Kayla Daviena, seorang gadis konglomerat yang hidupnya suka foya-foya. Karena sikapnya itu, sang ayah mengambil seluruh kartu kreditnya dan bahkan menyuruh Kayla untuk tinggal seorang diri di kos-kosan sederhana di tengah kota! Hidup pas-pasan, tunggakan yang numpuk, piring belum di cuci, semuanya datang bertubi-tubi tanpa henti dalam hidup gadis itu. Siapa sangka ia tiba-tiba bertemu cowok aneh super menyebalkan yang tinggal di sebelah kosnya, dan mendadak di cowok itu memacari dirinya tanpa aba-aba! Apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di ajak makan
Sepanjang kelas berlangsung, Kayla hanya diam di tempat duduknya. Tubuhnya ada di kelas, namun pikirannya melayang kesana kemari.
Satu jam berlalu, kelas akhirnya selesai. Kayla dengan buru-buru segera keluar dari kelas dan menuju ke lantai bawah. Rasanya ia ingin langsung kabur dari tempat ini, segera sampai di rumah dan mengurung diri hingga seharian!
"Eh, good morning Kayla!"
Suara tak asing menyapa kedua telinga gadis itu. Kayla sontak berhenti dan berbalik. Do belakangnya Selena baru saja muncul dari toilet dan tersenyum ramah ke arahnya.
"Lo akhir-akhir ini bikin banyak berita baru ya. Oh my god, ternyata lo pacaran sama anak SMA?" ucap Selena dengan wajah yang dibuat seolah terkejut.
"Kok gue baru tahu sih?" ucapnya lagi.
Kayla tertawa pelan. Ia mendekati gadis itu hingga kini kedua wajah mereka saling berdekatan.
"Emang lo siapa? Lo itu ngga berhak tahu apapun tentang gue, dan satu hal yang perlu lo ingat!" Kayla menggantung kalimatnya.
"Ngga usah ikut campur urusan orang, lihat tuh muka lo udah mulai keriput!"
Selena membulatkan matanya, ia kali ini benar-benar terkejut sekaligus tak percaya dengan ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Kayla.
Kayla menatap tajam Selena sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan gadis itu seorang diri di sana.
Kayla mempercepat langkahnya, kini ia sudah keluar dari area kampus. Entah kemana ia pun juga tak tahu, ia hanya ingin meninggalkan kampus dan mencari ketenangan.
Tring! Tring!
Tiba-tiba suara notifikasi terdengar dari ponsel Kayla. Kayla meraih ponselnya dan segera memeriksa pemberitahuan di beranda.
Ada pesan yang masuk, namun dari nomor yang tidak di kenal. Kayla mengerutkan dahi, nomor siapa ini?
[Hai, Oma!]
[Jangan lupa save nomor gue]
Kayla kaget, itu rupanya nomor si bocil SMA itu! Ia dengan cepat mengetik deretan kalimat dan membalas pesan itu.
[Heh! Lo dapat nomor gue dari mana anjir?]
Tak lama kemudian, si Juna membalas pesanmu Kayla.
[Dari Bu Arin. Gue minta nomor lo sama dia tadi pagi]
[Coba lihat samping kiri lo, di seberang jalan]
Kayla refleks mengikuti ucapan di Juna. Alangkah kaget gadis itu begitu melihat sebuah motor sport hitam dari kejauhan kini tengah mendekat ke arahnya.
Motor itu berhenti tepat di samping Kayla. Tak lama kemudian si pengendara motor membuka helmnya. Juna menampilkan senyum terbaik miliknya. Senyum tampan yang menurut Kayla seperti bocah kematian!
"Ngapain lo kesini?" tanya Kayla ketus.
"Ya jemput lo, lah! Kan sekarang kita pacaran, Oma." jawab Juna enteng.
Kayla menatap tajam cowok itu, seolah ingin menelannya hidup-hidup. "Heh, gue ngga minta lo buat jemput gue! Gue bisa jalan sendiri, bye!"
Kayla mengalihkan pandangannya dan berjalan cepat meninggalkan Juna. Namun bukan Juna jika berhenti begitu saja, ia segera menyalakan motornya dan mengejar Kayla yang semakin menjauh.
"Lo yakin mau jalan dengan heels lo yang mentereng ijo-ijo neon itu? Ngga takut rusak?" tanya Juna.
"Ya terserah gue lah! Kalau rusak gue tinggal beli lagi!" kata Kayla malas.
KREK!
Tiba-tiba hak milik heels Kayla protol begitu saja tanpa aba-aba. Kayla kehilangan keseimbangan dan jatuh dengan tidak aesthetic di trotoar jalan.
"HAHAHAHAHA! Makanya kalau ngomong tuh di pikir dulu, nah lo kejadian beneran kan!" ucap Juna jahil sambil tertawa terbahak-bahak.
"Diem lo, bocil! Ah, gara-gara lo nih!" Kayla mendengus kesal.
"Lah sepatu lo yang rusak malah nyalahin gue," balas Juna.
Kayla masih mendumel kesal di tepi trotoar sambil menatap sebelah heelsnya yang sudah patah. Rasanya ia ingin menangis, ini heels terbaru dari koleksi Dior yang baru launching dua bulan lalu. Dan sekarang heels itu sudah rusak, sial! Mana harganya mahal lagi! Batin Kayla.
Juna menepikan motornya dan menghampiri gadis itu. Ia lalu melepaskan heels satunya dari kaki Kayla, membuat gadis itu langsung menatapnya dengan tatapan horor.
"Heh! Lo ngapain lepasin heels gue-"
"Ssst! Diem!" potong Juna.
Cowok itu lalu mengeluarkan sepasang flatshoes mungil dari tas selempang miliknya lalu memasang flatshoes itu pada kedua kaki Kayla.
"Eh, lo dapat dari mana tuh flatshoes? Ih, jangan-jangan lo nyolong ya?!" kata Kayla penasaran.
"Ngawur! Ya kali cowok ganteng kayak gue nyolong, jangan asal bunyi lo," timpal Juna tak terima.
Kayla memandangi sepasang flatshoes merah marun yang kini tengah dipakainya. Lucu sekali, pikir Kayla. Flatshoes ini benar-benar menggemaskan.
Namun senyum tipis di wajahnya seketika memudar, ia lalu mengangkat wajahnya dan menatap Juna dengan tatapan menyelidik.
"Heh, Jangan-jangan nih flatshoes punya simpanan lo ya?! Ngaku lo!" ucap Kayla, ia akan terus menanyakan hal ini sampai Juna benar-benar menjawabnya.
Juna hampir melotot, rasanya ia ingin menyumpal mulut Kayla dengan tisu. "Oma, gue ini masih muda! Belum pacaran lagi ya kali gue punya simpanan,"
"Udah sekarang lo pulang bareng gue, gue traktir makan deh! Dari pada lo pulang jalan kaki 6 kilo sampe kos panas-panas begini," ucap Juna.
Ia menggandeng tangan Kayla erat dan membawanya mendekati motornya. Ia lalu mengambil sebuah helm pink yang ia cantolkan dan memakaikan helm itu kepada Kayla.
"Eh, gue bisa pake sendiri-"
Juna menempelkan jarinya pada bibir Kayla, "Ssst! Diam,"
Kayla memutar kedua matanya malas. Dengan terpaksa ia naik ke atas motor Juna. Mereka pun berlalu pergi meninggalkan area kampus.
Jalanan tidak terlalu macet siang ini. Namun matahari yang terik membuat cuaca hari ini terasa panas sekali.
Setengah jam berlalu, sampailah keduanya di cafe yang Juna katakan sebelumnya. Elder De Cafe. Sebuah cafe mungil dengan interior menggemaskan als Ghibli dan vintage.
Begitu pintu terbuka, rupanya bagian di dalam sana jauh lebih luas di bandung yang Kayla pikir. Ada deretan tempat duduk yang berjajar rapi, di dinding cafe di hiasi dengan berbagai pernak-pernik seperti poster, piringan hitam musik, serta boneka menggemaskan. Lalu di sudut cafe dekat pintu keluar menuju area outdoor, ada sebuah rak berisi deretan roti hangat yang baru saja selesai di panaskan siang ini.
"Wah, gila bagus banget!" gumam Kayla pelan.
Juna tersenyum bangga. "Keren kan? Yuk pesen!"
Keduanya menghampiri meja kasir. Salah seorang staf lalu menghampiri keduanya dan menyambut mereka dengan ramah.
"Selamat, siang kak! Selamat datang di Elder De Cafe! Ada yang bisa kami bantu?" tanya laki-laki itu.
Juna menyenggol sikut Kayla, memberi isyarat kepada gadis itu untuk segera memilih meny apa yang akan di pesan.
"Lo mau pesen apa?" tanya Juna pelan.
"Nih beneran? Lo ngga lagi prank gue kan? Gue lagi bokek nih," tanya Kayla memastikan.
"Beneran, ayo pesen aja! Gue bayarin semua,"
Nah akhirnya ketemu Juna. Lumayan ngirit ongkos balik ke kos-kosan