Bertahun- tahun Arini berusaha menjadi istri yang baik buat Ilham. Dan menantu yang penurut untuk Bu Lastri.
Atas permintaan Ilham. Arini terpaksa melepas posisinya yang cukup bagus di sebuah perusahaan swasta. alasanya Ilham ingin Arini menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.
Namun seiring waktu, karier Ilham yang terus melejit membuat perubahan sikap mertuanya. Arini masih bernafas lega, karna Ilham selalu membelanya.
Puncaknya ketika sebuah rahasia terungkap. Ilham telah mengkhianatinya. Dia berselingkuh dengan Anita, sahabatnya sendiri. Alasannya sepele, yaitu Arini yang tak kunjung hamil. Berbagai konflik mulai terjadi.
Ilham yang berbakti menjadi buta hatinya. Ia selalu menuruti apapun yang di katakan ibunya.
Di tengah keterpurukannya, Denis datang sebagai penyelamat.
Akankah Arini memperjuangkan Ilham? ataukah memilih Denis menjadi partner hidupnya?
Kita ikuti kisah selengkapnya yuuk!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Tidak usah tertawakan ibu! memang lidah orang tua beda sama lidah anak jaman sekarang!" Bu Lastri masih saja mengomel sambil menyantap hidangan yang di masak Arini.
"Oh ya Bu, ibu ingat Anita?" tanya Arini saat Bu Lastri menyudahi makannya.
"Iya, kenapa?" jawab mertuanya cuek.
"Tadi dia kesini, di sudah beda sekali lho sekarang." kata Arini dengan kagum.
"Pasti lah, kau saja yang tidak bisa berubah!" suara Bu Lastri sangat enteng tanpa beban.
Arini menanggapinya dengan tersenyum.
" Hidup itu pilihan Bu, kalau aku memilih maju dan berkarier, siapa yang akan mengurus ibu dan keluarga ini?" jawab Arini bijak.
Bu Lastri terdiam. tanpa bicara lagi dia masuk ke kamarnya.
Malam harinya, Ilham menelpon bahwa ia tidak bisa pulang dalam tiga hari, karna ada tugas tambahan.
"Aku akan bawakan oleh-oleh yang spesial buatmu kali ini!" janji Ilham lewat telpon.
"Aku tidak butuh oleh -oleh ataupun hadiah. yang aku mau, kau cepat pulang dengan selamat. itu sudah cukup!" jawab Arini.
"Terimakasih atas pengertianmu Rin!" terdengar suara Ilham lagi.
Tak lupa juga Arini menyinggung tentang kedatangan Anita sore tadi.
Namun tanggapan Ilham biasa saja, dia tidak bertanya Anita tinggal dimana atau yang lainnya. tak seperti dugaan Arini, , Ilham akan teriak histeris. mengingat mereka berpisah sudah begitu lama.
Namun tidak,,Ia lebih antusias bertanya tentang ibu, Siska dan tetek bengek lainya.
" Jadi tinggal dua hari lagi nih pulangnya?"
tanya Arini. Ilham menjawab iya. tak lupa Ilham berpesan pada istrinya, untuk keluar jalan-jalan selama dia belum pulang.
Besoknya, Arini merasa gerah juga di rumah sendirian. Bu Lastri pergi bersama teman-temanya. sedangkan Siska belum pulang kuliah.
Tiba-tiba ia teringat Anita.
"Apa aku telpon Anita saja ya,? kemarin dia janji mau ngajak aku keluar!"
pikir Arini gembira.
Tapi Ia mendesah kecewa.
Anita ternyata tidak bisa datang Karna ada sebuah kesibukan. Namun ia berjanji kalau kesibukannya sudah selesai, dia akan menepati janjinya untuk membawa Arini jalan-jalan.
"Yaah sendirian lagi deh!" gumamnya kecewa.
Saat itu seorang tetangga yang deket rumah datang tergopoh.
"Rin, bisa tolong pegangin Arka sebentar? aku belum masak, sebentar lagi suamiku pulang." ucapnya memohon.
"Boleh banget mbak, kebetulan aku sudah selesai beberes!" kata Arini sambil mengambil Arka dari gendongan ibunya.
Anak yang baru berusia satu setengah tahun itu anteng dalam pelukan Arini.
Setengah jam kemudian,
Bu Lastri datang dari berpergian.
Ia tertegun saat melihat Arini memangku Arka.
"Itu, nenek pulang. Salim dulu!" ucap Arini berbasa basi.
"Si Yuni nitip anak lagi?" ujar Bu Lastri kurang suka.
"Tidak apa-apa lah Bu, lagian aku sudah selesai beberes." tukas Arini.
Bu Lastri hanya melirik sekilas ke arah Arka.
"Buatkan ibu teh!"
Arini bangkit dari duduknya.
"Arka.. sama nenek dulu ya..! tante mau bikin teh." ucapnya sambil menitipkan Arka pada mertuanya.
Bu Lastri menerima Arka dengan enggan.
Namun belum lama dia menemani bocah itu bermain.
"Kenapa tiba-tiba aku kebelet kencing." ucapnya sendiri.
Ia sempat ragu meninggalkan Arka sendiri. tapi karna merasa sudah tidak tahan lagi,
"Ah, dia tidak akan kemana-mana, toh di dalam rumah juga." ucapnya meninggalkan Arka bermain sendiri.
Arini yang sedang di dapur menyiapkan teh.
"Biar sekalian aku hangatkan sayur ini dulu, mumpung Arka di jagain ibu!" gumamnya sendiri.
"Setelah beberapa menit Arini kembali keruang tengah.
"Arkaa..! ibu ini tehnya!"
Arini meletakkan teh di meja.
Dia merasa heran karna Arka dan mertuanya tidak kelihatan.
Bu Lastri keluar dari kamar mandi.
"Bu mana Arka?". tanya Arini heran karna Arka tak bersama Bu Lastri.
"Lah, ibu pikir sama kamu, tadi ibu tinggal kencing sebentar." jawab Bu Lastri tak mau kalah.
"IBuu, kan aku titipkan ke ibu,!" sesal Arini.
Bukanya merasa bersalah, Bu Lastri malah menyalahkan Arini.
"Makanya, siapa suruh jagain anak orang, harusnya kau itu jagain anak kamu sendiri!" ucap Bu Lastri dengan pongahnya.
Arini merasa tidak ada gunanya berdebat. Ia berlari keluar untuk mencari Arka.
Di depan dia berpapasan dengan Yuni yang sudah menggendong Arka.
"Arka?" Arini kaget bercampur lega.
"Kenapa Arka bisa sampai berlari ke jalanan Rin?" suara Yuni terdengar gusar.
Arini maklum. ibu mana yang tidak akan kaget mengalami hal seperti Yuni.
"Maaf mbak Yun, Arka aku tinggal kedapur sebentar, tapi dia sudah ku titipkan pada ibu..."
"Oow bagus ya! jadi maksudmu, ibu yang membuat anak kecil itu keluar ke jalanan?"
"Bukan begitu maksud Arini Bu!"
"Allaah, sudah lah, sudah ketangkap basah baru bilang begitu! memang jadi mertua itu serba salah ya!" omel Bu Lastri.
"Kalau memang tidak bisa, bilang dong Rin. saya tidak akan maksa untuk minta tolong kalau keselamatan Arka jadi taruhannya!" ucapan Yuni sangat menohok.
Yuni pulang membawa rasa sesal yang dalam.
Arini tak habis pikir. kenapa sikap ibu mertuanya sangat kasar akhir-ahir ini, kadang dia berpikir, apakah gara-gara anak? entahlah.
sejak kejadian itu Bu Lastri jarang menyapa Arini.
Namun Arini berusaha tidak memasukkan dalam hati.
***
Hari yang di tunggunya tiba.
Ilham datang dengan membawa dua koper besar. yang satu berisi baju-baju kotornya. dan yang satu lagi tempat oleh-oleh.
Bu Lastri dan Siska bersuka cita dengan oleh-oleh dari Ilham.
Ilham terlihat lemas, seperti orang yang habis beraktivitas berat.
"Rin, badanku pegal berkali,, rasanya ingin memanggil tukang pijat." keluhnya sambil merebahkan tubuhnya di kasur.
"Kenapa harus tukang pijat. aku kan ada Mas!" ucap Arini menyombongkan diri.
Ilham tersenyum.
"Baiklah, aku mandi dulu ya!"
Arini mengangguk.
Setelah Ilham menghilang di balik kamar mandi.
Arini membongkar koper yang berisi baju kotor Ilham.
Tapi dia tertegun, Ia seperti mencium bau parfum lain seperti waktu itu.
Arini mencoba meyakinkan sekal lagi. itu memang bukan parfum suaminya.
Berbagai pikiran buruk menghinggapi benaknya.
"Kenapa Rin?" Ilham yang baru keluar dari kamar mandi merasa heran melihatnya termenung di dekat baju kotor yang berserakan.
Arini menatap wajah suaminya sekali lagi. tidak ada yang berubah. Masih Ilham yang tampan dan murah senyum.
Tak ada kecemasan dan rasa bersalah selayaknya seorang yang telah berbuat salah.
Arini mencoba tersenyum.
"Aku sudah mencurigainya tanpa alasan!" pikir Arini.
Setelah itu, Ia masih berusaha untuk bersikap biasa.
"Aku ada sesuatu yang spesial buatmu Rin!" ucap Ilham sembari membuka sebuah kotak kecil di tanganya.
"Apa itu Mas?" tanya Arini tersenyum.
Ilham memeluknya dari belakang. lalu memasangkan sebuah kalung yang bermata berbentuk hati ke lehernya.
"Mungkin ini harganya tidak seberapa, tapi ini adalah simbol ungkapan terima kasihku karna kau sudah mau menjadi bagian dari hidupku. sudah sabar menghadapi ibuku , perhatian pada Siska adikku, dan masih banyak lagi yang tak bisa ku sebutkan satu persatu."
Ilham membalik badan istrinya lalu mencium keningnya.
Arini sangat tersentuh oleh cara Ilham mengungkapkan perasaanya.
"Terimakasih Mas, hadiahmu indah sekali.!" ucapnya sambil mendekap kalung itu.
💞Hai hai.. mana dukunganya!
"