Sejak lama Yordan menyimpan rasa pada Amara, namun rasa itu harus dia simpan dalam-dalam dikarenakan ada sesuatu perbedaan mendasar antara mereka.
Sedih dan sakit tentu saja dia rasakan kini. Omong kosong jika, cinta tak harus memiliki, tapi ia sadar, cinta tak boleh memaksakan diri.
Bisakah Yordan menghapus rasa yang selama ini ia simpan ataukah ia akan menyerah sehingga cinta itu akan menemukan jalannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Papa
Tidak sampai satu jam mereka telah sampai di tempat kediaman Bibi dan Paman Amara, di Rotterdam.
Saat memasuki halaman rumah, Amara terkejut. Ada sebuah mobil warna hitam yang cukup dikenalnya. Mobil Papa dan Mama. Kapan mereka tiba? Kok nggak bilang-bilang. Jangan-jangan, ada hubungan dengan perjodohan itu.
Amara nampak panik. Ia tak juga beranjak dari tempat duduknya, meski mobil telah berhenti sekian lama. Yordan menjadi bingung.
"Irma, apakah kita salah alamat?" tanya Yordan.
Amara tersentak. Lalu Ia menatap Yordan dengan sedih.
"Hai, ada apa denganmu?"
Yordan semakin bingung, melihat wajah Amara yang tegang. Nampak ketakutan terlukis di wajahnya.
"Kakak, bisakah aku minta tolong. Anggap saja ini sebagai permintaan pertamaku," kata Amara gemetar.
"Memangnya ada apa, Irma?"
" Eee..."
"Coba, tenangkan hatimu, lalu ceritakan apa masalahnya. Aku pasti akan membantumu."
Amara menunduk. Ia menggigit bibirnya. Dan ia meremas jari-jari tangannya.
"Ya. Ada apa?" tanya Yordan dengan penuh perhatian.
"Eee...aku nggak bisa cerita sekarang, Kak. Tapi tolong aku. Please...please." Amara memohon dengan penuh harap. Sampai-sampai kedua bola matanya terpejam dan kedua tangannya mengepal, bersatu di depan dada.
"Oke. Kamu ingin aku melakukan apa?"
"Bisakah kakak...ah...permintaanku ini agak sulit." Amara menjeda perkataannya dan berfikir lama.
"Kalau tidak kamu katakan, bagaimana aku bisa membantumu." Yordan mengambil nafas pelan sambil mengusap kepala. Ia mengumpulkan kesabaran yang mulai diuji oleh gadis di sampingnya.
"Eee...Bisakah kakak sembunyikan kalung salib itu?" ucap Amara ragu.
Amara menunduk. Ia khawatir Yordan akan marah.
Hah....
Yordan nampak kaget. Ia mengangkat alisnya, tak percaya dengan apa yang didengarnya. Memang apa yang salah dengan kalungnya?
Tapi melihat wajah Amara yang ketakutan, ia tak tega.
"Baiklah," ucap Yordan pasrah.
Ia pun menurut. Ia menyembunyikan kalung salibnya ke dalam saku kemeja. Amara-Amara... Hatinya luluh. Ia tak tega, melihat Amara dalam kesulitan.
"Terima kasih, Kak. Jangan marah ya..." Kali ini Amara sudah nampak lebih santai.
"Hmmm..." gumam Yordan pelan. Ia tak mengerti dengan keinginan Amara. Tapi, Ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak bisa marah. Ia hanya bisa mengambil nafas panjang dan membuangnya pelan, agar suasana hati tetap baik-baik saja.
Amara senang. Nampak bibirnya menyungging senyuman. Amara pun membuka pintu mobil, dan turun dengan tenang.
"Kakak, ayo ke dalam. Kita temui keluargaku!" ajak Amara.
"Baiklah," jawabnya tenang.
Dia sudah berjanji untuk membantu Amara. Apa yang salah jika Ia menyempurnakan kebaikannya. Dengan mengantarkan Amara sampai ke dalam rumah. Siapa tahu, Ia bisa berkenalan dengan keluarga Amara yang lain. Dan Ia bisa tahu duduk permasalahan yang disembunyikan Amara.
Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Amara memasuki rumah bibi Syakila.
"Halo semua. Selamat sore," sapa Amara dengan santai. Tak lupa pula, ia memasang senyum lebar. Seakan tak terjadi apa-apa.
Semua menoleh. Ada Papa Marthen dan mama Ayu. Ada Paman Hasan dan bibi Syakila. Satu keluarga lengkap yang Amara punya. Wajah mereka nampak menyeramkan. Membuat senyum Amara memudar seketika.
Amara segera menuju ke Papa Marthen. Ia bersalaman, mencium punggung tangan Marthen dengan takzim, lalu memeluknya. Dengan mama Ayu juga demikian. Adapun dengan bibi Syakila, ia memberi salam dan mencium tangan dengan takzim.Tak lupa, Dia memasang muka memelas dan manja. Agar mendapat pengampunan.
"Papa."
"Anak gadis papa pindah keyakinan kok begini. Pergi tanpa pamit. Dengan pria pula. Apa itu baik?... Setahu papa, nggak ada tuh, pergi bebas dengan lawan jenis. Kalau beragama yang benar sekalian. Jangan setengah-setengah," ucap Marthen tegas.
Selama ini Marthen yang sangat menjaga putrinya. Ia merasa was-was saat mengetahui bahwa Amara tidak di rumah bibinya selama seharian ini. Ia tak mau kejadian seperti ini terulang lagi
"Maaf Papa."
Papa Marthen berpembawaan lembut, tak akan pernah bisa marah. Apalagi jika yang bersangkutan sudah meminta maaf.
Amara segera mendaratkan tubuhnya di samping Marthen. Tempat yang paling nyaman saat dirinya ada masalah. Hehehe...
Pandangan Marthen beralih pada Yordan yang terpaku di samping pintu. Pemuda yang memiliki tubuh tegap dan atletis. Kelihatan pria baik-baik. Tapi nanti dulu. Seharian ini sudah membawa putrinya, bisakah dia disebut pria baik-baik?
"Siapa dia?" tanya Marthen dengan curiga.
"Teman, Pa."
"Benar?...teman apa teman."
"Sungguh Papa. Amara nggak bohong."
"Hm...." Ia memandang tajam pada Yordan.
"Silakan duduk, anak muda," ucapnya kemudian.
Yordan mengerutkan dahi. Sepertinya Amara membawanya dalam situasi yang kurang menyenangkan. Tapi, mau bagaimana lagi.
Dengan ragu, Yordan segera mengambil posisi duduk di hadapan Papa Marthen.
"Siapa kamu?" tanya Marthen dengan suara meninggi. Ia menatap lekat Yordan.
"Yordan, Om," jawabnya gugup.
Marthen diam sejenak. Ia sepertinya tak asing dengan nama itu. Dan wajahnya itu lho... sepertinya sudah sangat familiar. Apakah dia yang akan melamar Amara, seperti yang dikatakan Hasan seminggu yang lalu.
"Apakah kamu menyukai putriku?" tanyanya tanpa basa basi.
Yordan terperanjat. Ia menatap Amara dengan bola mata membulat, mungkin ia bisa mendapatkan apa yang harus ia katakan. Namun yang ditatapnya, juga tak kalah terkejutnya.
"Papa!" ucap Amara tak mengerti.
"Maaf om. Saya hanya kebetulan bertemu dengan Irma di jalan."
"Irma??" ucap Marthen bingung
"Siapa Irma itu?" tanyanya kemudian.
Ah, mengapa ia harus keceplosan. Mana ia lupa nama aslinya. Siapa ya?
"Ee...maksudnya Putri Om."
"Oooo... Amara."
"Iya, Om," jawab Yordan dengan menunduk. Ia tak bisa menyembunyikan rasa malunya.
"Sejak kapan kamu punya nama Irma?" Marthen menatap Amara curiga.
"Mengapa papa tanyanya ke saya. Dia yang mau. Masak aku tolak. Lagian Irma itu artinya Adik, Pa. Apa yang salah," jawab Amara dengan polosnya.
"Nggak ada salah. Adik Irma...." kelakar Marthen.
Amara melengos. Tidak terima namanya menjadi bahan olok-olokan.
"Assalamualaikum..." ucap seorang pemuda yang seketika menghentikan canda mereka. Pemuda yang cukup sopan. Dari pakaian yang ia kenakan, sepertinya pemuda yang cukup religius.
"Wa'alaikum salam," jawab mereka. Hasan berdiri, menyambutnya. Ia mengajaknya duduk di tengah-tengah mereka.
Marthen bingung, mengapa ada 2 orang lelaki yang datang ke rumah ini. Sebenarnya mana diantara keduanya yang katanya akan memutuskan untuk berkomitmen dengan Amara. Apakah Yordan atau lelaki yang baru datang itu.
Setelah Amara berpindah keyakinan, praktis ia tidak pernah mencampuri kehidupan Amara. Ia serahkan semua pada adiknya, Hasan dan Syakila. Mereka lebih tahu. Tapi kalau masalah jodoh Amara, mau tak mau ia harus ikut campur. Amara putri satu-satunya. Ia tak mau Amara salah pilih. Ia bertanggungjawab untuk kebahagiaan putrinya.
aku dah sabar menunggumu ❤️
jangan bosan untuk baca karyaku. ♥️