Ava Nandita adalah seorang remaja yang kaya dan cerdas namun terisolasi. Dia pecinta lolipop dan selalu membawa permen kesayangannya itu kemanapun dia pergi.
Suatu hari, Ava menemukan toko kecil di ujung jalan dekat tempat kursusnya. Dia membeli 2 toples besar berisi banyak sekali lolipop unik yang baru pernah dia lihat. Selain unik, lolipop ini ajaib. Setiap kali dia memakannya, dia bisa langsung pindah tempat dan waktu.
Awalnya, Ava terkejut dan bingung dengan apa yang terjadi padanya. Tetapi kesempatan ini dia gunakan untuk menggali pengetahuan tentang sejarah dan berpetualang menjelajah tempat-tempat eksotis.
Namun suatu hari, Ava menemukan seorang pria di abad ke-19 bernama Ethan yang membuatnya jatuh cinta. Ketika dia semakin terlibat dengan Ethan, hatinya terbelah antara cinta dan kewajiban untuk kembali ke waktunya sendiri.
Apakah Ava akan tetap bertahan di abad ke-19 atau kembali ke tempatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just.penelop3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku kembali lagi
Aku melihat lolipop yang membuatku berpindah tempat dan waktu. Memutar-mutarkannya dan tersenyum.
'Hmm.. Ternyata kamu penyebabnya.' batinku
Akhirnya aku mendapatkan jawaban dari semua yang aku pertanyakan. Aku memakan kembali lolipopku sambil melihat ke sekeliling berharap ada Elisa di sini. Namun aku tak menemukan siapapun di taman itu. Hanya ada beberapa orang namun jauh dari tempatku berada.
Aku memperhatikan pakaianku.
‘Untung aku memakai celana panjang, kaos, dan sendal.’ Batinku lega. ‘Aku membawa HP juga. Tapi sayang aku tidak membawa baju Elisa. Aku harus mengembalikannya nanti.’
Aku memutuskan untuk berjalan ke arah rumah Elisa. Aku harap dia ada di rumahnya.
Hari ini taman ini tidak terlalu ramai seperti pertama kali aku datang. Mungkin karena hari kerja jadi tak banyak pengunjung.
Aku berjalan kurang lebih 10 menit. Rumah Elisa memang tidak terlalu jauh.
“Elisa!” panggilku.
Aku melihat Elisa yang berada di depan rumahnya. Dia terlihat seperti baru pulang dari suatu tempat.
Elisa membalikkan badannya ke arahku.
“Ava!” ujarnya sambil berlari dan memelukku.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya cemas sambil memperhatikanku dari ujung kaki ke ujung kepala.
“Aku baik-baik saja, Elisa.” Ujarku. “Maafkan aku, aku tidak membawa baju yang kau pinjamkan.”
“Ayo masuk Ava. Kita bicara di dalam.” Ujar Elisa.
Kami pun masuk ke dalam rumahnya. Kali ini Elisa mengajakku berbicara di kamarnya.
“Aku shock dan kebingungan saat melihatmu menghilang begitu saja di depanku.” Ujar Elisa.
“Aku pun sama, Elisa.” Ujarku. “Tapi aku sudah tahu mengapa aku bisa berpindah tempat.”
“Beritahu aku, Ava.” Pinta Elisa yang terlihat penasaran.
“Ini penyebab aku bisa ada di sini.” Ujarku sambil menyodorkan lolipop. “Saat aku menghabiskan lolipop, aku kembali ke tempatku. Aku pikir aku hanya mimpi. Ternyata tidak, Elisa. Aku masuk ke kamar mandiku dan menyadari aku memakai bajumu.” Aku menjelaskan yang ku pikirkan pada Elisa.
“Ya benar, Ava. Maafkan aku sempat tidak mempercayaimu. Aku percaya sekarang. Karena benar kamu menghilang di depan mataku.” Ujar Elisa. “Aku lega bisa melihatmu kembali.”
“Terima kasih sudah percaya padaku, Elisa.” Ujarku sambil tersenyum.
Walaupun Elisa sempat ragu padaku, namun kini dia mempercayaiku. Aku senang mendengarnya.
“Elisa, aku tidak bisa lama-lama di sini. Tapi tahukah kamu ini?” tanyaku sambil menunjukkan hpku padanya.
“Apa itu, Ava?” tanya Elisa bingung.
“Ini namanya handphone. Tetapi tidak ada sinyal sama sekali di sini. Kita bisa menelepon siapa saja dengan mudah, atau berkirim pesan karena di tempatku berada, hampir semua orang mempunyai handphone.” Ujarku.
“Bolehkah aku memegangnya?” tanya Elisa ingin tahu.
“Tentu.” Jawabku sambil memberikan hpku padanya.
Elisa memperhatikan hpku dengan seksama.
“Tahukah kamu Elisa, kita dapat berfoto atau membuat video dengan hpku.” Ujarku.
“Benarkah?” tanya Elisa bersemangat.
“Ya.” Jawabku.
Aku meminta Elisa memberikan hpku, aku mulai membuka kamera depan dan berfoto bersamanya. Tentu Elisa kebingungan. Tapi aku mengarahkannya untuk bergaya. Kami pun berfoto bersama.
Tak hanya berfoto. Aku mengajari Elisa untuk berbicara di video. Kami membuat video tentang pengalaman kami dapat bertemu satu sama lain.
Kami bersenang-senang. Ingin rasanya berlama-lama di sini, tapi aku harus kembali. Aku sudah pergi dari kamarku selama tiga jam.
“Aku harus kembali, Elisa. Atau semua orang akan mencariku.” Ujarku.
“Tapi apakah kamu akan kembali ke sini lagi, Ava?” tanya Elisa sedih mendengarku akan cepat kembali.
“Tentu. Aku akan kembali mengembalikan bajumu, Elisa.” Ujarku. “Aku besok harus sekolah. Aku akan kembali lusa atau hari Sabtu.”
“Menginaplah di sini lain waktu, Ava.” Pinta Elisa.
“Ya, aku akan menginap nanti. Aku akan membuat alasan untuk orang tuaku, supaya mereka tidak mencariku. Dan aku harus membawa tempat untuk menyimpan lolipopku.” Ujarku.
“Aku ingin mengenalkanmu pada kakakku.” Ujar Elisa.
"Baiklah. Sampaikan salamku puntuknya." ujarku. “Dan aku akan mencetak foto kita berdua dan memberikannya padamu. Jadi kamu bisa menyimpannya.”
“Terima kasih, Ava. Dan akan aku sampaikan salammu pada kakakku.” Ujar Elisa.
“Sama-sama, Elisa.” Ujarku.
“Jika kamu menginap di sini, aku akan mengajakmu berkeliling kota.” Ujar Elisa.
“Ya, please. Aku ingin sekali berjalan-jalan. Aku akan mengatur waktunya agar aku bisa menginap di sini.” Ujarku bersemangat.
“Aku lupa menanyakan ini padamu, Elisa. Kamu tidak sekolah?” tanyaku.
“Aku sekolah di pagi hari, Elisa. Sekitar jam dua aku sudah pulang ke rumah. Aku akan lulus tahun depan. Dan mencari pekerjaan untuk membantu kakakku.” Jawab Elisa.
“Baiklah. Sepertinya jam aku sampai di sini sama dengan jam di tempatku.” Ujarku berpikir. “Aku akan datang setelah aku pulang sekolah dan tidak ada kursus.”
“Kamu kursus apa, Ava?” tanya Elisa.
“Musik dan gambar.” Jawabku.
“Kamu bisa main alat musik apa?” tanya Elisa. “Gambar? Kamu mau menjadi pelukis?”
“Gitar, biola, dan piano. Tidak Elisa, aku hanya suka menggambar.” Jawabku.
“Wah. Kamu hebat, Ava.” Ujar Elisa.
“Terima kasih, Elisa. Itu hanya hobiku saja. Dan beruntung dapat belajar lebih dalam lagi. Dan orang tuaku mendukungku.” Ujarku.
“Ya, kamu beruntung Ava. Dan sejak kapan kamu belajar musik dan gambar?” tanya Elisa.
“Sejak aku kecil.” Jawabku.
“Aku ingin sekali bisa bermain alat musik.” Ujar Elisa.
“Aku bisa mengajarkanmu. Ku lihat kamu memiliki piano di ruang keluarga.” Ujarku.
“Ya, itu piano ayahku. Aku dan kakakku tidak ada yang bisa memainkannya. Tapi kami menyimpannya sebagai kenang-kenangan dari ayah. Dulu ayah sering memainkan piano dan kami bernyanyi bersama.” Ujar Elisa. “Terima kasih, Ava. Aku akan sangat senang jika kamu mau mengajarkanku.”
“Kenangan yang sangat indah, Elisa. Dan tentu saja. Dengan senang hati aku akan mengajarkanmu. Kamu akan menjadi murid pertamaku dari tahun 1990.” Ujarku sambil tertawa dan Elisa pun tertawa mendengarnya.
Tak terasa lolipopku hampir habis. Sudah sekitar sepuluh menit aku memakannya.
“Elisa, sudah saatnya aku pulang. Lihat lolipop ini sudah hampir habis.” Ujarku sambil menunjukkan lolipopku pada Elisa.
“Baiklah, Ava. Terima kasih untuk hari ini. Hari ini sungguh menyenangkan bersamamu.” Ujar Elisa sambil memelukku.
“Aku pun merasa senang hari ini, Elisa. Terima kasih.” Ujarku membalas pelukannya.
Aku bersiap-siap untuk kembali ke tempat dan waktuku. Hanya sekali gigitan pada lolipopku, aku akan langsung berada di kamar.
Dan....
..._____...
'Aku kembali.' batinku.
Aku tersenyum sambil melihat ke sekililing kamarku yang sudah gelap. Aku pun menyalakan lampu kamar dan mengecek galeri hpku.
‘Aku punya foto dan video dengan Elisa’ batinku senang. ‘Aku akan mencetaknya untuk Elisa.’
Aku pun keluar kamar dan berjalan ke dapur untuk menghampiri bi Wina.
Aku lapar!
bunga 🌹 untuk si lolipop😁