mohon maaf saya menganti nama dari Kaisar agung jadi sang pewaris darah naga.
tiktok: barxzzz
setiap hari update: 2/3 bab.
al kisah seorang pemuda Lin Xieng yang di anggap gagal oleh keluarga nya, tapi suatu ketika di dalam hutan Lin xieng menemukan bola misterius yang ternyata bola misterius tersebut adalah inti fondasi kultivasi kaisar xuan pada zaman dinastiqi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Alfatir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: panggung para jenius
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Arena utama turnamen antar keluarga di Kota Lin dibuka dengan kemegahan. Ratusan kursi penonton dipenuhi oleh tetua, bangsawan, hingga para pedagang kaya yang ingin menyaksikan kebangkitan generasi baru. Di tengah-tengah arena berdiri panggung batu besar, dikelilingi pilar-pilar kuno yang dipenuhi ukiran naga dan harimau—simbol kekuatan dan kebijaksanaan.
Lin Xieng berdiri di antara ratusan peserta dari berbagai keluarga. Di sekelilingnya, para pemuda dengan pakaian mahal dan aura kuat memamerkan kekuatan mereka tanpa ragu. Beberapa bahkan sudah berada di dunia raja awal, dan sebagian lainnya terkenal karena warisan teknik rahasia dari klan masing-masing.
Namun Lin Xieng tetap tenang. Ia mengenakan jubah sederhana abu-abu, tak ada lambang atau perhiasan, hanya tatapan tajam yang menyiratkan tekad membara.
“Lihat, itu Lin Han dari keluarga Lin!”
“Dan itu Qian Yuwei, jenius perempuan dari keluarga Qian! Dia sudah menguasai teknik Es Abadi di usia 17!”
“Siapa pemuda abu-abu itu? Penampilannya... terlalu biasa.”
“Dia Lin Xieng, katanya kalahkan Lin Bay. Tapi... apakah dia bisa bertahan di sini?”
Bisik-bisik penonton tak menggoyahkan ketenangan Lin Xieng. Di benaknya, hanya ada satu tujuan: membuktikan diri di hadapan dunia.
Di atas panggung utama, seorang pria tua berjubah emas berdiri dengan tangan di belakang. Suaranya menggema melalui alat penguat suara spiritual.
“Selamat datang, para jenius muda dari seluruh keluarga besar! Turnamen kali ini akan menentukan siapa yang layak menjadi pemimpin generasi masa depan! Aturannya sederhana—pertarungan satu lawan satu, hingga lawan menyerah atau tak bisa bertarung lagi!”
Tiba-tiba sebuah undian spiritual muncul di udara, berputar dan menampilkan nama-nama peserta untuk pertandingan pertama.
[Pertandingan 1: Lin Xieng vs Wu Tang dari Keluarga Wu]
Kerumunan langsung riuh.
“Lin Xieng langsung dipertemukan dengan Wu Tang? Itu murid langsung dari Tetua Wu Hei!”
Wu Tang naik ke panggung dengan percaya diri. Tubuhnya besar, otot-otot menonjol, dan aura dunia bintang puncak mengalir deras.
“Hei, Lin Xieng, kalau kau menyerah sekarang, mungkin aku tidak akan mematahkan semua tulangmu,” cibir Wu Tang.
Lin Xieng melangkah tanpa suara. Ia berdiri sekitar lima langkah dari Wu Tang, lalu mengambil posisi siap.
“Aku akan menjawab dengan kekuatan, bukan kata-kata.”
Pengumuman dimulai. “Pertarungan dimulai… SEKARANG!”
Wu Tang langsung menyerang, tubuhnya menerjang dengan kecepatan luar biasa. Tinju besarnya dilapisi energi hitam, teknik Tinju Batu Hitam yang bisa meretakkan dinding pertahanan musuh.
Namun tepat saat tinju itu hampir mengenai wajah Lin Xieng, tubuh Lin Xieng menghilang.
Langkah Seribu Bayangan.
Wu Tang tersentak. “Apa?!”
Sebuah pukulan tiba-tiba menghantam punggungnya.
Bugh!
Wu Tang terlempar ke depan, terhuyung, dan belum sempat berdiri, sebuah bayangan kembali muncul di depannya.
“Tinju Api — Ledakan Merah!”
Boom!
Tinju Lin Xieng menghantam dada Wu Tang secara langsung. Ledakan energi membakar udara, menciptakan gelombang panas hingga ke pinggir arena.
Wu Tang terlempar keluar arena, tak sadarkan diri, tubuhnya hangus di beberapa bagian.
Hening.
Penonton tak bersuara.
Kemudian…
“Dia menang dalam dua gerakan…”
“Kecepatannya luar biasa… dan kekuatannya menghancurkan!”
“Siapa sebenarnya Lin Xieng ini?!”
Di tribun atas, Lin Han menatap tajam ke arah panggung.
"Menarik," gumamnya.
Qian Yuwei, yang duduk tak jauh darinya, tersenyum tipis. "Akhirnya, ada yang berbeda di turnamen ini."
Lin Xieng turun dari panggung tanpa berkata apa pun. Tapi di dalam hatinya, satu hal kini pasti—ini baru permulaan. Dan setiap mata yang kini menatapnya, akan segera tahu: dia bukan hanya penantang... tapi calon penguasa panggung para jenius.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣