Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 : KANCING BAJU YANG DIJAHIT SAMPAI JAM 1 PAGI
...BAB 6...
...KANCING BAJU YANG DIJAHIT SAMPAI JAM 1 PAGI...
Setelah malam hujan itu, jaket Chanelku tidak pernah kembali ke lemari.
Aku lihat Bu Kirana lipat rapi, taruh di kursi ruang tamu setiap pagi. Sore, ia pakai lagi untuk antar jemput Dimas. Malam, jadi selimut Dimas.
Ia tidak pernah bilang "makasih" lagi. Tidak pernah minta izin. Seolah jaket itu memang sudah miliknya. Dan anehnya, aku tidak pernah berani minta balik.
"Toh aku punya banyak," kataku pada diri sendiri. Tapi tiap lewat ruang tamu, mataku selalu berhenti di jaket hitam itu.
Satu minggu berlalu. Hubungan kami tetap canggung. Aku tetap Alina yang dingin. Ia tetap Bu Kirana yang menunduk.
Sampai hari Selasa.
Pagi-pagi aku panik. Besok ada acara perpisahan ekskul di sekolah. Dress code: formal. Gaun hitam yang Papa belikan bulan lalu.
Aku buka lemari. Gaun itu tergantung rapi. Tapi kancing di bagian punggung... copot satu.
Sial. Hanya tinggal 5 kancing dari 6. Kalau dipakai, pasti kebuka.
"Bu!" teriakku ke bawah. Nada komandoku masih keluar otomatis.
Bu Kirana muncul dari dapur, tangannya masih basah. "Iya, Nak?"
"Kancing gaun Alina lepas satu. Besok dipakai. Bisa benerin?"
Ia melirik gaun itu. "Bisa, Nak. Kasih Ibu benang hitam ya."
Aku melempar gaun itu ke tangannya tanpa "Minta tolong". Lalu masuk kamar, kunci pintu.
Sore harinya aku sengaja lewat ruang tamu. Bu Kirana duduk di sofa, lampu kecil di meja menyala. Di pangkuannya gaunku. Di tangannya jarum dan benang.
Ia menjahit pelan-pelan. Matanya fokus. Setiap tusukan jarum hati-hati, rapi. Tidak seperti tukang jahit butik yang buru-buru.
Dimas duduk di lantai, mengerjakan PR sambil sesekali menyuapi Bu Kirana potongan apel.
"Bu, istirahat dulu," kata Dimas.
"Nanti, Nak. Kancing Kak Alina harus selesai malam ini. Besok dia pakai," jawab Bu Kirana sambil menggigit benang.
Dadaku aneh. "Dia masih mau benerin gaunku? Setelah aku sobek undangannya? Setelah aku fitnah dia?"
Jam 21.00. Aku pura-pura tidur. Matikan lampu. Tapi aku tidak merem.
Jam 22.00. Dari celah pintu, aku masih lihat bayangan Bu Kirana di ruang tamu. Lampunya belum mati.
Jam 23.00. Aku turun diam-diam. Bersembunyi di balik tangga.
Bu Kirana masih di sana. Punggungnya mulai membungkuk. Matanya berkaca karena ngantuk, tapi jarumnya tetap jalan.
"Bu, udah jam 11," bisik Dimas sambil ngantuk. "Besok aja."
"Sebentar lagi, Nak. Tinggal dikit," kata Bu Kirana. "Kak Alina pasti kecewa kalau kancingnya nggak kepasang. Dia anaknya perfeksionis... Kayak Mamanya dulu."
Kalimat "kayak Mamanya dulu" itu menusuk.
Aku gigit bibir. Mama juga perfeksionis. Gaun robek sedikit saja langsung dibuang. Mama nggak pernah mau menjahit sendiri. Selalu panggil penjahit ke rumah.
Tapi perempuan ini... Rela begadang untuk kancing gaun anak tirinya.
Jam 00.30. Mataku mulai berat. Tapi aku tahan. Aku mau lihat sampai kapan dia kuat.
Jam 01.00. Tepat. Jarum terakhir ditusukkan. Bu Kirana memotong benang dengan gigi, lalu mengikatnya.
Ia mengangkat gaun itu, memeriksa. Menghela napas lega kecil. Senyumnya muncul. Senyum lelah tapi tulus.
"Alhamdulillah... Selesai juga..." bisiknya.
Ia lipat gaun itu rapi, taruh di atas nampan. Lalu menatap jam dinding. Menguap.
"Nak, naik yuk tidur," katanya ke Dimas yang sudah tertidur di sofa.
Mereka naik ke kamar. Lampu ruang tamu mati. Gelap.
Aku masih di balik tangga. Jantungku berdegup kencang.
Jam 1 pagi. Untuk kancing impor seharga 50 ribu satu biji.
Pagi harinya, gaun itu sudah tergantung lagi di lemariku. Kancingnya rapi, jahitannya kecil-kecil, hampir tidak kelihatan. Di sebelahnya ada secarik kertas post-it warna kuning, tulisan tangannya:
_Sudah Ibu jahit, Nak. Maaf kalau kurang rapi. Semoga acaranya lancar ya. - Ibu _
Tanganku gemetar megang kertas itu.
Aku remas. Aku buang ke tempat sampah.
"Tidak perlu," gumamku. "Alina bisa ke butik."
Tapi saat acara perpisahan, aku tetap pakai gaun itu. Kancingnya tidak lepas sama sekali. Setiap kali ada yang puji "Gaunnya bagus, Lin", aku jawab datar: "Iya lah... Mahal."
Sebenarnya gaunnya kemarin sudah rusak kalau tidak diperbaiki dengan kancing baru. Aku tidak bilang siapa yang menjahitnya.
Malamnya, aku sengaja lewat depan kamar tamu. Pintunya kebuka sedikit.
Di dalam, Bu Kirana sedang menjahit baju seragam Dimas yang robek di siku. Lampu kamarnya redup. Matanya sudah sembab.
Di meja kecil sebelahnya, ada toples kaca. Isinya uang receh dan kertas 20 ribuan. Di atasnya tulisan spidol: "Tabungan Service Laptop Papa".
Uangnya tidak banyak. Mungkin 300 ribuan.
Di sebelah toples itu, ada foto lama. Foto Mama, Papa, dan aku waktu aku umur 5 tahun. Foto itu diambil Bu Kirana dari album di ruang kerja Papa. Pinggirnya sudah lusuh, seperti sering dipegang.
Jantungku berhenti.
Dia... dia nyimpen foto Mama?
Bu Kirana sadar ada aku di pintu. Ia buru-buru menutup foto itu dengan buku.
"Eh, Lin. Sudah tidur, Nak?" katanya gugup.
Aku tidak jawab. Aku hanya melirik toples tabungan itu, lalu pergi.
Sampai di kamar, aku buka tempat sampah. Ambil lagi post-it kuning itu. Kertasnya sudah kusut.
Aku ratakan di meja. Baca lagi tulisan itu: _"Semoga acaranya lancar ya. - Ibu"_
"Ibu," katanya. Bukan "Bu Kirana". Bukan "Saya".
Tanganku mengepal. Mata panas.
"Berhenti berpura-pura jadi Ibu," bisikku ke kertas itu. "Kamu bukan Ibu aku."
Tapi kali ini, suaraku tidak sekeras biasanya.
Jam 2 pagi aku masih terjaga. Aku dengar suara mesin jahit dari bawah lagi. Pelan. Tik... tik... tik...
Dia belum tidur. Masih jahit baju Dimas.
Aku peluk bantal. Untuk pertama kali dalam 6 tahun, aku mimpiin Mama.
Di mimpi itu, Mama duduk di tepi ranjangku. Menjahit kancing bajuku yang lepas. Tangannya sama. Caranya sama. Pelan. Hati-hati. Sambil senyum.
"Lin, kalau kancing lepas, dijahit ya. Jangan dibuang. Sayang," kata Mama.
Aku bangun dengan pipi basah. Aku tidak ingat kapan terakhir kali nangis karena kangen Mama.
Aku lirik jam. 03.15.
Aku turun lagi. Kali ini aku tidak bersembunyi.
Bu Kirana kaget saat melihatku di ambang pintu. Jarumnya berhenti di tengah kain.
"Lin? Belum tidur, Nak?"
Aku diam. Lalu aku jalan ke meja, ambil kancing cadangan dari laci. Kancing hitam kecil.
"Ini," kataku sambil meletakkan kancing itu di meja. "Cadangan. Kalau yang tadi lepas lagi."
Bu Kirana menatap kancing itu, lalu menatapku. Matanya berkaca.
"Iya, Nak. Ibu simpan ya," katanya pelan. Suaranya bergetar.
Aku berbalik mau naik. Tapi langkahku berhenti.
"Bu," kataku tanpa menoleh. Suaraku kecil, hampir seperti bisikan. "Besok... jangan begadang lagi. Mata Ibu sembab."
Lalu aku lari naik ke kamar. Kunci pintu. Napasku ngos-ngosan.
Sial. Kenapa aku bilang gitu?
Di bawah, aku dengar suara Bu Kirana terisak pelan. Tapi kali ini bukan isakan sedih. Lebih seperti... lega.
"Baik, Nak," jawabnya dari bawah. "Ibu janji."
Malam itu aku tidur lebih nyenyak dari biasanya. Di mimpiku, ada dua tangan yang menjahit kancing bajuku. Satu tangan Mama. Satunya lagi tangan Bu Kirana.
Dan untuk pertama kali, aku tidak bisa bedain mana Mama dan mana Bu Kirana.
Bersambung ...
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄