Lahirnya seorang pangeran yang cerdas dan berbakat seharusnya menjadi keberuntungan suatu kerajaan ataupun kekaisaran, tetapi yang terjadi justru keberadaannya dianggap sebagai ancaman nyata oleh berbagai pihak yang mendambakan kekuasaan semu.
Melalui sebuah konspirasi, sang pangeran harus mengalami musibah. Ia yang sebelumnya dikenal cerdas dan berbakat, berakhir menjadi seorang pangeran yang tidak berguna.
Dengan kondisinya itu, sang pangeran diusir dari istana dan dibuang ke Gerbang Timur, tempat di mana para keluarga istana yang dianggap sampah diasingkan.
Namun, di balik musibah yang terjadi, Gerbang Timur menjadi titik balik kebangkitan sang pangeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kronik Rahasia Istana
Setelah itu Qin Zhao meminta Goziro untuk kembali tidur di tempatnya.
“Sial! Mana cincin penyimpananku?” geram Qin Zhao yang baru menyadari cincin spasialnya tidak lagi berada di ruas jarinya. Ia begitu panik karena tubuhnya tidak memakai apa pun. Namun, bukan hanya itu saja yang membuatnya panik. Ia pun menyadari bahwa semua harta warisan dan hasil usahanya yang berada di dalam cincin ikut lenyap.
“Sial, sial, sial!” Emosinya meledak dan membuat area di sekitarnya menjadi hitam terbakar.
Dengan terpaksa Qin Zhao berjalan sambil menutupi bagian bawahnya. Ia tidak kembali ke batu besar tempatnya bermeditasi, melainkan memasuki salah satu gubuk yang berada di dekat lawang gerbang untuk menyembunyikan diri.
“Bukankah aku memiliki pakaian hitam?” Qin Zhao menelusurinya di alam pikir, dan ternyata semua yang ada di dalamnya masih utuh. “Syukurlah.” Ia kembali tersenyum, lalu memakainya.
“Sekarang aku memiliki tubuh api abadi. Bukankah ini membuatku sangat kuat? Ha-ha!” Qin Zhao sangat bangga dengan keberuntungan dirinya. Ia pun bergegas untuk merasakan lautan spiritualnya. Nahas, ia tidak bisa merasakannya. Kembali ia mengulanginya, tetapi lautan spiritualnya telah hilang.
“Apa yang terjadi? Mengapa aku tidak merasakannya?” Qin Zhao kembali emosi. Hal itu membuat gubuk yang ditempatinya berubah menjadi serpihan debu. Untungnya pakaian yang dikenakannya tidak terdampak.
“Bagaimana aku bisa berkultivasi jika lautan spiritualku hilang?” keluhnya.
Kondisinya itu membuat Qin Zhao tidak lagi bisa berkultivasi. Satu-satunya energi di tubuhnya hanyalah api abadi. Meskipun begitu, Qin Zhao tidak larut dalam kekecewaan. Dengan adanya energi api abadi, dia masih memiliki kekuatan untuk menghadapi musuh.
Ia kemudian mengambil pedang dari alam pikir dan terkejut melihat pedang yang sebelumnya berkarat, kini diselimuti api membara. Kekecewaan pun terobati karenanya.
“Aku ingin tahu apakah energi api abadi ini bisa menggantikan energi spiritualku?” Ia mencobanya memperagakan teknik pedang dengan energi yang berbeda. Hasilnya, kemampuan bela dirinya jauh meningkat dari sebelumnya.
Gerakannya makin luwes, kecepatan dan kekuatannya meningkat pesat. Teknik Pedang Gerbang Timur miliknya kini memasuki level baru.
“Sempurna!” ucapnya begitu takjub dengan kemampuan diri yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Semangatnya yang menggelora memacu dirinya untuk melatih teknik lainnya yang tersimpan di alam pikir. Tak tanggung-tanggung, ia pelajari semuanya tanpa harus terbatasi tingkat kultivasi.
***
Aula istana Kekaisaran Qin.
Kaisar Qin Zhang berdiri di hadapan para pejabat yang berbaris. Satu per satu para pejabat itu ditatapnya dengan serius. Tampak kekesalan tersembunyi di balik sorot tegas sang kaisar. Ia terlalu jenuh menanggapi tuntutan yang terus digaungkan oleh para bawahannya itu.
“Takhta ini,” suara Kaisar bergema, tegas dan berat, “tidak akan diwariskan kepada siapa pun sebelum waktunya. Putra mahkota harus lahir dari kebijaksanaan, bukan dari intrik. Aku nyatakan kepada kalian, siapa pun yang bersuara tentang pengangkatan putra mahkota dianggap sebagai pemberontakan dan dihukum mati.”
Ketegasan Kaisar kali ini mampu mengguncang sanubari para pejabat hingga membuat mereka semua tidak berani menegakkan kepala.
“Jika tidak ada lagi yang dilaporkan. Pertemuan hari ini selesai. Silakan kembali!” ucap seorang kasim istana menutup sesi rapat.
***
“Ibu, apakah peluangku menjadi putra mahkota berakhir?” tanya Qin Canglan setelah mengetahui informasi dari aula istana.
“Mengapa harus menjadi putra mahkota? Aku ingin kau menjadi kaisar,” bisik Permaisuri Li Hua di telinga Qin Canglan.
Sedikit terkejut mendengarnya, tetapi yang dikatakan oleh ibunya sangat menyenangkan. Sebagai pangeran tertua sepeninggal Pangeran Qin Zhao yang diasingkan ke Gerbang Timur, Qin Canglang menjadi pangeran yang memiliki peluang besar untuk dinobatkan sebagai putra mahkota. Namun sekarang, ia tidak perlu lagi memikirkan peluang itu. Perkataan sang ibu melebihi harapannya.
“Apakah Ibu ingin kita memberontak?” tanya pelan Qi Canglan menebak maksud dari ucapan sang ibu.
“Jangan sembarangan bicara. Ini istana, siapa pun bisa mendengarnya,” ujar Permaisuri mengingatkan, lalu memintanya kembali.
Menjelang malam, Permaisuri Li Hua mendatangi kediaman Perdana Menteri bersama putranya, Qin Canglan.
“Bagaimana perkembangan pasukan kita, Ayah?” tanya Li Hua begitu duduk di hadapan Perdana Menteri.
“Pasukan?” Kening Qin Canglan mengerut, belum memahaminya.
“Kau diam saja!” pinta Li Hua kepada anaknya.
“Semua berjalan lancar,” jawab Li Wudang. “Dan kau sendiri, bagaimana caramu agar pihak lainnya di istana tidak mengganggu rencana kita?”
“Inilah maksud kedatanganku, Ayah.”
“katakanlah!”
“Setelah diselidiki oleh Jenderal Yao Ming, para selir diam-diam membangun kekuatan. Sepertinya mereka menunggu momen untuk masuk ke dalam skenario. Aku masih belum menemukan cara yang tepat untuk menanganinya.”
“Biarkan saja. Kedudukan mereka rendah dan tidak akan berdampak besar pada rencana kita. Yang aku khawatirkan justru di kubu Kaisar.”
“Apakah ada kekuatan tersembunyi di pihak Kaisar?”
“Harusnya sebagai permaisuri, kau lebih mengetahuinya.”
“Lalu, apa langkah kita selanjutnya?”
“Memantau pergerakan Kaisar.”
“Ha-ha, aku paham. Sebagai permaisuri, biarkan aku yang menanganinya.”
***
Di pihak selir istana khususnya Selir Lan Yue dan Selir Xian Ruo, keduanya mulai tidak sabar untuk bertindak. Didukung oleh Sekte Bayangan Iblis dan membentuk faksi kegelapan, mereka memiliki modal yang cukup untuk bertindak. Namun, koalisi mereka bukan untuk menduduki jabatan di istana, apalagi menjadikan putra dan putri mereka menduduki putra mahkota. Tujuan utama mereka adalah menundukkan semua kekuasaan di atas kekuatan yang mereka miliki.
Keunggulan mereka terletak pada jaringan gelap yang tersebar di seluruh wilayah Kekaisaran Qin hingga ke wilayah terluar. Mereka menguasai itu, dan hebatnya, tidak ada pihak lain yang mengetahui rahasia di balik kekuatan tersembunyi keduanya.
Pangeran Qin Lei dan Putri Qin Xue baru saja kembali dari Sekte Bayangan Iblis. Keduanya bergegas membawakan laporan kepada Selir Lan Yue dan Selir Xian Ruo yang sudah menunggunya.
“Ibu, besok kita akan tes ombak di Kota Lingzhao. Semua sudah siap,” beber Qin Lei.
“Bagus! Jika itu berhasil, dampaknya akan menyebar hingga ke dua kota besar lainnya sebelum ke ibu kota.” Selir Lan Yue sumringah mendengarnya.
“Bukankah ini memantik negara asing menyerang wilayah kekaisaran?” Selir Xian Ruo sedikit mengkhawatirkannya.
“Adik yang kusayangi ini masih bodoh rupanya,” sindir Selir Lan Yue. “Kekacauan yang kita buat bertujuan untuk memancing banyak pihak, termasuk negara asing. Dan ini akan membuat suami kita terdesak untuk mencari sandaran. Ingatlah, kita memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh siapa pun!”
“Aku paham. Tujuan kita sebenarnya untuk mengungkap semua kekuatan dari berbagai pihak.”
“Cukup baik daya tangkapmu, tapi itu kurang tepat. Tujuan besar kita yaitu memetakan semua kekuatan di luar faksi kita dan tentunya membuat Kaisar bergantung pada kita.”
Berbeda dengan kedua selir sebelumnya, Selir Mei Lian dan Selir Yu Rou tidak mengandalkan kekuatan dalam aksinya. Keduanya adalah pilar politik dan ekonomi; keduanya pun dikenal cerdas dan licik oleh Kaisar Qin Zhang. Oleh karena itu, sang kaisar lebih memperhatikan tindak-tanduk keduanya dibanding dengan Permaisuri Li Hua maupun selir-selir lainnya.
Hal yang diketahui Kaisar bukan tanpa alasan yang kuat. Peran kedua selirnya itu sangat krusial, terutama dengan kehidupan rakyat. Mereka bisa menjaga stabilitas ekonomi juga meruntuhkannya sesuai keinginan mereka. Di samping itu, mereka menguasai banyak pihak pejabat tingkat rendah hingga prefektur. Jaringan bisnis dan politik adalah kekuatan utama mereka.
Kecerdasan keduanya pun diwariskan kepada putra dan putri. Pangeran Qin Feng sangat berbakat di bidang sastra dan politik, sementara Putri Qin Yun pandai berbisnis.