Vandra dan Mia saling menyukai diam diam. Vandra cowo gaul yang tampan yang sukanya clubbing, brantem tapi atlet karate yang berprestasi. Sedangkan Mia cewe rumahan yang pintar dan manis.
cerita ini hanya perjalanan cinta anak sma yang dipenuhi intrik intrik kecil, persaingan,
rada setia kawan dan pengungkapan cinta yang manis.
Walaupun tetap ada konflik keluarga yang mengharukan. Tentang pengorbanan ibu dan anak, dan pertentangan keluarga yang sangat kaya raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Pesta Ulang Tahun Rosa
"Bosan aku acara gini. Mending langsung ke vila lo," sungut Aldi. Rokoknya udah tinggal separoh. Saat ini mereka masih berada di halaman hotel sambil ngerokok santuy.
"Malam ini ga bisa, Dady Mamy gua mau nginap sama teman temannya. Minggu depan aja," tolak Eri menjelaskan.
"Kalo hotel lo Ton? Ada yang kosong gak?" tanya Aldi lagi.
"Libur gini ya, penuh. Kalo mau nginap selain malam minggu. Ingat ga kita pernah diusir Oma pas nginap malam weekend," tukas Tony kesal. Lagi enak enak tidur dibangunin suruh keluar dari kamar hotel. Dasar omanya lebih mentingin tamu hotel dari pada cucu gantengnya.
"Bisnis is bisnis, Bro?" kekeh Aldi mengingat saat saat mereka diusir. Vandra, Eri dan Doni ikut terkekeh.
"Lo ngapain kemaren pake acara maen piano segala, Van. Segitunya buat narik perhatian Mia," sindir Doni tiba tiba setelah tawa mereka berhenti.
"Ngapain Lo pamer," kaget Toni. Sangat langka Vandra memainkan piano.
"Jangkrik, kesambet lo," seru Eri ga kalah kaget Vandra adalah manusia langka yang gak pernah mau memperlihatkan kelemahannya. Bisa bisanya, batinnya terpukul.
"Karena itu lo ga ikut bolos. Pengaruh banget Mia buat lo," sarkas Aldi kesal. Gara gara nungguin Vandra, mereka ketahuan bolos sama Pak Hadi dan disuruh masuk kelas dengan catatan pas pulang harus push up 30 kali.
"Sorry, Al. Pas Mia bilang jangan bolos langsung kehipnotis gue," kekeh Vandra disambut pelototan kesal teman temannya.
"Besok Vandra bakal ikut pentas seni," timpal Doni dan langsung tergelak.
"Syukurin lo. Senang gue dengarnya," sambut Aldi puas.
Toni dan Eri ikut tergelak, mensyukuri wajah Vandra yang terlihat kesal.
"Bu Monika ga mau dengar penolakan. Gue bakalan minggat pas acara pentas seni," kata Vandra kesal.
Teman temannya malah tergelak ga mempedulikan perasaan kesal Vandra.
"Ngapain kalian masih di luar. Acaranya udah dimulai woi," seru Fino saat menghampiri teman temannya yang tertawa dan melihat aneh pada raut kesal Vandra.
Tanpa banyak kata mereka mengikuti Fino masuk ke.dalam hotel. Banyak teman teman basket dan anak anak cheers yang diundang. selebihnya teman teman hang out Rosa di sekolah. Ada jugq adik dan kakak kelas mereka.
Vandra sempat mengidarkan matanya mencari sosok Mia. Ternyata ga datang. Vandra menghembuskan nafas kasar.
Tadi mereka melewatkan acara do'a, sekarang saatnya potong kue. Setelah memberikan potomgan kue pada orang tuanya, Rosa kembali memotong kue lagi.
Matanya tersenyum saat melihat Vandra yang sedang mengobrol dengan teman temannya. Dengan langkah pasti Rosa berjalan menghampiri sang kapten basket.
"Van, Rosa ke sini," bisik Eri yang berdiri di dekat Vandra.
Vandra reflek menoleh dan melihat Rosa agak kaget. Perasaannya ga nyaman.
"Van, terima ya," kata Rosa langsung menyodorkan sendok kecil kue ke depan mulut Vandra.
Vandra ingin nolak tapi ga enak saat melihat orang tua Rosa yang tersenyum ramah padanya.
Akhirya Vandra membuka mulutnya menerima suapan itu dibarengi dengan kamera kamera hp yang tertuju pada mereka, mengabadikan momen berharga ini.
Setelah itu tanpa ragu Rosa menarik tangan Vandra yang hanya bisa mengikuti dengan enggan. Ternyata Rosa menariknya ke piano. Ternyata kehebatannya maen piano sudah menyebar. Tapi kenapa curut curut itu ga tau? batin Vandra kesal.
"Maenin aku lagu selamat ulang tahun dong," pintanya manja.
Vandra ingin menolak, tapi lagi lagi ga enak.sama orang tua Rosa yang merupakan partner bisnis orang tuanya.
"Abis Vandra," ucap Toni sambil menggelengkan kepala.
"Kesempatan buat Rosa ni," komentar Aldi juga ikut menggelengkan kepala.
"Pasti divideo in tu," sinis Eri.
"Salah, ya, gua suruh kalian masuk," kata Fino bergetar. Dia bisa membayangkan betapa marahnya Vandra nanti.
"Salah banget. Siap siap aja lo ditonjok Vandra," kata Eri menakut nakuti. Tapi kepalanya langsung ditoyor Aldi yang langsung menelpon Vandra.
Vandra yang berada di situasi sulit, bingung nyari alasan untuk menolak tiba tiba merasakan hp di saku celananya bergetar.
"Sebentar Rosa," katanya sambil mengangkat hp. Matanya menatap aneh pada nama pemanggil yang muncul dan menoleh ke temannya yang menganggukkan kepala.
"Ada apa?" tanyanya ragu.
"Papamu di bandara." Untung tadi Aldi sempat dikabari Papanya kalo mereka sedang dalam perjalanan pulang ke Jakarta bersama orang tua Vandra.
"Ok." Senyum cerah terbit di wajahnya. Thank's bro, batinnya lega.
"Sorry Rosa, Papaku minta dijemput. Tante, Om, Vandra pamit dulu ya, mau jemput Papa," katanya sopan.
"Oiya, ga apa Van. Salam ya buat Papa dan Mama kamu," balas Papa Rosa mengerti.
"Bentar aja, Van," rengek Rosa tetap maksa.
Vandra mau muntah rasanya.
"Sorry ya," katanya sambil pergi ke arah teman temannya yang langsung mengikutinya.
"Kalian ngapain ikut?" Vandra menghentikan langkahnya dan menatap heran pada Aldi, Eri, Toni, Doni, bahkan Fino.
"Mau jemput Papa juga," ledek Aldi sambil melangkah pergi diikuti teman temannya. Vandra tersenyum lebar. Mereka memang ga cocok dengan acara membosankan seperti ini.
Begitu sampai diparkiran, Vandra kembali menatap teman temannya yang tetap ikut mobilnya, Kecuali Fino yang bawa mobil sendiri.
"Apa mereka udah sampai bandara, Al?"
"Belumlah. Masih lima jam lagi. Kita ke club dulu," jawab Aldi santuy.
Vandra terkekeh.
"Makasih, ya, udah selamatin gua," lanjutnya sambil terkekeh.
"Untung aja Aldi kepikiran ngirim pesan ke Papanya," ujar Toni senang melihat wajah Vandra yang udah ga tegang lagi.
"Si Fino udah bingung, nyesal ngajak kita masuk ke ruangan pesta," kekeh Eri.
"Lagian tu anak, kenapa sih gitu amat. Pengen diakuin banget jadi pacar lo," tukas Aldi heran dan kesal.
"Besok bakalan viral video lo suap suapan dengan Rosa." Toni mengingatkan. Pasti malam ini udah tersebar foto foto dan video suap suapan Vandra dan Rosa.
"Adek mau bang," ledek Eri membuat teman temannya terpingkal pingkal ga mempedulikan wajah emosi Vandra.
"Pokoknya kalo ada undangan ulang tahun kayak gini lagi, aku ga akan datang," tandas Vandra tiba tiba kesal lagi. Tapi teman temannya malah ga peduli, malah kembali tergelak.
Kapan lagi lihat kapten basket mati kutu di depan cewe hanya karena norma kesopanan? Cih, yang jelas karena ada orang tua Rosa. Biasanya Vandra dengan tegas menolak cewe cewe yang mendekatinya. Kecuali yang satu itu. Atau belum aja ditegasin. Doni tersenyum sendiri dengan pikiran pikirannya.