Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.
Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.
Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.
Rachael Velencia.
Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.
Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 - Rencana Penyelidikan
Leon tetap diam beberapa saat setelah jawaban itu.
Tatapannya masih tertuju pada Rachael yang sekarang kembali menunduk ke meja sambil memutar pulpen pelan di antara jemarinya.
Gerakan kecil itu terlihat biasa.
Tapi Leon sudah mulai mengenali kebiasaan Rachael. Semakin kacau isi kepalanya, semakin tenang tubuhnya terlihat dari luar.
Leon perlahan menyandarkan punggungnya ke kursi sambil mengalihkan pandangan ke luar jendela kelas.
Namun pikirannya justru kembali ke beberapa hari lalu.
Ke gudang gelap itu.
Ke suara pria Moretti yang berbicara santai.
“Kalau Leon Knight de Arther nggak bisa disentuh langsung… ya hancurkan aja yang ada di dekat dia.”
Saat itu Leon tidak menunjukkan reaksi apa pun.
Namun kalimat itu tetap tertinggal di kepalanya sampai sekarang. Karena Moretti bukan tipe keluarga yang suka menggertak kosong.
Kalau mereka sudah menyebut nama seseorang, berarti orang itu benar-benar masuk ke dalam permainan.
Dan sekarang masalahnya… orang itu adalah Rachael.
Leon mengepalkan jemarinya pelan di bawah meja.
Ia tidak takut Moretti mengincarnya.
Itu biasa, sejak kecil hidupnya memang tidak pernah benar-benar aman.
Tapi Rachael berbeda. Gadis itu tidak seharusnya ikut masuk terlalu jauh ke dalam urusan keluarga de Arther.
Namun semuanya sudah terlanjur terjadi. Dan Leon mulai sadar satu hal yang semakin mengganggu pikirannya, Rachael terlalu terbiasa menghadapi masalah sendirian.
Kalau benar ada sesuatu yang mencurigakan di mansion tadi malam… kemungkinan besar gadis itu akan mencoba menyelidikinya sendiri.
Tanpa bilang siapa pun.
Tanpa minta bantuan. Karena memang begitulah cara Rachael bertahan hidup selama ini.
Leon menghembuskan napas kecil pelan. Kesal. Karena ia bisa menebak itu dengan sangat jelas.
Sementara di sisi lain meja, Rachael masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia mulai menyusun kemungkinan langkah selanjutnya.
Mungkin kembali ke mansion diam-diam. Atau mencari identitas pria paruh baya itu lewat data sekolah dan koneksi keluarga.
Atau—
“Kamu jangan macam-macam.” Suara Leon mendadak memotong pikirannya.
Rachael langsung berkedip kecil lalu menoleh bingung. “Hah?”
Tatapan Leon lurus ke arahnya sekarang, tenang tapi serius.
“Aku tahu kamu lagi mikir sesuatu.”
Rachael refleks tertawa kecil samar. “Wah. Cenayang.”
“Aku serius.” Nada suaranya yang rendah langsung membuat Axel yang tadi sibuk makan roti ikut melirik.
Rachael sedikit menghindari tatapan Leon. “Aku nggak ngapa-ngapain.”
“Itu bukan jawaban.”
“Aku memang nggak ngapa-ngapain.”
Leon menatapnya beberapa detik lebih lama. Lalu bicara lebih pelan lagi.
“Kalau ini ada hubungannya sama Moretti… jangan bergerak sendiri.”
Jantung Rachael langsung berhenti sepersekian detik. Tatapannya naik cepat ke arah Leon.
Dari reaksi kecil itu saja Leon langsung tahu kalau tebakannya benar.
Rahangnya sedikit menegang sekarang. Karena berarti Rachael memang memikirkan hal yang sama.
Moretti.
Sialnya, itu berarti ancaman terhadap Rachael mungkin belum selesai.
Axel yang mulai menangkap arah pembicaraan perlahan berhenti bercanda. Ekspresinya berubah lebih serius.
Sementara Leon tetap menatap Rachael tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.
“Aku nggak mau kamu terluka lagi karena urusan keluargaku.”
Rachael benar-benar kehilangan jawaban spontan biasanya. Karena cara Leon mengatakannya terdengar terlalu serius.
Dan justru itu yang membuat dada Rachael terasa semakin tidak nyaman sekarang.
Karena di dalam kepalanya… ia justru sedang berpikir kebalikannya. Kalau dirinya tetap dekat dengan Leon, maka Leon mungkin akan semakin sering diserang lewat dirinya.
...----------------...
Jam istirahat siang akhirnya tiba.
Suasana sekolah langsung berubah jauh lebih ramai dibanding sebelumnya. Suara siswa memenuhi koridor, kantin mulai penuh, dan beberapa kelas langsung kosong dalam hitungan menit.
Leon justru berjalan menuju tangga rooftop sekolah dengan ekspresi tenang yang terlalu serius.
Axel mengikuti di belakangnya sambil sesekali melirik Leon kecil.
“Lu dari tadi mukanya kayak mau bunuh orang.”
Leon tidak menjawab.
Tangannya masuk ke saku hoodie hitamnya sementara langkahnya tetap stabil menaiki anak tangga terakhir menuju rooftop.
Pintu besi rooftop terbuka pelan.
Angin siang langsung menyambut begitu mereka keluar.
Langit terlihat cerah, suara kota terdengar samar dari kejauhan, dan rooftop sekolah seperti biasa cukup sepi karena hanya sedikit siswa yang suka naik ke sana.
Namun baru beberapa langkah, Axel langsung menoleh ke belakang sambil mengangkat alis.
“Wah.”
Leon ikut menoleh.
Rachael berdiri di dekat pintu rooftop sambil membawa kantong plastik kecil berisi beberapa roti dan tiga kaleng minuman dingin.
Ekspresinya tetap santai seperti biasa.
“Aku bawa makanan”
Axel langsung menunjuk dirinya sendiri bangga. “Nah ini baru teman sejati.”
Rachael berjalan mendekat lalu melempar satu kaleng minuman ke Axel.
Axel menangkapnya cepat. “Terimakasih, penyelamat rakyat kecil.”
Satu kaleng lagi dilempar ke Leon.
Leon menangkapnya tanpa kesulitan. Tatapannya tetap tertuju pada Rachael beberapa detik lebih lama.
Sementara Rachael sendiri duduk santai di lantai dekat pagar rooftop sambil membuka kantong rotinya.
“Kenapa lihat-lihat?”
“Kamu ikut.”
“Ya iya. Aku juga mau istirahat.”
Leon tetap diam.
Axel yang duduk di dekat mereka langsung mulai merasa tidak nyaman sendiri sekarang.
Karena jelas sekali Leon belum selesai memikirkan pembicaraan tadi pagi.
Angin siang bergerak pelan memainkan rambut hitam Rachael.
Gadis itu terlihat santai membuka bungkus roti cokelatnya sambil sesekali menyesap minuman dingin.
Padahal Leon tahu isi kepalanya kemungkinan sedang penuh lagi.
Akhirnya Leon bicara rendah tanpa basa-basi.
“Kamu serius mikir mau menyelidiki itu sendirian?”
Rachael berhenti menggigit rotinya sebentar.
Axel langsung melirik keduanya cepat.
Nah. Mulai deh.
Rachael akhirnya mengangkat bahu kecil. “Aku belum ngapa-ngapain.”
“Itu bukan jawaban.”
“Kamu suka banget ngomong begitu.”
“Karena kamu suka ngeles.”
Rachael menghela napas kecil lalu menyandarkan punggung ke pagar rooftop. Ekspresinya tetap tenang.
“Aku cuma mikir.”
“Itu yang bikin masalah.” Sahut Leon.
Axel yang duduk di tengah langsung menatap langit putus asa kecil.
“Gua bingung harus dukung siapa sekarang.”
Tak ada yang menjawabnya. Leon tetap fokus pada Rachael. Tatapannya lebih serius dibanding biasanya.
“Moretti sebelumnya udah terang-terangan pakai kamu buat ngancem aku.”
Suasana rooftop langsung terasa lebih dingin.
Rachael perlahan menurunkan pandangannya ke kaleng minuman di tangannya.
Leon melanjutkan pelan.
“Kalau ini memang ada hubungannya sama mereka… berarti kamu masih dalam bahaya.”
Nada suaranya rendah. Namun jelas terdengar ada emosi yang selama ini Leon tahan sendiri.
Rachael diam beberapa detik sebelum menjawab pelan.
“Aku bisa jaga diri.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Itu nggak bikin aku tenang.”
Kalimat itu membuat Rachael perlahan membeku kecil.
Axel yang biasanya ribut sekarang benar-benar diam.
Karena bahkan dirinya jarang melihat Leon bicara sejujur ini.
Angin rooftop kembali bergerak pelan.
Leon mengusap wajahnya singkat sebelum melanjutkan lebih rendah.
“Dan sekarang nenek ku udah terlalu suka sama kamu”
Axel langsung refleks mengangguk cepat. “Nah itu serius sih.”
“Axel.”
“Apa? Itu fakta.”
Leon menghela napas kecil kesal.
Namun Axel tetap melanjutkan karena memang itu kenyataannya.
“Semalem Nenek tuh literally keliatan pengen adopt dia.”
Rachael langsung tersedak minumannya sendiri kecil. “Hah?”
“Kamu belum lihat ekspresinya waktu kamu pulang.”
“Yang benar saja?”
“Kita semua takut.”
Leon memijat pelipisnya sendiri sebentar sebelum kembali menatap Rachael.
“Kalau Moretti sadar keluarga ku mulai dekat sama kamu…”
Kalimat itu menggantung sebentar. Semua di roof top langsung mengerti kelanjutannya.
Rachael perlahan mengepalkan jemarinya kecil di sekitar kaleng minumannya.
Karena itulah yang juga ia pikirkan sejak pagi.
Semakin dekat dirinya dengan keluarga de Arther, semakin besar kemungkinan dirinya akan dijadikan target.
Dan sialnya… bagian paling egois dari dirinya justru tidak ingin menjauh sekarang.
Roof top kembali hening beberapa detik setelah ucapan Leon tadi.
Angin siang bergerak pelan di antara mereka, membuat suasana terasa semakin sunyi dibanding sebelumnya.
Rachael masih memegang kaleng minumannya sambil menatap langit sebentar. Lalu akhirnya ia menghela napas kecil.
“Aku bisa bantu.”
Leon langsung mengernyit. “Bantu apa?”
Rachael menoleh santai ke arahnya. “Kalau memang ada sesuatu yang aneh di sekitar keluarga de Arther… aku bisa cari tahu.”
“Itu justru yang aku larang.”
“Tapi aku lumayan bagus buat hal beginian.”
“Rachael.”
Nada suara Leon langsung berubah lebih tegas sekarang.
Tapi Rachael tetap terlihat tenang.
Ia menggoyangkan pelan kaleng minumannya sebelum akhirnya bicara lebih rendah.
“Semalam aku lihat sesuatu di mansion.”
Kalimat itu langsung membuat Leon dan Axel terdiam.
Tatapan Leon berubah tajam sekarang.
“Apa?”
Rachael diam sebentar seperti sedang memilih kata-katanya sendiri. Lalu menjawab pelan.
“Di lorong lantai atas… ada penyadap kecil.”
Axel langsung membeku. “Hah?”
“Itu kecil banget. Disembunyiin dekat ukiran langit-langit.”
Leon langsung berdiri sedikit terlalu cepat sampai kursinya bergeser pelan.
“Kamu yakin?”
Rachael mengangguk kecil.
“Aku pernah lihat model begitu sebelumnya.”
Tatapan Leon langsung berubah dingin sekarang.
Sementara Axel mulai terlihat benar-benar serius untuk pertama kalinya sejak tadi.
“Tunggu bentar…” Axel menatap Rachael bingung. “Kenapa kau baru bilang sekarang?”
“Karena aku belum yakin.”
“Kok bisa nggak yakin? Itu penyadap, Rach.”
Rachael menurunkan pandangannya sebentar.
“Tunggu, Apa? Dia memanggil ku Rach? Itu aneh. Tapi kalau aku salah tentang itu?”
“Kalau itu ternyata alat biasa?”
“Kalau aku cuma overthinking?”
Ia mengangkat bahu kecil pelan.
“Aku nggak suka bikin kekacauan tanpa bukti. Panggil nama ku jangan setengah-setengah, Rach itu tidak enak di dengar, panggil Chael saja.”
Leon memperhatikan wajah Rachael beberapa detik lama. Dan lagi-lagi gadis itu terlihat terlalu terbiasa memikirkan semuanya sendirian.
“Ada lagi?” tanya Leon rendah.
Rachael sedikit diam.
Tentang pria paruh baya itu… tentang tatapan anehnya… tentang perasaan kalau dirinya mungkin juga sedang diperhatikan…
Namun akhirnya Rachael memilih menjawab setengah jujur.
“Ada beberapa hal yang bikin aku curiga. Tapi belum pasti.”
Leon langsung tahu ia menyembunyikan sesuatu.
Namun sebelum ia mendesak lebih jauh, Rachael sudah lebih dulu melanjutkan santai.
“Makanya aku bilang aku bisa bantu.”
“Kamu malah mau ikut masuk lebih dalam?” Leon terdengar semakin kesal sekarang.
Rachael menatapnya bingung kecil.
“Kalau memang ada masalah ya harus dicari tahu.”
“Itu bukan tanggung jawab kamu.”
Rachael terdiam sebentar dan tersenyum kecil samar.
“Aku tahu.”
Jawaban itu justru membuat Leon semakin frustrasi.
Karena nada suara Rachael terdengar seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu.
Leon sangat tidak suka itu.
Sementara Axel sekarang hanya duduk sambil memegang kepalanya sendiri kecil.
“Oke bentar…” gumamnya pelan. “Jadi sekarang mansion kalian kemungkinan dipasang penyadap dan kita ngomonginnya sambil makan roti cokelat di rooftop sekolah?”
“Roti nya kan enak,” jawab Rachael santai.
Axel menatapnya tidak percaya. “Fokus sedikit dong.”
Rachael malah menggigit rotinya lagi kecil.
Dan itu justru membuat Leon sadar sesuatu yang cukup mengganggu.
Rachael benar-benar tidak terlihat takut. Atau lebih tepatnya gadis itu sudah terlalu terbiasa hidup di sekitar masalah sampai hal seperti ini terasa normal baginya.
Leon akhirnya duduk kembali perlahan sambil mengusap wajahnya sebentar.
“Kalau memang ada sesuatu di mansion… ayah ku yang urus.”
Rachael menggeleng kecil. “Kalau ada orang dalam, semakin banyak yang tahu malah makin berbahaya.”
Leon langsung menatap tajam. “Lalu kamu pikir aman buat kamu menyelidiki sendiri?”
Rachael diam beberapa detik. Menjawab pelan namun tenang.
“Aku bisa pergi kapan pun kalau keadaan mulai bahaya.”
Kalimat itu terdengar terlalu ringan seolah itu hal biasa.
Rachael melanjutkan sambil menatap langit terang di atas roof top.
“Aku udah terlalu sering pindah sekolah.”
“Pindah rumah. Mulai lagi dari awal.” Nada suaranya tetap datar.
Namun justru itu yang membuat dada Leon terasa semakin berat sekarang.
Karena bagi Rachael, menghilang dari suatu tempat memang selalu jadi pilihan paling mudah.
Kalau keadaan berbahaya… ia tinggal pergi.
Dan Leon mulai sadar satu hal yang paling tidak ingin ia akui, ia benar-benar tidak suka membayangkan Rachael pergi begitu saja.
...****************...
Bersambung...
iklan buat kamu
Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe