Warning!!!!!!
Shenina Valerie Arous hanya menginginkan satu hal—cinta yang tulus.
Namun, pria yang ia cintai justru memberinya kasih sayang karena rasa kasihan.
Saat hatinya hancur, seorang pria berbahaya muncul dalam hidupnya.
Arsen Erzaquel Lergan—pewaris keluarga ternama yang terbiasa mendapatkan segalanya, termasuk dirinya.
Obsesi Arsen bukan cinta. Itu lebih seperti penjara yang tak terlihat.
Di saat yang sama, Andrew Kyle hadir sebagai satu-satunya pria yang tulus, rela melakukan apapun demi kebahagiaannya.
Di antara cinta, obsesi, dan pengkhianatan—
pilihan Shena akan menentukan apakah ia akan diselamatkan… atau justru hancur lebih dalam.
Dan ketika sebuah rahasia besar terungkap, segalanya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nupitautari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Shena menoel kepala Arsen dengan telunjuknya. "Hei, temani aku ke UKS. Kepala ku sedikit pusing". Ekspresinya dramatis, sangat mudah ditebak itu di buat-buat.
Arsen mengibaskan tangannya malas. "Suruh pacarmu mengantarmu".
"Ouhh aku tidak bisa mengganggu pacarku yang sedang belajar. Ayo temani aku, teman sebangku. Bukankah kita harus mengakrabkan diri". Wajahnya sedikit memelas dan itu cukup manis terdengar di telinga Arsen.
Arsen tersenyum. Bahkan ketika ia tahu Shena hanya berpura-pura, ia tetap menyukainya. Ia bangun dari tidurnya dan menatap Shena. "Ahh... Aku tahu niatmu dari awal terhadapku. Yah memang pesonaku sulit untuk di tolak"? Dia berlagak dengan sombong. Hidung Shena mengernyit geram.
Arsen hendak berdiri namun sesuatu yang aneh muncul. Ia tak bisa berdiri. Pantatnya menempel dengan kuat di kursinya. Ia menoleh ke arah Shena dan menatapnya tajam. "Apa ini ulahmu?"
Shena berusaha untuk mengontrol ekspresinya. Ia membuka mulutnya seolah ia bingung. "Hah... Ulah apa?"
Arsen menahan kekesalannya. Ia menggeram karena kesal dengan Shena. Ini pasti ulahnya. Shena mengerjainya. "Aku tahu ini ulahmu. Kau menaruh lem di kursi ku, bukan".
Shena berakting tanpa berkedip. "Teganya kau menuduh teman sebangku mu. Jika tak mau menemaniku ke UKS ya sudah". Ekspresi sedihnya bahkan dibuat-buat.
Arsen menggeram kesal. Ia meletakkan telapak tangan kirinya di atas meja dan menahan bagian belakang kursi dengan tangan kanannya lalu berdiri sekuat tenaga dan....
"Srettt...."
Sebagian celananya menempel di kursi. Semua orang terkejut dan tercengang melihatnya. Mulut Shena bahkan terbuka lebar karena terpana dengan pemandangan didepan matanya. Shena menatap pantat Arsen yang hanya terbalut celana boxer hitam yang ketat dengan penuh minat. Ia menatap wajah Arsen yang geram karena kesal. Tatapan mata Arsen tajam menghunus Shena sementara Shena berminat untuk menggodanya. "Woaaaa... Pantat mu sangat seksi". Ia bahkan bisa terkikik menertawakan Arsen.
Wajah Arsen memerah sampai ke telinga. Urat di lehernya bahkan muncul dan menonjol. Ia kecolongan. Bagaimana mungkin pantatnya tidak merasakan ada lem di kursinya.
Ello ketar-ketir melihatnya. Ia tahu dari ekspresi dan tindakan Shena bahwa Shena lah pelakunya. Ia segera berdiri dan menarik tangan Shena pergi dari ruang kelas.
Arsen diam saja melihat Shena di bawa pergi. Ia kesal pada Shena dan sedang tidak bisa meladeninya. Ia ingin mengamuk tapi hatinya berjuang menahan diri.
Nick, Martin dan Lucas langsung menghampiri Arsen dan memberikan jaket untuk menutupi pantatnya. Mereka pasang badan untuk Arsen membentak. "Siapa yang berani melakukan ini, hah???" Teriak Lucas.
"Kalian sudah bosan hidup. Cepat mengaku". Timpal Martin membantu.
Arsen yang sudah tahu siapa pelakunya tidak menimbrung ikut berteriak. Ia memilih keluar dan pergi.
.
.
.
Ello menarik tangan Shena sampai atap gedung. Ia melepaskan tangan Shena ketika sudah sampai. Shena terasa dikuliti melihat tatapan tajam Ello. "Kau yang melakukan itu pada Arsen?" Tanya Ello penuh selidik.
Ekspresi Shena sedikit panik dan kikuk. Ia tidak terbiasa berbohong pada Ello. "Itu karena dia memukulmu. Aku hanya membalasnya". Ucap Shena tak mau di salahkan.
Ello marah. Tindakan itu dapat membahayakan Shena. Arsen kejam. Bahkan jika itu wanita, ia tak akan segan untuk memukulnya. "Bukankah sudah ku bilang untuk jauh-jauh darinya. Shena, Arsen itu berbahaya. Apa kau ingin membuatku terlibat masalah dengannya, hah???" Bentak Ello pada Shena.
Shena terkejut ketika Ello membentaknya. Ello jarang membentaknya kecuali ia benar-benar marah pada Shena. Shena merasa kesal karena Ello membentaknya. Ia melakukan itu karena Ello. Ia membalaskan dendam Ello. Meskipun Shena salah, seharusnya tak perlu untuk membentaknya seperti itu. Ia menangis kesal. "Aku tidak akan membuatmu dalam bahaya. Aku akan menanggung semuanya sendiri". Ia sesenggukan dan mengusap air matanya dengan tangan kiri.
"Bagaimana kau akan menanggungnya, hah??? Menerima pukulan darinya???" Bentak Ello. Nada suaranya semakin meninggi.
Shena menundukkan kepalanya. Kepalanya berguncang tanda ia masih menangis. "Aku akan menyelesaikannya sendiri. Kamu ga akan terlibat".
Ello menggeram kesal. Ia membuang muka dan menatap Shena putus asa. Shena memulai permusuhan dengan orang yang berbahaya. Ini adalah Arsen Erzaquel Lergan. Bagaimana ia mampu melindungi Shena sendirian di tempat ini.
Shena kesal Ello memarahinya. Ia melirik Ello sekilas dan wajah Ello tampak marah. Ia menundukkan kembali pandangannya dan kabur berlari secepat kilat. Ello bahkan tidak menduga. Ia ingin mengejar namun mengurungkan niatnya. Ia ingin menenangkan diri dan mencari solusi bagaimana agar Shena tetap aman dan berhenti membuat masalah.
.
.
.
Shena mencari Arsen ke ruang olahraga. Celana Arsen robek dan ia pasti akan datang ke sini untuk mengganti celananya. Itu yang Shena pikirkan dan benar saja. Arsen ada di dalamnya.
Arsen sedikit terkejut ketika ada yang membuka pintu. Ia terpaku sejenak melihat Shena datang sambil menangis. Air matanya membasahi seluruh pipinya.
Shena berjalan menuju Arsen. Ia berhenti tepat dihadapan Arsen. Shena menyodorkan kepalanya pada Arsen dan berkata. "Aku yang naruh lemnya. Kamu boleh pukul kepalaku". Suaranya bahkan sedikit terisak.
Arsen bingung dengan apa yang dilakukan Shena. Apa yang terjadi? Kenapa dia mengaku? Haruskah ia memukul kepala Shena atau mencubit pipinya? Batin Arsen.
Arsen menetralkan ekspresinya dan berdehem. "Kenapa tiba-tiba mengaku?"
"Jangan banyak tanya. Pukul aja". Bentak Shena kesal.
"Cih.." Arsen berdecih. "Kau lebih memilih untuk dipukul dari pada meminta maaf fengan benar" ejek Arsen.
Shena menatap Arsen kesal dan sengit. Matanya bahkan melotot karena marah. "Aku membiarkanmu memukulku itu adalah bentuk ketulusan hatiku tau".
Arsen tersenyum receh dan mengejek Shena. "Ahhh... Ternyata bentuk ketulusan hatimu begitu keras ya".
Wajah Shena memberengut. "Menunduklah. Biar aku memberimu pukulan paling menyakitkan" lanjut Arsen.
Dengan wajah yang masih cemberut dan bekas air mata yang masih tersisah, Shena langsung menundukkan kepalanya dengan patuh. Matanya terpejam begitu rapat menunggu dengan cemas apa sakit atau tidak.
Arsen gemas melihatnya. "Lihatlah dia. Padahal takut tapi sok-sok berani". Ia tersenyum lucu melihat mata Shena yang terpejam rapat sementara kepalanya diarahkan padanya untuk bersiap menerima pukulan.
Shena menunggu beberapa detik dan belum terjadi apapun. Ia membuka satu matanya dan melihat Arsen dengan mata memicing.
"Hei, jangan mengintip" tegur Arsen. "Aku sedang mengumpulkan energi" lanjutnya.
Shena menutup kembali matanya. Arsen menimbang sesaat hukuman seperti apa yang harus ia berikan terhadap bocah nakal di depannya ini.
*Hi readers. Jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian pada novel ini dengan cara berikan komentar terbaik kalian, kasih like dan vote novel ini ya. Akan ada banyak keseruan yang kalian dapatkan. Happy reading all 🙏