Harap bijak dalam memilih bacaan, sebagian konten ini berunsur dewasa 21+
Demi menyelamatkan panti asuhan yang akan di gusur, Fatimah rela menikah dengan pria setengah baya berusia 50 tahun. Tetapi laki - laki itu sama sekali tak pernah menyentuhnya. Kenapa ? dan ada rahasia apa di balik pernikahannya....
Lalu bagaimana reaksi Glenn Wijaya Liem yang melihat Ayahnya sendiri menikahi wanita yang diam-diam ia cintai sejak tiga tahun yang lalu.... kuy ikutin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekesalan Glenn
"Mungkin loe akan lebih shock jika tahu siapa wanita yang di nikahi oleh Papa ?" ucap Glenn lagi, ia mengusap wajahnya dengan kasar ketika mengingat ibu tirinya itu.
"Siapa ?" David nampak sangat penasaran.
"Fatimah." sahut Glenn dengan malas.
Nampaknya David sedang mengingat - ingat nama yang di sebutkan oleh Glenn barusan, sebuah nama yang ia rasa tidak asing tapi ia sedikit melupakannya.
"Fatimah, gebetan loe tiga tahun yang lalu ?" tanya David memastikan, karena hanya nama itu yang dia ingat.
"Hmm."
"Astaga, pantas muka loe dari tadi kusut. Sudahlah bro, lupakan wanita itu. Masih banyak wanita di luar sana yang mengejarmu bahkan dengan suka rela tidur di ranjangmu." tutur David yang notabennya seorang playboy jadi kata - kata yang keluar dari mulutnya terdengar bar - bar.
Glenn sama sekali tidak menanggapi perkataan sepupunya itu. Melupakannya begitu saja, terlalu berat baginya. Bagaimana tidak, sejak pertama kali bertemu gadis itu, tiga tahun yang lalu. Ia merasakan pertama kali jatuh cinta sebagai pria yang akan beranjak dewasa dan selama tiga tahun terakhir hanya gadis itu yang memenuhi isi kepalanya.
"Apa loe mau berebut wanita dengan bokap loe sendiri ?" tanya David yang seketika membuyarkan lamunan Glenn.
Glenn hanya menatap sekilas sepupunya itu tanpa berminat menjawab pertanyaannya.
"Apa menariknya wanita seperti itu. Cantik sih iya, tapi pakaiannya itu serba tertutup sangat tidak menggairahkan." celetuk David yang seketika membuat Glenn melotot padanya.
"Yang pasti dia buka wanita murahan." bela Glenn, ia merasa tidak terima ketika sepupunya itu mencibir gadisnya.
"Tapi dia istri bokap loe dan sudah menjadi ibu tiri loe, bahkan mungkin sebentar lagi loe bakal di kasih adik tiri." ujar David tidak mau kalah.
"Sialan, pergi loe dari sini !!" Glenn mendengus kesal melihat sepupunya itu.
Belum juga David melangkahkan kakinya untuk pergi, pintu ruangan nya sudah di ketuk dan tak lama kemudian Santi sekretarisnya Glenn masuk ke dalam.
"Maaf Pak, mengganggu." ucap Santi pada Glenn yang sedang menatap tajam padanya.
"Jangan cari masalah, kalau tidak mau kena semprot." bisik David ketika melewati Santi, kemudian ia berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Apa gajimu kurang, sampai tidak bisa membeli baju yang lebih tertutup ?" Glenn memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh santi yang serba minim. Rok span diatas lututnya, tank top ketat yang hampir menumpahkan isi didalamnya dan blazer yang kekecilan atau memang modelnya yang seperti itu.
"Duh, bukannya ini modal pakaian yang hampir satu tahun ku pakai. Kenapa baru mempermasalahkannya." protes Santi dalam hati.
"Maaf Pak, saya akan segera menggantinya." sahut Santi.
"Ada apa kamu kesini ?" tanya Glenn dingin, matanya masih fokus dengan berkas di tangannya.
"Tuan Candra menyuruh anda ke ruangannya."
"Baiklah." sahut Glenn tanpa melihat sekretarisnya itu.
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi." ujar Santi kemudian berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
Glenn segera beranjak dari duduknya, kemudian ia melangkahkan kakinya keluar menuju ruangan CEO di kantor tersebut.
"Papa memanggilku ?" tanya Glenn ketika baru masuk keruangan ayahnya.
"Duduklah !!" perintah tuan Candra dingin.
"Tender kita di sabotase lagi oleh Hutomo Corps, benar - benar licik mereka." ujar Tuan Candra kesal.
"Lalu kita harus bagaimana Pa ?" tanya Glenn.
"Kamu awasi terus harga saham kita jangan sampai anjlok."
"Baik Pa, kalau Papa ijinkan aku bisa mengurusnya sendiri."
"Tidak Nak, jangan kotori tanganmu. Untuk menghadapinya kita tidak perlu menggunakan otot tapi otak." tutur tuan Candra.
"Baik Pa." sahut Glenn kemudian ia berlalu pergi meninggalkan ruangan ayahnya.
"Bermain - main lah sepuasmu Juan. Karena nanti, orangmu sendiri yang akan menghancurkan mu." gerutu tuan Candra dengan sinis, nampak senyum menyeringai di bibirnya.
"Pak Mugi, apa istri saya sudah di rumah ?" tanya tuan Candra ketika menghubungi kepala pelayan di rumahnya.
"Setelah pulang kuliah, sepertinya beliau sedang menggambar di kamarnya tuan." jawab Pak Mugi dari ujung telepon.
"Baiklah, beritahu dia tidak usah menungguku untuk makan malam." perintah tuan Candra lagi kemudian mematikan panggilannya.
🌷🌷🌷
Malam harinya
Setelah pulang kuliah, Fatimah langsung mengurung dirinya di kamar. Meski sekarang ia sudah menjadi Nyonya rumah di sana, ia sama sekali tidak berpikir untuk menguasai tempat itu. Ia masih menganggap dirinya orang asing di rumah tersebut.
tokkk
tokkk
Terdengar ketukan pintu dari luar, Fatimah yang sedari tadi sibuk menggambar langsung beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya untuk melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"Maaf Nyonya mengganggu, makan malam sudah siap. Silakan anda turun." ujar Pak Mugi.
"Apa tuan sudah pulang ?" tanya Fatimah, ia tidak mungkin makan malam duluan sebelum suaminya pulang.
"Tuan Candra, akan pulang larut malam Nyonya. Anda tidak perlu menunggu beliau untuk makan malam." sahut Pak Mugi.
"Baiklah sebentar lagi saya turun." ucap Fatimah kemudian ia menutup pintunya kembali.
Fatimah segera merapikan alat - alat gambarnya yang berserakan di lantai, dari dulu ia sangat suka menggambar apa saja. Bahkan dulu ia ingin mengambil jurusan teknik arsitektur atau fashion design, tapi tuan Candra justru menyuruhnya mengambil jurusan manajemen bisnis.
Setelah merapikan kamarnya, Fatimah segera turun untuk makan malam. Ia melihat Jessica sudah duduk disana sendirian, menikmati makan malamnya sambil bermain ponsel.
"Malam Jess." Sapa Fatimah yang baru saja duduk di depannya Jessica.
"Enggak usah sok akrab kamu." jawab Jessica ketus.
"Kalau ada orang menyapa itu di jawab Jess, itu akan bikin kadar kecantikanmu bertambah." ujar Fatimah sambil tersenyum manis pada Jessica.
"Apaan sih enggak jelas." sahut Jessica sinis, ia buru - buru menghabiskan makanannya lalu beranjak dari duduknya meninggalkan Fatimah sendirian.
"Yang sabar Nyonya, Non Jessica sebenarnya baik. Dia hanya kesepian." ujar Pak Mugi yang sedang berdiri tak jauh dari meja makan tersebut.
"Gio mana Pak ?"
"Belum pulang Nyonya." jawab Pak Mugi datar, sepertinya memang sudah menjadi kebiasaan Gio pulang malam.
"Dari tadi pagi ?" tanya Fatimah memastikan.
"Iya Nyonya."
"Tapi ini sudah malam Pak ?" tanya Fatimah, tapi Pak Mugi belum menjawabnya sudah terdengar suara pintu di buka.
Tampak Gio melangkahkan kakinya menuju tangga, baju seragamnya sudah berganti dengan pakaian biasa. "Gio, berhenti !!" seru Fatimah ketika Gio melewatinya untuk naik keatas.
"Kenapa baru pulang ?" tanya Fatimah lembut nampak ada kekhawatiran di wajahnya.
"Bukan urusan kakak." jawab Gio ketus.
"Kakak, kapan aku menikah dengan kakakkmu ?"
"Kakak itu masih kecil, tidak cocok jadi Ibuku. Lagipula tidak ada yang bisa menggantikan Mama." sahut Gio acuh tanpa melihat Fatimah yang kini sudah berdiri di depannya.
"Baiklah, kakak juga tidak mau jadi Ibumu. Bagaimana kalau kita jadi teman. Eh bukan, bagaimana kalau sahabat saja ?" ujar Fatimah yang seketika membuat Gio menatap padanya.
awal yang menarik semoga ceritanya bagus hingga akhir