NovelToon NovelToon
Pendekar Legenda Naga

Pendekar Legenda Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”

Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.

Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.

Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.

Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.

Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Paman Han

​​Lu Ming tidak takut. Ia justru mendekat, menatap pedang berkarat yang tersampir di pinggang Paman Han dengan tatapan haus. "Paman... bisakah Paman mengajariku cara menjadi kuat? Agar aku bisa melindungi Ibu saat dia kembali nanti?"

​Paman Han tertawa terbahak-bahak, suara tawanya serak dan pahit. "Kuat? Kau lihat aku? Aku ini sampah di dunia kultivasi, Bocah! Aku hanya bisa menggerakkan sedikit energi Qi ke ujung jari. Jangan bermimpi terlalu tinggi, atau kau akan hancur saat jatuh!"

​Namun, Lu Ming tetap berdiri di sana, membungkukkan tubuhnya dalam-dalam di atas debu. "Tolong, Paman. Aku ingin bertahan hidup lebih lama... agar aku tidak mati sebelum Ibu menjemputku."

​Melihat kesungguhan di mata bocah itu, tawa Paman Han mereda. Ia menghela napas panjang, menatap langit yang mulai jingga. "Dasar keras kepala. Baiklah, tapi jangan mengeluh jika tulang-tulangmu serasa mau patah."

​Sejak hari itu, setiap sore, suasana di gang sempit belakang gudang gandum berubah menjadi medan latihan yang brutal.

​"Tahan kuda-kudamu! Kau ini mau jadi pendekar atau mau jadi ulat tanah?!" bentak Paman Han.

​Suasana sore itu terasa sangat panas dan menyesakkan. Matahari musim panas menggantung rendah, memancarkan gelombang panas yang membakar kulit.

Udara di gang sempit itu seolah berhenti mengalir, terasa kering dan penuh debu gandum yang membuat dada sesak.

​Lu Ming dipaksa berdiri dalam posisi kuda-kuda rendah selama berjam-jam di bawah terik matahari.

Keringat bercucuran deras, membasahi luka-luka lama di punggungnya yang belum sembuh benar, menciptakan rasa perih seperti disiram garam.

Otot-otot kakinya bergetar hebat, mengeluarkan sensasi panas yang membakar seolah-olah darahnya mendidih di dalam pembuluh darahnya.

​"Jangan bergeser! Rasakan panas di perutmu!" perintah Paman Han dengan suara menggelegar. "Dunia ini akan membakarmu hidup-hidup jika kau lemah! Ambil panas matahari itu, masukkan ke dalam aliran darahmu!"

​Lu Ming menggertakkan gigi hingga rahangnya sakit. Matanya yang memerah menatap lantai batu yang mengeluarkan uap panas.

Pandangannya mulai kabur, kepalanya berdenyut-denyut karena sengatan matahari, namun di dalam dadanya, ada api yang lebih panas dari matahari mana pun: api harapan untuk bertemu ibunya.

​Setiap kali ia merasa ingin pingsan, ia akan membayangkan wajah ibunya. Api di hatinya menyatu dengan instruksi Paman Han, menciptakan pusaran energi Qi yang tipis namun tajam di perut bawahnya.

​Setelah latihan yang menyiksa itu, Paman Han melemparkan sebungkus nasi dingin kepadanya. "Makan itu. Aku tidak mau kau mati di depan gudangku, itu akan membawa sial!" ucapnya ketus, padahal tangannya yang kasar sedikit gemetar saat melihat betapa gigihnya bocah itu.

​Lu Ming duduk di samping Paman Han, menyantap nasi itu dengan lahap meski tenggorokannya masih terasa terbakar.

Suasana di gang itu akhirnya melunak saat senja turun. Aroma arak murah bercampur dengan bau debu dan keringat terasa begitu "nyaman" bagi Lu Ming.

​"Paman," ucap Lu Ming pelan di tengah kunyahannya. "Terima kasih sudah mengajariku."

​Paman Han terdiam, menatap profil samping bocah itu. Ada rasa perih di hati sang pria tua. Ia tahu dunia ini kejam, dan kemungkinan ibu bocah ini kembali sangatlah kecil.

Ia ingin mengatakan kebenaran itu, tapi ia tidak sanggup menghancurkan satu-satunya alasan bocah ini untuk tetap bernapas.

​"Sudahlah, jangan banyak bicara. Besok kau harus mengangkut sepuluh karung gandum sebagai bayaran latihanmu," sahut Paman Han sambil membuang muka, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.

​Malam itu, Lu Ming pulang ke sudut temboknya dengan tubuh yang pegal luar biasa dan kulit yang merah karena terbakar matahari.

Namun, ada senyum tipis di bibirnya. Ia memeluk kantong keping perunggunya lebih erat di balik pakaian dekilnya.

​"Satu tahun sudah lewat, Bu. Lu Ming sudah lebih kuat sekarang. Lu Ming sudah belajar cara memukul dan bernapas. Ibu tidak perlu khawatir lagi kalau ada anjing atau orang jahat... Lu Ming yang akan melindungi Ibu."

​Di tengah kesunyian malam, Lu Ming tertidur dengan hati yang membara oleh cinta yang murni, sebuah harta karun yang jauh lebih berharga daripada teknik kultivasi tertinggi mana pun di jagat raya ini.

1
Dhewa Iblis
Kereenn...
Beni: makasiihhh. lanjut teruuus
total 1 replies
Dhewa Iblis
Mantapp...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Semangaatt thorr...
Dhewa Iblis
😥😥😥
Dhewa Iblis
Laaannnjjjuuttt...
Dhewa Iblis
Laaannjuut..
Nanik S
Apakah Liu Shen dibawa kesekte Suci
Nanik S
Wajah yang lama dirindukan tapi akhirnya menjadi kebencian tiada batas
Beni: lebih memilih harta dan membuang masa lalu/Scowl/
total 1 replies
Nanik S
kenapa mereka tidak bekerja sama menghancurkan ke Kaisaran
Beni: perbedaan pendapat
total 1 replies
Nanik S
Ceritanya bagus Tir
Nanik S
Cerita yang sama sama membawa kekecewaan
Nanik S
Liu Ming benar benar kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!