Karya asli!!!
on-Going
Salah satu Sovereign tertinggi di Alam Semesta yang Tak Terbatas ini, ia segera menjalani Jalan menuju Dao tertinggi di alamnya, mereka mengetahui dari catatan kuno, jika seseorang bisa melewati batas Penguasa Tertinggi, ia bisa menjadi God King.
Namun siapa sangka, Wanita yang ia anggap mencintainya, dikhianati olehnya. Saat itu ia hendak menerobos melewati batas itu, namun saat menerobos ia sempat terdampak oleh Tribulasi Hukum. Saat itulah kesempatan wanita itu menusuknya dengan Kabut beracun yang asalnya tidak diketahui, bahkan melukai Primordialnya.
Jadi, sisa jiwanya ia bereinkarnasi menjadi pangeran muda dengan nama yang sama "Huang Di", namun jalan takdir yang ia jalankan sangat bertengtangan dengan sifat Ke Angkuhannya sebagai Absolute. Bagaimana perjalanannya menjalankan takdir ini?
Di kebaradaan Dimensional yang lebih tinggi bahkan God King itu hanya seperti Dewa biasa!
"Jika Takdir mempermainkanku! aku akan memandang rendah Semuanya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arceusssxara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 06 Surat Cerai Berdarah
Langit masih gelap saat Huang Di berdiri di depan gerbang megah Kediaman Keluarga Lin. Embusan angin pagi membawa hawa dingin, namun tidak lebih dingin dari mata pemuda yang kini mengenakan jubah panjang berwarna kelam, tanpa lambang kerajaan seakan ia datang bukan sebagai pangeran, melainkan sebagai pria yang telah membakar masa lalunya.
Dua penjaga di depan gerbang langsung mengangkat tombak mereka, namun begitu melihat wajah Huang Di, mereka terdiam kaku. Sosok yang dulunya dikenal sebagai pangeran ke-18 yang dianggap lemah dan tak berguna, kini memiliki aura tekanan yang sulit dipahami.
"Panggilkan Lin Xiu. Katakan Huang Di datang... untuk menyelesaikan segalanya," ucapnya pelan, namun cukup untuk membuat dua penjaga itu menunduk dan segera masuk.
Tak lama kemudian, Lin Xiu keluar. Mengenakan pakaian berwarna hijau giok yang serasi dengan matanya. Wajahnya cantik, anggun, namun terlihat tegang.
Huang Di tidak menyapanya. Tidak juga mengalihkan pandangannya. Ia mengeluarkan selembar kertas dari dalam lengan bajunya, dan mulai menulis. Setiap goresan kuas membawa makna dingin dan penuh tekad.
Surat Perceraian
Hari ini, di bawah langit yang menjadi saksi dan bumi yang menyerap darah kami, Huang Di dari kediaman Kekaisaran menyatakan pemutusan ikatan pertunangan dengan Lin Xiu dari Keluarga Lin.
Aku tidak menyimpan dendam, namun juga tidak memiliki harapan.
Kita pernah dijodohkan oleh orang tua, tapi takdir telah membuktikan bahwa jalan kita bukanlah satu.
Mulai hari ini, tidak ada ikatan, tidak ada tanggung jawab, tidak ada masa depan bersama.
Namamu akan kuhormati seperti aku menghormati masa laluku, namun tidak akan pernah menjadi bagian dari jalanku ke depan.
Setelah selesai menulis, Huang Di menggigit ujung jari telunjuknya hingga keluar darah, lalu menekan jari itu ke bawah surat sebuah cap darah menyegel kesepakatan.
Ia meletakkan surat itu di atas meja batu di halaman luar, lalu memandang Lin Xiu yang terdiam sejak awal.
"Kau datang ke kediamanku seminggu lalu untuk mengakhiri ini. Kini aku hanya menyelesaikan apa yang sudah kamu mulai dan inginkan. Mulai hari ini, kita tak ada hubungan."
Suara itu tenang, nyaris tanpa emosi. Tak ada kemarahan, tak ada penyesalan tapi ada aura dingin yang ada disekitar menggelegar.
Lin Xiu menggigit bibirnya. Ada banyak yang ingin ia katakan, namun tatapan Huang Di memotong segalanya. Ia tahu... pria di depannya ini, bukan lagi pria yang dulu.
“Baik,” jawab Lin Xiu akhirnya. “Semoga jalanmu terang, Pangeran Huang Di.”
“Aku tidak butuh doa darimu yang tidak berharga itu,” balasnya datar.
Tanpa kata tambahan, Huang Di berbalik dan pergi. Punggungnya tegak. Langkahnya ringan, namun setiap jejaknya terasa berat seolah menandai akhir dari satu babak dan awal dari babak yang lebih besar.
Saat Huang Di berbalik dan melangkah keluar dari halaman utama, beberapa orang keluarga Lin akhirnya muncul terlambat namun tidak bisa dihindari. Suara langkah mereka tergesa-gesa, dan pemimpin keluarga, Lin Heshan, langsung berdiri di hadapan Huang Di dengan tatapan bingung bercampur marah.
“Pangeran Huang Di… apa artinya semua ini?! Kau datang pagi-pagi hanya untuk menyerahkan surat cerai berdarah?! Apa keluarga kekaisaran menganggap kami mainan?!”
Nada suara Lin Heshan tajam, namun Huang Di hanya menatapnya sekilas. Tidak ada tekanan aura. Tidak ada ancaman. Hanya tatapan dingin yang membuat seluruh halaman terasa seperti dilanda musim dingin mendadak.
“Tanyakan itu pada putrimu,” jawab Huang Di datar.
Lin Xiu yang berdiri di belakang ayahnya segera mengepalkan tangan, wajahnya terlihat rumit. Lin Heshan mukanya yang penuh kebingungan melihat anaknya dan ke Huang Di.
"kamu.." ayahnya menunjuk keputrinya
“Ayah… ini memang keinginanku. Aku yang ingin memutus pertunangan… tapi dia yang menyelesaikannya hari ini.”
Kata-kata itu membuat seisi halaman terdiam.
“Apa maksudmu, Xiu'er?” Lin Heshan menoleh cepat, matanya membelalak. “Apa ini keputusan sepihak darimu? Tanpa memberitahu keluarga?”
Lin Xiu menggigit bibir bawahnya, tidak menjawab.
“Keluarga Lin telah mempermalukan keluarga kekaisaran sekali. Kalian beruntung aku datang tanpa membawa prajurit atau bagian hukuman,” ucap Huang Di datar. “Anggap ini selesai... sebelum aku berubah pikiran.” nada gelap yang menggelar sekitarnya.
Suasana langsung membeku. Beberapa tetua keluarga Lin yang baru tiba pun tak berani buka mulut. Aura Huang Di benar-benar berbeda. Bukan seperti pangeran ke-18 yang dikenal selama ini melainkan seperti seorang penguasa yang bangkit dari api neraka.
“Huang Di…” suara Lin Heshan terdengar lebih tenang namun menahan geram, “kami tidak akan lupa perlakuan ini…”
“Dan aku tidak peduli,” potong Huang Di sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.
Tanpa menoleh lagi, Huang Di melangkah keluar dari gerbang keluarga Lin.
Begitu punggungnya menghilang dari pandangan, Lin Heshan mendengus keras, tapi tidak berkata apapun. Ia tahu... ada sesuatu yang berubah. Dan perubahan itu... menakutkan.
Berita mengenai pemutusan pertunangan antara Pangeran ke-18 dan putri keluarga Lin menyebar seperti api di padang rumput kering. Para pelayan membicarakannya dengan bisik-bisik di lorong-lorong istana, bangsawan berkepala dua mulai menyusun spekulasi, dan beberapa keluarga besar bahkan menaruh harapan untuk "mengisi kekosongan".
Namun...
Di balairung dalam istana kekaisaran, Kaisar Huang Yuan hanya mendengus kecil setelah mendengar laporan dari kasim kepala.
“Biarkan saja. Itu hanya pertunangan antara anak-anak yang tak berguna.” kaisar yang duduk di singgasananya.
“Jika Pangeran ke-18 ingin menceraikan, maka biarkan dia. Tidak penting.” dengan lambaian dan kalimat yang dinyatakan oleh kaisar beberapa orang disekitar dengan hormat mengiyakan apa yang dikatakan kaisar.
Dengan satu kalimat, Kaisar memutus segala peluang rumor itu menjadi politik. Baginya, Pangeran ke-18 tetaplah ‘sampah’ yang tak layak dipikirkan.
Sementara itu, di halaman belakang kediaman pribadi Huang Di…
Angin sore berhembus lembut.
Huang Di duduk di kursi batu, memandangi langit senja yang perlahan memerah. Di hadapannya, seorang pelayan muda yang biasa menyeduh teh sedang meletakkan cangkir keramik hangat ke meja.
“Tuan muda, ini tehnya... seperti biasa.”
Pelayan itu menunduk penuh hormat, namun diam-diam memperhatikan aura tenang dan mengintimidasi yang perlahan-lahan menyelimuti Huang Di setiap harinya. Tak seperti dulu ia mulai berbeda. Lebih dalam. Lebih misterius.
Huang Di menerima cangkir itu, menghirup uapnya sebentar.
“Kau tahu? Semua pangeran dipanggil kembali ke ibu kota menjelang kompetisi...”
Pelayan muda itu mengangguk cepat.
“Ya, tuan muda... mereka telah tiba sejak pagi tadi.”
Huang Di tersenyum tipis, tanpa menoleh.
“Bagus… biar mereka semua melihat apa itu kekuatan sejati.” cahaya yang keluar disekitar pupilnya menerang
Angin senja bertiup lebih kencang. Daun-daun kering berjatuhan dari pohon di samping halaman. Pertanda... badai akan segera datang.
gaassss....