Kematian Arin yang tidak disangka malah menimbulkan petaka. Padahal keluarga dan semua teman sahabat tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba mereka mendapatkan teror dari makhluk yang mengaku roh dari Arin. Ikuti kisahnya . Banyak rahasia tersembunyi di balik apa yang terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🌹Ossy😘, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Ran mengambil panci yang jatuh dan meletakkan kembali ke tempat asalnya. Kemudian dia mencuci tangannya. Setelah selesai dia kemudian meninggalkan dapur dan menuju ke depan berniat untuk menemani Fian yang masih ada di ruang tamu.
Namun belum lama berselang, Baru saja dia sampai di ruang makan.
Klontang....
Namun tiba-tiba dia kembali mendengar suara panci jatuh. Ran kembali lagi ke dapur. Ran melihat panci yang tadi jatuh , sekarang sudah ada di bawah lagi. Ran mengambil panci yang jatuh itu dan kemudian mengembalikan ke tempat semula.
"Ini kenapa jatuh terus ya. Apa pakunya kurang gede. Perasaan sudah pas dan kuat."
Ran mengamati paku tempat panci tergantung. Terlihat kokoh dan juga tidak ada masalah. Dia tidak mengerti kenapa panci itu bisa terjatuh.
"Kuat gantungannya. Apa mungkin tersenggol cicak ya. Tapi Segede apa cicaknya bisa jatuhin panci Segede itu."
Ran bermonolog sendiri. Dia masih merasa bingung dan tidak mengerti.
Wuuusssss......
Angin bertiup di belakang tubuhnya. Sontak bulu kuduknya langsung berdiri. Merinding rasanya. Ran terdiam. Tubuhnya membrku.Dia tidak bergerak sama sekali. Kakinya serasa dipaku.
"Raaaaaaaaaaan........."
Ada suara memanggil nama Ran. Suaranya kecil namun membuat jantung berdetak cepat.
"Raaaaaaaaan........"
"Hiiiiiiii..hihihi...hiiiii...."
Kali ini disertai tawa yang mengikik. Ran semakin terpaku. Hanya matanya saja yang bisa digerakkan. Matanya melirik ke satu titik di atas rak piring. Di sana seperti ada bayangan orang sedang duduk. Berbaju putih. Rambut panjang menutupi mukanya.
"Hihihi... Hiiii...hiiiiii"
Dia tertawa lagi. Tawa yang membuat bulu kuduk berdiri. Ran sudah sangat ketakutan. Semua anggota tubuh nya tidak bisa digerakkan sama sekali. Bahkan suaranya pun hilang.
"Astaghfirullah... Astaghfirullah. Apalagi ini." Ucapnya dalam hati.
Ran benar-benar tidak menyangka di siang hari bolong ada penampakan. Dia sangat tidak percaya. Namun dia melihat dengan mata kepala sendiri.
"Astaghfirullah Al adzim.. Fian... Bang Bara. Di mana kalian. Tolong aku.Tolong...."
Ucap Ran dalam hati. Rasanya dia sudah sangat putus asa. Perasaan takut yang teramat sangat mendera dirinya. Tiba-tiba sosok itu melayang mendekati dirinya. Perasaan Ran semakin tidak karuan. Dia semakin takut. Keringat dingin membasahi tubuhnya.
"Ja... Ngan... Jangaaaaan.."
Ucap Ran terbata.
"Apa salah saya..." wajah Ran sudah semakin pucat.
"Hiiii... Hihihi... Hihihi..."
Makhluk itu hanya tertawa.Dia kemudian terbang melayang, melintas diatas kepala Ran. Kemudian menghilang. Ran masih diam. Matanya melihat ke sekeliling mencari keberadaan makhluk tersebut. Namun tidak ada. Tidak terlihat di manapun
Ran masih waspada . Dia takut tiba-tiba makhluk itu muncul kembali.
Namun Ran tunggu beberapa saat, tidak ada penampakan dan suara apapun lagi. Akhirnya tubuh nya meluruh jatuh di lantai. Dia lemas. Dia sungguh takut. Dia tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Dia sungguh tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ran masih lemas. Dia masih terduduk dilantai dapur. Tubuhnya terasa lemah. Tidak bisa digerakkan saking lemahnya. Ran duduk sejenak. Dia atur nafasnya pelan. Dia kuatkan hatinya.
Ran berusaha bangun dengan perlahan. Dia berusaha untuk kuat. Dia harus bisa melewati semua. Walaupun dia benar-benar tidak menyangka ini terjadi pada dirinya.
Ran berjalan perlahan, tertatih menuju kamar. Dia berjalan sambil berpegangan pada tembok. Dia sungguh sangat lelah. Dia ingin beristirahat. Apa yang dia alami sungguh membuat dia merasa takut dan lemas.
Ran membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Ran merasa tubuhnya sangat ringan. Serasa tidak bertenaga dan tidak berdaya. Matanya mulai terpejam. Dia ingin tidur saat ini.
Namun b aru sebentar terpejam dia sudah mendengar suara benda jatuh.
Krompyangg........
pPyaaaarr........
Suara benda jatuh itu seperti sangat dekat. Seperti sebuah cermin atau benda yang terbuat dari kaca. Namun mata Ran tidak bisa dibuka. Dia juga tidak bisa bangun. Dia hanya bisa mendengar namun tidak mampu untuk menggerakkan tubuhnya. Hanya sekedar untuk mengeluarkan suara pun dia tidak mampu
Ran mendengar suara-suara aneh. Suara hiruk pikuk orang banyak yang sedang berkumpul dan berbincang . Suaranya tidak jelas. Seperti suara tawon yang berdengung.
Tak lama kemudian dia mendengar suara yang sangat jelas di antara sekian banyak suara, satu suara yang tidak asing. Suara seorang wanita. Suara yang sepertinya dia mengenalnya . Namun Ran lupa suara siapa itu.
"Tolong... Tolong... Tolong aku. Jangan pernah meninggalkan rumahku....."
Tiba-tiba terdengar suara perempuan meminta tolong. Namun cuma sebentar. Suaranya kembali hilang seperti tertiup angin. Karena kalah dengan suara orang yang saling berebutan untuk berbicara lebih dahulu.
Ran masih terpejam. Lama kelamaan dia benar-benar tertidur. Pulas. Nafasnya terdengar teratur. Bahkan terdengar dengkuran halus.
Sementara Fian dan Bara yang mencari Ran belum bisa menemukannya juga. Padahal rumah Arin tidak begitu besar. Kamar di mana Ran tidurpun sudah diperiksa, namun mereka tidak melihat Ran yang sedang tidur.
"Di mana Ran ya Fian. Masa di dalam rumah ini tidak ada."
"Maka dari itu Bang, gue juga heran. Kita sudah mencari di seluruh ruangan. Namun tidak bisa kita temukan."
"Atau mungkin Ran keluar rumah ya. Pergi kemana mungkin." Bara menyebut beberapa kemungkinan yang terjadi pada Ran. Mereka benar-benar tidak mengerti kemana Ran pergi.
"Kalau dia keluar pasti gue ngeliat bang. Kan gue ada di ruang tamu, Atau.... Mungkin lewat pintu belakang ya. "
Fian terlihat berpikir. Jarinya dia letaknya di pelipisnya. Seperti layaknya orang yang berpikir keras.
"Eh... Kalau lewat pintu belakang, pasti saya sama Rama bisa melihat Ran melewati kami. Kita kan duduk di bawah pohon jambu."
"Iya juga ya. Kemana sih Ran pergi. Ini Rama mana sih. Mandi lama banget."
Fian terlihat kesal. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa keadaan menjadi rumit begini. Sedangkan Bara mulai berpikir. Dia mulai menghubungkan kejadian demi kejadian yang terjadi. Namun hanya ada di pikiran saja. Dia belum mau mengungkapkan pada Fian. Dia akan menunggu sampai semua benar-benar jelas.
"Ada apa sih. Kalian berdua terlihat ruwet bener..."
"Akhh Rama ... Loe bikin kaget saja..."
Fian memukul lengan Rama yang tiba-tiba telah hadir di antara mereka.
"Hidih Abang. Sakit tahu. Main pukul saja. Sewot aja bawaannya. Lagi PMS ya.." Rama mencibir melihat tingkah Fian. Dia usap lengannya yang terasa ngilu karena pukulan Fian yang cukup kencang tadi.
"Kalian berdua mikirin apa sih. Dari tadi gue denger kalian seperti kebingungan..." Sambung Rama. Rama mengambil gelas dan mengisinya dengan air minum kemudian duduk di kursi yang kosong. Namun dia tidak segera meminum airnya.
"Ran hilang Rama. Kita sudah mencari ke seluruh bagian rumah tapi tidak bisa menemukan juga. Loe tahu tidak di mana dia.."
Rama memperhatikan Fian dan Bara secara seksama. Mereka berdua terlihat sangat kesal dan juga capek.
"Apa mungkin menyusul Bunda ke pasar ya.." Rama terlihat berpikir.
"Lewat mana coba, gue di ruang tamu. Tapi tidak melihat dia lewat. Sedangkan loe sama bang dokter di luar, ngliat Ran lewat ga.." Fian menjawab dengan emosi. Dia sungguh sudah putus asa.
"Iya juga ya...." Rama manggut-manggut. "Ya sudah .. Sebaiknya bang Fian sama bang Bara sholat Dzuhur dulu. Itu adzan dhuhur sudah berkumandang. Siapa tahu setelah sholat bisa menemukan Kak Ran."
" Iya juga ya. Baiklah ... Ayo kita sholat dulu.."
Bara pergi keluar diikuti Fian di belakangnya. Mereka menuju mushola kampung, untuk melaksanakan sholat Dzuhur. Otak mereka terasa sudah mau meledak. Mungkin benar ucapan Rama. Mereka harus menenangkan pikiran dulu agar semua bisa dilakukan dengan mudah.
Musholla tidak jauh dari rumah, cukup berjalan kaki selama 5 menit. Untung saja mereka tidak ketinggalan sholat berjamaah.
"Lho Ram .. Kok sudah disini saja . Kapan berangkat."
"Sudah dari tadi. Bang Fian sama bang Bara tadi diam saja waktu aku ajak. Ya aku jalan duluan."
"Kapan kamu mengajak ki.... Ta...." Bara terbata. Dia tidak meneruskan ucapannya. Dia semakin tidak mengerti. Dia tidak mendengar ajakan Rama. Atau mungkin Rama hanya berniat membela diri karena sudah mendahului mereka berangkat ke musholla.
"Ya sudahlah....."
Ucap Bara kemudian .Dia tidak ingin memikirkan kejadian itu lagi. Sekarang dia akan berkonsentrasi untuk melaksanakan sholat dulu. Urusan mencari Ran atau pun urusan lainnya bisa di bicarakan nanti. Siapa tahu sehabis sholat bisa mendapatkan petunjuk dan jawaban atas semua kejadian.
Sedangkan Fian hanya melongo. Dia hanya menggelengkan kepala dengan pasrah. Benar-benar semua kejadian yang dia alami tadi di luar pemikiran mereka. Sangat tidak wajar.
Mereka bertiga segera mengambil air wudhu. Kemudian segera masuk ke dalam musholla. Iqomah sudah dikumandangkan . Mereka tidak mau ketinggalan sholat berjamaah.
Setelah Sholat dhuhur , Rama, Fian dan Bara berjalan pulang ke rumah. Tidak ada satu percakapan pun yang mereka keluarkan dalam perjalanan pulang. Mereka berjalan dengan langkah gontai. Pikiran mereka masih berkecamuk. Ada banyak hal yang mereka pikirkan di kepala masing-masing.
"Lapar gue... Ram bunda masak apa..?" Ucap Fian memecah kesunyian. Perutnya berbunyi.
"Tadi pagi sih masak sayur lodeh sama ikan kembung goreng, sama tempe sama kerupuk.." Jawab Rama masih sambil melangkah.
"Wuuiihh ... Mantab itu. Udah yang paling bener. Gue mau numpang makan ya.. " Dengan percaya diri Fian mendahului langkah Bara dan Rama.
"Weh... Weh .. Mana ada jakarta numpang. Kencing aja bayar. Tak ada... Tak ada..."
Rama menyusul Fian. Dia sengaja mendahului Fian. Sengaja ingin mengerjai Fian.
"Rama... Please tolong hamba sahaya ini.. Lapar.. Ya.. Ya.. Ya.. " Fian mengerlingkan mata. Dia tersenyum manis dan memegang tangan Rama.
"Tak ada... Tak ada yang gratis ya. Mana ada pewaris tahta minta gratis...." Rama semakin mempercepat langkahnya. Mereka berdua saling mendahului. Ingin segera cepat sampai di rumah. Bara menyaksikan semua itu dengan senyum. Hatinya menghangat. Dia sangat menyukai momen-momen seperti ini.
Hal inilah yang membuatnya bertambah berat untuk melupakan Arin. Kekeluargaan yang terasa hangat dan penuh canda. Dia tidak akan dengan mudah melupakan ini semua.
Dari balik jendela sepasang mata mengawasi tingkah laku mereka dengan penuh rasa dendam. Senyuman licik dia sunggingkan.
"Tunggu lah Yanto.. Tunggulah kehancuranmu . Kita lihat masih adakah orang yang mau berteman denganmu. Hahahaha...."
Orang tersebut tertawa terbahak-bahak. Rencana yang telah dia susun akan segera dia kerjakan.
Siapakah gerangan orang tersebut. Sebegitu dendam dia dengan keluarga Ayah Yanto. Kita tunggu apa yang terjadi selanjutnya.....
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️
bakalan cerita ga ni si Ran😵😵
eh eta penunggu pohon jambunya mulai nongolin diiri yaa 🙈🙈hiii ko seremm🏃♀🏃♀
terimakasih sudah menghadirkan cerita ini sukses terus oyys.
di tunggu novel berikutnya