Perjuangan menggapai sebuah filosofi emosi bernama cinta, untuk hati yang selalu menangisi lingkaran rindu tak berujung di masa kecilnya kepada Ayah Bunda
Sebagaimana puisi yang menyimpan banyak makna dari setiap rangkaian kata
Begitu juga hidup yang menyimpan banyak rahasia dari setiap rangkaian peristiwa
Seorang gadis bernama Lunara yang hidup dengan takdir yang seolah seperti terus mempermainkan hatinya
"Cinta itu anugerah, jika aku tidak bisa mencintaimu sebagai pendamping hidupku, maka aku akan mencintaimu sebagai adikku" - Juan
"Saya bukan pengecut, tapi mencintai dia dalam do'a-do'a saya adalah bukti terbesar cinta saya untuk dia" -Reyhan
"Layaknya puisi... kamu itu ibarat sajak yang membuat kalimat lebih indah, kamu adalah inspirasi yang tidak bisa aku hentikan" -Luna
Ini novel pertamaku
Semoga kalian suka ya 😊
.
.
.
Ig @inrosas_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
"Dia orang yang gue bilang nyebelin, masa tadi pas ketemu di depan kelas gue terus ditanya nih baik-baik loe ada di kelas apa enggak, dia cuma jawab pake jempol dan gak noleh sama sekali, berasa setan gue disitu tadi"
Ungkap Vani dengan kekesalannya, Luna hanya terlihat mengulum senyum menanggapi omelan Vani
"Ehh kok loe nyengir gitu sih, bikin gue tambah kesel aja"
"Dia tu emang gitu, ngomongnya hemat, tapi dia sebenarnya baik kok"
"Whatt!! Gue gak salah denger nih, baik apanya kayak gitu"
Ketus Vani
"Gini ya, dia cuek tapi bukan artinya dia itu jahat"
Luna kemudian menceritakan kejadiannya dengan Juan kemarin
"Wow, baik juga ya, ehh tapi gue tetep kesel ama dia tadi"
Tak lama bel masuk berbunyi, baik Luna dan Vani pun kemudian masuk ke kelasnya masing-masing
- - -
Sepulang sekolah dan sesampainya di rumah Luna terlihat kebingungan mencari sesuatu
"Kamu cari apa sih sayang, belum ganti baju lagi"
Tanya Lia, Bunda Luna begitu melihat Luna yang dari tadi menggeledah barang-barang di rumah
"Bunda liat buku Luna gak sih yang sering Luna baca itu"
"Buku yang mana sayang, buku kamu itu banyak"
"Buku kumpulan puisi Chairil Anwar itu Bun, yang baru dibeliin Ayah minggu lalu"
Lia terlihat seperti mengingat-ingat
"Bunda gak liat tuh, ketinggalan kali di kelas kamu"
"Masa iya sih, seinget Luna tuh sebelum pulang tadi udah Luna masukin ke tas deh Bun bukunya, haa gimana yaa itu buku kesayangan Luna"
Keluh Luna
"Udah, besok kamu cek lagi di sekolah, kalau gak ada nanti kita beli lagi aja ya"
Kata Lia sambil merangkul bahu Luna yang masih cemberut kehilangan bukunya
Ting tong!
Lia dan Luna serentak menoleh ke arah pintu
"Bunda buka pintu dulu ya"
Luna mengangguk, namun ponsel di tangan Lia berbunyi dan menghentikan langkahnya
"Kamu liat dulu siapa dateng ya, ini bos Bunda nelpon, Bunda mau angkat telpon dulu"
"Iya Bun"
Luna bergegas membukakan pintu
"Juan?"
Luna kaget dan heran melihat siapa yang datang, sedangkan yang bertamu hanya mengangkat sebuah buku di tangannya dengan ekspresi datar, Luna mengikuti arah tangan Juan
"Loh ini buku gue? Kok bisa sama loe?"
Tanya Luna dengan semangat dan dengan cepat mengambil buku tersebut
"Nemu di gerbang"
"Siapa yang dateng sayang"
Tanya Lia yang datang dari arah dalam rumah
"Assalamu'alaikum Tante, saya Juan teman sekelasnya Luna, saya kesini cuma mau anterin buku yang tadi gak sengaja nemu di depan gerbang sekolah"
Juan mencium tangan Lia dengan tersenyum
"Wa'alaikumsalam, ohh baik banget kamu, makasih banyak ya nak"
"Iya sama-sama Tante, kalau gitu saya permisi dulu"
"Ehh jangann, masuk dulu kita makan siang, kebetulan udah jam makan siang ini"
Ajak Lia dengan lembut
"Gak usah repot-repot Tante, saya langsung pulang aja"
"Gak repot kok, ayo masuk, itu hari juga lagi panas banget pasti kamu capek abis naik sepeda"
"Iya ayo masuk aja, sebagai tanda terimakasih juga"
Sambung Luna yang akhirnya disetujui oleh Juan, Juan pun masuk dan ikut makan siang bersama keluarga Luna
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Jawab Juan, Luna, Lia, dan Yana adik Luna serentak pada Edi yang baru datang
Merekapun mencium tangan Edi secara bergantian
"Loh ada tamu ini, siapa ini"
Tanya Edi begitu Juan selesai mencium tangannya
"Ini Juan Yah, temannya Luna, dia tadi nganterin buku puisinya Luna yang baru Ayah beliin itu loh, Luna udah pusing banget tadi kirain ilang"
Jelas Luna
"Iya tuh Luna ceroboh banget, tadi katanya udah dimasukin ke tas tapi kok bisa ada di depan gerbang"
"Luna memang udah masukin ke tas Tante, tapi tasnya tadi gak di reseletingin sampe full, terus begitu tasnya kesangkut dikit di gerbang bukunya jatuh dari tas Luna, Juan mau bilang tapi Luna udah keburu pergi tadi"
Jelas Juan pada Lia
Sekarang novel ini udah hadir kembali dalam judul yang sama. udah jalan 7 episode lohhh. yukk rameinn
Search Hati Lunara, atau nama pena Mufa Zurea
penulis nya masih sama kok. cuma ubah nama aja hihii
Sekarang ceritanya udah diperbaiki agar lebih menarik dengan nama penampilan berbeda yaitu Mufa Zurea dan tampil dengan judul "Hati"
Bisa di search pake nama pena atau judulnya yaa. Akan up mulai minggu ini
5 rate, like, vote msh menunggu...
SEMANGAT!!