NovelToon NovelToon
Run To Be A Champion (tamat)

Run To Be A Champion (tamat)

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Romansa-Percintaan bebas / Tamat
Popularitas:56.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: Afwa F N

Ini hanyalah sebuah kisah tentang perjuangan seorang gadis yang menggapai mimpinya menjadi seorang atlet, dan tentu saja banyak hambatan yang selalu datang kepadanya.

Putri Alya Zahra Elvaro= 19 tahun (Alya)
Yuda Pranata= 19 tahun (Yuda)

Setelah Yuda mengetahui Alya tidak bersalah, ia meminta maaf atas kesalahan yang telah ia buat terhadapnya. Tapi di sisi lain, seorang laki-laki yang tak kalah tampan dari Yuda, yaitu Andre Tanaka Pranata. Pacar dari adik Alya, yang bernama Vania Areta Elvaro, Andre begitu penasaran dengan Alya sehingga ia terus melindungi Alya.

Apakah Alya akan menerima maaf dari Yuda? Atau malah sebaliknya?
Bagaimana dengan Andre? Akankah ia jatuh cinta pada Alya? Kalau Andre sampai jatuh cinta pada Alya, bagaimana nasib Vania?

Baca alurnya sampai habis .... ^^
Follow juga Ig; @afwafitria_29

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afwa F N, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Mencoba Meremehkan

Tampak semua mahasiswa memenuhi lapangan kampus itu sambil bersorak-sorai mendukung idolanya. Bagitupun dengan Alya dan Amelia, keduanya sudah berdiri di belakang garis star.

"Apa lo ngerjain kita? Katanya jalur lintasan lo yang ngatur, tapi di lapangan ini gak ada apa-apa. Oh ... atau gara-gara lo miskin, jadi gak bisa nyiapin semuanya? Kasian ...!" ejek Amelia sambil menyeringai.

"Gue emang miskin! Tapi bukan berarti gue gak bisa nyiapin semuanya! Liat aja siapa yang menang nanti!" sahut Alya sambil tersenyum puas.

"Denger ya! Gue gak bakal kalah dari cewek curang kaya lo itu! Dan satu lagi, kalau lo kalah dari gue! Lo jangan sekolah di kampus ini lagi!" kata Amelia sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Tak lama kemudian, dua orang laki-laki membawa karpet besar berwarna merah di hadapan Alya dan Amelia.

Alya kemudian membuka gulungan karpet besar itu dan ternyata di dalam nya berisi pecahan kaca.

"Ini jalurnya." Alya menunjuk ke arah karpet besar tersebut. Sontak membuat semua orang terkejut melihatnya dan menatap Alya bingung.

"Lo gil* apa!" bentak Amelia yang tidak terima dengan syarat Alya.

"Seratus persen gue masih waras." jawab Alya seadanya.

"Peraturannya mudah kok, kita nggak perlu lari. Kita tinggal jalan di sini sampai sana," jelas Alya, Amelia dibuat geram olehnya.

"Gue gak mau!" tolak Amelia mentah-mentah.

"Kalau lo gak mau, gue juga gak mau nurutin syarat dari lo! Atau jangan-jangan, lo takut? Seorang juara nasional nggak menerima tantangan dari gadis biasa aja gak mau." celetuk Alya menatap Amelia remeh.

"Lo ngeremehin gue, hah?! Oke, gue terima tantangan dari lo!" jawab Amelia dengan lantangnya.

Amelia mulai terlebih dahulu, dan belum sempat Amelia memulainya, Alya berkata kembali, "Dan jangan pakai alas kaki!"

Akhirnya Amelia melepaskan sepatunya dan mulai melangkah di atas karpet tersebut.

Saat beberapa langkah, kaki Amelia mengenai pecahan kaca tersebut dan terluka.

"Gue nyerah!" teriak Amelia sambil memegang kakinya yang kesakitan.

"Oke! Sekarang giliran gue!" Alya mulai berdiri di depan karpet tersebut dan berjalan sambil menggulung kembali karpet merah itu dengan kedua kakinya.

"Gue menang!" kata Alya, senyum kemenangan terukir di wajahnya.

"Itu namanya curang!" sangkal Amelia tidak terima.

"Gue gak curang. Mungkin lo yang nggak bisa mencerna perkataan gue tadi. Atau perlu gue ulang lagi? Syaratnya tadi adalah, 'kita harus berjalan dari sini sampai sana'. Gue gak bilang kalau harus lewat atas karpet ini." jelas Alya panjang lebar.

"Tu cewek pinter juga," gumam Andre tersenyum simpul sambil melihat Alya dari kejauhan.

"Ish! Kali ini gue kalah dari lo! Tapi nanti, gue yang akan menang lagi!" jelas Amelia kesal, ia meninggalkan lapangan tersebut bersama Yuda.

Semuanya pun bubar kecuali Andre, ia berjalan mendekat menuju Alya.

"Hai," sapa Andre sambil tersenyum ramah.

"Ngapain di sini?" tanya Alya ketus.

"Gue gak sengaja liat lo sama Amelia tadi, ternyata lo udah kenal lama sama mereka?" tanya Andre. Alya tidak menjawabnya, ia memilih berjalan menjauhi Andre dan duduk di kursi panjang yang berada di pinggir lapangan itu.

"Apa lo juga seorang atlet, sama seperti Amelia?" tanya Andre kembali, ia mengikuti Alya duduk di kursi tersebut.

"Itu bukan urusan lo!" jawab Alya ketus dan tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjalan meninggalkan Andre sendirian di sana.

"Emang ada yang gak beres nih!" batin Andre menatap Alya yang sedang berjalan menjauh darinya sampai hilang dari pandangannya.

"Alya! Lo di panggil pak Dekan tuh!" ucap salah satu teman sekelas Alya, akhirnya Alya berjalan menuju ruangan dekan dengan perasan tak karuan.

"Kenapa gue di panggil? Apa gue buat masalah lagi?" gumam Alya bingung pada dirinya sendiri.

"Assalamualaikum, Pak."

"Wa'alaikumussalam, silahkan masuk!" Alya membuka pintu tersebut dan duduk di hadapan dekan.

"Bapak panggil saya ke sini ada apa ya?" tanya Alya, kedua tangannya gemetar.

"Saya dengar kabar dari siswa lain, bahwa kamu telah mencoba mencelakai Amelia. Apa itu benar?" tanya Pak Dekan menatap Alya tajam.

"Itu semua gak benar, Pak. Amelia kasih tantangan untuk lomba lari dan saya terima tantangan itu. Kali ini saya berkata jujur, tolong Bapak percaya sama saya." jelas Alya yang menunduk.

"Apa kamu punya bukti?" tanya Pak Dekan yang masih meragukan Alya.

"Bukti? Semua siswa di sini jadi saksi, Pak. Kalau Bapak masih tidak percaya, silakan Bapak tanya semua siswa di sini," jawab Alya.

"Baiklah, kamu silahkan keluar." Alya keluar dari ruangan itu dan berjalan lemas menuju kelasnya.

"Kenapa nasib aku gini banget sih? Semenjak pindah ke kampus ini, masalah selalu datang bertubi-tubi." keluh Alya.

"Astaghfirullah Alya! Kenapa kamu mikir kaya gitu sih! Maafkan hambamu ini yang hilap ya Allah," gumam Alya kesal pada dirinya sendiri.

Alya akhirnya memilih mendengarkan musik menggunakan handset nya, itu memang sudah kebiasaannya yang suka mendengarkan musik.

💮💮💮

Sementara itu di sebuah kampung berjalan seorang pria sambil menggunakan pengeras suara mengumumkan kepada semua tetangganya.

"Jangan lupa, hari ini datang ke kediaman Elvaro! Jangan lupa, hari ini datang ke kediaman Elvaro!" pria tersebut terus mengulang perkataan itu sampai semua yang ada di dalam rumah keluar.

"Bukankah itu, pak Fahrul?" gumam salah satu warga yang melihat Fahrul, ayah dari Vania dan Alya sedang berbicara.

"Dia sudah tidak waras! Lihat saja, dia tidak tau malu setelah kejadian lima tahun yang lalu!" ejek warga lainnya yang terdengar jelas di telinga Fahrul.

"Hey hey! Dengarkan ini, kalian jangan menggosip terus, aku mengundang semua tetangga untuk datang ke rumahku hari ini! Kalian harus datang!" Fahrul kembali melanjutkan kegiatannya itu sampai keliling kampung.

Setelah satu jam berlalu, tampak di kediaman Fahrul di penuhi warga yang penasaran dengan apa yang di katakannya tadi.

"Alya! Di rumah lo banyak orang, gue gak tau apa yang om Fahrul katakan. Tapi dia menyuruh semua warga untuk berkumpul di rumahnya," jelas Naisila yang tampak ngos-ngosan berlari mencari Alya.

"Ayah!" gumam Alya, ia langsung berlari dengan sangat cepat menuju rumahnya, di ikuti Naisila jauh di belakang.

"Ayah! Apa yang ayah lakukan?" tanya Alya saat sudah sampai dalam rumahnya.

"Akhirnya kau datang juga, Ayah punya kejutan untukmu," jawab Fahrul basa-basi, yang semakin membuat Alya khawatir kepada ayahnya itu.

"Dengar semua! Dulu, lima tahun yang lalu. Alya tidak bisa berlari lagi akibat dia di tuduh memakai obat terlarang. Dan sebagai hukumannya, ketua PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) mengatakan bahwa, Alya tidak boleh berlari selama lima tahun ke depan." Fahrul mulai menjelaskan.

"Jadi, bertepatan hari ini, tanggal ini, bulan ini, dan jam yang sama seperti kejadian lima tahun yang lalu, aku nyatakan Alya bisa menjadi juara Nasional dan membanggakan keluarga serta tempat tinggalnya," sambung Fahrul sambil membuka kain yang sudah ia siapkan dari tadi, ternyata di dalamnya terdapat patung Alya sambil menggunakan jaket dan mendali yang di kalungkan di lehernya.

"Ayah!" gumam Alya, cairan bening mulai membendung di kedua pelupuk mata gadis cantik tersebut.

1
Juwandi
semangat kak,aku mampir lagi
Juwandi: siap kak,saling dukung aja kak
total 2 replies
Juwandi
bagus kak,semangat upnya kak
pxtrq_
boom like untukmu thorrr, salam dari THE MASK, jangan lupa mampir.. semangatttt...
Libra
semangat ya😄👍
Zulfa
Salken kak, JIKA mampir membawa like nih. Mari saling dukung kakak😍
Kus Tiah
semangat thor aku tunggu kelanjutannya
Kus Tiah
semangat thor
ilusi tak bertepi
Like thor & tetap semangat nulisnya thor
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Elisabeth Ratna Susanti
like😍
Risfa
lanjut adek, semangat Up, sukses yaa 🤗🤗
HeniNurr (IG_heninurr88)
Tak apa thor... dtgu krya debaek lainnya✌✌
꧁⚜Melva TÂMVĂNzuͬͭͬͬͬͬͥͭltan⚜꧂
lah gk lanjut:( ttp semangat dan jaga kesehatan ya, feedback ya
Kohaku
First
imars
🤗❤️❤️
HeniNurr (IG_heninurr88)
Like... like😍😍
Elisabeth Ratna Susanti
suka❤️
My
jempol!

Semangat trz 😉
My
Like
My
syuka❤️
Widiya Sena
6 like untuk bab yang tertingggal dari TERPAKSA SELINGKUH ❤️
lanjut adik othor..... 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!