Selalu dianggap jelek dan dihina oleh suami dan keluarganya, bahkan hingga diceraikan. Membuat Nadi Djiwa membalaskan dendamnya dengan merubah penampilannya, ia ingin membuat mantan suaminya menyesal karena telah menceraikannya, dan ia pun ingin merebut kembali perusahaan yang ia rintis dari nol.
Akankah Nadi berhasil membalaskan dendamnya? Cerita selengkapnya hanya ada di novel Beauty - NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Sejak kemarin siang hingga pagi ini Nadi tidak dapat berhenti memikirkan Aaron. Ia masih tak habis pikir, bagaimana bisa seorang pria yang sudah memiliki istri memberikan perhatian lebih kepada wanita lain? Apa karena istrinya kurang menarik lagi sehingga dia boleh main serong? "Ternyata semua pria sama. Aku tidak ingin menjadi seperti Cindy, janda yang menjadi simpanan pria beristri. Aku tidak akan membiarkan Aaron memberikan perhatiannya padaku," Ia terus menggerutu sepanjang memasuki kantornya, hingga ia tak menyadari telah menabrak seorang bocah.
Nadi sendiri heran bagaimana bisa di kantor Sofie ada seorang bocah, sepengetahuannya peraturan di kantor ini di larang membawa anak kecil. Bicah cantik itu mendongak menatap Nadi dengan tatapan memelas dan takut sebab ia telah menjatuhkan ice cream ke sepatu Nadi. "Aunty, maafkan aku. Akuntidak sengaja menjatuhkan ice cream ke sepatumu."
Nadi berjongkok dan memegang bahu bocah cantik itu. "It's okay baby. Ini hanya masalah kecil, kau tidak perlu cemas," ia mengaduk-aduk isi tasnya, kemudian menemukan tisu basah. Nadi membersihkan sepatunya dengan tisu basah tersebut. "Sudah bersih seperti semula kan?"
"Alyssa," seorang pria dengan langkah yang tergesah-gesah dan suara yang begitu panik mendekat ke arah Nadi dan bocah itu. "Rupanya kau di sini sayang? Papa dari tadi mencarimu."
Ketika Nadi mendongak, kemudian berdiri ia melihat Aaron tengah menggendong bocah itu. Jadi ini anaknya Aaron?
"Oh, Nadi maafkan putriku yang sudah menumpahkan ice creamnya." Aaron langsung tahu Alyssa menumpahkan ice cream dari sisa ice cream di lantai dan tisu basah yang berada di tangan Nadi.
Nadi menggeleng. "Tidak apa-apa Pak Aaron. Nanti aku akan office boy untuk membersihkan lantainya," ia mengelus lengan Alyssa dengan lembut. "Tadi putrimu yang manis ini pun sudah meminta maaf padaku." Nadi tersenyum manis pada Alyssa.
"Tapi ngomong-ngomong ada apa Pak Aaron pagi-pagi datang kemari?"
"Pekerjamu dari kemarin sore berhenti bekerja. Sepertinya mereka kehabisan bahan bangunan, aku ingin tahu apa perusahaan Sofia memiliki masalah sampai-sampai kalian kalian kehabisan bahan bangunan?"
Nadi mengerutkan keningnya, seingatnya kemarin siang setelah dari lokasi ia mentransfer sejumlah uang kepada vendor yang biasa memasok bahan bangunan yang mereka butuhkan. "Ini pasti ada kesalahan," ia bergegas ke ruang kerjanya.
"Nad, kita mengalami masalah..." ucap Sofia ketika Nadi masuk keruang kerjanya, di ikuti Aaron bersama putrinya yang berada di gendongannya.
"Ia aku sudah tahu," potong Nadi, ia menyambar telepon dan menghubungi mandor yang bertugas di lapangan untuk mencari tahu. Tak banyak informasi yang Nadi dapatkan sebab mandor tersebut pun sudah menghubungi kurir yang mengantar bahan bangunan, dan mereka bilang semuanya sudah di antar ke lokasi, tapi kenyataannya sang mandor dan pekerjanya tidak ada yang menerima bahan bangunan tersebut.
Nadi kembali menekan angka-angka pada telepon kantornya, kali ini ia menghubungi pemilik toko bangunan yang bekerja sama dengannya. Alangkah terkejutnya Nadi ketika mengetahui Surya-lah dalang di balik semua ini. 'Brengsek,' batin Nadi. Surya yang mengaku masih bersatus suaminya, meminta sang pemilik toko untuk mengirim bahan bangunan ke basement tempat lahan projectnya.
Nadi menjelaskan bahwa dirinya sudah tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan Surya, dan ia memesan atas nama Soe Karya. "Kami minta maaf atas keteledoran kami, kami sama sekali tidak tahu.." ucap pemilik toko dengan penuh penyesalan. "Sebagai gantinya kami akan mengirimkan kembali bahan bangunan yang kemarin kau pesan."
"Terima kasih. Nanti akan aku transfer ulang untuk pembayarannya." Nadi sadar kesalahan terbesar dalam masalah ini adalah Surya, sehingga tak sepatutnya ia melimpahkan kerugian ini pada pemilik toko.
Nadi menaruh kembali telepon di atas meja, kemudian ia menghadap ke arah Dofia dan Aaron sembari mengangkat bahu. "Seperti yang kalian dengar, Surya-lah dalamg semua ini."
Sofia menghembuskan napas berat. "Sebetulnya ini bukan kali pertamanya Surya membuat masalah," ucap Sofia ketika Alyssa mengulurkan tangannya ke arah Nadi. "Maksudmu?" tanya Nadi bingung sembari tersenyum ke arah Alyssa, ia pun mengulurkan tangannya dan mengambil Alyssa dari gendongan Aaron.
"Hati-hati. Alyssa agak berat."
"Kemarin Lusa aku dapat kabar dari Pak Bayu, jika material kita di ganti oleh seseorang, dan setelah di selidiki ternyata pekerja Surya-lah melakukannnya."
"Tapi kalian tidak perlu cemas, hari ini aku sudah suruh orang memasang CCTV. Jika mereka kembali terbukti melakukan kecurangan lagi. Dengan terpaksa aku akan membatalkan kontrak kerja sama ini," sahut Aaron, ia ingin mengambil Alyssa dari gendongan Nadi namun rupanya Alyssa sudah terlanjur nyaman dan tak ingin beralih.
"Aku masih ada meeting dengan client, kabari aku jika ada perkembangan lainnya." Sofia meraih berkas yang berada di meja kerja Nadi, kemudian ia pergi.
Aaron kembali mengulurkan tangannya. "Ayo sama Papa kita ke kantor Papa. Aunty Nadinya mau kerja." Alyssa menggeleng, ia menggengam erat kemeja Nadi. Hal itu membuat Aaron merasa tak enak dengan Nadi. "Ayo sayang, kita tidak bopeh mengganggu Aunty Nadi bekerja."
"Sudah-lah Pak Aaron, tidak apa-apa." Nadi membawa Alyssa duduk di sofa, ia mengelus punggung Alyssa dengan lembut. "Sepertinya Alyssa ngantuk, biarkan dia tidur dulu baru Pak Aaron bisa membawanya," ia membiarkan bocah itu di dadanya.
"Terima kasih ya, Die." Aaron tak punya pilihan lain selain menunggu putrinya tidur. "Maaf aku jadi merepotkanmu, aku terpaksa membawanya sebab pengsuhnya sedang sakit."
Nadi tersenyum, ia sama sekali tak merasa keberatan Alyssa tidur di pelukannya. Nadi justru sangat senang, sebab sudah lama sekali ia mendambakan seorang anak yang bisa ia peluk. "Ya, dalam sebuah keluarga memang harus ada kerja sama. Jika ibunya sedang sibuk dan pengasuhnya sedang sakit maka ayahnya-lah yang harus menjaganya."
"Ibunya sudah lama meninggalkannya," ucap Aaron. "Kami sudah berpisah sejak Alyssa masih berusia dua tahun."
Berpisah?
Ternyata Nadi telah salah menilai Aaron, ia sungguh malu dengan ucapannya kemarin sebelum keluar dari mobil Aaron.
"Tidak banyak orang yang tahu tentang perpisahan kami, sebab aku tidak ingin jadi bahan perbincangan publik. Hal itu bisa membuat Alyssa bersedih, aku tidak ingin menambah kesedihannya." Aaron mengelus kepala putrinya yang sudah tertidur lelap di pelukan Nadi.
"Aku dan Sarah sama-sama tidak saling mencintai, kami menikah karena di jodohkan oleh orangtua kami. Kami sudah berupaya untuk mencoba saling mencintai, namun Sarah menyerah setelah Alyssa sudah tidak ASI lagi, ia memilih untuk mengejar cinta lamanya. Meski tak pernah mencintai sarah, tapi aku begitu mencintai Alyssa. Dia sangat istimewa bagiku."