NovelToon NovelToon
Blazing Asura: The Untamed God

Blazing Asura: The Untamed God

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:926
Nilai: 5
Nama Author: fandy syahputra

Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Bayang Fajar di Ujung Bilah

HUMMMMMM—

Pusaran energi spiritual dari formasi pelindung Ibukota Qianye berdesir halus di bawah siraman cahaya fajar. Namun, di dalam Aula Persidangan Agung Kerajaan Tianwu, atmosfer yang tercipta justru seribu kali lebih menekan daripada badai luar. Ruangan raksasa yang ditopang oleh dua belas pilar naga perak itu kini menjadi saksi sebuah pertemuan yang belum pernah terjadi dalam satu abad terakhir: Aliansi Enam Mahkota.

Di atas kursi-kursi emas yang diatur melingkar, duduk lima raja dari kerajaan fana tetangga yang wilayahnya tengah diincar oleh cakar Kekaisaran Tianhuang. Wajah mereka tegang, guratan kecemasan terukir jelas di kening mereka yang bermahkota. Di pusat lingkaran, duduk Raja Jin Wu sebagai tuan rumah, didampingi oleh putri tunggalnya, Putri Jin Yuexin.

Namun, perhatian kelima raja itu tidak sepenuhnya tertuju pada peta bentangan benua yang melayang di tengah ruangan dalam wujud proyeksi cahaya spiritual. Pandangan mereka, dengan rasa tidak percaya yang teramat sangat, tertuju pada sosok pemuda berjubah hitam bersulam emas yang berdiri dengan tenang di sisi kanan singgasana Tianwu.

Yu Fan.

Pemuda itu berdiri tegak tanpa menyandarkan tubuhnya pada pilar mana pun. Di pinggangnya, Pedang Yin tergantung dengan sunyi. Meskipun Yu Fan sengaja menyegel rapat-rapat esensi energi nya, penyelarasan sempurna antara kutub Yin dan Yang di dalam dantian nya memancarkan riak aura emas murni yang teramat sangat padat. Energi alami itu berputar lambat di sekeliling tubuhnya, menciptakan distorsi visual tipis di udara sekitarnya.

"Raja Jin Wu..." Raja klan daratan barat memecah keheningan, suaranya bergetar samar akibat tekanan spiritual di dalam ruangan. "Siapa pemuda di sampingmu ini? Aura emas alaminya... bagaimana bisa seorang kultivator muda memiliki fondasi batin sepadat dan semurni ini? Ini bahkan melampaui rata-rata master sekte dalam di wilayah kami!"

Raja Jin Wu mengulas senyuman megah, dadanya membusung bangga. "Dia adalah Murid Agung Yu Fan, Perisai Sejati Tianwu kami yang baru saja lulus dari Akademi Langit Biru."

Mendengar nama Akademi Langit Biru, kelima raja itu seketika menarik napas dalam. Namun, keheningan itu kembali terusik ketika sesosok pria tua berambut putih panjang yang mengenakan jubah abu-abu sederhana melangkah masuk dari balik tirai. Kehadirannya tidak membawa gemuruh, namun seketika membuat seluruh energi spiritual di dalam aula membeku mutlak.

Leluhur Jin Taixu. Sang legenda hidup yang telah menembus Ranah Master Tingkat 7 seutuhnya.

"Salam, Senior Jin Taixu!" Kelima raja itu seketika berdiri dari kursi mereka, membungkukkan tubuh dengan hormat yang teramat sangat kepada sosok yang telah berhasil menolak hukum kenaikan alam atas demi melindungi tanah fana ini.

Jin Taixu hanya melambaikan tangan tuanya perlahan, mengisyaratkan mereka untuk kembali duduk. "Simpan formalitas kalian. Kita di sini bukan untuk merayakan kekuatanku, melainkan untuk menghadapi kepunahan massal yang sedang dipersiapkan oleh Xuanyuan Lie."

...****************...

Di saat yang sama, ribuan mil jauhnya di arah selatan, Puncak Teratai Suci telah kehilangan seluruh kehangatannya. Salju yang turun tidak lagi berwarna putih bersih, melainkan tampak kelabu di bawah bayang-bayang awan gelap yang bergulung.

Di atas Altar Pembantaian Sekte Teratai Putih, Lin Xueru berdiri tegak di tengah kepungan badai es yang menderu. Gaun sutranya kini telah sepenuhnya berganti menjadi pakaian tempur hitam legam dengan corak kelopak teratai darah di sepanjang ujung kainnya. Sepasang matanya yang semula indah dan penuh dengan keraguan fana, kini telah sepenuhnya berubah menjadi putih salju yang kosong, dingin, dan mati.

Pil Pembeku Emosi Jiwa telah bekerja dengan sempurna.

Rasa cintanya yang mendalam kepada Yu Fan, kepedihannya atas kekejaman sekte, hingga sisa-sisa kemanusiaannya kini telah dikubur dalam-dalam di dasar jurang jiwanya yang membeku, dikunci oleh segel es suci yang tidak akan pernah bisa dicairkan oleh apa pun. Di dalam benaknya yang kini telah menjelma menjadi mesin pembunuh tanpa emosi, hanya ada satu obsesi absolut yang tersisa yang diberikan sebagai perintah mutlak oleh gurunya: Membunuh Yu Fan.

BZZZZT—

Xueru mengangkat tangan kanannya ke udara. Sebuah senjata baru bermanifestasi dari pusaran energi hitam di telapak tangannya—Pedang Teratai Hitam. Bilah pedang itu memancarkan hawa erotis yang liar sekaligus energi pembunuh yang begitu pekat, mengikis salju di sekitarnya menjadi uap hitam yang beracun.

Di bawah altar, ribuan murid perempuan Sekte Teratai Putih menatap sosok Lin Xueru dengan pandangan yang teramat takjub sekaligus ngeri.

"Luar biasa... Kakak Seperguruan Senior Lin telah benar-benar memotong seluruh emosi fananya," bisik seorang murid inti dengan tubuh gemetar. "Dia telah mencapai kondisi tanpa hati yang sempurna. Tidak ada lagi rasa kasihan di dalam jiwanya."

Xueru mengayunkan Pedang Teratai Hitamnya ke arah utara, membelah awan salju di atas langit menjadi dua bagian dalam satu tebasan murni tanpa riak. "Sekte Pedang Ilahi milik Jin Taixu... dan setiap makhluk yang berdiri di Kerajaan Tianwu, akan dihapus dari muka bumi ini. Yu Fan... kepalamu akan menjadi tumbal pertama bagi ritual kebangkitanku."

Suaranya yang datar dan sunyi bergema di sepanjang lembah es, menandakan lahirnya monster berdarah dingin yang siap memimpin pasukan garda depan aliansi rahasia bersama Kekaisaran Tianhuang untuk meratakan utara.

...****************...

Kembali ke dalam Aula Persidangan Agung Tianwu, proyeksi cahaya di atas meja batu kini menampilkan peta pergerakan pasukan hitam Kekaisaran Tianhuang di sepanjang garis perbatasan. Atmosfer di dalam ruangan mendadak drop ke titik nadir ketika mata-mata bayangan menyampaikan laporan terbaru mengenai rencana kebangkitan Dua Jenderal Legendaris Tingkat 7 melalui sihir hitam Sekte Tengkorak.

"Dua Master Tingkat 7 masa lalu..." Raja kerajaan barat memukul meja dengan kepalan tangan yang gemetar. Wajahnya pucat pasi. "Jika mereka benar-benar berhasil dibangkitkan dari kematian... kekuatan gabungan enam kerajaan kita saat ini hanyalah seperti tumpukan semut di depan kaki gajah! Bahkan dengan adanya Senior Jin Taixu di sini, bagaimana mungkin satu orang Tingkat 7 bisa menahan gempuran dua jenderal monster sekaligus?!"

Keputusasaan seketika merebak di wajah para jenderal dan raja lainnya. Moral bertarung mereka merosot tajam sebelum perang bahkan dimulai.

Melihat kepanikan tersebut, Yu Fan melangkah maju satu tapak. Hentakan kaki kecilnya dilapisi oleh riak energi emas alami yang menyebar di atas lantai batu bagai riak air kolam, seketika meredam seluruh getaran kecemasan di dalam aula.

"Para Raja dan Jenderal sekalian, tenanglah," ucap Yu Fan, suaranya yang teramat dalam dan mantap bergema dengan wibawa seorang kaisar dewa yang agung. "Sihir membangkitkan orang mati dari Sekte Tengkorak bukanlah tanpa cacat. Tubuh yang dibangkitkan dari kematian tidak akan pernah bisa memiliki koordinasi sirkulasi energi yang sempurna seperti saat mereka hidup. Mereka hanyalah boneka daging yang digerakkan oleh sisa jiwa yang tersiksa. Selama kita tidak membiarkan formasi batin kita pecah oleh rasa takut, energi emas alaminya akan mampu mengikis energi kematian mereka dari dalam."

Jin Taixu mengangguk setuju, melirik Yu Fan dengan tatapan penuh penghargaan. "Apa yang dikatakan bocah Yu Fan ini benar. Aku, Jin Taixu, telah bersumpah untuk menjadi perisai tanah ini. Meskipun dua jenderal itu bangkit, tulang-tulang tua milikku ini masih cukup kokoh untuk mematahkan salah satu dari leher mereka!"

Raja Jin Wu berdiri dari singgasananya, mengangkat pedang kerajaan ke udara. "Tianwu tidak akan pernah berlutut tanpa perlawanan! Kekuatan kita mungkin terbatas, namun tekad kita untuk melindungi rakyat adalah senjata terbesar kita!"

Kata-kata dari tiga pilar kekuatan tersebut seketika memicu kembali percikan moral di dalam dada para raja yang sempat meredup.

Di saat itulah, Putri Jin Yuexin melangkah maju ke depan meja proyeksi. Wajah cantiknya memancarkan ketegasan yang luar biasa saat jemari lentiknya menunjuk ke arah tiga titik ngarai sempit di perbatasan luar.

"Ayahanda dan para Raja sekalian, lihatlah topografi Ngarai Serigala Merah ini," ucap Yuexin dengan nada suara yang teramat taktis, mengejutkan para jenderal tua yang ada di ruangan. "Pasukan Tianhuang bergerak dalam jumlah besar dengan zirah besi hitam yang sangat berat. Jalur ngarai sempit ini adalah satu-satunya jalan tercepat bagi mereka untuk menembus wilayah utara. Kita tidak perlu menghadapi mereka di dataran terbuka. Kita bisa membagi pasukan aliansi kita menjadi tiga lapis pertahanan, membiarkan pasukan penyihir daratan barat menjebak mereka dengan formasi lumpur di dalam ngarai, sementara pasukan panah api Phoenix milik Tianwu kita membakar mereka dari atas tebing! Kita akan mengubah ngarai ini menjadi kuburan massal bagi zirah hitam mereka!"

Mendengar strategi perang yang begitu matang, presisi, dan memanfaatkan kelemahan mobilitas lawan yang dipaparkan oleh sang putri, para jenderal besar dari lima kerajaan lainnya seketika tertegun, sebelum akhirnya melepaskan seruan kekaguman yang teramat riuh. Strategi Yuexin telah memberikan sebuah harapan nyata di tengah bayang-bayang kehancuran.

...****************...

Malam pun tiba menggantikan hiruk-pikuk persidangan. Ibukota Qianye perlahan-lahan tenggelam di dalam keheningan malam yang sunyi di bawah dekapan langit utara yang dingin.

Yu Fan berdiri sendirian di atas puncak dinding gerbang kota raksasa yang terbuat dari batuan meteorit hitam. Angin malam yang menusuk tulang memainkan ujung jubah hitam bersulam emasnya yang menyapu lantai batu. Kedua tangannya bertumpu pada pembatas gerbang, sepasang mata hitamnya yang jernih menatap lurus ke arah kegelapan cakrawala selatan yang teramat jauh.

Pikirannya mendadak melayang kembali ke malam kelam di Tebing Rembulan satu bulan lalu. Bayangan wajah Lin Xueru yang menangis histeris dengan tubuh yang dibalut oleh energi teratai hitam liar kembali berputar di dalam ingatan jiwanya.

Yu Fan mengembuskan napas panjang, sebuah kepulan uap putih tipis keluar dari sela-sela bibirnya sebelum langsung disapu oleh angin malam.

"Xueru..." gumam Yu Fan dengan nada suara yang teramat pelan, sarat akan konflik perasaan yang nyata dan keprihatinan yang mendalam yang tersembunyi di balik ketenangannya. "Apa yang terjadi kepadamu setelah malam itu? Apakah kau berhasil kembali ke sektenya dengan selamat? Apakah luka di meridian punggungmu akibat hantaman energi emas alaminya waktu itu sudah pulih sepenuhnya?"

Yu Fan belum mengetahui bahwa gadis es yang tengah dia khawatirkan keselamatannya itu kini telah sepenuhnya memotong hatinya sendiri dan tengah memimpin badai kematian menuju ke arahnya. Namun, insting dewa yang tertanam jauh di dalam relung jiwanya seolah bisa merasakan seberkas hawa dingin yang teramat asing dan mematikan yang tengah merayap dari arah selatan—sebuah pertanda bahwa benturan takdir di antara mereka berdua di medan perang masa depan tidak akan bisa dihindari lagi. Yu Fan mengepalkan tangan kanannya di atas pembatas batu, menatap lurus ke arah kegelapan malam dengan tekad yang semakin mengeras untuk menjadi perisai yang tidak akan pernah bisa diruntuhkan oleh badai mana pun.

1
WER
semangat author 👍👍👍👍
Fandi Syahputra: 💪 semangat 45
total 1 replies
Fandi Syahputra
hehehe🤭 support terus
T28J
cocok sama saya Thor... 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!