NovelToon NovelToon
Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:848
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Rasyid adalah calon Bupati muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengincar posisi Istri Bupati.

Tetapi hati Rasyid sudah terpaut pada Ami, gadis desa lulusan SMA yang benar-benar tak tertarik padanya.

Perjuangan Rasyid untuk mendapatkan Ami, dibantu oleh ajudan setianya, Andre.

Ketika Rasyid sudah mendapatkan Ami, lawan politik menyerang hingga mereka dipisahkan takdir.

Andre hadir untuk mengisi posisi kosong itu tanpa niat buruk.

Namun, ketika keadaan kembali seperti semula, Ami memutuskan kembali ke desa, mencari ketenangan hingga dijemput kembali oleh lelaki pilihannya.

~~Kita bisa merencanakan sesuatu, namun takdir yang menentukan akhirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dijodohkan Dengan Nadin

Sejak mengetahui keseriusan Rasyid terhadap Ami, Paman Badri justru semakin gencar mendekatkan Rasyid dengan Nadin. Hampir setiap acara penting, nama Nadin selalu ikut disebut. Kalau ada pertemuan bisnis, Nadin diundang. Kalau ada kegiatan sosial, Nadin diminta mendampingi.

Bahkan beberapa kali Paman Badri sengaja meninggalkan mereka berdua agar terlihat dekat di depan orang-orang. Dan yang paling membuat Rasyid kesal, pamannya mulai terlalu jauh ikut campur.

Malam itu, saat makan malam di rumah Pak Hakim, Rasyid tanpa sengaja mendengar langsung ucapan pamannya. “Kalau Nadin jadi menantu keluarga kita,” kata Paman Badri sambil tertawa kecil, “saya rasa keluarga kita beruntung sekali.”

Nadin tampak tersipu malu. Sementara Pak Hakim tersenyum puas. Namun di sisi lain meja, rahang Rasyid mengeras. Ia benar-benar tidak suka hidupnya dibicarakan seolah sudah menjadi kesepakatan politik. Apalagi tanpa persetujuannya.

Sepanjang acara, suasana hati Rasyid memburuk. Tetapi ia tetap menjaga sikap demi menghormati orang tua. Dan justru karena itulah, setelah makan malam selesai, Rasyid memutuskan berbicara langsung dengan Nadin.

“Bisa bicara sebentar?”

Nadin tampak senang mendengarnya. “Tentu.”

Mereka berjalan ke taman belakang rumah yang jauh lebih tenang dari ruang tamu utama. Malam terasa dingin dengan lampu taman temaram menerangi jalan setapak. Nadin terlihat gugup tetapi juga antusias. Sedangkan Rasyid memilih berbicara langsung tanpa berputar-putar.

“Saya minta maaf kalau sikap keluarga saya membuat Mbak Nadin salah paham.”

Langkah Nadin perlahan terhenti. “Maksud Mas Rasyid?”

Rasyid menatapnya sopan. “Saya menghormati Mbak Nadin sebagai teman.”

Senyum di wajah Nadin mulai memudar sedikit.

“Dan saya rasa…” Rasyid menghela napas kecil. “Kita memang lebih cocok berteman.”

Nadin tampak berusaha memahami kalimat itu. “Karena aku terlalu sibuk di Jakarta?” tanyanya pelan.

“Bukan.”

“Karena keluargaku terlalu ambisius?”

Rasyid menggeleng, “Ini bukan tentang siapa yang salah.” Tatapannya tetap tenang dan dewasa. “Mbak Nadin perempuan baik, pintar, dan punya masa depan bagus.” Ia tersenyum tipis. “Tapi saya tidak ingin menjadikan hubungan sebagai bagian dari strategi politik.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Nadin benar-benar mengerti. Ada perempuan lain di hati Rasyid. Dan entah kenapa, kesadaran itu membuat dadanya terasa tidak nyaman. “Perempuan dari Lembah Embun itu?” tanyanya akhirnya.

Rasyid terdiam sesaat. Ia cukup kaget ternyata Nadin juga tahu. Namun diamnya cukup menjadi jawaban.

Nadin tersenyum kecil pahit sambil menunduk. “Dia beruntung.”

Rasyid justru menggeleng pelan. “Bukan.” Tatapannya jauh lebih lembut sekarang. “Saya yang merasa beruntung bisa mengenalnya.”

Jawaban itu membuat Nadin benar-benar memahami satu hal, ia mungkin memenuhi semua kriteria “pasangan sempurna” untuk seorang calon bupati. Tetapi hati Rasyid sudah memilih orang lain.

Nadin menunduk beberapa saat setelah mendengar jawaban Rasyid. Angin malam bergerak pelan di taman belakang rumah itu, membuat suasana terasa semakin sunyi.

Untuk pertama kalinya sejak mereka berkenalan, perempuan itu tidak lagi berbicara dengan senyum percaya diri seperti biasanya. Ia terlihat rapuh. “Mas Rasyid…”

Rasyid mengangkat pandangan.

“Apa tidak ada cara…” suara Nadin mengecil sedikit, “…agar saya bisa seperti perempuan itu?”

Rasyid mengernyit pelan. “Maksudnya?”

Nadin tersenyum kecil, tetapi tampak pahit. “Kalau diberi kesempatan…” Ia menarik napas pelan. “Saya siap belajar menjadi seperti perempuan yang Mas Rasyid sukai.”

Kalimat itu membuat Rasyid terdiam beberapa detik. Ia bisa melihat kesungguhan di mata Nadin. Dan justru karena itu, Rasyid merasa harus menjawab dengan jujur. “Nadin…” Untuk pertama kalinya malam itu, ia menyebut nama perempuan itu tanpa jarak formal. “Kamu itu baik.”

Nadin perlahan mengangkat wajah.

“Kamu juga istimewa dengan segala kelebihan yang kamu punya.” Nada suara Rasyid tenang dan tulus. “Jangan pernah berpikir harus menjadi orang lain hanya supaya disukai seseorang.”

Mata Nadin mulai memerah tipis.

Rasyid melanjutkan dengan lembut, “Jadilah diri kamu sendiri. Itu yang akan membuat kamu lebih bahagia.” Ia tersenyum kecil. “Percayalah.”

Nadin menggigit bibir bawahnya pelan, berusaha menahan emosinya. Selama ini ia terbiasa dipuji karena kecantikan, pendidikan, dan status sosialnya. Banyak laki-laki mengejarnya tanpa perlu ia berusaha keras. Tetapi di depan Rasyid untuk pertama kalinya, semua itu ternyata tidak cukup membuat seseorang jatuh cinta padanya.

Dan anehnya, meski hatinya terasa kecewa, Nadin tidak bisa membenci laki-laki itu. Karena Rasyid menolaknya dengan cara yang tetap menghargainya sebagai perempuan.

“Aku iri sama dia,” gumam Nadin lirih.

Rasyid terdiam.

“Karena dia dicintai bukan karena pencitraan.”

Kalimat itu membuat Rasyid perlahan menatap langit malam. Dan dalam hati, ia semakin yakin bahwa perasaannya pada Ami bukan sekadar ketertarikan biasa. Melainkan sesuatu yang benar-benar ingin ia perjuangkan dengan sungguh-sungguh.

***

Siang itu, Ami baru saja selesai menjemur botol-botol saus hasil produksi ketika sebuah mobil hitam berhenti di depan rumahnya.

Beberapa warga sekitar langsung melirik penasaran.

Ami sendiri mengernyit bingung saat melihat seorang pria paruh baya turun dari mobil dengan pakaian rapi dan wajah yang jelas bukan orang sembarangan. Ia langsung mengenali siapa pria itu. Paman Badri.

Ami spontan menegang. “Assalamu’alaikum,” sapa Ami sopan sambil mendekat.

“Wa’alaikumussalam.” Nada suara Paman Badri terdengar datar.

Tatapan pria itu menyapu rumah sederhana Ami, halaman kecil, hingga jemuran botol di samping rumah. Tatapan yang tidak terang-terangan menghina… tetapi cukup membuat Ami merasa kecil. “Saya ingin bicara sebentar.”

Ami mengangguk pelan. “Silakan.”

Mereka akhirnya berbicara di teras rumah. Suasana terasa canggung sejak awal. Paman Badri tidak berbasa-basi. “Kamu dekat dengan Rasyid?”

Pertanyaan itu langsung membuat Ami salah tingkah. “Saya…”

“Saya tahu keponakan saya sering datang ke sini.”

Ami menunduk sesaat sebelum menjawab pelan, “Pak Rasyid hanya sering berdiskusi soal masyarakat kampung.”

Paman Badri tersenyum tipis. “Rasyid itu laki-laki baik.” Tatapannya mulai tajam. “Tapi dia terlalu idealis.”

Ami diam.

“Dan saya rasa…” lanjut pria itu perlahan, “kamu juga sudah cukup paham bagaimana posisi kalian berbeda.”

Kalimat itu terasa menusuk meski diucapkan dengan tenang. Ami menggenggam jemarinya pelan di atas pangkuan.

Paman Badri melanjutkan, “Rasyid punya masa depan besar. Banyak orang menggantungkan harapan padanya. Karier politik itu bukan hal sederhana.” Tatapannya lurus pada Ami sekarang. “Pendamping seorang calon bupati akan selalu diperhatikan.”

Ami masih memilih diam. Dan justru diamnya membuat Paman Badri semakin yakin bahwa gadis ini sadar diri.

Karena itu ia akhirnya mengucapkan kalimat yang sejak tadi ingin disampaikan. “Jadilah orang yang tahu diri.”

Angin siang berembus pelan melewati halaman rumah sederhana itu. Ami menunduk beberapa detik. Kalimat itu jelas menyakitkan hatinya. Karena meski tidak diucapkan langsung, Ami tahu maksud sebenarnya ia dianggap tidak pantas berdiri di sisi Rasyid.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!