NovelToon NovelToon
Kutukan Santau

Kutukan Santau

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:

---

*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti

pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*

_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10

Tiba-tiba ember berisi muntahan itu bergerak sendiri. Cairan hitam di dalamnya mendidih tanpa api dan dari dalamnya keluar suara bisik-bisik, banyak, tumpang tindih dan tidak jelas ngomong apa, tapi intonasinya ngejek.

Pak Syukri langsung menyiram air yang dia bawa dari tujuh sumur ke ember itu. "Keluar! Kau tidak punya tempat di sini!" Desis keras terdengar dan Asap hitam naik dari ember, bentuknya seperti tangan kecil yang nyakar-nyakar udara sebelum akhirnya pecah jadi debu.

Bersamaan dengan itu, napas Midah berhenti.

Satu detik.... Dua detik.... Tiga detik.

Terus... dia narik napas dalam-dalam. Panjang, Tersengal dan dadanya naik turun kencang seperti orang yang baru saja di selamatin dari jurang yang tak berujung

"Sudah keluar," kata Pak Syukri, sambil mengusap kening. "Tapi jangan senang dulu. Yang keluar cuma anteknya. Yang punya masih menunggu di luar."

Midah membuka mata dan dia melihat Pak Syukri, ayu dan anaknya yang lain dan melihat Pak Kardi yang berdiri di pintu dengan wajah kaku.

"Dia bilang... giliran ayu besok malam," katanya pelan. Suaranya balik lagi jadi suara Midah, tapi serak basah.

Seketika itu juga lolongan anjing di luar berhenti dan udara diluar semakin mencengkam dan orang-orang sudah pada masuk kekamar masing-masing karena udara pada malam itu sungguh sangat mengerikan

Ruangan jadi sunyi lagi. Cuma suara napas Midah yang kasar dan pak Kardi yang terus membaca doa untuk melawan mahkluk yang tak kasat mata

Pak Kardi langsung melangkah, berdiri di depan Ayu yang mukanya pucat pasi. Golok di tangannya masih basah. entah keringat atau air dari tujuh sumur tadi.

"Dia tidak akan bisa menyentuh anakku," geramnya pelan."siapapun yang melakukan ini kepada istri dan anakku akan ku bakar rumahnya menjadi abu." ke 6 anaknya hanya bisa diam dan menangis, saat melihat ibu dan adiknya akan menjadi target dan pak Syukri duduk diambang pintu, tasbinya di sebelah kirinya berputar cepat. Bibirnya tidak berhenti melafalkan ayat kursi dan doa-doa penolak bala."Ya Allah, jika ada jin yang masuk kerumah ini, putuskan ikatannya sekarang juga dan jangan beri ia jalan masuk lagi."

Setiap kali ia mengucap "Bismillah", tubuh Midah mengejang lebih keras. Seolah nama itu membakar sesuatu di dalam dirinya.

Di lain tempat, di tempat pelesok yang jauh dari penduduk dan keramaian

Lampu minyak masih menyala meski sudah lewat tengah malam. Di tengah ruangan, Pak Samsul dan sitoh duduk bersila berhadapan dengan dukun tua yang kulitnya keriput seperti kulit jeruk kering. Di antara mereka ada tempurung kelapa berisi air keruh, rambut Midah yang diambil diam-diam seminggu lalu,

dukun santet yang bernama Wak Jaka mengaduk air itu dengan pisau kecil sambil komat-kamit. "Sudah masuk, Samsul. Jin kiriman sudah mengincarnya dan setelah tiga hari, kalau suaminya tidak menyerah, nyawanya yang melayang duluan. Anaknya yang bernama ayu itu juga akan ikut panas dan kejang- kejang walaupun dia punya penjaga ditubuhnya, aku masih masih bisa menghadapinya."

Pak Samsul menelan ludah. Matanya menyala. "Bagus, aku akan semakin kaya dengan usaha kelontongku."

Pak Samsul menelan ludah dan Matanya menyala penuh keserakahan."Aku akan semakin kaya dengan usaha kelontongku. Setelah Safri menjdi tumbal pertamaku dan sekarang Midah yang akan menjadi tumbal berikutnya." ucapnya sambil terbahak- bahak."semua orang di pasar akan mendengar namaku. Daganganku akan semakin laris, orang-orang takut kalau tidak beli di tempatku." ucapnya sambil menyeringai dan sitoh juga ikut tersenyum puas.

Dukun Wak jaka menyeringai, celah giginya yang tinggal dua terlihat hitam.

"Kaya sih iya, tapi kalau kau serakah, Samsul. jin itu juga minta tumbal lebih besar dan Dia sudah minum darah ayam hitam. Besok malam dia minta darah ayam putih dan Lusa...? dia minta yang punya darah panas."

Pak Samsul terdiam sesaat. Tangannya yang menggenggam tanah kuburan mengerat.

"Asal aku menjadi kaya dan disegani orang-orang, apa saja akan aku lakukan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!