Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.
Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.
Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.
Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.
Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.
Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.
Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.
Tapi terlambat...
Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima ratus ribu
Hadi sedang memperbaiki engsel lemari yang retak ketika ia mendengar suara pagar depan dibuka.
Ia mendongak dari jongkoknya dan menatap ke arah pintu ruang tamu yang memang selalu ia biarkan terbuka kalau sedang sendiri di rumah. Dari sudut pandangnya, ia bisa melihat sebagian halaman depan melalui jendela.
Langkah yang ia kenal.
Hadi berdiri.
Monica masuk ke rumah dengan membawa tas dan ekspresi lelah yang tidak repot-repot disembunyikan... alis sedikit berkerut, langkah yang tidak seenergik biasanya, ujung-ujung rambutnya sedikit kusut seperti orang yang sudah seharian di luar dan tidak sempat merapikan diri.
Tapi tetap cantik. Monica selalu cantik.
Hadi menyimpan obengnya di atas meja. "Tumben."
Monica melepas sepatunya di depan pintu, tidak langsung menjawab.
"Biasanya kamu pulang menjelang malam," lanjut Hadi. Suaranya dijaga ringan, bukan menuduh, bukan menuntut. Hanya bicara. "Ini baru setengah enam. Mau temani aku malam ini?"
Monica mendongak. Menatapnya dengan ekspresi yang datar. "Jangan ge-er deh."
Hadi menahan sesuatu di dadanya, memasang wajah yang tidak berubah.
"Aku pulang cepat bukan karena mau temani orang miskin kayak kamu." Monica meletakkan tasnya di sofa, tas cokelat yang Hadi tidak tahu harganya tapi bisa menebak itu bukan tas murah. "Aku capek. Itu saja."
"Oh."
Monica sudah bergerak ke arah lorong kamar.
"Mon." Hadi memanggil.
Langkahnya berhenti.
Ia tidak berbalik, berdiri membelakangi Hadi, satu tangannya masih memegang tali tas yang tersampir di bahunya, kepalanya tidak menoleh.
Hadi menatap punggung istrinya sebentar.
Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari saku celana kerjanya... amplop kecil yang sudah ia siapkan sejak tadi pagi. Ia mendekat pelan, berdiri sedikit di belakang Monica, dan mengulurkan amplop itu ke sisinya.
"Ini." Hadi memberikan amplop itu.
Monica akhirnya menoleh... melihat ke amplop itu, kemudian ke wajah Hadi.
"Lihat hasil kerja proyek minggu ini. Lima ratus ribu." Hadi berkata dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. Di dalam dadanya ada sesuatu yang ia tahu tidak seharusnya ada... harapan kecil, harapan bodoh, harapan yang sudah terlalu sering dikhianati untuk masih layak dipelihara. Tapi tetap ada.
Ia ingin Monica mengambil amplop itu dengan kedua tangan. Ingin melihat senyum kecil yang dulu sering ia lihat, senyum sederhana dari perempuan yang dulu bilang tidak butuh banyak. Ingin, meski hanya sekali lagi, merasa seperti suami yang cukup.
Monica menatap amplop itu.
Satu detik. Dua detik.
Kemudian sisi bibirnya turun, bukan senyum, tapi kebalikannya. Pandangannya bergeser ke wajah Hadi dengan ekspresi yang membuat amplop itu terasa semakin ringan di tangannya.
"Lima ratus ribu." Monica mengulang angka itu. Bukan pertanyaan. Pernyataan yang membuat angka itu terdengar seperti sesuatu yang memalukan.
"Mon..."
"Simpan sendiri itu." Monica tidak menyentuh amplopnya. "Buat apa aku ambil receh segitu."
Hadi menurunkan tangannya.
"Kamu tahu," kata Monica, berputar sedikit untuk menghadapinya dengan lebih penuh, "setiap bulan aku dapat sepuluh juta. Cuma-cuma. Tanpa harus minta-minta, tanpa harus pura-pura senang terima recehan." Ia mengedikkan bahu. "Jadi kamu pikir aku mau repot-repot ambil lima ratus ribu dari kamu?"
Udara di ruang tamu itu terasa berubah.
Hadi sangat diam.
"Sepuluh juta," ulangnya pelan.
Monica menyadari sesuatu, ada kilatan kecil di matanya, sesuatu yang lewat sebentar, sebelum ekspresinya kembali ke wajah yang tidak peduli. Tapi sudah terlambat. Kalimat itu sudah keluar.
"Dari siapa?" tanya Hadi no pelan, tapi penuh penekanan ingin tahu jawabannya.
"Bukan urusanmu." Monica memalingkan wajahnya.
"Monica." Suara Hadi lebih rendah sekarang. "Dari siapa kamu dapat uang sepuluh juta sebulan?"
"Aku bilang bukan urusanmu." Monica semakin meninggi.
"Kamu istriku. Ini sangat urusanku." Hadi tetap menuntut jawaban dari istrinya.
"Hadi." Monica berbalik menghadapi sepenuhnya, matanya sudah tidak datar lagi, ada panas di sana, panas yang selalu muncul setiap kali ia merasa terdesak dan memilih menyerang sebagai pertahanan. "Jangan mulai. Aku capek, aku mau istirahat, dan aku tidak dalam mood untuk diinterogasi suami yang bahkan tidak bisa kasih uang belanja layak."
"Jawab pertanyaanku dulu."
"Tidak."
"Mon!" Hadi juga mulai terpancing amarahnya.
"TIDAK." Suaranya makin naik satu oktaf, memenuhi ruang tamu yang tidak besar itu. "Kamu tidak berhak tanya-tanya tentang uangku! Itu bukan dari kamu, jadi itu bukan urusanmu! Sudah, selesai!"
Hadi menatapnya.
Ada banyak yang ingin ia katakan... ia bisa merasakannya, semua kalimat itu menumpuk di belakang giginya, mendesak untuk keluar. Tentang dari mana perempuan yang mengaku kelelahan ini mendapat energi untuk marah sebesar itu. Tentang apa artinya sepuluh juta sebulan dari seseorang yang tidak ingin disebutkan namanya. Tentang semua kemungkinan yang sudah mulai berbaris di kepalanya sejak nama angka itu keluar dari mulut Monica.
Tapi ia menelannya semua.
"Baik," suaranya kembali rendah. Satu kata, datar. "Baik."
Monica menatapnya sebentar, seperti menunggu ia meledak, seperti sudah siap dengan pertempuran yang tidak jadi terjadi. Kemudian ia mendengus pelan, mengencangkan tas di bahunya, dan berjalan ke lorong kamar.
Pintu kamar ditutup.
Tidak dibanting kali ini... tapi cara menutupnya, tegas dan tuntas, berbicara dengan cukup.
---
Hadi berdiri di tengah ruang tamu.
Amplop lima ratus ribu masih di tangannya.
Ia meletakkan amplop itu di atas meja dengan pelan.
Kemudian mengambil jaketnya, meraih kunci motor, dan keluar dari rumah tanpa bersuara.
Di luar, malam Griya Asri sudah mulai hidup dengan suara-suaranya. Hadi berjalan ke ujung blok...bukan ke parkiran motor, tapi ke bangku tua di bawah pohon mahoni di persimpangan, tempat yang biasa dipakai bapak-bapak duduk sore tapi sekarang sudah sepi. Ia duduk di sana, merentangkan punggungnya, dan menatap langit yang mulai gelap di atas atap-atap rumah.
"Sepuluh juta sebulan."
"Cuma-cuma."
"Dari seseorang yang tidak ingin disebutkan namanya."
Ia mengeluarkan ponselnya.
Ada beberapa panggilan tidak terjawab dari nomor-nomor bisnis yang bisa ditunda. Ada pesan dari Laras... laporannya hari ini, ringkas dan terstruktur seperti biasa. Ada notifikasi dari beberapa aplikasi yang tidak ia buka.
Ia menemukan nama Laras di daftar kontak dan menelepon.
Nada sambung dua kali, kemudian:
"Pak Hadi?"
"Laras, aku butuh bantuan." Hadi berbicara pelan, bukan karena ada yang mendengar, tapi karena ada beberapa hal yang lebih mudah diucapkan dengan suara yang tidak perlu membuktikan apapun. "Cek rekening atas nama Monica. Istriku."
Hening sebentar di seberang. "Baik. Untuk keperluan apa, Pak? Supaya aku tahu seberapa dalam ceknya."
"Seseorang rutin transfer uang ke rekeningnya. Jumlahnya sepuluh juta sebulan." Hadi menatap ujung jalan yang lengang. "Aku mau tahu siapa."
"Mengerti." Suara Laras tidak berubah...profesional, tidak bertanya lebih dari yang perlu. "Butuh berapa lama?"
"Secepat yang kau bisa."
"Saya usahakan besok pagi sudah ada hasilnya."
"Bagus." Hadi menyandarkan punggungnya lebih dalam ke sandaran bangku. "Satu hal lagi, Laras."
"Ya, Pak?"
"Ini tetap antara kita."
"Tentu, Pak Hadi. Seperti biasa."
Telepon ditutup.
Hadi menyimpan ponselnya. Ia duduk di bangku tua itu sendirian, di bawah pohon mahoni yang daunnya mulai gugur satu-satu tertiup angin malam, di perumahan yang penuh rumah-rumah berdekatan tapi entah kenapa terasa seperti tempat yang sangat sepi.
Di kepalanya, sepuluh juta sebulan terus berputar seperti angka yang tidak mau diam.
Siapapun yang mengirimnya... ada sesuatu yang tidak beres.
Dan Hadi sudah cukup lama hidup di dunia yang tidak beres untuk tahu bahwa jawaban dari pertanyaan seperti ini hampir tidak pernah sederhana.
Ia menunggu.
Besok pagi, Laras akan menelepon.
Dan Hadi, yang sudah terlalu lama berpura-pura tidak tahu banyak hal, memutuskan bahwa malam ini adalah malam terakhir ia membiarkan dirinya tidak tahu.
Robby dan Monica mungkin akan kacau, karena Monika tahunya hanya menahan uang