Tidak ada yang menginginkan menjadi orangtua tunggal. Entah itu perpisahan karena perceraian ataupun kematian. Terkadang beberapa orang memutuskan untuk menjalin hubungan lagi dengan dalih awal untuk mengisi posisi yang kosong. Itu yang terjadi pada Davin dan Arini. Memutuskan menikah demi figur orangtua lengkap untuk anak-anak mereka.
Keluarga harmonis menjadi impian mereka. Namun ditengah perjalanan rumah tangga mereka ada ujian yang datang. Suami melakukan kesalahan fatal dan istri yang depresi.
Bagaimana cara Davin dan Arini mempertahankan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Lama-lama mulut kamu aku lakban juga, Ndah," ucap Arini geram.
"Calon anak apaan. Jangan ngada-ngada deh, Ndah," sambung Arini.
Arini bergantian melihat Aya, Adit, Alif, dan Aziza. Ia terlihat tersenyum melihat keempat anak itu makan dengan lahap kue buatannya. Aya dan Aziza juga tampak akrab walaupun mereka baru saling mengenal dan terpaut usia kurang lebih dua tahun. Ada saja obrolan dua gadis kecil itu.
"Papa cariin ternyata kamu disini." Suara Davin menghentikan tawa dan cerita kedua gadis itu.
"Mereka tadi habis main, Pak. Istirahat dulu makan kue. Bapak mau?" tawar Arini.
"Kamu yang buat?" tanya Davin.
"Iya, Pak," jawab Arini.
"Kalau kamu yang buat ngga mungkin saya tolak, enak sih," ucap Davin. Ia juga mengambil sepotong kue itu dari tempatnya.
"Duduk Pak makannya," tegur Arini yang melihat Davin memakan kuenya sambil berdiri.
"Ah iya." Davin mengambil kursi yang posisinya tak jauh dari mereka.
"Pak Davin mau tidak Kak Arin masak terus buat Pak Davin?" tanya Indah secara tiba-tiba.
"Ya mau dong. Saya jadi ngga mikir tiap hari harus beli makanan dimana harus masak apa," jawab Davin. Pria itu tampak lahap memakan kue buatan Arini.
"Emangnya Arini buka jasa catering?" tanya Davin heran. Davin berpikir asistennya itu ada buka jasa catering.
"Ada, Pak. Catering pribadi," jawab Indah semangat. Masuk perangkap Davin, pikirnya.
"Ndah, jangan mulai lagi deh," tegur Arini yang sudah mulai lelah dengan keusilan Indah hari ini.
"Mau tidak, Pak?" tanya Indah lagi tanpa menghiraukan teguran Arini.
"Ya maulah. Masakan Arini enak gini," ucap Davin semangat.
"Nah, sah-in langsung, Pak. Mumpung udah lengkap ini," usil Indah. Tawa tentu saja tak lupa dari Indah.
"Indah!" tegur Arini. Matanya juga sudah menatap tajam dan penuh kehororan pada teman sekantornya itu.
Davin pun terbatuk, tersedak kue yang ia makan.
"Ini minum dulu, Pak," ucap Arini sambil memberikan botol minuman pada Davin.
"Papa kalau makan jangan buru-buru. Batu-batuk, kan jadinya. Tapi kuenya Bunda Aya enak sih," puji Aziza.
Arini lagi-lagi hanya tersenyum mendengar pujian yang dilontarkan gadis kecil itu. Wanita itu juga mengelus lembut penuh sayang kepala Aziza.
"Jangan dengerin ucapan Indah, Pak. Orangnya emang suka usil ngga jelas kayak gini. Makin hari makin aneh," ucap Arini.
Davin hanya tersenyum menanggapi ucapan Arini. Sedang yang dimaksud tertawa mendengar gerutuan Arini.
"Bentar ya, Kak. Aku angkat telepon dulu," ucap Indah kala melihat ponsel miliknya berbunyi.
"Siapa yang nelfon?" tanya Arini. Ingin ia minta Indah untuk tetap tinggal karena merasa kurang nyaman ditinggal bersama Davin walaupun ada anak-anak.
"Pacar aku nelfon, Kak. Ngga mungkin, kan aku angkat disini. Yang ada jomblo pada iri," ejeknya pada Arini dan Davin.
Arini memasang wajah merengut dan matanya menatap tajam pada Indah. Indah berlalu meninggalkan keluarga Davin dan Arini dengan tertawa penuh kemenangan.
"Pa, nanti malam Ziza boleh tidur bareng sama Aya?" tanya Aziza. Sepertinya gadis itu sudah terlihat sangat akrab dengan anak-anaknya Arini dan tak ingin terpisahkan.
"Jangan, ya. Kasihan nanti Tante Arininya repot. Sama Papa aja. Besok pagi sebelum pulang kan masih bisa main lagi sama temannya," ucap Davin dengan lembut penuh perhatian.
Memang family gathering kali ini diadakan di salah satu hotel yang ada diujung kota dan para karyawan beserta keluarganya akan menginap.
"Ya sudah deh," jawab Aziza lesu.
Arini yang melihat itu langsung berbicara dengan Davin.
"Tidak apa-apa, Pak Davin. Saya tidak repot. Malah senang karena kamar jadi bertambah ramai," ujar Arini.
"Anak kamu udah tiga lho, Rin. Ini tambah anak saya satu jadi empat yang kamu urus," ucap Davin.
"Ya ngga apa-apa, Pak. Alhamdulillah anak saya ngga ada yang bikin susah dan suka rewel. Mungkin karena tau kalau cuma saya dan neneknya aja, jadi mereka ngga banyak yang aneh-aneh tingkahnya," jelas Arini.
"Boleh kan, Pa?" tanya Aziza lagi. Melihat wajah memelas sang putri membuat Davin menjadi tidak tega. Namun kebimbangan masih ia rasakan. Tak enak pada Arini karena akan merepotkan asistennya itu.
"Pa..." Aziza terus merengek. Bahkan ia juga menggoyangkan tangan Davin.
"Tapi janji jangan ngerepotin Tante Arininya, ya," ujar Davin akhirnya setelah beberapa saat berpikir.
"Hore..." teriak Aziza dan Aya senang. Mereka bahkan saling bertepuk tangan dan tos.
Anak-anak itu kemudian melanjutkan memakan cemilan yang dibawa oleh Arini sambil sesekali bercerita.
"Bun, boleh main lagi?" tanya Aya setelah mereka menghabiskan cemilan mereka.
"Boleh. Tapi jangan jauh-jauh, ya," kata Arini.
"Adit mau ikut juga, Kak," ucap Adit pada sang kakak.
"Alif juga mau." Tak ketinggalan si bungsu Alif juga ingin bergabung bermain bersama kakaknya.
"Ayo, Dek," ucap Aziza. Gadis itu langsung meraih dan menggenggam tangan mungil Alif.
Keempat anak itu kemudian langsung pergi meninggalkan Arini dan Davin.
"Saya izin lihat anak-anak, Pak," pamit Aziza. Ia merasa tidak enak jika hanya berdua saja dengan Davin walaupun mereka duduk ditempat terbuka.
"Ya silahkan," jawab Davin.