Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian dari Panglima
Pagi hari di Kerajaan Risvela terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis masih menyelimuti area latihan.
Di tengah lapangan, Reyd berdiri sendirian. Angin biru berputar pelan di sekelilingnya.
Latihannya tidak santai. Setiap gerakan, penuh fokus. Penuh tekanan. Karena waktu semakin dekat. Duel melawan monster sihir.
Ia mengayunkan pedangnya.
SWOOSH!
Angin tajam membelah udara.
Namun… Reyd berhenti. Menurunkan pedangnya perlahan.
“Ini masih kurang.”
Gumamnya.
Ia tahu, lawan yang akan ia hadapi bukan sembarang makhluk. Ia butuh lebih dari sekadar kekuatan biasa.
Langkah kaki berat terdengar dari belakang.
DUM… DUM…
Seorang pria tinggi dengan zirah tebal berjalan mendekat. Aura kuat terpancar darinya. Di belakangnya, seekor kuda perang berdiri gagah.
Dia adalah Durkes Darivers. Panglima perang Kerajaan Risvela. Legenda hidup yang dikenal karena kemenangan demi kemenangan beruntun. Baik dalam strategi maupun duel.
Durkes berhenti beberapa meter dari Reyd. Tatapannya tajam.
“Anda terlihat sedang berlatih, Pangeran Kedua.”
Suaranya berat.
Reyd menoleh.
“Aku ingin menguji diriku dengan kekuatanku.”
Katanya langsung.
“Aku butuh lawan yang sepadan.”
Durkes menatapnya sejenak. Lalu, sedikit tersenyum.
“Jadi Anda menantang saya?”
Reyd mengangguk.
“Ya.”
Sunyi sejenak. Angin berhembus pelan di antara mereka.
Durkes kemudian melangkah maju. Namun… ia tidak menghunus pedangnya. Bahkan, ia melepaskan sarung tangan besinya. Menjatuhkannya ke tanah.
CLANG.
Reyd sedikit mengernyit.
“Kau tidak akan menggunakan senjatamu, Paman?”
Durkes menggeleng.
“Itu tidak perlu.”
Jawabnya singkat.
“Jika Anda ingin menguji diri… maka tunjukkan padaku. Kerahkan semua kemampuanmu.”
Nada suaranya tenang. Namun penuh tekanan.
Reyd mengerti. Ini bukan meremehkan. Melainkan… ujian.
Angin biru kembali berputar di sekelilingnya. Lebih tajam. Lebih kuat.
Reyd mengangkat pedangnya.
“Baiklah. Jangan salahkan aku jika Paman gugur sebelum berperang.”
Jawabnya.
Durkes berdiri tegak. Tanpa senjata. Tanpa kuda. Namun auranya tetap menekan.
“Coba saja lawan legenda hidup sepertiku. Anak muda memang percaya diri sekali.”
Katanya dengan tenang.
Tanpa ragu, Reyd melangkah maju.
Dalam sekejap, angin biru melesat. Pertarungan dimulai.
WHOOOOSH!
Angin biru milik Reyd melesat cepat. Tajam. Padat. Langsung mengarah ke Durkes.
Namun…
BRAK!
Durkes hanya mengangkat tangannya. Menepisnya. Seolah itu bukan serangan berbahaya. Melainkan hanya hembusan biasa.
Reyd terkejut.
“Apa? Ditepis?”
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, Durkes sudah bergerak. Jauh lebih cepat dari tubuh besarnya.
DUK!
Satu kibasan tangan, mengenai tubuh Reyd.
“Gh…!”
Reyd terpental jauh. Tubuhnya menghantam tanah dan berguling beberapa meter. Debu beterbangan.
Namun… ia langsung bangkit. Napasnya sedikit berat. Tatapannya berubah. Lebih serius. Lebih tajam.
“Serangan lemah seperti itu saja tidak akan cukup.”
Suara Durkes terdengar tenang. Namun penuh tekanan.
Reyd menggenggam pedangnya lebih erat. Angin biru mulai berputar lebih kuat. Kali ini… lebih liar. Lebih padat.
“Aku belum selesai.”
Jawab Reyd.
Dalam sekejap, ia menghilang dari tempatnya.
WHOOOOSH!
Serangan demi serangan angin dilancarkan. Dari berbagai arah. Cepat. Tak terduga.
Namun… Durkes tetap berdiri. Ia menangkis. Menepis. Menghindar tanpa kesulitan berarti.
Setiap gerakannya sederhana. Namun tepat. Seolah ia sudah membaca semua pergerakan Reyd.
“Kecepatan Anda meningkat.”
Kata Durkes.
“Tapi masih bisa dibaca.”
Reyd tidak menjawab. Ia justru meningkatkan tekanannya.
Angin di sekelilingnya semakin besar. Tanah mulai bergetar. Debu beterbangan.
BOOM!
Benturan angin mulai terdengar. Gelombang demi gelombang tekanan menyebar.
Bahkan, dari kejauhan… orang-orang di dalam kerajaan mulai melihatnya.
“Lihat itu!”
“Angin biru.”
“Latihan siapa itu?”
Langit di atas area latihan mulai bergetar. Cahaya biru berkilat. Desiran angin terdengar hingga ke berbagai sudut kerajaan.
Reyd melesat maju. Mengayunkan pedangnya. Angin padat keluar dari setiap gerakan.
Namun, Durkes tetap berdiri. Seperti tembok yang tidak tergoyahkan.
Ia menangkis lagi. Dan lagi. Tanpa mundur dari tempat. Tanpa goyah.
“Ayo keluarkan kekuatan terkuatmu.”
Katanya singkat.
“Jika kau ingin menang… tunjukkan lebih dari ini.”
Reyd terengah sedikit. Namun matanya tetap menyala.
Karena ia sadar, lawan di depannya bukan sekadar panglima. Melainkan… standar kekuatan yang harus ia lampaui.
soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?
what happen?