"Saat pedang musuh hampir mencabut nyawaku, sebuah suara mekanis mengambil alih kendali tubuhku dan mengubahku menjadi mesin pembunuh yang sempurna."
Jacob adalah pangeran kedua kerajaan Helios yang selalu berlindung di balik punggung kakaknya, George. Namun, sebuah pengkhianatan di medan perang membuat George lumpuh dan pasukan mereka terbantai. Di tengah keputusasaan, sebuah Sistem Auto Pilot aktif di dalam kesadaran Jacob. Sistem ini tidak memberikan misi atau hadiah cuma-cuma, melainkan mengambil alih kendali saraf otot Jacob untuk melakukan gerakan bertarung yang mustahil dilakukan manusia biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Takhta Kosong di Tanah Taklukan
Suara dentuman palu godam beradu dengan baja panas menggema memekakkan telinga di seluruh area pabrik peleburan senjata istana Helios.
Hawa panas yang sangat menyengat membuat para pandai besi mandi keringat, namun mereka tidak berani menghentikan pekerjaan mereka sedetik pun di bawah pengawasan tatapan kosong dari pasukan Nightmare yang berjaga di setiap sudut.
Jacob berdiri di atas panggung besi, menatap cairan baja kemerahan yang sedang dituang perlahan ke dalam cetakan raksasa berbentuk tabung melengkung.
{Cetakan pertama ini akan menentukan apakah pondasi Meriam Api Naga cukup kuat untuk menahan tekanan ledakan mesiu padat dari dalam.}
[Analisa Panca Indra: Fluktuasi suhu terdeteksi pada dasar cetakan tabung. Kepadatan karbon tidak merata pada titik bawah. Risiko retak saat penembakan pertama: delapan puluh tujuh persen.]
"Hentikan penuangan baja itu sekarang juga!" teriak Jacob secara tiba-tiba dengan suara yang mengalahkan gemuruh tungku api raksasa.
Para pandai besi langsung menghentikan tuas katrol penampung baja dengan wajah yang sangat pucat pasi, takut jika mereka baru saja melakukan kesalahan yang bisa membuat kepala mereka dipenggal.
Jacob melompat turun dari panggung dan berjalan mendekati cetakan baja yang memancarkan hawa panas ekstrem tersebut tanpa rasa takut.
"Suhu di bagian bawah cetakan ini terlalu rendah. Jika kalian terus menuangkannya, baja ini akan keropos di bagian dalam dan meledak menghancurkan pasukan kita sendiri saat ditembakkan nanti!" jelas Jacob sambil menunjuk titik spesifik yang dianalisa oleh sistemnya.
"Ampun, Baginda! Kami akan segera mengatur ulang tungku pemanas di bagian bawah cetakan!" sahut kepala pandai besi sambil bersujud dengan tubuh gemetar.
Jacob menghela napas panjang dan menoleh ke arah Veldora yang baru saja memasuki area pabrik dengan zirah yang tertutup debu jalanan.
"Proses penyatuan logam ini ternyata lebih rumit dari dugaanku. Meriam api ini masih belum jadi dan butuh waktu beberapa minggu lagi untuk penyempurnaan tabung pertamanya," ucap Jacob dengan nada yang sedikit kecewa.
||||||||||||||
"Kita tidak perlu terburu-buru, Baginda. Pasukan Nightmare sudah lebih dari cukup untuk menjaga pertahanan ibu kota saat ini," balas Veldora sambil memberikan hormat militernya.
"Namun kita butuh meriam itu untuk menaklukkan kerajaan lain tanpa harus mengorbankan prajurit, Veldora. Ada apa kau menemuiku di tempat bising ini?" tanya Jacob sambil menyeka keringat di dahinya.
Veldora mengeluarkan sebuah gulungan perkamen yang ujungnya sedikit hangus dan menyerahkannya kepada sang raja dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
"Ada laporan darurat dari wilayah Scolar, Tuanku. Situasi di sana di luar prediksi awal kita setelah Raja Cerick kita tawan dan Pangeran Bernard tewas di lembah tempo hari," lapor Veldora dengan nada suara yang berat.
Jacob menerima gulungan itu dan membukanya. Matanya yang bersinar biru langsung membaca deretan laporan militer yang ditulis dengan sangat tergesa-gesa.
"Pemberontakan?" tanya Jacob dengan kening yang mulai berkerut.
"Bukan pemberontakan melawan kita, Baginda. Ini murni kekacauan massal dan anarki. Seluruh tatanan hukum di Scolar telah hancur lebur," jelas Veldora.
Natali yang sejak tadi berdiri di bayangan tungku besar langsung melangkah maju dan ikut mendengarkan laporan tersebut dengan saksama.
{Tentu saja. Scolar kehilangan keluarga kerajaan dan seluruh jenderal elit mereka dalam satu malam. Tidak ada lagi yang memegang kendali di wilayah seluas itu.}
||||||||||||||
"Jelaskan situasi pastinya di lapangan sekarang, Veldora," perintah Jacob sambil menggulung kembali perkamen tersebut.
"Pasukan Nightmare kita hanya menjaga perbatasan dan gerbang utama ibu kota Scolar sesuai perintah Anda, Baginda. Mereka diam seperti patung dan hanya membunuh jika diserang," Veldora memulai penjelasannya.
"Lalu apa masalahnya? Bukankah itu berarti mereka mematuhi perintah dengan sempurna?" potong Jacob dengan nada yang masih datar.
"Masalahnya ada pada rakyat Scolar sendiri, Tuanku. Karena istana Scolar kosong tanpa pemerintahan, para bangsawan lokal dan kelompok bandit mulai saling membantai untuk memperebutkan wilayah kekuasaan yang tersisa," lanjut Veldora.
"Mereka menjarah lumbung makanan, membakar desa, dan memperbudak rakyat jelata. Karena pasukan Nightmare kita tidak diprogram untuk menjadi polisi atau penguasa wilayah, prajurit kita hanya diam melihat kekacauan itu selama tidak ada yang menyerang kamp militer kita," lapor jenderal berbadan besar itu dengan wajah meringis.
Natali menyilangkan tangannya di dada sambil menatap Jacob dengan tatapan penuh perhitungan taktis.
"Sebuah wilayah tanpa pemimpin adalah surga bagi para kriminal, Tuanku. Jika kita membiarkan Scolar saling menghancurkan dari dalam, tanah taklukan itu tidak akan menghasilkan gandum atau pajak sepeser pun untuk Helios," ucap Natali memberikan analisanya.
"Dan jika kelaparan melanda seluruh Scolar, jutaan pengungsi akan membanjiri perbatasan Helios. Itu akan menjadi bencana logistik bagi kita," tambah Jacob dengan rahang yang mengeras karena mulai menyadari skala masalahnya.
{Aku terlalu fokus pada pertahanan militer dan pembuatan senjata pemusnah, sampai aku melupakan bahwa tanah yang kutaklukkan kini menjadi tanggung jawabku juga.}
||||||||||||||
"Apakah Anda ingin saya memimpin pasukan Nightmare untuk masuk ke dalam kota dan membantai seluruh pembuat onar itu, Baginda?" tawar Veldora sambil menggenggam kapak di punggungnya.
"Tidak, Veldora. Menggunakan Nightmare untuk mengurus rakyat sipil yang ketakutan hanya akan membuat kita terlihat seperti monster haus darah. Kita butuh ketertiban, bukan ladang pembantaian baru," tolak Jacob dengan sangat tegas.
Jacob berjalan keluar dari pabrik peleburan menuju udara terbuka, diikuti oleh Veldora dan Natali di belakangnya. Angin sejuk siang itu tidak cukup untuk mendinginkan pikiran sang raja muda yang sedang bekerja keras.
[Analisa Logika: Wilayah Scolar membutuhkan figur otoritas untuk memulihkan hierarki sosial. Pengiriman gubernur atau pemimpin militer dari Helios memiliki tingkat keberhasilan stabilisasi sembilan puluh dua persen.]
"Rakyat Scolar tidak butuh algojo saat ini. Di dalam surat ini, komandan pasukan kita di sana melaporkan sesuatu yang sangat menyedihkan," ucap Jacob sambil kembali menatap perkamen di tangannya.
"Apa yang rakyat Scolar itu inginkan dari kita, Baginda?" tanya Veldora yang tidak pernah memahami urusan politik rakyat jelata.
Jacob menghentikan langkahnya dan menatap ke arah utara, tepat di mana wilayah kerajaan Scolar berada di balik pegunungan.
"Mereka mengirimkan permohonan resmi kepada pasukan kita. Rakyat Scolar, para tetua desa, dan warga kota yang putus asa... mereka semua berlutut di depan gerbang kamp pasukan Nightmare," ucap Jacob dengan suara yang merendah.
Natali menatap rajanya dengan mata yang sedikit membelalak karena terkejut mendengarnya.
"Mereka berlutut memohon ampun?" tanya Natali.
"Bukan. Mereka berlutut memohon perlindungan," jawab Jacob sambil meremas perkamen itu. "Kerajaan Scolar sedang kosong melompong. Tidak ada hukum, tidak ada perlindungan, dan tidak ada harapan."
Jacob berbalik dan menatap langsung ke mata kedua bawahan kepercayaannya dengan wibawa seorang penguasa mutlak yang siap mengambil beban dunia di pundaknya.
"Akhiri persiapan logistik untuk perang, Veldora. Rakyat Scolar butuh pemimpin di wilayah mereka segera, dan karena takhta mereka sedang kosong, akulah yang akan pergi kesana sendirian, dan memilih siapa yang paling layak untuk wilayah baru kita, karena bagaimanapun... Scolar sudah jadi bagian dari Helios" tegas Jacob dengan keputusan bulat.
"Pastikan senjata ini selesai saat aku kembali nanti, kalian berdua yang akan bertanggung jawab untuk kesempurnaan senjata, tak perlu terburu-buru. Jika ada rakyat yang protes saat aku tidak ada disini, akan aku pastikan kalian menerima hukuman berat" ancam Jacob, sambil berjalan pergi dan menolah ke arah Natali dan Veldora.