Glenca Lysandra, seorang gadis yang terkenal di desanya sebagai penakluk hutan yang tak seorang pun berani memasukinya. Dia lah satu-satunya gadis yang berhasil keluar masuk hutan dalam keadaan selamat, berbeda dengan beberapa orang desa lainnya.
Namun, apa jadinya ketika dia bertemu seorang pemimpin mafia, Ethan Frederick Denaro, di sebuah villa kosong yang terkenal angker di dalam hutan yang ia jelajahi. Pertemuan tak sengaja yang membawanya menyaksikan kekejaman dan transaksi gelap seorang Ethan, juga menjadi awal hidup rumit nya.
Ethan tidak pernah membiarkan saksi mata transaksi terlarang nya hidup. Tapi, Glenca adalah pengecualian. Membawanya ke Mansion dan dijadikan mainan, cukup menghibur dirinya yang penuh dengan keseriusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquilaliza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman
Beberapa bagian di lantai dua telah dibersihkan oleh Julie dan beberapa pelayan lainnya. Glenca yang baru saja tiba dari lantai satu bergegas melakukan pekerjaannya. Tidak banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan, dan itu membuatnya cukup lega.
"Kamar Nona Adeline sudah kami bersihkan. Kau tidak perlu melakukannya lagi." Salah seorang pelayan berkata dengan sinis.
"Baiklah, aku akan bersihkan tempat lain." Glenca membalas dengan senyuman tipis. Dia sadar, dia salah dan cukup pantas dibalas seperti ini. Siapa saja yang bekerja dalam tim, jika satu diantara semuanya tidak bekerja atau mungkin lalai, dia harus menerima konsekuensinya.
Dia harus terima bahwa dia akan menjadi pusat yang menerima segala bentuk ketidaksukaan dan kekecewaan dari teman satu timnya.
Glenca meninggalkan pelayan tersebut lalu beralih membersihkan bagian depan kamar Aaron. Ada beberapa pelayan yang ikut membersihkan disana.
Julie yang juga berada disana menatap sinis Glenca. Rasa tidak sukanya pada Glenca semakin menjadi.
"Kau baru datang? Hukuman apa yang Tuan Ethan berikan padamu?"
"Menyelesaikan pekerjaanku, dan membersihkan lantai tiga."
"Apa? Membersihkan lantai tiga?" Julie melotot tak percaya. Hal yang sama terjadi pada beberapa pelayan yang mendengar. Di antara semua pelayan di Mansion ini, hanya lima pelayan senior yang bertugas membersihkan lantai 3.
Selain kelima orang itu dan kepala pelayan, tidak boleh ada satupun pelayan lagi yang naik ke lantai tiga.
Glenca yang mendengar pekikan Julie hanya bisa mendengus pelan dan memutar bola mata.
Apa harus reaksinya seperti itu? Hanya naik ke lantai tiga, bukan sesuatu yang sangat istimewa. Dia saja orang desa tidak sampai berteriak dan melotot seperti itu.
Julie menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri. Setelah merasa cukup tenang, dia berdiri angkuh sambil melipat tangannya di dada.
"Ya, kau memang pantas dihukum untuk membersihkan lantai tiga. Kau tidak tahu betapa lelahnya bekerja disana. Kalau kau tidak tahu, akan ku jelaskan padamu seperti apa di lantai tiga."
"Tidak perlu. Aku sudah melihatnya." Glenca menjawab santai sambil terus menyingkirkan debu dari vas bunga yang sepertinya tidak ada debu sama sekali.
"Kau sudah melihatnya? Hahaha, jangan berbohong. Jangan berpikir bahwa lantai tiga sama dengan—"
"Aku sudah ke lantai tiga semalam. Jadi, berhentilah berbicara dan biarkan aku bekerja dengan tenang."
Lagi-lagi ucapan Glenca memicu keterkejutan di antara para pelayan. Julie yang paling syok. Saat Glenca hendak berlalu dari hadapannya, dia dengan cepat mencegah dan menarik kasar tangan Glenca.
"Kau mau kemana? Hah? Jelaskan padaku apa maksud mu itu! Kenapa bisa kau ke lantai tiga. Apa yang kau lakukan disana?"
Glenca sengat kesal. Dia mengibaskan tangannya hingga pegangan Julie terlepas. Mata indahnya menatap Julie dengan sorot tanpa sedikit rasa takut.
"Itu bukan urusanmu!" jawab Glenca kemudian berlalu meninggalkan Julie yang merengut kesal. Dia sangat tidak terima. Glenca tidak seharusnya mendahuluinya untuk naik ke lantai tiga.
***
Glenca cukup lega setelah pekerjaan di lantai dua selesai. Dia lalu menaiki lift pelayan menuju ke lantai tiga. Walaupun mulai merasa lelah, dia harus tetap mengerjakan pekerjaannya. Jika ia tidak melakukannya, pria kejam itu tidak akan membiarkannya tenang.
Saat tiba di lantai tiga, kelima pelayan senior yang ia ketahui memiliki tugas khusus di lantai tiga sudah berdiri berjajar, seolah tengah menunggu dirinya.
Glenca menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang cantik dan terkesan begitu ramah.
"Selamat datang, Glenca," sapa seorang wanita berusia sekitar 40-an.
"Hallo," sapa Glenca cukup canggung. Ia pikir, dari kelima pelayan senior yang betugas di lantai 3 adalah semuanya perempuan. Ternyata ia salah. Ada 3 perempuan dan 2 laki-laki yang bertugas. Dua lelaki itu terlihat masih muda, mungkin seusia Martin.
"Sepertinya kau belum mengenal kami," ucap seorang lelaki.
Glenca tersenyum kikuk. "Pak George baru saja memberitahu padaku. Ada lima pelayan senior yang bertugas di lantai 3. Tapi, dia tidak memberitahuku nama-nama kalian."
"Panggil saja aku Janis."
"Aku Canne."
"Aku Letty."
"Aku Mickey."
"Aku Mike"
"Senang bertemu kalian." Glenca kembali tersenyum. Semua mengangguk sebagai respon pada Glenca. "Aku masih sangat baru disini. Aku tidak tahu apa yang harus aku kerjakan dan tidak boleh aku kerjakan. Aku harap kalian mau menjelaskannya padaku."
"Tentu saja. Kita akan mengerjakan pekerjaan kita masing-masing. Tapi, kau akan ditemani Letty untuk membimbing mu."
"Terima kasih Bibi Canne."
Setelah perkenalan singkat itu, semuanya mulai mengerjakan masing-masing pekerjaan mereka.
Glenca kembali dibuat kagum setelah ditunjukkan beberapa tempat di lantai tiga. Sungguh luar biasa. Pantas saja Julie dan beberapa pelayan sangat ingin naik ke lantai 3. Rupanya sangat indah. Apalagi air kolamnya, sangat segar kelihatannya.
***
Satu jam sebelum makan siang, pekerjaan Glenca dan kelima pelayan senior selesai. Glenca merasa sangat bersyukur.
Dia kembali ke lantai satu bersama Bibi Janis, Bibi Canne, dan Bibi Letty. Mickey dan Mike entah kemana—keduanya menghilang tepat setelah pekerjaan selesai.
"Jenis, Cenne, Letty, ikut saya."
Glenca bingung. Dia menatap ketiga wanita itu, namun tidak ada satu pun dari mereka yang melirik ke arahnya. Mereka seolah menganggap Glenca tidak ada dan berlalu begitu saja.
"Ada apa sebenarnya?"
"Glenca?"
Anna yang entah dari mana mendekat ke arahnya. Gadis itu juga bingung melihat Glenca berdiri diam di tempat itu sendirian. "Kau kenapa?" lanjutnya bertanya.
"Tidak. Aku hanya bingung, kenapa Pak George memanggil tiga pelayan senior sekaligus? Terlihat sangat serius, seolah telah terjadi sesuatu."
Anna tersenyum. "Pak George selalu seperti itu. Lagi pula, itu urusan mereka kita tidak perlu tahu," ucap Anna. Dia lalu bergeser lebih dekat lagi pada Glenca. "Di Mansion ini, orang yang paling banyak tahu adalah orang yang paling cepat terbunuh. Jadi, kita lebih baik tidak tahu saja."
"Tidak tahu apa-apa juga akan membuat kita terbunuh," sahut Glenca tenang.
Anna yang mendengarnya pun cukup terkejut. Tapi setelah itu, ia kembali menormalkan kondisi wajahnya, lalu menarik Glenca menuju dapur.
"Para Tuan mungkin akan segera tiba. Mereka cukup jarang makan siang di rumah. Para pelayan harus menyiapkan yang terbaik," seru Anna sambil terus menarik Glenca ke dapur.
"Untuk apa kau bawa dia kemari?" Raut wajah Julie langsung berubah tak suka.
Anna tidak menjawab. Dia tidak ingin berkelahi dan terkena masalah lagi karena Julie. Si pelayan yang merasa paling di istimewakan oleh Tuan Ethan itu jarang sekali dihukum meski membuat kesalahan. Dia bisa dibilang pelayan kesayangan Tuan Ethan? Mungkin.
"Apa yang harus aku kerjakan?" Glenca bertanya, mengabaikan Julie.
"Semuanya sudah disiapkan. Kau hanya cukup membantu mengantarnya ke meja makan," jawab seorang pelayan.
"Kesini, Glenca. Bantu aku bawakan makanan." Marine memanggil. "Kau juga Anna."
Kedua gadis itu mendekat. Mereka dibantu dengan pelayan lainnya mulai membawa setiap makanan yang dimasak koki ke meja makan.
Julie menatap mereka semua dengan perasaan kesal. Saat makanan terakhir dibawa Glenca, ide jahat langsung terlintas di pikiran Julie.
Ketika Glenca berjalan melewatinya, Julie dengan sengaja menyenggol Glenca hingga makanan berkuah yang dipegang Glenca terjatuh. Wadahnya pecah berserakan berikut dengan makanannya.
Kuah panas nya memercik. Beruntung Glenca dengan cepat menghindar, meskipun sebagian kecil kaki kirinya terkena kuah panas.
Kejadian itu membuat semua terkejut. Marine dan Anna dengan cepat mecari salep untuk mengobati kaki Glenca, sementara beberapa pelayan lain segera membereskan kekacauan tersebut.
"Ada apa ini?"
Semua menegang. Mereka sangat mengenal suara ini. Bukan Pak George atau siapa pun. Tapi, sang pemimpin klan Denaro—Ethan Frederick Denaro.
Pelayan sedang berusaha membersihkan kekacauan pun berdiri.
"Apa kalian bisu?" Lucas sangat tidak senang saat mereka tidak menjawab pertanyaan Ethan.
"Maaf, Tuan. Glenca sangat ceroboh. Dia mengacaukan semuanya."
Mata tajam Ethan yang sejak awal mengarah pada Glenca kini beralih pada kaki gadis itu yang memerah.
"Jangan berikan dia makan hingga besok pagi." Ethan langsung berbalik dan menuju meja makan. Tentu saja Lucas, Zack, dan Martin ikut, begitu juga Pak George dan beberapa pelayan.
Julie tersenyum, merasa menang. Dengan sombongnya dia melewati para pelayan.
Tidak ada pelayan yang berani menentang. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Julie selalu lolos dari hukuman Ethan. Sepertinya Julie kesayangan Tuan Ethan bukan lah sebuah ucapan semata.
"Apa kalian semua juga diperlakukan seperti ini?" tanya Glenca.
"Julie pelayan kesayangan Tuan Ethan itu benar adanya, bukan hanya sebuah karangan Julie."
Dari penuturan pelayan itu, Glenca sudah bisa menyimpulkan. Ketidakadilan ini bukan hanya berlaku padanya, tapi pada setiap pelayan yang berurusan dengan Julie.
Pria kejam! Aku semakin membenci mu!
terimakasih ❤️
untung aja glecha bisa kabur 😄
ini glencha beneran mau kabur ?? aduh pasti klo ethan tau bisa ngamuk nih😂🤔