Mohon bijak memilih bacaan!
Mampir ke IG @oceannavinli untuk lihat visual
🍃🍃🍃
Dalam keadaan mabuk berat, Selena salah masuk kamar yang terhubung antara satu lewat sebuah pintu khusus yang berada di dalam kamar
Ia tak tahu ternyata sang pemilik kamar adalah musuh bebuyutannya, siapa lagi kalau bukan Nickolas Andersean, seorang playboy cap kadal tengah mabuk berat juga.
Keesokan hari, keduanya orangtua mereka memergoki Nickolas dan Selena saling dalam keadaan telanjang. Bagai di sambar petir di siang bolong mereka pun dinikahkan segera tepat di hari itu.
Bagaimanakah kisah rumah tangga antara Nickolas dan Selena? Mengingat keduanya saling membenci satu sama lain? Dan apakah hati mereka bisa terhubung antara satu sama lain seperti sebuah kamar 'Connecting Room'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Six
"Nickolas, kenapa diam?"
Wanita yang sudah menjalin hubungan selama enam bulan itu, menghampiri Nickolas yang masih terdiam. Isabella mengalungkan kedua tangannya ke leher kekasihnya seketika kemudian menatap heran.
"Sayang, kau kenapa? Seperti melihat hantu saja?" tanya Isabella dengan mengerucutkan bibir.
Nickolas menarik nafas dalam. Berusaha mengatur degup jantungnya yang berdetak cepat sekarang.
"Hehe, tidak ada sayang, aku terkesima karena melihat bidadari di depan mataku," ucapnya sambil memegang pinggang Isabella.
Isabela tersipu malu mendengarnya. Rona merah di kedua pipinya nampak jelas.
"Kau pandai sekali menggombal sayang."
Nickolas sebisa mungkin merekahkan senyuman di saat detak jantungnya belum normal. Masih was-was jikalau Isabella tahu kalau ada Selena di dalam kamar-nya. Apalagi pacarnya itu selalu bercerita kalau dia membenci Selena. Nickolas pun tak tahu apa yang membuat Isabella menaruh rasa benci pada Selena. Dia menebak karena persaingan di dalam dunia modelling.
"Kenapa kau ada di sini? Bagaimana kau bisa tahu nomor apartmentku?" tanyanya kemudian.
Isabella langsung memasang wajah manyun. "Semua ini salahmu, karena teleponku tidak kau angkat sayang, katanya malam ini kau mau ke apartment-ku tapi aku tunggu, kau tidak datang, makanya aku ke sini."
Nickolas nampak mangut-mangut sejenak. Menampilkan raut wajah bersalah karena memang sewaktu di restaurant handphonenya di sita Mommynya.
"Kau lupa atau apa, Nick?! Tentu saja aku tahu, kau pernah memberi tahuku nomor apartmentmu!" Isabella kembali menambahkan dengan nada ketus.
"Maafkan aku sayang, ternyata kolegaku mengajakku makan malam tadi, aku lupa kalau pernah memberitahumu nomor apartment-ku."
Isabella membalas dengan mendelikkan mata sejenak.
"Jangan ngambek ya sayang, bagaimana kalau kita pergi ke mall, kau mau tas apa? Aku akan membelikan apapun yang kau mau," ucap Nickolas berusaha membawa Isabella keluar dari apartment-nya saat ini.
Isabella menurunkan tangan kemudian melipat tangan di dada.
"Aku masih ngambek! Tidak! Aku tidak mau tas!" serunya dengan nada manja.
Nickolas menghela nafas berat. Nampaknya dia harus berusaha lagi membujuk Isabella untuk keluar bersamanya.
"Jangan ngambek donk sayang, kemarilah, bagaimana kalau kita makan di luar, aku masih lapar." Nickolas menarik pinggang Isabella lagi.
Isabella menggeleng cepat.
"Lalu kau mau apa?" tanya Nickolas kemudian melihat sang kekasih masih cemberut.
Ekspresi Isabella berubah drastis. Dia tersenyum tipis. "I want you, Nick," ucapnya sambil mencium bibir Nickolas tiba-tiba.
Nickolas melebarkan matanya sedikit, detik berikutnya ia mencumbu balik kekasihnya. Dengan mata terpejam lidah Nickolas berselancar ria di rongga mulut Isabella. Kini lidah sepasang kekasih itu saling melilit satu sama lain.
"Eungh..." Isabela menjauhkan wajahnya seketika. Dadanya tampak naik dan turun, sepasang mata berwarna hitam itu menatap penuh damba sang kekasih.
"Sayang, ayo kita bermain di kamar." Isabella merangkul lengan Nickolas, hendak berjalan menuju kamar pacarnya.
Nickolas gelisah. Teringat Selena ada di dalam kamarnya sekarang. Secepat kilat ia menahan tangan Isabella. "Sayang, bagaimana kalau kita bermain di ruang tamu saja?"
"Ruang tamu? Tumben sekali?" tanya Isabella keheranan. Sebab biasanya Nickolas akan bermain bersamanya di dalam kamar.
Nickolas mengaruk kepala. "Itu-itu aku–"
"Aku tahu, kau pasti mau mencoba gaya baru Kan?" potong Isabella cepat tanpa banyak kata ia langsung menarik tangan Nickolas, menuntunnya menuju ruang tamu.
Di sepanjang langkah, Nickolas menghela nafas berkali-kali karena hampir saja membuat macan mengaum. Namun belum sampai ruang tamu langkahnya terhenti.
"Nickolas! Koper siapa itu!?" tanya Isabella sembari menunjuk koper berwarna pink di pojok pintu penghubung antar ruangan.
Kini jantung Nickolas berdetak 20.000 kali lipat saat melihat koper milik Selena masih berada di luar.
Si@l! Bagaimana ini?
"Nick!" Isabella merasa ada yang tidak beres.
"Ah itu- tu koper adikku, Lunna A, kau kenal kan?" Nickolas tergagap-gagap. Dia membuat alibi dengan memakai nama adiknya yang kebetulan seorang model terkenal di Los Angeles juga.
"Lunna A, adikmu?" Isabella memicingkan mata. "Mengapa ada kopernya di sini?"
"Kemarin dia dan suaminya menginap di apartment-ku dan kopernya ketinggalan, besok atau lusa aku akan mengembalikan kopernya." Sebisa mungkin Nickolas menyakinkan Isabella.
Isabella tak langsung menjawab, menatap curiga pada sang kekasih.
"Kau tidak bohong Kan, Nick? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanyanya dengan menatap tajam.
"Haha! Sayang, untuk apa aku berbohong, ayo sekarang kita ke ruang tamu!" Nickolas tersenyum hambar kemudian menarik tangan Isabella.
"Lepas!" Isabella mengibaskan tangan Nickolas tiba-tiba. "Kita main di kamar saja!" ucapnya sambil melangkah cepat menuju kamar Nickolas.
Nickolas kalang kabut dan segera mengikuti Isabella.
"Sayang, kita main di ruang tamu saja, di kamar panas sayang." Nickolas tak kehabisan akal. Berharap sang kekasih mau menuruti perkataannya.
"No! Ada apa di kamarmu? Apa kau menyembunyikan sesuatu?!" Isabella semakin mempercepat langkah kakinya.
"Tentu saja tidak sayang." Nickolas sudah mulai berkeringat dingin. Dia merasa ajalnya akan segera mendekat.
"Ya sudah! Kita main di kamar saja!" Isabella mendengus sesampainya di depan pintu kamar, langsung memutar gagang pintu.
Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosaku!
Nickolas memejamkan matanya sesaat. Memanjatkan doa pada Sang Pencipta. Sebelum Isabella mengamuk padanya.
"Sayang, mengapa kamarmu sangat berantakan? Kasihan sekali kekasihku ini, karena sibuk berkerja tidak sempat membersihkan kamarnya." Isabella melemparkan pandangan ke arah Nickolas yang tengah memejamkan matanya.
Mendengar perkataan Isabella. Nickolas membuka cepat matanya. Mengamati kamarnya seperti kapal pecah dan tak melihat keberadaan Selena. Tampak buku-buku, pulpen, dan bantal berserakan di atas lantai.
Di mana wanita gila itu? Apa yang dia lakukan dengan kamarku?
"Sayang." Isabella mendekat kemudian menampilkan wajah bersalahnya. "Maafkan aku tadi sempat curiga padamu."
Nickolas menghembuskan nafas berat."Tidak apa-apa sayang, wajar kau curiga, aku tidak mau kau melihat kamarku yang berantakan ini."
"Sayang, kau benar-benar pria idamanku." Isabella terkekeh. "Walau berantakan aku tak mempermasalahkan hal itu, ayo kita bermain di sini. Aku sudah tak tahan sayang."
Sebelum Nickolas menanggapi perkataannya. Isabella langsung menarik dasi Nickolas kemudian mencium rakus pacarnya itu.
Sementara itu, di dalam lemari pakaian. Selena mengintip dari sela-sela pintu lemari, melihat sepasang kekasih itu saling mencumbu satu sama lain sekarang.
Aku seperti seorang simpanan yang tengah bersembunyi dari istri sah dan selingkuhanku!
Menyebalkan sekali! Mengapa aku tadi bersembunyi sih?! Bodoh sekali kau Selena!
Selena merutuki dirinya karena masuk dalam permainan Nickolas.
What? Apa yang mereka lakukan?
Monolog Selena lagi di dalam hati sambil melihat Nickolas dan Isabella membuka pakaiannya masing-masing.
Oh.. Jadi ular piton itu yang mengambil mahkotaku semalam.
Tunggu dulu. Apa Nickolas sengaja live streaming di depanku?
Oh my God! Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus segera keluar.
Selena mulai mendorong lemari pintu Nickolas.
terimakasih author 👍👍👍👍