggulnya berada tepat di permukaan air, meminimalkan hambatan hidrodinamis secara alami.

Catch & Pull Efektif: Teknik tangannya saat melakukan catch (menangkap air) sangat kuat. Sudut siku tingginya (high elbow) menunjukkan bahwa memori ototnya sebagai atlet internasional tidak hilang.

Diving & Turn. Refleks dan dorongan kakinya saat melakukan *flip turn* di dinding kolam masih sangat eksplosif.

Kekurangan (Blokade Mental & Fisik)

Kaku pada Otot Bahu (Trapezius): Ada ketegangan yang tidak perlu di area bahu setiap kali ia melakukan recovery tangan. Ini bukan masalah kurang latihan, melainkan manifestasi fisik dari stres dan kecemasan.

Ritme Napas yang Tidak Stabil: Pada meter-meter akhir putaran, Rindu cenderung menahan napas terlalu lama sebelum mengambil udara. Pola breathing yang berantakan ini membuat pasokan oksigen ke otot cepat habis, memicu kelelahan prematur.

Kehilangan "Feel for the Water": Di beberapa kayuhan, tarikan tangannya terlalu terburu-buru, seolah-olah ia sedang dikejar oleh sesuatu atau ingin cepat-cepat menyelesaikan sesi ini. Ia bertarung melawan air, bukan bergerak bersama air.

Kenzo berhenti di ujung lintasan, tepat saat Rindu menyelesaikan putaran keempatnya dan muncul ke permukaan sambil bersandar pada dinding kolam, napasnya sedikit memburu.

Kenzo menurunkan papan klipnya, lalu menatap Rindu yang sedang menyeka air dari wajahnya. Ia tidak langsung membeberkan semua catatan kekurangan itu untuk menjaga mental Rindu yang baru saja mulai melunak.

"Teknik meluncur lo masih juara, Rin. Nggak heran lo bisa pegang rekor nasional," ujar Kenzo tulus, membuka evaluasi dengan sebuah pujian objektif.

Ia kemudian berjongkok di depan Rindu, menyamakan level tatapan mereka.

"Tapi, bahu lo kaku banget sore ini. Lo kayak lagi mikirin beban satu negara pas lagi ngedayung. Coba lepasin semua ganjalan di kepala lo. Kita coba satu putaran lagi, kali ini lebih lambat, dan fokus rasain aliran air di bawah ketiak sama telapak tangan lo. Bisa?"

Rindu mengangguk pelan. Sepasang matanya yang dilapisi kacamata renang menatap Kenzo yang kini sedang berjongkok tepat di hadapannya.

Entah mengapa, ada rasa nyaman yang perlahan menyusup ke dalam dadanya ketika diarahkan oleh cowok ini. Rasa nyaman yang sudah sangat lama tidak ia rasakan di tepi kolam renang. Bersama Kenzo, tidak ada bentakan yang memekakkan telinga, tidak ada tatapan menghakimi yang menuntut kesempurnaan, dan tidak ada ancaman yang membuat lambungnya melilit karena stres.

Nada suara Kenzo yang tenang namun penuh keyakinan justru bertindak seperti jangkar yang menstabilkan emosinya yang sempat berantakan sejak pagi.

Rindu membenarkan letak kacamata renangnya, lalu menarik napas dalam-dalam. "Oke. Gue coba lagi," ujarnya pelan, nadanya kini benar-benar melunak, kehilangan seluruh keangkuhan yang ia bawa saat pertama kali menginjakkan kaki di sini.

Gadis itu mendorong tubuhnya menjauh dari dinding kolam, membalikkan badan, lalu kembali meluncur ke dalam air. Kali ini, Rindu mencoba melakukan persis seperti apa yang dikatakan Kenzo. Ia menurunkan ego dan ambisinya untuk bergerak cepat. Pada kayuhan pertama, ia sengaja merilekskan otot-otot bahunya yang tegap. Ia membiarkan lengannya memanjang ke depan, merasakan sensasi gesekan air dingin yang mengalir di bawah ketiak dan melewati sela-sela jemari tangannya.

“Satu... dua... ambil napas... tiga... empat...”

Di atas tepi kolam, Kenzo kembali berdiri, berjalan perlahan mengikuti pergerakan Rindu. Sudut bibir Kenzo terangkat membentuk senyum puas. Perubahan itu langsung terlihat nyata. Gerakan Rindu kini tampak jauh lebih anggun dan mengalir.

Ritme mengambil napasnya mulai teratur, dan yang paling penting, tubuhnya tidak lagi terlihat tegang bertarung melawan arus air.

Rindu Prameswari perlahan-lahan mulai menemukan kembali kedamaiannya di dalam air, tempat yang seharusnya menjadi rumah paling aman baginya, bukan neraka yang menakutkan.

Rindu menyelesaikan putaran keduanya dengan jauh lebih tenang. Begitu tangannya menyentuh dinding kolam, ia langsung menyembul ke permukaan, menaikkan kacamata renangnya ke atas dahi, lalu mengembuskan napas panjang yang terasa sangat lega.

Kenzo langsung berjongkok di hadapannya, melipat kedua lengan di atas lutut sambil menatap Rindu dengan binar mata yang suportif.

"Gimana perasaan lo, antara lo berenang di awal atau kedua kalinya lo coba?" tanya Kenzo langsung, menembak tepat ke inti evaluasi sore ini.

Rindu terdiam sejenak. Ia menyandarkan kedua lengannya pada pembatas lintasan, membiarkan tubuhnya mengapung santai di dalam air. Matanya menatap langit-langit gedung kolam indoor sebelum akhirnya beralih menatap Kenzo. Untuk pertama kalinya, tidak ada tatapan sinis atau defensif di mata gadis itu.

"Beda," jawab Rindu jujur, suaranya terdengar jauh lebih rileks. "Yang pertama... gue ngerasa kayak lagi dikejar-kejar. Pengen cepet nyampe ujung biar tugas gue hari ini selesai."

Rindu mengambil napas pendek, lalu sedikit tersenyum tipis sebuah senyuman tulus yang sempat hilang dari wajah cantiknya selama berbulan-bulan.

"Tapi yang kedua tadi... rasanya lebih ringan. Gue udah lama gak ngerasa se-adem ini pas tangan gue nyentuh air. Biasanya yang ada di kepala gue cuma bunyi peluit Coach Hermawan sama muka bokap yang melotot di tribun," akunya lirih, ada nada rapuh yang akhirnya ia biarkan runtuh di depan Kenzo.

Kenzo tersenyum hangat, mengangguk paham. "Itu karena lo akhirnya ngizinin tubuh lo buat kerja sama ama air, Rin, bukan ngelawan dia. Lo itu punya bakat alami yang gila, memori otot lo gak bakal hilang cuma karena lo lagi stres. Lo cuma lupa caranya menikmati prosesnya."

Kenzo menepuk tepi kolam dengan pelan. "Sesi sore ini sukses besar. Lo mau udahan terus bilas, atau masih mau main-main air dulu di sini?"

"Haaahh? Segitu aja?"

Rindu menatap Kenzo dengan mata membelalak tak percaya. Mulutnya sedikit terbuka, benar-benar tertegun mendapat perlakuan yang di luar prediksinya. Ia merasa seperti baru saja bersiap menghadapi hantaman ombak besar, tapi yang datang justru usapan angin sore yang sepoi-sepoi.

"Gue baru berenang beberapa ratus meter, Kenzo. Lo serius gak mau ngasih menu utama? Time trial? Atau minimal nyuruh gue sprint?" cecar Rindu beruntun, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Selama bertahun-tahun hidup sebagai atlet, belum pernah ada sesi latihan yang selesai bahkan sebelum ia sempat merasa lelah.

Kenzo terkekeh melihat ekspresi syok Rindu yang tampak menggemaskan dengan kacamata renang nangkring di dahinya. Ia bangkit berdiri, lalu menatap Rindu dari atas dengan tatapan penuh kendali.

"Rindu, dengerin gue," kata Kenzo, melipat tangannya di dada. "Bokap lo bayar gue bukan buat bikin lo pingsan di tepi kolam karena kecapekan. Tugas gue di sini adalah balikin 'jiwa' lo yang ilang. Sore ini, lo udah dapet lagi feel berenang lo, dan itu udah lebih dari cukup untuk hari pertama."

Kenzo berbalik badan, lalu berjalan santai menuju kursi tempat tasnya berada.

"Lagian, gue capek kalau harus nungguin lo 'konser' di ruang ganti dua kali lipat lebih lama gara-gara lo kelelahan," seloroh Kenzo sengaja memancing kekesalan Rindu lagi. "Buruan naik, tar lo masuk angin, gue yang diamuk bokap lo."

Rindu yang masih berada di dalam air hanya bisa mendengus pasrah, walau sudut bibirnya diam-diam berkedut menahan senyum. Cowok itu benar-benar tidak tertebak, bajingan menyebalkan, tapi entah kenapa... berhasil membuatnya merasa hidup lagi.

"Bisa gak sih lo gak nyebelin?!" teriak Rindu kencang, suaranya menggema di sekeliling dinding kolam indoor yang sunyi.

Gadis itu memukul permukaan air dengan telapak tangannya hingga menimbulkan kecipak keras, meluapkan rasa gemasnya yang sudah sampai ke ubun-ubun. Namun, respons yang ia dapatkan justru membuat tensinya makin naik.

Kenzo bahkan tidak repot-repot membalikkan badan. Sambil terus melangkah menjauh, cowok itu hanya mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, lalu mengibaskan telapak tangannya ke udara seolah mengatakan 'bodo amat' atas protes sang Ratu Lintasan.

Dengan gaya super santai, Kenzo kembali mendudukkan dirinya di kursi pelatih. Ia meluruskan kakinya yang panjang, lalu kembali mengambil ponselnya dari saku celana, asyik membuka kembali draf revisi bab empatnya yang sempat tertunda tadi.

"Cik! Dasar remah-remah kerupuk!" umpat Rindu pelan sambil bersungut-sungut.

Dengan perasaan dongkol setengah mati, Rindu akhirnya meraih tepi kolam dan mendorong tubuhnya naik ke darat. Ia menyambar handuk besarnya yang tergeletak di bangku penonton, lalu melilitkannya ke tubuh dengan sentakan kasar. Sepanjang jalan menuju ruang ganti, matanya tidak lepas dari Kenzo, melemparkan tatapan maut yang andai saja bisa menjelma jadi pisau, pasti sudah membuat punggung cowok itu bolong-bolong.

Tapi di balik semua rasa kesal yang menggebu-gebu itu, ada satu hal yang tidak bisa Rindu ingkari. Dadanya yang sejak berminggu-minggu lalu terasa sesak dan berat karena stres, sore ini mendadak terasa begitu lapang. Rasa kesalnya pada Kenzo justru berhasil mengusir semua trauma dan ketakutan yang biasanya selalu menghantuinya setiap kali ia keluar dari air.

—bersambung—

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!