Siap, ini deskripsi singkat yang diambil dari naskah yang kamu kirim (lebih sesuai dengan konflik, karakter, dan tensinya):
Dalam sebuah perjanjian yang tak bisa dihindari, Talia harus menerima takdirnya untuk menikah dengan Etnan—pria dingin, penuh kuasa, dan menyimpan banyak sisi yang tak terduga.
Di balik hubungan yang terlihat formal, terselip ketegangan, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap. Kehadiran Sophia yang obsesif, serta perasaan tersembunyi dari orang-orang di sekitar mereka, membuat hubungan itu semakin rumit.
Namun di antara sindiran, sentuhan yang tak diinginkan, dan emosi yang saling ditahan—perlahan tumbuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kewajiban.
Cinta yang seharusnya tidak ada… justru mulai mengikat mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : PERTEMUAN
Pertemuan keluarga besar kini diadakan di ballroom hotel ternama. Acara itu tak luput dari sorotan media, karena akan adanya penyatuan dua keluarga terhormat yang sudah lama dinantikan.
Baik keluarga Smith maupun Taylor mengundang kerabat besar mereka.
Satu per satu anggota keluarga berdatangan, disambut bidikan kamera para wartawan yang telah menunggu di depan pintu masuk hotel.
Mobil keluarga Taylor memasuki area teras hotel, disusul oleh keluarga Betrice.
Para anggota keluarga keluar dan menyapa awak media.
Namun, Ethan dan Sophia tidak tampak di rombongan itu.
Tak lama kemudian, keluarga Smith dan Johnson datang beriringan. Tampak Oliver dan Emma saling bergandengan. Thomas El Johnson dan Rieke Johnson, kerabat dekat keluarga Smith, juga hadir.
Terlihat pula Reymond Oliver Smith, Elex Barack Johnson, serta saudara kembarnya, Alex Barack Johnson.
Namun sang calon pengantin wanita belum juga terlihat.
Banyak yang berspekulasi bahwa Natalia Oliver Smith akan datang bersama Ethan Noah Taylor.
Namun dugaan itu patah.
Sebuah mobil sport berhenti di hadapan mereka.
Ethan keluar.
Namun bukan bersama wanita misterius yang ditunggu-tunggu
“Sophia?” sebut salah satu wartawan.
“Kenapa Ethan muncul bersama Sophia?” bisik yang lain.
Sophia menyelipkan tangannya di lengan kekar Ethan. Ia melambaikan tangan dan tersenyum.
Sedangkan Ethan tetap diam tanpa ekspresi, bahkan tidak menatap wanita yang menggandengnya.
( Beberapa jam sebelumnya— )
Sophia mendatangi apartemen Ethan.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Ethan sinis saat membuka pintu.
“Aku ingin pergi denganmu.”
“Kenapa kau tidak pergi dengan keluargamu?”
“Aku sedang mogok bicara dengan mereka.”
“Kau seperti anak kecil. Bersikaplah dewasa.”
“Aku sudah dewasa.”
“Lalu kenapa kau bertingkah seperti bocah?”
“Jangan sebut aku anak kecil, Ethan. Karena aku juga sudah bisa membuat anak kecil. Kalau tidak percaya, ayo kita coba.”
Sophia hendak melepas gaun yang ia pakai, namun Ethan dengan cepat menahan tangannya.
“Jangan berulah di depanku.”
“Kenapa? Kau tergiur?” godanya, sambil menarik rendah belahan dadanya.
Ethan menatap tajam. “Kau adikku. Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu denganmu.”
“Tidak. Aku bukan adikmu. Kita tidak memiliki hubungan darah, Ethan. Aku wanita dewasa yang siap dinikahi. Aku tidak mau hanya jadi adikmu.”
“Berhenti merengek. Kau bilang sudah dewasa, tapi sikapmu seperti ini?”
Sophia mendekat, berjinjit, memegang rahang Ethan, lalu mencium bibirnya penuh hasrat.
Namun Ethan tidak membalas.
Ia juga tidak menolak.
Ia hanya diam.
Lama Sophia melumat bibir Ethan, namun tak mendapat respon.
Akhirnya ia menjauh.
“Apa kau sudah puas?” tanya Ethan datar.
"Ethan."
"Aku harap ini menjadi kali pertama dan terakhir bagimu bertingkah seperti ini. Jika kau mengulanginya lagi, kau akan tahu akibatnya."
Ucapan itu keluar dingin dari bibir Ethan. Sophia sontak terdiam, kicep setelah menerima ultimatum tersebut. Namun, beberapa detik kemudian, senyum licik perlahan terukir di wajahnya. Tatapannya beralih ke sebuah sudut ruangan, tepat di mana ia telah memasang kamera tersembunyi di dekat tas yang sengaja ia letakkan di sana.
"Apa kau tidak mau hadir di acara itu?" tanya Ethan tiba-tiba, memecah keheningan.
"Ah, iya. Tunggu sebentar, aku ambil tasku."
"Kita akan pergi bersama ke sana?" tanya Sophia lagi saat mereka sudah keluar dari apartemen Ethan.
"Kau sudah di sini."
"Kau terpaksa, ya?"
"Jangan banyak tanya."
Di dalam mobil, Sophia tampak serius menatap layar ponselnya. Ternyata, ia sedang mengedit video yang diam-diam ia rekam sebelumnya. Ia hanya menampilkan bagian adegan ciuman mereka saja. Lalu, tanpa ragu, ia mengirimkannya ke sebuah nomor yang baru saja ia dapatkan beberapa waktu lalu dari seorang detektif.
#Kembali ke hotel—#
Kembali ke hotel.
Bisik-bisik para awak wartawan terdengar riuh, menanyakan kehadiran Sophia yang datang bergandengan dengan Ethan. Kenyataannya, itu langsung menjadi trending topik. Mereka juga mempertanyakan, di mana sosok wanita dari keturunan Smith yang selama ini tak pernah dipublikasikan.
“Tuan Ethan, di mana Nona Natalia? Mengapa justru Nona Sophia yang Tuan gandeng?” tanya salah satu wartawan wanita dengan lantang.
Ethan mendengarnya dengan jelas. Langkahnya terhenti sejenak, lalu ia menoleh menatap wartawan yang bertanya tadi.
Sekejap, tubuh wartawan itu merinding hebat saat menerima tatapan tajam sang predator. Namun, alih-alih menjawab, Ethan hanya memalingkan wajahnya dengan dingin, lalu kembali melangkah memasuki lobi hotel.
Sophia terkejar-kejar mengikuti langkah cepat Ethan. Hingga akhirnya, saat mereka tiba di ballroom, para pelayan segera membuka pintu besar, mempersilakan mereka masuk.
Suara pintu besar itu terbuka, diiringi bunyi langkah sepatu yang menggema. Sosok Ethan tampak begitu tangguh dan berwibawa. Namun, perhatian semua orang justru teralihkan pada wanita yang berada di sampingnya. Sebenarnya, bukan Ethan yang menggandeng—melainkan Sophia yang dengan sengaja merangkul lengan pria itu.
“Sialan,” gumam Rey pelan, tangannya mengepal, rahangnya mengeras.
“Tenanglah,” ujar Elex yang berdiri di sampingnya.
Tanpa mereka sadari, Alex yang berada di seberang ruangan juga menatap Ethan dengan sorot mata yang tak kalah tajam dari Rey.
“Berani kau menyakiti Tata, habis kau kubuat,” batin Alex.
Tata adalah nama panggilan yang Alex berikan untuk Natalia. Ia sangat dekat dengan gadis itu, bahkan lebih dekat dibanding Elex. Diam-diam, Alex juga menaruh hati pada Talia. Namun, ia tahu, gadis itu tak akan pernah bisa ia miliki—karena adanya perjanjian sialan itu.
Sophia akhirnya melepas gandengannya dan mendekat ke arah Adam dan Amelia, kedua orang tuanya.
“Apa yang kau lakukan?” bisik Amelia tajam pada Sophia.
“Aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya datang bersama Ethan saja.”
“Jangan bertindak lebih jauh dari ini, Sophia,” Adam memperingatkan, menatap putri semata wayangnya dengan serius.
“Aku tahu,” jawab Sophia santai. “Aku hanya mencium bibirnya saja tadi.”
Ucapannya pelan, hanya cukup didengar oleh kedua orang tuanya. Namun, itu sudah cukup membuat Adam dan Amelia membeku dalam keterkejutan.
“Kau apa—?”