NovelToon NovelToon
SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:172.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Chyntia R

Medeline Arcela Forza, dijual oleh Kakak tirinya di sebuah tempat judi. Karena hal itu pula, semesta kembali mempertemukannya dengan Javier Antonie Gladwin.

Javier langsung mengenali Elin saat pertemuan mereka yang tak disengaja, tapi Elin tidak mengingat bahwa dia pernah mengenal Javier sebelumnya.

Hidup Elin berubah, termasuk perasaannya pada Javier yang telah membebaskannya dari tempat perjudian.

Elin sadar bahwa lambat laun dia mulai menyukai Javier, tapi Javier tidak mau perasaan Elin berlarut-larut kepadanya meski kebersamaan mereka adalah suatu hal yang sengaja diciptakan oleh Javier, karena bagi Javier, Elin hanya sebatas teman tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chyntia R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Pertemuan kembali

"Masuk!"

Dan akhirnya aku harus menyusul belakangan ke lantai 5, setelah sebelumnya memilih untuk ke toilet lebih dulu. Ini semua karena perkataan Gwen sangat menyentil sisi hatiku yang terdalam. Aku membutuhkan ruang untuk meredakan rasa sakit saat dihina seperti itu.

Entah kenapa Tuan Gladwin harus memilihku lagi, hingga menyebabkan ku harus berada dalam posisi seperti ini.

Tadinya, aku bahkan sempat berniat untuk melarikan diri lewat celah yang ada di kamar mandi, nyatanya itu tidak segampang ekspektasi ku. Alhasil, aku harus benar-benar kembali menghadapi Tuan Gladwin disini karena akhirnya dia yang lebih dulu masuk ke ruangan yang ada di lantai 5.

Ruang yang menyediakan fasilitas bak kamar hotel bintang 5 itu selalu menjadi pilihannya. Ini adalah kali kedua ku berada disini bersama pria yang sama pula.

"Mau disana sampai pagi?" Dingin pria itu menyapaku yang masih mematung di ambang pintu.

Aku menggeleng-gelengkan kepala.

"Tutup pintunya!" titah Tuan Gladwin dan aku melakukannya juga meski dengan ragu-ragu.

Kali ini tidak ada hal seperti kemarin dimana dia menyerahkan bathrobe untuk ku kenakan. Tuan Gladwin masuk ke kamar mandi sendirian, sedang aku bingung harus melakukan apa selain berdiri dengan kepala yang menunduk.

Beberapa menit berlalu, pria itu keluar dari kamar mandi hanya mengenakan secarik handuk yang membalut tubuh bagian bawahnya. Aku spontan membuang pandangan karena tidak nyaman menyaksikan pemandangan itu, meski naluri kegadisanku merasa penasaran melihat tubuh Tuan Gladwin tapi aku berusaha mengenyahkan pemikiran semacam itu.

Tidak sekalipun aku berani bertatap atau beradu mata dengannya. Aku takut, karena tatapan pria itu selalu mengintimidasi.

"Kau sudah mandi?"

Kenapa dia bertanya begitu, apa penampilan dan aroma tubuhku seperti orang yang belum mandi? Tapi tidak mungkin aku menyatakan hal itu padanya, aku hanya merespon pertanyaannya dengan anggukan.

"Baguslah. Ini sudah sangat larut. Jadi, tidurlah."

"A-apa?" tanyaku terdengar tak yakin dengan ujarannya barusan.

Tuan Gladwin tidak menyahut, dia mengambil ransel yang diletakkan didekat sofa lalu tampak mengeluarkan sesuatu.

"Ini, pakailah ... aku yakin kau tidak nyaman menggunakan pakaian seperti itu untuk tidur," katanya merujuk pada gaun yang ku kenakan.

Ragu aku menerima bungkusan darinya, tapi akhirnya tanganku berhasil meraih itu dan mengetahui jika isinya adalah piyama lengkap.

Tuan Gladwin tidak mengatakan apapun lagi, dia juga tampak mengambil sesuatu dari ranselnya--yang ku lirik jika itu adalah sebuah celana pendek.

Sementara aku masih terheran-heran dengan hal ini. Namun, buru-buru aku masuk ke bilik kamar mandi dan mengesah panjang dibalik pintunya.

"Syukurlah jika dia memang tidak berniat macam-macam padaku. Tapi, apa iya? Atau ini hanya cara awal darinya agar aku tidak melawan?" batinku terus bertanya-tanya.

Tak ingin terus larut dengan pemikiran itu, aku memilih mengenakan piyama yang tadi diberikan Tuan Gladwin padaku. Siapa sangka ternyata itu adalah piyama yang tampak sangat sopan. Berlengan panjang, lengkap dengan celananya yang juga menyentuh mata kakiku.

Aku keluar dan menghampiri sisi tempat tidur dengan perasaan gugup, karena Tuan Gladwin sudah berbaring disana. Lagi-lagi aku takut ini hanya semacam taktik Tuan Javier untuk mencapai maksud yang sebenarnya.

"Tidur, Elin."

Suara serak itu kembali menyadarkan ku.

"Ah, ya, Tuan."

Perlahan tapi pasti, aku mulai menaiki ranjang dan ikut membaringkan tubuh disamping pria bertampang dingin itu. Jika ku perkirakan, usianya mungkin setara dengan Liam. Sekitar 28 atau 29 tahun. Tapi, entahlah. Aku tidak seberani itu untuk menanyakannya atau terlibat percakapan yang lebih pribadi padanya.

Yang paling membuatku heran, Tuan Gladwin kembali tertidur pulas dengan dengkuran sesaat setelah aku ikut bergabung di selimut yang sama dengannya. Aku sampai speechless dibuatnya. Ternyata dia benar-benar tidak menyentuhku sama sekali.

Haruskah aku kembali bersyukur atas hal ini?

Tapi, mengingat perkataan Gwen pagi tadi, jika mereka berdua selalu menghabiskan malam bersama dengan panas, cukup membuatku bingung. Kenapa jika denganku Tuan Glawin tak seperti itu? Pertanyaan itu muncul begitu saja, bukan karena aku ingin ditiduri olehnya tapi bukankah ini memang aneh?

...***...

Ketika subuh, aku terbangun. Tepatnya aku tidak bisa terlelap dengan nyenyak semalaman. Aku melirik ke samping, berharap Tuan Gladwin sudah pergi seperti saat kemarin aku menemukan diri yang sendirian saat membuka mataku.

Nyatanya, pria itu masih tertidur disampingku dan ... apa ini?

Meski Tuan Gladwin masih lelap, tapi Aku dapat merasakan jika kini tangannya berada diatas perutku seperti tengah memeluk dengan posesif. Aku sedikit tersentak dengan hal ini, juga merasa tak nyaman karena terlibat skinship dengannya.

Perlahan aku memegang tangan besar itu dan berniat memindahkannya. Namun, pergerakanku itu justru membuat Tuan Gladwin terbangun.

"Elin?"

"Y--ya, Tuan."

"Jam berapa ini?"

Aku melirik jam dinding untuk menemukan jawabannya. "Jam 6, Tuan."

Seketika itu juga Tuan Gladwin terduduk. "Astaga, aku terlalu nyenyak," gumamnya yang masih dapat terdengar di indera telingaku.

"Aku harus pulang, lain kali kalau aku tertidur sampai jam ini, kau harus segera membangunkan ku."

"Baik, Tuan. Maaf aku tidak tau. Lain kali aku akan membangunkan Tuan."

"Hmm ..." Tuan Gladwin sibuk memakai bajunya karena semalaman dia memang tidur dengan berte-lan-jang dada.

Aku hanya bisa melihat setiap pergerakannya dari posisiku dengan perasaan yang entah bagaimana.

Tak berapa lama, Tuan Gladwin mengenakan jaket kulitnya dan mengambil dompetnya. Dia lalu mengeluarkan lembaran uang tunai yang pada akhirnya diserahkan ke arahku.

"Ambilah, Elin."

"Bukankah Tuan sudah membayar lewat Tuan Aro?"

"Ini diluar itu. Aku hanya mau memberimu."

"Yang kemarin sudah terlalu banyak," jawabku jujur.

Tuan Gladwin mengulas senyum tipis. "Aku tidak punya banyak waktu untuk memaksamu, jadi ... ambil atau aku tidak akan memberimu tip lagi sampai kapanpun."

Akhirnya aku menerima uang itu, bukan karena aku memang ingin, tapi karena aku menghargai pria yang sejak tadi sudah mengulurkan uang tersebut ke arahku.

Setiap aku menerima uang seperti ini, aku jadi merasa benar-benar murahan. Aku menghela nafas panjang untuk meredakan gejolak amarah yang timbul dalam diriku. Nyatanya, aku memang sudah menjelma menjadi gadis seperti itu sekarang. Rasanya aku mulai membenci diriku sendiri.

"Aku pulang." Tuan Gladwin mengambil helm fullface nya diatas meja. "Ah, ya ... satu lagi, besok mungkin aku tidak datang, jadi ambilah cuti," katanya.

"Cuti?" ulangku yang tak mengerti maksud perkataannya. Bagaimana bisa aku mengambil cuti sedang aku baru bekerja dua hari?

"Ya, aku akan mengatakannya pada Aro."

Aku hanya diam tanpa bisa menjawab lagi. Bukankah ini seperti Tuan Gladwin yang mengistimewakan ku?

Pria itu pun berlalu dari kamar yang kami tempati. Kendati demikian, aku tidak mau terburu-buru dengan langsung keluar juga.

Seperginya Tuan Gladwin, aku bangkit dari tempat tidur dan menyibak gorden jendela. Aku berencana untuk kabur kembali lewat jendela ini.

Ku coba menekan kuncinya dengan niat menemukan celah untuk melarikan diri. Aku tidak mau terus terjebak disini. Stelah sedikit usaha karena itu terkunci dengan erat, akhirnya jendelanya terbuka juga. Ingin sekali aku berteriak karena aku sudah berhasil membukanya.

...Bersambung ......

Mohon dukungannya untuk novel ini agar terus berlanjut. Dengan cara kirim vote, gift, like dan tinggalkan komentar di tiap babnya. makasih ya guys❤️

1
melting_harmony
Luar biasa
Masal Njeber
Biasa
S.Syahadah
menurut aku cerita nya ringan dan ga mau berhenti baca hehe
S.Syahadah
ini udh bab berapa ya aku kenyamanan baca hahaha
COOL_I4N
nice thor. suka endingnya. tp alangkah lebih klimaks kl gak ada adegan javier mengotori tangannya membunuh liam+irina hik hik. membalas nya gak perlu sadis2 thor ky di dunia mafia.
COOL_I4N: tp aku mau baca karya author yg lain. semoga lebih bagus dr novel ini. semangattttt thor
total 1 replies
COOL_I4N
jav+daddy nya sadis amat tho ky mafia aja yg udah biasa haus darah😭😭😭😭😭😭 agak so sad endingnya sadis gini.
COOL_I4N
wah harus nya liam dan irina di adu domba saja biar mereka saling menghabisi/menyiksa satu sama lain. sayang jav harus mengotori tangan nya sendiri
COOL_I4N: apalg irina kan punya keluarga yg notabene adalah keluarga orang kaya jg pasti punya kuasa apa gak resiko kl sampai mereka tau irina dibunuh
total 1 replies
COOL_I4N
wahhh kecewa thor kurang hot wkwkwkkw tp tetep romantis kok. mau thor untuk next ada detailnya. secara ini kan novel dewasa kok sopan amat ky novel teen aja xixixixixixi🤭🤭🤭🤭
COOL_I4N
yeayyyyu ada part extra tq thor. soalnya msh nunggu adegan malam pertama elin dan jav nih 🤭🤭🤭🤭
COOL_I4N
so sweeeeeettt 😍😍😍😍😍😍😍😍
COOL_I4N
thorr adegannya jangan sopan2. buat sampe elin dan javier skidipappappap🤣🤣🤣
COOL_I4N
aku suka detail2 kecil spt ini thor. author gambarkan jav melihat sekitar untuk memastikan ini dunia nyata atau mimpi setelah mendengar perkataan elin
COOL_I4N
huaaa sedihnya jd jav sampe gak bs bedain yg mana mimpi yg mana kenyataan😭😭😭😭 tolong endingnya yg klimaks ya thor. aku suka banget adegan dan dialog novel ini. sampe author bs buat adegan pertemuan elin dan jav dr jeruk nggelinding. surprise bgt pdhl pas baca awal elin udah nyiapin nata2 tempat buat piknik sampe ke dapur dan tau jav sdh datang kesan nya kok jd udah gak surprise. tp sekali lg author kasih surprise ke pembaca bs kasih adegan dan dialog yg bagus. suka suka suka
COOL_I4N
tp aku percaya pdmu thor mau dibawa kemana plot ceritanya
COOL_I4N
harusnya mama jav segera kabarin jav jangan ambil tindakan sendiri takutnya malah nglakuin kesalahan kehilangan kesempatan untuk nyelamatin elin dan bikin jav tambah marah. kan bs sampaikan pesan ke jack kl jav susah diajak omong
COOL_I4N
ya ampunt thor kasian jav 😭😭😭😭 aku bs bayangin kl jav depresi sampe pingin tidur trs. aku sendiri kl stres sedih bgt rs nya kepingin tdr gak bangun2. udah males ngapa2in, makan jg udah gak nafsu
COOL_I4N
ya ampun kasian jav sampe kepisah 2 th sm elin 😭😭😭
COOL_I4N
jahatnya nanggung thor. krn apa yg liam + irina lakukan dg rencana menjual elin bukannya berniat menghilangkan nyawa nya saja itu akan beresiko terbongkarnya kejahatan mereka
COOL_I4N
oh so sweet sekali pembicaraan javier & elin di gedung bioskop
COOL_I4N
so sweeeeeet jav😍😍😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!