Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.
Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.
"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."
Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."
Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Rekonstruksi Udara
"Dua ton amonium nitrat?" ulang Cala dengan napas tertahan. Suaranya bergetar hebat. "Itu bahan peledak yang sama dengan yang dipakai teroris untuk meruntuhkan gedung pusat pemerintahan di berita tahun lalu! Untuk apa mereka membawa barang mematikan itu ke kota kita? Kita harus segera menelepon komandan polisi sekarang juga, Dokter!"
Ronan menggeleng tegas. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua lengan di dada bidangnya. "Menghubungi kepolisian pusat sama saja dengan membunyikan alarm bahaya bagi sindikat itu. Kita sudah sepakat bahwa ada informan Zeta di dalam markas. Laporan resmi hanya akan membuat mereka memindahkan dua ton barang mematikan itu sebelum tim sergap kepolisian tiba di pelabuhan."
"Lalu kita harus bagaimana? Duduk diam disini sambil minum kopi menunggu mereka meratakan satu blok kota dengan tanah?" protes Cala bertubi-tubi. Wanita itu memukul ujung meja kaca dengan gemas. "Ayo kita pergi ke pelabuhan Sektor Barat itu sekarang. Kita intai mereka, kumpulkan bukti fotonya sendiri, dan kita bawa langsung ke markas militer yang tidak tersentuh sindikat!"
"Keluar dari keamanan apartemen yang berlapis ini adalah tindakan bunuh diri yang sangat konyol," potong Ronan sangat cepat. Suaranya berat dan mengintimidasi. "Kamu lupa insiden lemparan cairan asam pekat di restoran malam itu? Mereka sedang mengawasi setiap pintu keluar gedung ini. Keluar dari sini, kepalamu berisiko tertembus peluru penembak jitu dalam hitungan detik."
"Tapi kita tidak bisa membiarkan dua ton bom itu bergerak bebas!" Cala menatap Ronan tajam, menolak menyerah pada perdebatan.
Ronan tidak menjawab protes wanita itu. Pria itu bangkit berdiri dari kursi, melangkah panjang menuju sebuah lemari besi penyimpan peralatan forensik di sudut ruang kerjanya. Jari-jarinya menekan beberapa tombol angka pada panel kunci elektronik secara beruntun. Pintu besi berderak terbuka.
Pria itu mengeluarkan sebuah kotak hitam kecil bertekstur kasar. Ia membuka penutupnya dan mengambil sebuah perangkat mekanik berwarna perak gelap. Bentuknya sangat ramping, nyaris sebesar burung gereja, dilengkapi empat baling-baling super kecil dan sebuah lensa optik cembung di bagian paling depan.
"Apa itu? Mainan helikopter untuk mengusir rasa bosan?" tanya Cala mengerutkan dahi kebingungan.
"Ini drone intai mikro kelas militer tinggi," jawab Ronan sambil mengutak-atik pengaturan sandi di layar komputer tabletnya. "Bodi utamanya dilapisi bahan khusus peredam radar. Kameranya punya sensor pemindai panas inframerah jarak jauh, dan baling-balingnya dirancang khusus untuk tidak mengeluarkan suara dengung sama sekali saat membelah udara."
Ronan berjalan cepat menuju pintu kaca balkon apartemen. Ia menggeser pintu baja berlapis kaca itu sedikit saja, memberikan celah yang cukup untuk membiarkan angin luar masuk. Pria itu melempar drone kecil itu ke udara. Benda canggih itu langsung melesat terbang membelah langit kota, menghilang ke arah barat dalam kedipan mata. Pintu kaca ditutup kembali dengan sangat rapat dan terkunci otomatis.
"Duduk dan perhatikan layar ini baik-baik," perintah Ronan seraya kembali ke kursi kerjanya.
Cala menarik kursinya merapat ke arah Ronan. Layar monitor besar di tengah meja kini menampilkan rekaman langsung dari kamera drone. Kualitas gambarnya luar biasa jernih. Mereka bisa melihat gemerlap lampu jalan raya, atap-atap gedung bertingkat, hingga akhirnya pemandangan berubah drastis menjadi kawasan industri yang gelap gulita dan sepi di area pesisir.