Dimulai dari Evalia dan teman sekampusnya mendaki ke gunung untuk sekian lamanya, tidak menduga menjadi awal kehidupan yang berubah.
Evalia terbangun sebagai gadis desa di suatu negeri yang tidak dia kenali dengan wajah jauh berbeda, dan sialnya dia malah membangun obsesi sang tiran perang.
apakah hidupnya kali ini adalah kesempatan kedua atau sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiana Ayu novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 05
Eva mengambil nafas senang setelah mencelupkan tubuhnya ke dalam air, wajahnya seakan bersinar kala di terpa sinar mentari.
Pagi ini Eva kabur dari rumah untuk mulai berlatih beberapa teknik dan mencari beberapa tanaman herbal untuk dikumpulkan, dia ingat di dekat air terjun ada satu mata air yang terpisah yang punya khasiat bagus karena di dalam air tumbuh subur tumbuhan langkah.
Kali ini Eva berendam dengan pakaian pendek, mengantisipasi jika muncul Ferly lagi. Karena Eva ingat Ferly berburu hingga lokasi air terjun mungkin akan kembali lagi kan.
Eva berenang menuju air terjun, menyelam dan melewatinya dari bawah, saat masuk ke balik air terjun dai tersenyum senang melihat banyak batu metalium biru disana. Batu yang dikatakan mengandung sihir kecil, dan hanya orang Ilos tertentu yang bisa memakainya.
Eva keluar dari air untuk mengambil beberapa batu, berniat untuk dipakai buat bahan senjata barunya. diingat pedangnya hilang saat dia dari perbatasan, walau dia tidak bisa pakai batu metalium, tapi batunitu sangat bagus untuk bahan senjata, karena metalium seperti besi yang tajam.
Eva menyentuh batu yang masih menempel di dinding, seketika batu bersinar samar yang elok. Tanda batu mengenali nya sebagai penduduk Ilos, kabar batu metalium hanya bisa diakses orang Ilos, jadi jika bukan penduduk asli Ilos mereka akan sulit membawa baru metalium.
Eva mengambil secukupnya dan kembali menyelam keluar untuk kembali ke tepi Air terjun, Eva senang mendapat banyak buruan yang di cari hari ini.
"ternyata kamu suka kemari ya" Eva menoleh.
Benar tebakannya kalau Flery akan muncul lagi, sosok itu tersenyum pada Eva sembari menghalangi pandangannya ke Eva yang sudah keluar dari air.
"kamu berburu lagi ya?" eva mengambil handuk dan berganti di balik batu besar.
"iya... Niatnya akan makan siang disini seperti enak sembari tidur, tidak di duga kamu kemari". Flery menoleh ketika Eva sudah berpakaian rapih.
Eva tersenyum malu, "yah aku senang saja kemari, soalnya ada beberapa tanaman herbal disini".
Eva pamit untuk berburu tanaman herbal, meninggalkan buku, ransel dan kudanya disana bersama Flery karena entah kenapa dia merasa Flery tidak akan mengambil barangnya.
Flery tersenyum melihat siluet Eva yang menjauh, dan masuk ke hutan mencari tanaman herbal. Dia meletakkan busur dan barang-barang bawaannya, syukur tadi dia melepas atribut kerajaan di tendanya, jadi dia aman jika kudanya bertemu dengan Eva.
Flery melepas sepatu dan menyelipkan kaki ke air, merasakan sensasi menenangkan yang jarang dia dapat.
Terlahir sebagai saingan Felix adalah beban baginya. Terlahir lemah dan tidak bisa bertarung adalah kecacatan bagi kaisar, terlebih lahir dari wanita yang tidak dicintai kaisar, rasanya itu tidak adil kalau dia dibandingkan oleh kakaknya.
Padahal dia sudah berusaha menjadi kuat, tapi apa daya karena terlahir lemah dan mudah sakit, kedudukan tahta jatuh pada kakaknya. Dan itu membuat ibunya sang permaisuri terobsesi untuk menaikkan pangkatnya, dia juga merasa harus karena benci pada kakaknya, karena hanya dia yang dilihat ayahnya.
Dan pagi ini tadi_
Flery melepas pakaian atasnya, karena merasa semakin kesal dia berniat berendam dia air terjun untuk menenangkan diri, dia tidak mau Eva sadar ekspresi kesal dan tidak senang nya.
Flery menyelam dengan tenang merasakan dinginnya air, sangat damai dan menenangkan seperti biasa dia berendam tapi ada yang berbeda, seperti ada sesuatu yang memeluknya.
Eva kembali dengan senang karena berhasil mengumpulkan banyak tumbuh, dan dia ingin makan siang karena merasa lapar.
Eva kaget ketika di dekat air terjun melihat Flery, awalnya dia terdiam melihat Flery yang keluar dari dalam air, wajahnya memerah saat melihat tubuh atletis Flery saat dia melihat kearahnya.
"ah maaf Flery" Eva berbalik badan, memegang kedua pipinya yang memerah malu.
Flery terkekeh, dia tidak menduga kalau Eva akan kembali cepat sekali, dari air dan segera memakai pakaiannya
"kau sudah kembali, cepat sekali" Flery menatap Eva sembari merapihkan lipatan lengan bajunya.
"i_iya, aku lapar karena belum sarapan tadi, jadi a_aku kembali untuk makan, tidak tau kalau kamu sedang berendam maaf ya" Eva menunduk malu.
Flery terkekeh dan menepuk kepala Eva pelan, "tidak apa Eva. lagian kau tidak sengaja, ah kau bilang laparkan pas sekali aku bawa makanan banyak".
Mereka makan bersama, walau sedikit canggung diawal, pada akhirnya Eva mulai bisa berbincang santai dengan Flery, bahkan minta Flery menjadi teman berlatih pedangnya. Teringat kalau kedua sahabat laki-laki itu akan bertindak lembut, dia mau lebih bisa menjaga diri lagi.
Flery tentu mengiyakan, karena merasa mungkin Dia bisa lebih dekat dengan Eva jika seperti itu.
"eh ada krim di pipimu " Flery menegang kala tangan Eva menyentuh pipinya.
"terimakasih" Eva tersenyum, kembali lanjut makan.
Flery menoleh ketika melihat burung elang terbang berputar dia arahnya, itu kode dari pasukan yang memintanya kembali.
"ah kurasa aku harus lanjut mencari buruan Eva" Flery bangkit dari duduknya dan merapihkan barang.
"benarkah, okey kalau gitu. Aku juga harus pulang" Eva tersenyum.
Flery ikut tersenyum, sebetulnya dia ingin lama dengan gadis itu. Dia tidak pernah senyaman itu ketika bersama orang-orang di istana. Rasanya Eva melihat nya sebagai orang biasa yang pantas di dekati dan di temani.
"sampai jumpa esok Eva" Flery melambai pergi.
"eh Flery sebentar" Flery menoleh pada Eva yang berlari ke arahnya.
Dia mengeluarkan sesuatu seperti kristal daru kantung kecilnya, melepas pita yang mengikat rambutnya, Lalu membuat sesuatu seperti kalung.
"karena kamu mau menjadi teman berlatihku, ini tanda terimakasih ku dan tanda pertemanan kita" Eva tersenyum lebar.
Flery tersenyum, menerima dan segera menyimpannya disaku kantungnya.
"akan ku pakai esok, terimakasih Eva" Flery mengusap kepala Eva sebelum pergi.
Flery menyentuh kalung pemberian Eva, "aku berharap bisa lebih dari teman Eva". Batinnya.
...****************...
Eva menyeringai lebar saat mendapat tatapan garang dari Ella, tentu saja dia akan kena marah oleh mamanya kalau ketahuan keluar rumah sendiri.
Izkye hanya terkekeh melihat putrinya hanya menyeringai, persis seperti biasanya kalau dia kabur dan ketika kembali dimarahi Ella.
"hais setidaknya sarapan dulu nak, kenapa akhir-akhir ini kamu bersemangat sekali ke hutan" Ella menghela nafas lelah.
"wajar saja dia bersemangat, setelah tiga bulan kau kurang ma. Jiwa nya yang bagai singa meraung hendak bebas itu" kekeh Izkye.
Eva hanya bisa memeluk Ella agar wanita itu tidak marah lagi, dia hanya ingin cepat menuju air terjun agar bisa mendapat tetesan api dari bunga flors karena hanya bisa di dapat di pagi hari. Terlebih bunga itu juga tumbuh subur disana, jadi dia harus kabur cepat.
Ella menghela nafas panjang, memeluk balik Eva. Dia hanya merasa cemas, mengingat usia Eva sudah seharusnya mencari pasangan. Terlebih anaknya adalah gadis kesayangan desa, tentu saja banyak pria ingin menjadi pasangannya.
"tenang lah Eva, mamamu hanya takut kamu dibawa para pria yang ingin menikahimu, ingat usia mu sudah usia yang pas untuk mencari pasangan" kekeh Izkye.
"bukankah itu kamu ya pa, yang setiap ada anak lelaki yang hendak meminang putri kita sudah kau usir" Ella cemberut tidak mau mengakuinya.
"mereka saja yang ketakutan, aku tidak melakukan apa-apa ya" kekeh Izkye.
Eva terkekeh melihat kedua orang tuanya, padahal mereka lah yang membuat para bujangan kabur ketika berkunjung kerumah mereka hendak melamar. Katanya masih di bawah umur, atau masih apa lah.
Eva menuju kamarnya untuk meletakkan semua yang dia dapat di air terjun. Sesampai di kamar Eva, melihat burung hitam yang biasa dia menunggu.
"halo apa kamu sudah lama disini?" eva menyapa dengan riang.
Burung itu melengking seolah menjawab sapaannya.
Eva memberi kan beberapa biji, dia lupa untuk menyiapkan daging tadi.
Eva melangkah ke lemari, memilih pakaian yang santai untuk dia kenakan, Eva menoleh pada burung itu.
"jangan mengintip ya burung" ujarnya dengan nada sengaja sedikit galak.
selepas berganti Eva menarik kursi untuk bisa duduk dekat dengan burung itu di jendela, dan mengambil beberapa barang untuk dia olah terkhusus batu metalium untuk dijadikan belati kecil, karena dia mengambilnya hanya sedikit.
Burung itu tetap tenang mengawasi Eva, tapa tau kalau yang melihat bukan burung itu.
Di istana putra mahkota, Felix yang memakai penglihatan burungnya itu sedikit terkesan pada Eva yang sedang mengikis batu metalium, dia tau kegunaan batu itu sebagai kesatria.
"memang unik ya, Evanthe. Kabar batu metalium yang hanya bisa diakses orang Ilos itu benar ternyata" Felix tersenyum tipis.
Eva sedikit merasa merinding seperti diawasi seseorang, Eva melihat burung itu yang masih awas mengamati nya.
"perasaanku aja atau memang burung punya intuisi kuat mengawasi ya?" herannya.
...****************...