NovelToon NovelToon
Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: Jilal Suherman

​Kang Han-jun adalah pria yang terbiasa diabaikan oleh dunia hingga sebuah truk mengakhiri hidupnya yang monoton. Namun, kematian bukanlah akhir. Ia terbangun di Kuil Kehampaan, sebuah titik antara dimensi Bumi dan Alura, di mana Planet Ridokan berada.
​Diberi kesempatan kedua oleh Sang Dewi sebagai penyeimbang dimensi, Han-jun dikirim ke Ridokan dengan satu misi: mengumpulkan 6 Prasasti Elemen sebelum Ras Iblis dari Benua Hitam menelan seluruh kehidupan. Meski dibekali kekuatan tanpa batas, Han-jun hanya ingin satu hal: hidup santai. Namun, takdir menyeretnya melintasi lima benua, membangun persahabatan yang tak terhancurkan, dan menghadapi kengerian dari tiga Dewa Iblis yang haus darah. Ini bukan sekadar perjalanan pahlawan; ini adalah kisah tentang pria yang mencari arti rumah di dunia yang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Berkat Sang Dewa Fondasi dan Langkah Pertama di Neraka Putih

Suara derak es yang hancur bergesekan dengan lambung Galleon Pemecah Es terdengar seperti raungan monster yang meregang nyawa. Kapal raksasa berlapis baja sihir itu akhirnya berhenti dengan guncangan keras, menabrak bibir pantai Benua Utara yang sepenuhnya terbuat dari gletser hitam abadi. Tidak ada pasir, tidak ada tanah. Hanya ada hamparan es yang mengkristal sekeras berlian, memantulkan langit kelabu yang tak pernah melihat matahari.

Suhu udara anjlok secara tidak masuk akal. Angin yang berhembus membawa kristal-kristal es mikroskopis yang terasa seperti ribuan silet tak kasat mata menyayat kulit.

Papan kayu diturunkan dari geladak. Sepatu bot tempur Ajil menjadi yang pertama menginjakkan kaki di daratan Benua Utara. Setelan Malam Abadi Kelas SS miliknya seketika berdesis pelan, memancarkan uap tipis saat medan gaya absolutnya bekerja seratus persen untuk menahan suhu yang berada di bawah minus delapan puluh derajat Celcius. Wajah Ajil tetap membeku, sedatar dataran es di sekelilingnya, tak menunjukkan tanda-tanda kedinginan atau keraguan.

Di belakangnya, Erina melangkah turun. Zirah sutra mithrilnya beresonansi, menciptakan Tabir Angin Suci yang menghangatkan tubuhnya. Rino dan Richard menyusul dengan napas yang langsung membeku menjadi kabut putih pekat. Zirah baja vulkanik Rino dan jubah Leviathan Richard bekerja keras menahan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang.

"Tempat ini... ini bukan untuk dihuni makhluk hidup," gigi Rino bergemeretak, meski ia memiliki elemen api di dalam mana-nya. "Apinya seolah enggan menyala di udara ini."

Namun, tepat ketika keempat anggota Algojo Dimensi itu berdiri sepenuhnya di atas gletser hitam, sebuah fenomena di luar nalar terjadi.

Angin badai yang menderu tiba-tiba berhenti. Kristal-kristal salju yang berjatuhan dari langit tertahan di udara, melayang statis seolah waktu itu sendiri telah membeku. Ombak lautan hitam di belakang mereka berhenti berdebur. Semuanya hening mutlak.

Ajil menyipitkan mata kelamnya. Insting God-Tier-nya tidak mendeteksi niat membunuh, melainkan sebuah tekanan otoritas yang begitu masif, murni, dan absolut hingga membuat udara terasa seberat timah.

Di dalam keheningan dimensi yang membeku itu, sebuah suara perempuan yang sangat agung, lembut, namun menggema di setiap atom kehidupan, terdengar langsung di dalam kepala Ajil, Erina, Rino, dan Richard.

"Kau telah menempuh lautan darah dan es dengan tekad yang tak tergoyahkan, Anakku dari dunia seberang." Itu adalah telepati Dewi Lumira. Dewa yang memanggil Ajil ke Planet Ridokan. Suaranya membawa kehangatan yang seketika mengusir hawa dingin di sekujur tubuh mereka.

Rino dan Richard langsung menjatuhkan lutut mereka ke atas es, air mata mengalir dari mata mereka saat merasakan kehadiran entitas pencipta. Erina menundukkan kepalanya dalam-dalam, menempelkan tangan kanannya ke dada kirinya. Hanya Ajil yang tetap berdiri tegak, matanya menatap lurus ke langit kelabu yang statis, rahangnya mengeras.

"Kau tidak hanya membasmi anomali iblis dan naga yang mengancam keseimbangan," lanjut suara Lumira, kini diiringi oleh resonansi suara kedua yang sangat berat, dalam, dan maskulin—suara yang terasa seperti pergesekan lempeng tektonik bumi. "Kau telah memegang kepingan pertama dari Prasasti Dimensi. Keberanianmu telah membangunkan perhatian Andora, Sang Dewa Fondasi dan Kehidupan Absolut."

Suara maskulin Andora mengambil alih telepati tersebut, menggetarkan gendang telinga spiritual mereka.

"Keangkuhan para dewa dan fana sering kali membutakan mereka terhadap nilai rasa sakit," gema Dewa Andora. "Namun kau, Manusia Berjaket Hitam, kau menjadikan rasa sakitmu sebagai pilar penyangga langit. Aku, Andora, tidak akan membiarkan fondasiku runtuh sebelum kau mencapai akhir dari jalanmu. Terimalah berkat dari debu bintang dan fondasi bumi ini. Jadikanlah dirimu bencana yang sesungguhnya."

Seketika itu juga, seberkas pilar cahaya raksasa berwarna emas dan putih menembus awan kelabu tebal, menghantam langsung ke posisi kelompok Algojo Dimensi.

Tidak ada ledakan, tidak ada rasa sakit. Yang ada hanyalah sebuah injeksi energi kosmik murni yang membanjiri pembuluh darah, menyusun ulang jaringan otot, memperluas kapasitas mana hingga miliaran kali lipat, dan membuka segel-segel potensial yang bahkan belum disadari oleh tubuh mereka.

Layar sistem di dalam pikiran Ajil meledak dengan rentetan notifikasi emas yang bergulir dengan kecepatan cahaya.

[SISTEM ABSOLUT: OTORITAS DEWA ANDORA DITERIMA.]

[Memulai Peningkatan Level Skala Dewa untuk Kelompok 'Algojo Dimensi'.]

Di sebelah Ajil, aura Rino dan Richard meledak. Tubuh mereka yang tadinya kedinginan kini memancarkan hawa panas dan dingin yang seimbang.

[Anggota: Rino. Level Up! Lv.90 -> Lv.135 (Kelas S Rank). Evolusi Kelas: Paladin Api Neraka.]

[Anggota: Richard. Level Up! Lv.89 -> Lv.133 (Kelas S Rank). Evolusi Kelas: Ksatria Es Abadi.]

Erina, sang High Elf yang telah menembus batas fana, merasakan sel-sel kuno di tubuh perinya beresonansi dengan debu bintang.

[Anggota: Erina. Level Up! Lv.200 -> Lv.220 (Kelas SSS+ Rank). Peningkatan Sihir Suci Absolut.]

Erina membuka matanya lebar-lebar. Naik dua puluh level di atas angka dua ratus adalah sesuatu yang membutuhkan semadi selama ribuan tahun! Napasnya tersengal, ia menatap tubuhnya sendiri yang kini memancarkan aura angin suci yang sangat padat.

Namun, yang paling mengerikan adalah pusat dari pilar cahaya tersebut. Ajil.

Berbeda dengan teman-temannya, energi Andora yang masuk ke dalam tubuh Ajil bereaksi langsung dengan Mana Tak Terbatas dan efek dari Prasasti Dimensi yang ada di tangannya. Tubuh Ajil melayang beberapa inci dari tanah es. Setelan Malam Abadi-nya menyerap cahaya emas itu hingga jubah hitamnya memancarkan pendaran galaksi di ujung-ujungnya.

[SISTEM: PENGGUNA UTAMA MENERIMA BERKAT FONDASI.]

[Level Up! Lv.120 -> Lv.150]

[Level Up! Lv.150 -> Lv.190]

[Level Up! Lv.190 -> Lv.225]

[Level Up! Lv.225 -> Lv.250 (Melampaui Batas Eksistensi Benua Barat!)]

Ledakan mana dari tubuh Ajil begitu masif hingga gletser hitam dalam radius satu kilometer retak dan hancur. Erina, Rino, dan Richard harus menutupi wajah mereka untuk menahan badai energi gravitasi dan petir ungu yang meledak liar tanpa kendali sesaat, sebelum akhirnya seluruh energi itu tersedot kembali ke dalam tubuh Ajil.

Ajil mendarat kembali di atas es. Cahaya dewa menghilang. Waktu kembali berjalan. Salju kembali turun dengan deras, dan ombak kembali berdebur.

Erina menatap Ajil dengan mulut sedikit terbuka. Kaki sang High Elf itu tanpa sadar bergetar. Fluktuasi kekuatan yang memancar dari Ajil kini... jauh melampaui dirinya. Sebagai entitas Level 200, Erina selalu merasa menjadi pelindung terkuat Ajil secara level mentah. Namun kini, Ajil berdiri di Level 250, sebuah angka yang menyentuh ranah Demigod (Manusia Setengah Dewa).

"Ajil... kekuatanmu..." bisik Erina takjub, rasa cintanya kini bercampur dengan pemujaan yang lebih dalam dari palung samudra. "Kau... kau melampauiku. Sepenuhnya."

Ajil menatap telapak tangannya. Ia mengepalkan tangannya perlahan. Otot-ototnya terasa seringan bulu, namun memiliki kepadatan yang bisa meremukkan gunung es hanya dengan satu jentikan. Wajahnya tidak menunjukkan senyum kemenangan atau euforia. Matanya yang kelam menatap jauh ke arah puncak Gunung Tempa Abadi yang samar-samar tertutup badai salju.

"Ini bukan hadiah, Erina," ucap Ajil dingin, suaranya kini memiliki resonansi yang lebih berat, mengalahkan suara badai salju di sekeliling mereka. "Ini adalah sebuah peringatan."

"Peringatan?" Rino mengerutkan kening, bangkit berdiri dengan pedang apinya yang kini menyala lebih besar dan panas. "Tapi Tuan, kita menjadi jauh lebih kuat! Kita bisa membantai seluruh monster di benua ini dengan mudah!"

Ajil merapatkan kerah trench coat-nya. Ia mengambil langkah pertama menembus badai salju yang tebal. Kakinya terperosok ke dalam salju setinggi betis, dan untuk pertama kalinya, Ajil merasakan betapa beratnya tekanan atmosfer di tempat ini.

"Para dewa tidak pernah memberikan kekuatan secara cuma-cuma tanpa menaikkan harga dari nyawamu," ucap Ajil datar, menyisipkan sebuah kenyataan pahit yang langsung membungkam kegembiraan kelompoknya. Ia menatap ke arah langit kelabu. "Berkat dari Andora ini seperti menyalakan api unggun raksasa di tengah malam yang gelap gulita. Benua ini... alam ini... kini menganggap eksistensi kita sebagai sebuah ancaman mutlak. Perjalanan ke depan tidak akan dipenuhi oleh serangga, melainkan oleh monster primordial yang akan tertarik oleh bau energi kita."

Kata-kata Ajil terbukti dalam hitungan menit.

Begitu mereka melangkah sejauh satu kilometer dari pantai, meninggalkan perlindungan kapal, gravitasi di Benua Utara seolah berlipat ganda. Udara di tempat ini tidak hanya dingin, tapi sangat tipis akan oksigen sihir, digantikan oleh tekanan mana purba yang menolak kehadiran makhluk hidup fana. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serbuk kaca. Salju di bawah kaki mereka tidak lagi lembut, melainkan berubah menjadi tumpukan duri es mikroskopis yang memperlambat pergerakan.

Rino, yang kini berada di Level 135, terengah-engah. Zirah baja vulkaniknya terasa seberat jangkar kapal. Richard harus menggunakan tongkat tombaknya sebagai penopang untuk terus berjalan. Bahkan Erina pun harus memfokuskan sihir anginnya hanya untuk membelah badai di depan mata mereka.

Langkah demi langkah terasa seperti menyeret gunung. Inilah neraka sesungguhnya dari Benua Para Dwarf. Gunung Tempa Abadi masih berjarak puluhan kilometer, dan perjalanan darat ini direncanakan akan menguras seluruh kewarasan mereka.

Satu jam berjalan menembus badai tanpa ujung, jarak pandang mereka berkurang menjadi kurang dari dua meter. Suara lolongan angin terdengar menyerupai tangisan ribuan arwah yang mati kedinginan.

"Tuan Ajil..." teriak Richard melawan suara badai. "Kita tidak bisa terus berjalan menembus angin buta ini! Suhu ini menembus mana kita! Jika kita tidak mencari tempat berlindung, stamina kita akan habis sebelum kita bertemu penjaga gunung!"

Ajil menghentikan langkahnya. Ia memejamkan mata, membiarkan insting barunya sebagai entitas Level 250 memetakan kontur tanah di sekitarnya.

"Ada gua obsidian seratus meter di arah jam tiga. Kita berlindung di sana," perintah Ajil.

Mereka berbelok arah, memaksa otot mereka bekerja melawan badai yang semakin menggila. Dinding batu hitam legam yang halus perlahan muncul dari balik tirai salju. Sebuah celah gua yang cukup lebar menyambut mereka. Begitu mereka melangkah masuk, suara lolongan badai langsung teredam, digantikan oleh gema langkah kaki mereka sendiri.

Gua itu kering dan memancarkan sisa-sisa hawa panas geotermal dari dalam kerak bumi, memberikan kelegaan yang luar biasa bagi paru-paru mereka yang nyaris membeku.

Rino menjatuhkan diri ke lantai batu dengan napas tersengal-sengal. "Hah... Hah... Tuan benar. Level kita mungkin naik, tapi alam benua ini dirancang untuk menghancurkan mental kita sebelum kita sempat mengayunkan pedang."

Erina mengibaskan salju dari rambut peraknya, wajahnya sedikit memucat. Ia bersandar di dinding gua, menatap Ajil yang berdiri tegap di dekat mulut gua, mengawasi badai di luar. Tidak ada sedikit pun tanda kelelahan di postur sang Algojo, meski ia yang paling banyak membelah tekanan angin di depan tadi.

"Kita akan bermalam di sini," putus Ajil.

Pria berjaket hitam itu membalikkan badannya, menyambungkan pikirannya ke Cincin Ruang Tak Terbatas yang kini telah berevolusi ke Tahap Kosmik.

Ajil mengeluarkan sebuah wadah perak raksasa yang langsung mengepulkan uap panas, serta beberapa potong kayu cendana sihir yang menyala otomatis saat bersentuhan dengan udara gua. Ia meletakkan wadah itu di atas perapian instan tersebut.

Aroma kaldu yang sangat pekat, kental, dan memabukkan seketika memenuhi ruang gua. Itu adalah Sup Daging Paus Api—hidangan tingkat legenda yang hanya bisa dibeli menggunakan puluhan keping emas murni di kota terbesar. Kuah supnya berwarna merah kecokelatan, dipenuhi oleh rempah jahe matahari dan serutan cabai lava yang berfungsi menghancurkan racun beku di dalam pembuluh darah. Potongan daging paus api berukuran besar, yang teksturnya selembut mentega namun berserat kuat, mengapung di antara kaldu tersebut.

Sebagai pendampingnya, Ajil mengeluarkan Roti Gandum Hitam Karbon, roti yang dipanggang menggunakan arang sihir, sangat padat dan mampu menunda rasa lapar selama tiga hari penuh.

"Makan," ucap Ajil datar, mengambil sebuah mangkuk kayu dan mencedok sup itu untuk dirinya sendiri. "Suhu tubuh kalian akan anjlok drastis jika kalian tidur dalam keadaan perut kosong di benua ini. Kuah ini akan mendidihkan mana kalian dari dalam."

Rino dan Richard tidak menunggu perintah kedua. Mereka menyendok kuah sup tersebut. Begitu cairan pedas dan gurih itu melewati tenggorokan mereka, ledakan kehangatan yang luar biasa menyapu seluruh tubuh mereka. Rasa dingin di ujung jari tangan dan kaki mereka langsung menghilang, digantikan oleh sensasi hangat yang nyaman. Daging paus itu meleleh di lidah, memberikan asupan protein dewa yang langsung memperbaiki sel-sel otot mereka yang kelelahan.

Erina menerima mangkuk dari Ajil dengan senyum lembut. "Terima kasih, Ajil," bisiknya. "Kau mungkin bertingkah seperti monster yang tak kenal ampun, tapi kau selalu merawat kami lebih baik dari seorang raja."

Ajil tidak membalas pujian itu. Ia duduk bersila di dekat api, memakan roti gandum hitamnya dalam keheningan. Wajahnya tetap sedingin es. Pikirannya terus berputar, memetakan rute, menghitung kemungkinan serangan dari monster primordial, dan memikirkan teka-teki Prasasti Dimensi kedua. Perjalanan dua puluh babak di benua kematian ini baru saja dimulai.

Tiba-tiba, dari kedalaman gua yang gelap gulita, terdengar suara geraman rendah yang membuat batu obsidian di sekitar mereka bergetar pelan. Bau busuk belerang dan daging mati menyusup melalui celah udara gua, mengalahkan aroma sup yang lezat.

Mata hitam Ajil menyipit tajam. Ia menghentikan kunyahannya. Perjalanan yang berat baru saja mengetuk pintu mereka.

"Beban yang diberikan oleh alam dan para dewa bukanlah batu yang dirancang untuk menenggelamkanmu di dasar keputusasaan," ucap Ajil dengan suara bariton yang sangat pelan, merespons geraman di dalam kegelapan itu sambil perlahan bangkit berdiri. Tangan kanannya terulur ke samping, bersiap membuka ruang dimensi. "Itu adalah sebuah landasan tempa. Dan monster apa pun yang bersembunyi di dalam kegelapan ini... akan segera menjadi martil yang menguji seberapa keras baja di dalam jiwaku."

Kilatan petir ungu meledak di mata sang Algojo. Badai salju di luar mungkin mematikan, namun monster apa pun yang ada di dalam gua ini akan segera menyadari bahwa mereka baru saja mengurung diri bersama kematian yang sesungguhnya.

1
Mr.Jeje
bilamana ada kesalahan tulisan mohon untuk memberi tahu saya sebagai author🙏
KETUA SEKTE PEMBASMI DEWA: manja banget, kalau udah nulis pake AI yang bener juga lah, di cek 100×
total 1 replies
Mr.Jeje
saya sebagai author, bila mana ada kesalahan kata atau kalimat, mohon saran dan kritik nya untuk para pembaca. sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!