Selina adalah gadis yang sangat pemilih dalam hal pacaran! Dirinya selalu menolak pria yang mengajaknya pacaran jika pria itu terlihat culun dan jelek dimatanya.
Namun malam itu tepatnya malam valentine, sang papa membawakan kejutan yang tidak akan pernah Selina lupakan seumur hidupnya.
"Siapa anak kecil ini, Pa?" tanya Selina.
"Jaga bicara kamu, beliau ini bukan anak kecil tapi beliau ini adalah Pak Albert Van Dework, orang yang mengakuisisi perusahaan kita sekarang dan beliau ini adalah calon suami kamu" papar Rendra sang papa membuat Selina langsung terbengong.
Mulai saat itu hidup Selina menjadi berantakan sebab ia harus menikah dengan seorang pria berbadan kerdil, sekaligus pemarah dan sangat menyebalkan namun sangat mesum...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Oktana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akan Menikah
Sesudah pertemuan itu Albert kembali menghubungi untuk membicarakan tanggal pernikahan dirinya dan Selina.
"Kenapa Anda terburu-buru sekali Pak Albert?" tanya Rendra merasa heran pasalnya pria kerdil itu terlihat sangat menggebu sekali ingin menikah dengan Selina.
"Niat baik harus segera dilaksanakan, bukan?" tanya Albert.
"Niat baik untukmu tapi niat buruk untukku! Kalau aja aku mampu mengganti seluruh kerugian hasil kerjasama itu mana mungkin aku mau menikahkan anakku dengan pria sepertimu" ucap Rendra dalam hatinya tentu saja ia tidak bisa berkata karena ia masih sayang akan nyawanya.
"Saya akan tanyakan dulu kepada Selina, karena yang akan menikahkan Selin bukan saya" balas Rendra.
"Siapa juga yang mau menikah dengan anda Pak Rendra" kelakar Albert.
Panggilan telepon pun ditutup, Rendra kembali menemui Selina yang masih bergelung dalam selimutnya.
"Selin bangun!!" Rendra menyibak selimut dipakai oleh Selina.
"Ada apa sih Pa, masih pagi udah berisik?" kesal Selina kepada Rendra.
"Calon suami kamu menanyakan kapan kamu siap untuk dia nikahi?" tanya Rendra.
"Siapa sih yang mau nikah?" jawab Selina.
"Ya kamu sama Pak Albert siapa lagi cepat katakan kamu siapnya kapan untuk menikah dengan dia?' tanya Rendra.
"Terserah Papa sajalah aku muak" ujar Selina dengan acuh tak acuh.
"Ya sudah jika terserah Papa, nanti Papa akan berdiskusi dengan Pak Albert" ucap Rendra lalu keluar dari kamar sang putri.
Sementara Selina kembali tertidur.
Rendra kembali menghubungi Albert.
"Bagaimana?" tanya Albert.
"Selina hanya menjawab terserah" jawab Rendra.
"Kalau jawaban putri anda seperti itu berarti dia setuju untuk aku nikahi besok" tegas Albert.
"Besok, besok bagaimana bukannya menikah itu harus ada persiapan?? Anda jangan gila ya Pak Albert" ucap Rendra kesal sekali dengan pria mungil yang sedang berbicara dengannya lewat telepon itu.
"Saya tidak bercanda, saya akan menikahi putri anda besok. Anda tidak perlu khawatir karena putri anda sendirilah yang tidak ingin ada pesta apapun. Putri anda ingin menikah secara senyap ya mungkin saja malu mempunyai suami kerdil seperti saya" Papar Albert.
"Jangan seperti itu Pak Albert, anda itu tidak kerdil hanya saja anda kurang tinggi" kelakar Rendra.
"Yang penting tidak buncit seperti anda, Pak" balas Albert.
"Jangan seperti itu kepada saya, Pak. begini-begini juga saya itu calon mertua anda" ucap Rendra.
"Besok persiapkan semuanya kalau aset anda ingin cepat kembali! Saya tidak peduli apakah anda menjual putri anda atau tidak yang jelas Selina harus secepatnya menjadi istri saja. Besok saya akan datang membawa kedua orang tua saya ke rumah anda" ucap Albert.
Panggilan telepon itu di akhiri, kini tinggalah Rendra yang nestapa karena memikirkan perasaan sang putri.
"Maafkan Papa, Selin. Maafkan Papa, gara-gara Papa kamu harus mengalami ini semua..Papa janji sesudah kamu menikah, dan Papa sudah bisa mengambil aset kita dari tangan Albert, Papa akan langsung menyuruh kamu bercerai, Papa juga akan menyuruh kamu tinggal di luar negeri supaya kamu tidak ketemu dengan si cebol itu lagi sampai kapanpun" ucap Rendra.
...
Malam harinya Albert datang ke rumah orang tuanya untuk mengabarkan bahwa ia sudah menemukan calon istri untuk dirinya nikahi.
Albert juga sebenarnya merasa kasian kepada kedua orangtuanya apalagi Hans kerap di ledek oleh adik-adiknya karena anak-anak mereka sudah menikah.
Kini mobil yang dikemudikan Siwon sudah berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah mewah milik Hans van dework, Ayahanda dari Albert.
Penjaga rumah itu segera membuka pintu gerbang yang menjulang tinggi lalu mobil mewah yang Siwon kemudikan masuk ke halaman rumah megah berlantai 3 itu.
Albert pun keluar dari mobil, dirinya lalu masuk ke dalam rumah itu.
Di dalam rumah terlihat Hans dan Karina sedang bersiap-siap akan melakukan makan malam hanya berdua saja.
"Malam Mi" sapa Albert.
"My son akhirnya kou kemari juga, sayang" balas Karina.
"Malam Papi" sapa Albert.
"Di mana anakku?" Hans melirik kanan dan kiri.
"Aku di sini Pi" kesal Albert.
"Aku tidak melihat Albert" kelakar Hans yang memang sering sekali menggoda sang putra.
"Papi jangan begitu dong sama anak sendiri" Karina menasehati sang suami kala meledek sang putra kecilnya sebenarnya sudah dewasa itu.
"Aku pulang lagi" Ketus Albert.
Hans langsung tertawa terbahak-bahak sembari mengangkat tubuh Albert lalu mendudukannya di atas kursi.
"Begitu saja kau marah?" ucap Hana sembari tertawa.
"Ini tidak lucu Pi!" Karina menasehati sang suami.
"Ada apa kau, Son malam-malam kemari tidak memberitahukan dulu kami?" tanya Hans.
"Papi sudahlah jangan ditanya dulu, Mami tahu dia kemari pasti ada hal yang penting yang ingin dia bicarakan. Sebaiknya kita makan malam dulu sesudah makan malam kita bicarakan di ruang keluarga" Karina memberi saran.
"Ya sudah sebaiknya kita makan malam dulu" Hans menyiakan.
Ketiganya pun makan malam sementara Siwon dan Jungkook sedang mengobrol dengan penjaga rumah itu di depan .
"Son, suruh kedua bodyguard mu makan, kasihan pasti mereka lapar" perintah Hans.
"Benar, kasihan pasti kamu tidak memberikan mereka makan yang bergizi kan?" kelakar Karina.
"Memangnya aku manusia kejam?" ucap Albert dengan wajah yang keki.
Sesudah mereka makan mereka pun langsung berjalan ke ruang keluarga.
"ceritakanlah ada apa sebenarnya?" tanya Karina.
"Begini, besok aku akan menikah" ungkap Albert membuat kedua orang tuanya melongo.
"Menikah? Menikah dengan siapa?" tanya Hans .
"Iya aku akan menikah besok, aku sudah menemukan wanita idaman dan wanita itu pun bersedia untuk aku nikahi" papar Albert .
"Apa kau serius dengan ucapanmu, Son?" tanya Hans.
"Ya Pi, aku serius dengan perkataanku" jawab Albert.
"Kalau begitu Mami ikut bahagia mendengarnya, Son akhirnya Penantian kami untuk melihat kau menikah dengan wanita impianmu terwujud juga" ucap Karina dengan terharu .
"Lantas kau menyewa gedung di mana? Kenapa kau tidak berbicara dulu kepada kami?" tanya Hans.
"Wanitaku ingin pernikahan kami sederhana hanya ada orang tua masing-masing" jawab Albert.
"Dia ingin pernikahan kalian sederhana, lantas kau mau begitu?" tanya Hans.
"Ya aku harus menuruti keinginan calon istriku" jawab albert.
"Sudah lah, anak kita sudah menemukan tambatan hati mungkin pesta pernikahan akan dilaksanakan lain hari yang terpenting kan sah dulu itu yang utama" ucap karina .
Walaupun ada rasa kesal karena Hans ingin pernikahan sang putra dilaksanakan dengan sangat mewah. Hans ingin dilihat banyak orang terutama keluarganya bahwa anaknya yang kerdil itu bisa mendapatkan wanita idaman dan menikah tetapi Hans juga tidak ingin memaksakan keinginan sang calon menantu yang ingin menggelar pernikahan secara sederhana .
"Bagaimana dengan keperluan besok, apakah kau sudah punya perhiasan?" tanya Hans .
"Belum" jawab Albert dengan santainya.
Plak!!!
Saking kesalnya Hans mengeplak kepala sang putra dengan majalah Forbes yang terletak di atas meja.
"Aw sakit" ucap Albert sembari mengusap-ngusap kepalanya.
"Pi jangan seperti itu kepada putramu" Karina memperingati.
"Dasar manusia aneh, kau bilang mau menikah tapi kau belum punya perhiasan untuk calon istrimu. Memangnya dia mau kau kasih cincin besi" kesal Hans.
"Aku belum sempat membelinya" balas Albert.
"Malam ini kau tidak boleh pulang, diam di rumah bersama kami!" pinta Hans.
"Sayang ayo kita cari toko perhiasan, semoga saja malam ini masih ada yang buka" ajak Hans pada istrinya.
"Iya ayo Pi" jawab Karina.
Kedua orang tuanya pergi di antar supir ke jewelry untuk membeli cincin bertahtakan berlian untuk calon menantunya besok, sementara Albert masuk kedalam kamarnya.
ceritanya bagus banget😍
semangat thor 💪👍
fighting💪