Tahun pertama pernikahanku bersama mas Abim kehidupan kami sangat harmonis dan bahagia, manakala diriku sudah mengandung buah hati dari cinta kita.
Tapi siapa sangka, tahun kedua pernikahanku di landa badai yang amat dasyat saat aku melahirkan seorang putri cantik yang justru di benci oleh ibu mertuaku yang menginginkan seorang penerus berjenis kelamin laki-laki.
Siapa sangka, diam-diam suamiku telah menikah dengan mantan sahabatnya. Yang merupakan wanita pilihan ibunya. Dan ibu mertuaku memintaku untuk menerima pernikahan kedua suamiku dan madunya itu.
Apakah yang harus aku lakukan? Bertahan atau melepaskannya? Ikuti kisahku..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AniitaLee_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan Jelita
Hari ini tidak seperti biasanya, baby Jelita putri cantik Inara itu menangis tersedu-sedu. Sudah berbagai cara Inara lakukan untuk menenangkan baby Jelita agar tidak menangis lagi.
Dari menggendong dan mengajak bayi cantik itu keluar rumah sambil melihat-lihat pemandangan. Namun Jelita tak kunjung usai menangis. Tangisannya malah semakin melengking menyebabkan para tetangga di sekitar rumah ibu mertuanya itu keluar rumah.
“Kenapa neng dede nya kok menangis terus?”
“Tidak tahu bu,” jawab Inara yang juga belum tahu keluhan putri kecilnya itu apa.
“Coba di lihat popoknya neng, barang kali penuh atau apa. Bayi mah suka nangis gitu kalau habis pipis apa pup,” saran seorang wanita tetangga rumah ibu mertuanya.
“Baik.”
Inara pun melakukan saran yang di berikan tetangganya itu. Lalu meletakkan baby Jelita di atas meja tamu yang ada di teras rumah ibu Retno itu.
Saat Inara cek, ternyata baby Jelita tidak sedang pipis atau pup. Wanita cantik itu juga melihat tidak ada hewan semuat apa pun yang mungkin saja membuat bayi cantiknya merasa tidak nyaman. Setelah di rasa sudah, Inara langsung menyusui bayi mungilnya itu dan membawanya ke dalam rumah untuk di tidurkan.
Mulanya baby Jelita sejenak berhenti menangis, lalu menikmati asi ibunya. Namun itu tak berlangsung lama, lama kelamaan baby Jelita kembali menangis. Inara sudah mengecek dahi bayinya itu, namun tidak panas seperti apa yang ia khawatirkan.
“Apa mungkin Jelita kangen sama papanya ya? Kalau begitu, aku telepon mas Abim saja deh.” gumamnya.
Inara pun mengambil ponselnya yang sedari tadi tergeletak di atas nakas. Tak butuh waktu lama untuk mencari kontak nomor telepon suaminya karena Inara sudah menjadikannya favorit di kontak ponselnya. Inara langsung menggeser icon hijau untuk melakukan panggilan.
Panggilan yang awalnya masuk pun tiba-tiba terputus sebelum terangkat. Inara pun mencoba melakukan panggilan untuk kedua kalinya. Kali ini panggilannya pun tidak tersambung. Karena merasa aneh dengan sikap suaminya Abim kali ini, Inara mencoba menghubungi nomor ponsel suaminya itu untuk ketiga kali dan seterusnya namun belum juga tersambung.
“Apa mas Abim ada rapat ya? Nggak biasa ia tidak bisa angkat telepon. Apa ponselnya lowbet atau apa,” gumam Inara sambil menenangkan baby Jelita.
Inara mencoba berfikir positif pasti mungkin suaminya sedang sibuk. Mengingat suaminya itu adalah direktur utama di perusahaannya. Dan lagi perasaan anehnya pun berulang kali ia tepis.
Tidak mungkin seorang Abim, pria yang sangat lembut dan penyayang itu tega mengkhianatinya. Itu tidak mungkin. Hati Inara berusaha menguatkan perasaannya bahwasannya, selama ini ia tidak salah memilih Abim untuk jadi suaminya.
Meski ibu mertuanya itu jauh dari kata ibu mertua idaman. Apalagi perempuan paruh baya itu enggan menatap putrinya lama-lama. Setiap baby Jelita menangis, ibu Retno selalu berteriak memanggil Inara untuk segera menenangkan bayinya.
Inara menyadari bahwasan ibu mertuanya itu masih kecewa kepadanya karena tidak mampu memberikan keturunan bayi laki-laki. Entah apa penyebabnya, Bu Retno begitu sangat ketara membenci bayi perempuan seperti putrinya.
Kini untuk mengurus kebutuhan putrinya, Inara harus mengurus sendiri selagi Abim pergi bekerja. Bu Retno tak pernah membantu sebentar saja, padahal di saat melelahkan seperti ini ia ingin ada sosok yang membantu. Sekedar mengganti popok atau menjaga putrinya di kala ia tengah memasak atau pun menjemur cucian.
Namun semua itu tinggallah angan. Bu Retno bukan lah ibu kandung Inara tentu saja perilakunya sungguh berbeda jika saat bersama sang suami Abim yang sudah jelas putra kandungnya.
“Andai ibu masih hidup, tentu Inara tidak akan sendirian seperti ini bu. Inara merasa capek sekali bu,” keluh Inara sambil menitikkan air mata saat mengingat almarhum ibunya yang sudah lama meninggal.
Karena kelelahan mengurus bayi sendirian setiap hari, membuat Inara tanpa sadar terkena baby blues. Baby blues syndrome atau baby blues adalah suatu gangguan suasana hati atau gangguan psikologis yang dapat dialami oleh ibu muda pasca melahirkan, seperti merasa gundah dan sedih yang berlebihan. Kondisi ini menyebabkan ibu baru menjadi mudah marah, sedih, menangis, dan kelelahan tanpa penyebab jelas. Ibu baru juga akan menjadi lebih mudah gelisah dan mengalami kesulitan berkonsentrasi setiap hari, terutama bagi para ibu muda yang baru pertama kali melahirkan.
Di saat Inara tengah melamun, tiba-tiba saja ia di kejutkan oleh bayinya yang mengalami kejang dan panas.
“Astagfirulloh! Jelita kenapa kamu nak?!”
Karena panik, Inara hanya menghapus air matanya kasar lalu menggendong putrinya untuk di bawa ke rumah sakit. Tidak ada pilihan lagi, Inara butuh pertolongan orang lain untuk menenangkan putrinya yang tiba-tiba saja mengalami panas dan kejang. Apa pun yang terjadi ia tidak ingin kehilangan putri cantiknya itu.
Bersambung...
Jngan lupa dkung otor trus y reader, biar otornya smngat up..🤗
Selamat buat Inara dan Indra pny anak kembar dan jelita
DinDut itu Pacarku ngasih iklan
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
Inara hrs mengusut sampai tuntas
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
klo indra tidak selamat malas lanjut baca nya
DinDut Itu pacarku ngasih iklan
Buk Retno bnr2 pembuat masalah nih
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan