Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?
"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."
Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Sedikit Eror
Pintu kamar mandi terbuka dengan dentuman yang cukup keras, dan Lala melompat keluar dengan wajah sepucat kertas.
Jubah mandi putih yang kebesaran itu melilit tubuhnya dengan asal-asalan; ikatannya menggantung longgar, nyaris terlepas, dan rambutnya yang basah kuyup meneteskan air ke lantai marmer yang mahal.
"Tuan Ben! Saya... saya minta maaf!" seru Lala, suaranya melengking tinggi karena panik.
Ben yang sedang menatap tabletnya tersentak. Ia memutar kursi kerjanya dengan gerakan tajam, matanya menyapu Lala dari ujung kaki hingga ke kepala. "Ada apa lagi?" tanyanya dingin, meskipun ia harus menahan napas sejenak melihat kekacauan yang baru saja terjadi.
"Itu... alat yang menempel di dinding! Yang ada tombol-tombolnya! Saya pikir itu pengatur suhu air, tapi ternyata... ternyata itu malah mengeluarkan uap panas dari lantai dan langit-langit secara bersamaan! Lalu saya tidak sengaja menekan tuas yang lain, dan sekarang ada suara musik klasik yang volumenya tidak bisa dikecilkan!"
Ben terdiam. Ia memejamkan mata rapat-rapat. Itu adalah sistem smart-shower otomatis miliknya yang baru ia instal minggu lalu untuk efisiensi waktu mandi.
"Itu sauna mode," desis Ben, berdiri dari kursinya. "Dan musik itu terhubung dengan sistem AI home saya. Anda baru saja mengaktifkan protokol relaksasi yang seharusnya hanya digunakan saat saya baru pulang dari misi."
Lala tampak hampir menangis. "Saya benar-benar minta maaf! Saya tidak bermaksud merusaknya, sumpah! Saya cuma ingin mandi, tapi tombolnya terlalu banyak!"
"Dasar ceroboh!"
Ben berjalan mendekati Lala, langkahnya panjang dan tegas. Saat ia sampai di depan gadis itu, ia berhenti. Suasana di apartemen yang tadinya tenang kini dipenuhi dengan suara Vivaldi - Four Seasons yang bergema megah dari sistem surround sound apartemen, menciptakan kontras yang sangat konyol dengan Lala yang berdiri gemetaran dengan piyama kebesaran.
Ben menunduk, menatap ikat pinggang jubah mandi Lala yang hampir melorot. Ia menghela napas panjang, sebuah raungan frustrasi yang tertahan.
Dengan gerakan yang sangat cepat namun tanpa emosi—seolah ia sedang memperbaiki komponen senjata—Ben menarik tangan Lala dan membetulkan ikatan jubah itu dengan simpul yang kuat dan rapi.
Jarak mereka kini sangat dekat. Lala bisa mencium aroma kayu cendana dan sabun mandi maskulin yang melekat pada tubuh Ben.
"Kamu," ujar Ben dengan nada rendah yang bergetar karena menahan emosi, "benar-benar sebuah bencana berjalan, Lala. Kamu tidak bisa mandi tanpa membuat kekacauan senilai harga renovasi satu kamar kost."
"A...apa? Mahal banget," cicit Lala dengan nada protes. Ben hanya tersenyum miring kemudian berucap dengan sangat santai, "Dan kamu harus menggantinya kalau rusak."
Ben tidak menjauh. Ia justru menatap mata Lala, memperhatikan tetesan air dari rambut gadis itu yang jatuh ke keningnya.
"Nyesel banget saya dibawa kesini," protes Lala lagi seraya menghentakkan kakinya kesal.
"Makananmu akan datang sebentar lagi," lanjut Ben, suaranya kini sedikit lebih berat. "Dan jika kamu tidak ingin saya kunci di dalam kamar mandi itu sampai proyek kamu selesai, berhentilah membuat keributan di apartemen saya."
Tepat saat itu, bel pintu apartemen berbunyi—layanan makanan sudah tiba.
Ben langsung berjalan menuju pintu depan, meninggalkan Lala yang masih mematung di tengah ruangan, dikelilingi oleh musik klasik yang masih mengalun megah dan rasa malu yang luar biasa.
"Lala," suara Ben menggema dari arah pintu depan, dingin dan menuntut. "Makanan sudah di meja. Saya tidak akan mengulanginya."
Lala menarik napas dalam-dalam, mengencangkan ikatan jubah yang tadi dibetulkan Ben—yang anehnya terasa sangat pas dan kencang—lalu berjalan keluar dengan langkah kaku.
Ia berusaha menutupi rasa malunya dengan sikap defensif.
Begitu ia sampai di ruang tengah, ia melihat Ben sudah menata kotak-kotak makanan mewah di atas meja marmer. Pria itu sudah kembali ke mode "robot"—duduk dengan punggung tegak, tablet di tangan, seolah-olah insiden di kamar mandi tadi tidak pernah terjadi.
Lala berhenti tepat di depan meja, wajahnya memanas. "Baju saya... basah semua."
Ben tidak mendongak. "Saya tahu. Itu konsekuensi dari ketidakmampuan kamu mengoperasikan peralatan dasar."
"Lalu saya harus pakai apa?" sahut Lala, keberaniannya mulai muncul kembali bersamaan dengan aroma steak yang sangat menggoda hidung. "Saya tidak mungkin pulang pakai jubah mandi Anda, kan?"
Ben akhirnya mendongak. Ia menatap Lala, dan untuk sekejap mata, pandangannya tertuju pada simpul jubah yang tadi ia ikat sendiri di pinggang gadis itu. Ia segera membuang muka, menatap layar tabletnya dengan lebih intens.
"Di lemari kamar utama ada beberapa pakaian Pilih yang paling tidak terlihat seperti kain lap," jawab Ben datar, meski telinganya sedikit memerah.
"Makan dulu. Saya tidak ingin kamu pingsan lagi saat sedang mencoba mencari baju di lemari saya. Itu akan membuat saya harus melakukan CPR, dan saya tidak punya waktu untuk itu."
Lala mendengus sinis, meski perutnya tidak bisa berbohong. Ia segera duduk dan membuka kotak makanan itu dengan rakus. Di seberangnya, Ben masih diam, namun ia memperhatikan Lala dari sudut matanya.
Lala menyadari satu hal: di balik sikap dingin dan "robot" itu, Ben Arganza baru saja membiarkannya mandi, memesankannya makanan mahal, dan bahkan meminjamkannya baju.
"Tuan Ben," panggil Lala di sela suapan steaknya.
"Apa lagi?"
"Kenapa Anda repot-repot melakukan ini? Bukankah saya cuma 'aset yang merepotkan'?"
Ben terdiam cukup lama. Ia meletakkan tabletnya, menatap lurus ke arah Lala dengan tatapan yang sulit diartikan. "Saya hanya tidak suka melihat proyek saya rusak sebelum waktunya. Itu saja."
Pembohong, batin Lala. Namun, ia memilih untuk diam dan kembali menikmati makanannya, sementara di seberang meja, Ben kembali ke dunianya sendiri—dunia di mana ia berusaha keras untuk tetap menjadi robot, meski keberadaan Lala di sana mulai membuat sistem pertahanannya sedikit error.
***
jadi nikmati aja alurnya