NovelToon NovelToon
FROZEN DAWN

FROZEN DAWN

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:416
Nilai: 5
Nama Author: Noulmi

Krystal, reinkarnasi Naga Es yang melupakan 98 kehidupan lamanya, tumbuh menjadi putri terbuang Kekaisaran Aethermoor. Dibuang ke Istana Aquamarine sejak usia tiga tahun oleh ibu yang dimanipulasi sihir, ia ditemani Mira dan dilindungi Eros—Dewa Nafsu yang menjadikannya calon istrinya. Kecantikannya memikat, namun hatinya rapuh akibat trauma penolakan. Ia membangun Proyek LadyBug untuk menghancurkan Ratu Seraphina dari dalam, merekrut para jenius terbuang sebagai senjata rahasia. Ketika Eros menolaknya demi kesucian, egonya hancur; ia nekat memeluk Hyal hingga batuk darah, menyadari racun berkat sang kakaklah yang menyiksanya. Kini di tanah Herkimer, Krystal bangkit—lebih dingin, lebih licik, dan bertekad menggulingkan takhta dengan tangannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noulmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Sebelum melangkah lebih jauh ke distrik bawah untuk menemui Kin Zircone, Krystal berpikir dan memutuskan bahwa rombongannya membutuhkan tempat beristirahat dan menyusun rencana yang aman lebih dulu. Di kota dengan arsitektur menara menjulang ini, urusan logistik ternyata jauh berbeda dengan Provinsi Emerald yang membumi.

Sorento mengarahkan kereta kuda mereka membelah jalanan utama Alexandrite yang entah mengapa terasa sangat lengang dari aktivitas pejalan kaki atau lalu lintas kendaraan. Di sini, jalanan batu yang megah seolah hanya menjadi pajangan. Kereta kuda atau kereta sewaan hanya digunakan oleh para pedagang komoditas besar, atau orang-orang luar yang sekadar singgah sebentar seperti Krystal dan rombongannya.

"Rys, kenapa jalanan sekaya ini sepi sekali?" tanya Mira sembari mengintip dari balik tirai gerbong.

"Karena di kota ini, berjalan kaki atau menggunakan kereta konvensional dianggap membuang waktu," sahut Eros, yang sejak tadi mengamati struktur magis kota. "Hampir seluruh penduduk asli Provinsi Alexandrite terlahir dengan kapasitas mana yang tinggi. Normalnya, ketika mereka ingin pergi ke mana pun—bahkan hanya ke toko roti di seberang jalan—mereka akan menggunakan sihir teleportasi jarak pendek."

Mendengar hal itu, Elenoir dan Laura kecil hanya bisa melongo kagum. Kota ini benar-benar berjalan di atas fondasi sihir murni yang pekat.

Karena kultur magisnya yang tinggi, penginapan di kota ini pun tidak ada yang berbentuk \**homestay*\* ramah lingkungan atau rumah tapak. Di sana hanya menyediakan hotel-hotel megah yang bangunannya menjulang tinggi berbentuk menara atau bahkan kastil-kastil gantung yang bertumpu pada pilar obsidian.

Biaya sewanya tentu saja terlampau mahal—angka yang hanya bisa dikeluarkan tanpa berkedip oleh para bangsawan tinggi kekaisaran atau penyihir menara tingkat atas. Penduduk asli Alexandrite sendiri tidak ada yang miskin; kelimpahan tambang permata bunglon membuat kesejahteraan mereka berada di level yang setara.

Namun, para pendatang dan kaum buruh imigran-lah yang membuat kota ini menyajikan pemandangan yang teramat kontras. Para pendatang yang tidak memiliki cukup uang untuk menyewa satu kamar menara, biasanya terpaksa patungan dengan puluhan pendatang lain demi bisa menyewa satu ruang bawah tanah atau paviliun kumuh di pinggiran distrik. Di sinilah letak ironi kota penyihir: kemegahan di atas langit, dan keputusasaan yang berjejal di bawah tanah.

"Kita tidak mungkin menyewa tempat patungan jika membawa dokumen penting *LadyBug* dan tumpukan kotak permata," cetus Krystal. Ia langsung merogoh kantongnya, mengeluarkan sekantong koin emas yang ia dapatkan dari hasil mencairkan sebagian aset tersembunyinya di Aquamarine, lalu menyerahkannya pada Sorento. "Sewa satu menara penginapan menengah ke atas secara utuh atas nama samaran. Kita butuh privasi."

Sorento bergerak cepat. Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya berhasil mengamankan sebuah menara penginapan swasta berlantai lima yang memiliki fasilitas teleskop sihir di puncaknya serta menggunakan lift sebagai pengganti tangga.

Saat berada di dalam kamar utama menara yang dinding kacanya sedang memancarkan warna ungu keemasan, Krystal berdiri menatap hamparan distrik bawah dari ketinggian. Angin malam Alexandrite mulai berembus, mengetuk-ngetuk kaca magis dengan lembut.

Eros berjalan mendekat, menyelimuti bahu Krystal dengan jubah hitamnya yang hangat dari belakang. "Kau sedang memikirkan cara menghadapi Kin?"

"Aku sedang memikirkan betapa bodohnya Ratu Seraphina dan sekutunya," jawab Krystal, membalikkan tubuhnya dalam dekapan Eros. "Mereka membuang berlian berharga seperti Kin hanya untuk beberapa lembar cetak biru yang tidak akan bisa mereka kembangkan sendiri tanpa jiwa seni sang pencipta. Malam ini, di bawah bayang-bayang menara angkuh ini, aku akan mengambil berlian itu dari lumpur."

Krystal membetulkan letak belati kecil di balik pinggangnya, lalu menatap Eros dengan binar mata biru laut aslinya yang telah kembali bergolak penuh tekad. "Ayo, Eros. Mari kita turun ke bawah tanah dan menemui pengrajin kita."

Suasana di dalam kamar menara berlantai lima itu seketika diselimuti ketegangan yang elegan. Warna ungu keemasan yang memantul dari dinding kaca magis seolah menjadi latar belakang yang sempurna bagi tekad Krystal yang membara. Di kota yang angkuh ini, di mana langit diisi oleh kemegahan sihir dan bumi diinjak oleh keputusasaan para imigran, Krystal justru melihat peluang emas untuk membalikkan keadaan kekaisaran.

Eros hanya tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang penuh arti dan kepatuhan mutlak. Ia merapikan jubah hitam yang membungkus bahu Krystal, memastikan belati kecil di pinggang wanita itu tersembunyi dengan sempurna namun tetap mudah dijangkau dalam satu gerakan.

"Ratu Seraphina terlalu sibuk melihat ke atas hingga ia lupa bahwa fondasi terkuat sebuah kerajaan justru dibangun dari bawah," bisik Eros, suaranya rendah namun bergetar dengan sihir yang samar. "Mari kita tunjukkan pada mereka apa artinya kehilangan sekutu paling berharga."

Sebelum melangkah keluar, Krystal memberikan instruksi singkat namun tegas kepada Sorento dan Mira untuk menjaga dokumen LadyBug serta tumpukan kotak permata di dalam menara. Penginapan ini memang aman, tetapi di kota yang penuh dengan penyihir tingkat tinggi, kewaspadaan adalah harga mati. Elenoir dan Laura kecil diminta untuk tetap berada di dalam kamar terdalam yang telah dipasangi segel pelindung oleh Eros.

Lift magis yang digerakkan oleh batu mana membawa Krystal dan Eros turun dengan cukup cepat. Begitu pintu lift terbuka di lantai paling dasar yang terhubung dengan jalur logistik belakang, atmosfer Alexandrite langsung berubah drastis.

Tidak ada lagi pilar obsidian yang berkilau atau aroma dupa magis yang menenangkan. Semakin mereka melangkah turun menyusuri tangga batu yang lembap menuju distrik bawah, udara berganti menjadi pekat oleh bau jelaga, minyak mesin, dan keringat para buruh imigran. Jalanan di sini sempit, berliku, dan dipadati oleh orang-orang yang wajahnya kusam akibat kelelahan.

Namun, di tengah kumuhnya distrik bawah ini, ada satu hal yang tidak bisa disembunyikan: detak kehidupan yang jujur. Di sinilah mesin-mesin Alexandrite sebenarnya digerakkan.

"Pondok kerja Kin Zircone ada di ujung distrik ini, dekat dengan saluran pembuangan limbah magis," ujar Eros, menuntun Krystal membelah kerumunan paruh baya dan anak-anak jalanan yang menatap mereka dengan tatapan penuh curiga. Penampilan mereka—meski sudah disamarkan dengan pakaian usang—tetap memancarkan aura yang berbeda.

Mereka berhenti di depan sebuah bangunan tua dengan papan nama kayu: "Gears & Arts". Dari dalam bangunan, terdengar suara dentingan logam yang beradu secara ritmis, diselingi oleh batuk kering seseorang.

Krystal mengetuk pintu kayu yang berat itu tiga kali.

Dentingan logam terhenti. Pintu perlahan terbuka, menampilkan sosok pemuda dengan rambut abu-abu acak-acakan penuh noda pelumas. Matanya yang cekung namun tajam menatap Krystal dan Eros dari balik kacamata pembesar mekanisnya. Inilah Kin Zircone, sang pengrajin genius yang dibuang oleh kemegahan istana.

"Kami tidak menerima pesanan replika perhiasan murahan di jam seperti ini, Tuan dan Nona," gerutu Kin, suaranya serak dan terdengar sinis.

Krystal tidak mundur selangkah pun. Ia justru menurunkan sedikit tudung jubahnya, membiarkan sepasang mata biru lautnya berkilat di kegelapan malam distrik bawah. Dengan gerakan anggun, ia mengeluarkan sebutir permata bunglon berukuran kecil namun memiliki kemurnian tingkat tinggi dari saku jubahnya—sebuah umpan yang tidak akan mungkin ditolak oleh seorang seniman sejati.

"Aku tidak datang untuk meminta perhiasan murahan, Sir Zircone," ucap Krystal dengan nada tenang namun penuh penekanan. "Aku datang untuk mengembalikan jiwa seni yang telah dicuri darimu, dan menawarkan sebuah panggung di mana para bangsawan sombong itu tidak akan pernah bisa menyentuh mahakaryamu lagi."

Kin Zircone tertegun. Matanya langsung terpaku pada permata di tangan Krystal, lalu beralih pada aura kepemimpinan yang memancar kuat dari wanita di hadapannya. Perlahan, senyum getir di wajah sang pengrajin memudar, digantikan oleh binar rasa penasaran yang sudah lama padam.

"Masuklah," bisik Kin, membuka pintu lebih lebar. "Dan ceritakan padaku bagaimana rencana kerjamu."

1
Jasa Curhat
waktu antara hyal memohon dan bulan purnama pertama tidak sinkron
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!