Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga yang Lebih Berbahaya
📖 BAB 6: Keluarga yang Lebih Berbahaya
Angin malam berhembus dingin di halaman mansion keluarga Gu, tetapi Lin Qingyan merasa udara di sekelilingnya jauh lebih tajam daripada itu.
Nama yang baru disebut Han masih menggantung di kepalanya.
Gu Beiming.
Adik Gu Beichen.
Pria yang beberapa jam lalu tertawa santai di meja makan, bercanda seolah dunia hanyalah hiburan kecil baginya.
Sekarang ia diduga menjual data perusahaan sendiri.
Qingyan menoleh ke Beichen.
Wajah pria itu tetap tenang.
Terlalu tenang.
Itulah yang justru menakutkan.
“Kau sudah tahu?” tanya Qingyan pelan.
“Belum pasti.”
“Kalau benar?”
Beichen memasukkan kedua tangan ke saku celana.
“Kalau benar, malam ini seseorang akan menyesal dilahirkan.”
Han menunduk sedikit.
Qingyan menatap mansion megah di depan mereka.
Beberapa menit lalu rumah ini terlihat seperti simbol kekuasaan.
Sekarang terlihat seperti kandang ular berlapis marmer.
---
Mereka masuk melalui pintu utama.
Suasana rumah berubah. Para pelayan bergerak lebih cepat, berbicara lebih pelan, dan menunduk lebih dalam ketika Beichen lewat.
Kabar rupanya menyebar lebih cepat dari lift.
Di ruang keluarga utama, Madam Gu sedang duduk sambil minum teh. Beiming berdiri di dekat rak anggur, tampak santai seperti biasa. Yuna duduk di sofa sambil memainkan ponsel.
Saat Beichen masuk, tak seorang pun bicara.
Han berdiri di belakang tuannya seperti bayangan.
Qingyan memilih diam dan mengamati.
Madam Gu meletakkan cangkirnya.
“Kenapa kembali?”
Beichen menatap adiknya.
“Aku lupa membawa sampah.”
Yuna tersedak.
Beiming tersenyum kecil.
“Kakak sedang buruk suasana hati?”
“Kau sedang buruk dalam menyembunyikan jejak.”
Ruangan mendadak membeku.
Madam Gu menajamkan pandangan.
“Apa maksudmu?”
Han maju selangkah dan menyerahkan tablet. Beichen tidak melihatnya.
“Cabang timur kehilangan dana besar. Direktur ditangkap. Sebelum dibawa, dia menyebut satu nama.”
Beiming menyesap anggur.
“Banyak orang suka menyebut namaku. Aku populer.”
“Dia juga menyerahkan bukti transfer.”
Beiming berhenti minum.
Hanya sesaat.
Namun Qingyan melihatnya.
Dan Beichen juga.
---
Madam Gu berdiri perlahan.
“Beiming.”
Pria itu meletakkan gelas.
“Ibu, aku bisa menjelaskan.”
“Bagus,” kata Beichen datar. “Aku suka cerita sebelum menghancurkannya.”
Beiming tertawa pendek.
“Kau selalu seperti ini. Sedikit masalah langsung jadi hakim.”
“Sedikit?”
Beichen akhirnya melangkah mendekat.
Setiap langkahnya membuat Yuna mundur tanpa sadar.
“Kau menjual data perusahaan ke Hanse Group.”
“Buktinya?”
Han mengangkat tablet.
“Transfer melalui tiga perusahaan cangkang. Semua mengarah ke rekening atas nama trust milik Anda.”
Beiming memandang Han sambil tersenyum dingin.
“Kau terlalu rajin untuk seorang bawahan.”
Han membalas tenang.
“Saya dibayar untuk itu.”
Qingyan menahan senyum.
---
Madam Gu memukul tongkatnya ke lantai.
“Cukup!”
Semua diam.
Ia menatap kedua putranya bergantian.
“Satu rumah. Satu darah. Dan kalian bertingkah seperti musuh.”
Beichen menjawab tanpa emosi.
“Karena musuh di luar tidak tinggal serumah denganku.”
Beiming menatap kakaknya tajam.
“Sejak Ayah meninggal, kau mengambil semua kendali. Semua keputusan. Semua pujian. Apa kau kira aku akan terus berdiri di belakangmu?”
“Kalau tak mampu di depan, ya.”
Yuna menutup mulut menahan napas.
Madam Gu menatap Qingyan sekilas, mungkin baru sadar betapa kacau keluarganya terlihat di depan menantu baru.
Qingyan ingin bilang bahwa keluarganya sendiri juga tak kalah rusak, tapi memilih diam.
---
Beiming berjalan ke arah Beichen sampai keduanya berhadapan.
“Aku juga anak keluarga Gu.”
“Kau benar.”
“Jadi aku berhak atas bagian.”
“Kau juga benar.”
“Lalu kenapa semuanya milikmu?”
Beichen menatapnya datar.
“Karena aku membangunnya saat kau sibuk berpesta.”
Sunyi.
Kalimat itu menghantam lebih keras dari tamparan.
Wajah Beiming mengeras.
“Aku muak hidup di bawah bayanganmu.”
Beichen sedikit mencondongkan kepala.
“Kalau begitu keluar dari bayangan. Berdiri sendiri.”
“Aku bisa.”
“Dengan mencuri?”
Beiming melayangkan pukulan.
Cepat. Mendadak.
Qingyan bahkan tak sempat bereaksi.
Namun Beichen menangkap pergelangan tangan adiknya di udara tanpa bergerak satu inci pun.
Suara tulang berderak tipis.
Beiming menahan sakit.
“Kau masih lambat,” kata Beichen pelan.
Lalu ia mendorong satu kali.
Beiming terlempar ke meja kaca dan menghancurkannya.
Yuna menjerit.
Madam Gu memejamkan mata sejenak seperti sudah lelah hidup.
---
“Aku akan pergi!” bentak Beiming sambil bangkit.
“Pergi,” jawab Beichen. “Tapi tinggalkan nama Gu.”
Semua orang membeku.
Madam Gu menatap tajam.
“Beichen!”
“Dia ingin berdiri sendiri.”
Beichen menatap adiknya tanpa belas kasihan.
“Mulai malam ini, semua kartu, saham keluarga, akses gedung, kendaraan, dan dana pribadinya dibekukan.”
Han sudah mencatat sebelum perintah selesai.
“Baik, Tuan.”
Beiming pucat.
“Kau tak bisa melakukan itu!”
“Aku baru saja melakukannya.”
“Kau bukan Ayah!”
“Benar,” kata Beichen dingin. “Kalau Ayah masih hidup, kau sudah ditampar duluan.”
Qingyan menunduk, pura-pura batuk agar tawa tidak keluar.
---
Madam Gu memandang putra sulungnya lama.
“Kau terlalu keras.”
“Dan Ibu terlalu lembut.”
“Dia adikmu.”
“Karena itu dia masih berdiri.”
Tatapan ibu dan anak bertabrakan.
Qingyan bisa merasakan sejarah panjang pertengkaran yang tak pernah selesai.
Akhirnya Madam Gu menghela napas.
“Semua keluar.”
Yuna langsung menarik Beiming pergi. Pria itu menoleh sebelum keluar, matanya penuh kebencian pada Beichen... lalu berhenti sesaat pada Qingyan.
Tatapan itu membuat Qingyan tidak nyaman.
Seolah ia baru saja dimasukkan ke daftar masalah berikutnya.
---
Ruang keluarga kini tinggal empat orang: Madam Gu, Beichen, Qingyan, dan Han.
Madam Gu duduk kembali dengan kelelahan yang baru terlihat.
“Aku kehilangan suami terlalu cepat,” katanya pelan. “Dan sekarang hampir kehilangan anak-anakku.”
Beichen tak menjawab.
Ia berdiri di dekat jendela.
Untuk pertama kali Qingyan melihat sisi lain pria itu.
Ia tampak kuat seperti benteng, tapi benteng pun dibangun karena pernah diserang.
Madam Gu menoleh pada Qingyan.
“Kau.”
“Ya, Ibu?”
“Besok pagi tak usah datang minum teh.”
Qingyan berkedip.
“Kenapa?”
“Aku sudah cukup lelah malam ini.”
“Itu masuk akal.”
Madam Gu menatapnya beberapa detik.
“Kau tidak lari saat rumah ini berantakan.”
Qingyan mengangkat bahu.
“Aku dibesarkan di tempat yang lebih ribut.”
Sudut bibir Madam Gu bergerak lagi.
Mungkin itu bentuk tawa versi wanita ini.
---
Dalam perjalanan pulang ke mansion pribadi, mobil dipenuhi keheningan.
Qingyan menatap lampu kota dari jendela.
Beichen menatap tablet berisi laporan.
Han duduk di depan sambil menerima telepon tanpa suara.
Akhirnya Qingyan bicara.
“Kau selalu menyelesaikan masalah keluarga dengan membekukan rekening?”
“Sering berhasil.”
“Itu kejam.”
“Efisien.”
“Kau tidak sedih?”
Beichen menutup tablet.
“Sedih tidak memperbaiki pembukuan.”
“Aku serius.”
Ia menoleh padanya.
Mata pria itu gelap, tenang, dan entah kenapa terlihat lebih jujur di tengah malam.
“Aku memberi Beiming banyak kesempatan.”
“Dan?”
“Dia memilih jalan pintas.”
Qingyan menatapnya beberapa detik.
“Kau capek.”
“Aku tidak.”
“Kau kelihatan capek.”
Beichen terdiam.
Lalu berkata pelan,
“Jangan biasakan membaca wajahku.”
“Kenapa?”
“Nanti kau sulit berhenti.”
Qingyan memutar mata.
“Penyakit narsismu kambuh lagi.”
Han tersenyum kecil di kursi depan.
---
Sesampainya di mansion, Qingyan langsung menuju kamar tamu.
Namun saat membuka pintu, ia berhenti.
Di atas tempat tidur ada puluhan kotak belanja mewah.
Tas, sepatu, gaun, aksesori.
Ia menoleh ke pelayan.
“Apa ini?”
“Kiriman Tuan Gu, Nyonya.”
Beichen baru masuk dari koridor belakang.
“Kompensasi.”
“Untuk apa?”
“Karena malam ini membosankan.”
Qingyan menatap tumpukan barang mahal itu.
“Kau pikir semua masalah bisa diselesaikan dengan uang?”
“Tidak.”
“Bagus.”
“Sebagian dengan uang. Sebagian dengan ancaman.”
Ia masuk kamar hendak pergi lagi.
Qingyan mengambil bantal dan melempar ke arahnya.
Beichen menangkap tanpa melihat.
“Refleks bagus,” katanya.
“Itu karena banyak orang ingin melemparimu.”
---
Tengah malam.
Qingyan akhirnya tertidur.
Namun pukul dua pagi, suara alarm mansion berbunyi keras.
Lampu seluruh rumah menyala merah.
Ia terbangun panik dan membuka pintu kamar.
Han berlari di koridor.
“Nyonya! Tetap di dalam kamar!”
“Apa yang terjadi?”
Han berhenti sesaat.
Wajahnya tegang.
“Seseorang menerobos sistem keamanan.”
“Siapa?”
Han menelan ludah.
“Pesan di monitor hanya satu kalimat.”
Qingyan merasa dingin.
“Apa?”
Han menatap langsung ke arahnya.
“Kirim Lin Qingyan, atau rumah ini akan terbakar.”
Di ujung koridor, Gu Beichen sudah berdiri dengan pakaian hitam dan pistol di tangan.
Dan wajahnya...
lebih berbahaya daripada malam tadi.
BERSAMBUNG