“Ajudan , cepat penggal kepala wanita itu. Ahahah” perintah Singkasa sambil memutar gelas yang berisi darah segar.
Suara tebasan leher yang dia sukai, darah mengalir deras di dalam kolam raksasa. Ratu Singkasa membenamkan diri menikmatinya. Kecantikan abadi berasal dari darah perawan yang telah dia tumbalkan. Setiap bulan purnama merah, dia tidak pernah berhenti mencari korban. Berita kehilangan para gadis yang di laporkan warga diabaikan oleh para petugas. Hingga pada suatu hari, seorang pendekar wanita berani melawan sampai meruntuhkan kerajaannya.
Siapakah wanita misterius itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Urung
“Hiks.. hiks”
Tangisan rintihan kesakitan di sambut suara bentakan Omga.
“Hei diam kau, atau aku robek seluruh wajah mu itu!”
Sementara, di depan kaca rias sang ratu Singkasa tersenyum mengusap pelan wajahnya. Kulit yang di kelupas paksa pada bagian seluruh wajah Bunga, seutuhnya di pindahkan oleh para tabib. Aroma amis, tetesan darah terasa perih hingga bermandikan keringat. Dia putus asa, ingin mengakhiri hidupnya yang sudah seperti kiamat.
“Akhirnya aku terlihat semakin awet muda. Ahahah.”
Di dalam angan-angan dia menunggu kapan pangeran Eden menepati janjinya. Lamunan buyar terhentak hingga menjatuhkan sebuah botol bahan hias. Dayang Rasma berlari hingga dia lupa memberi salam hormat. Gelagapan mengatakan hal yang tidak terlalu fasih.
“Dayang tolong tenangkan diri mu, apakah kau mau mengatakan mendapat lebih banyak gadis perawan hari ini?”
“Ampun kan saya wahai Ratu, di luar sana para petugas kerajaan yang di pimpin oleh penjaga Yeti mau menanyakan penjara ruang bawah tanah.”
“Katakan padanya bahwa jangan ada yang mendekati tempat itu atau menyebar luaskan keberadaannya. Penjara itu khusus orang-orang yang terkait di dalam kasus konsvirasi jadi hanya aku dan orang-orang pilihan ku yang di perbolehkan masuk.”
“Wahai ratu, si penjaga istana itu berwatak keras. Aku saja tadi di usirnya saat menahannya menggeledah ruangan kebesaran.”
“Lancang sekali dia! Jika dia bukan anak perdana menteri hakim maka aku sudah menjadikannya makanan ikan piranha!”
Dia berjalan cepat mencari sang penjaga. Di depan alun-alun sang penjaga menggunakan kompas menentukan arah barat. Namun langkah kakinya berhenti melihat kedatangan sang ratu. Di balik senyumannya yang cantik mematikannya, sang ratu berencana memanfaatkan Yeti sebagai biduk catur demi memenangkan posisinya kembali.
“Berhenti disana!” bentak sang ratu.
Tatapan tajam menatap sang ratu. Dia memperhatikan bekas darah di pundaknya. Alis kiri naik ke atas berjalan sedikit mendekat. Kaki sang ratu berjalan mundur, dia mengepal tangan mengayunkan ke wajah Yeti tapi dia tahan kembali. Tidak mau bemasalah lebih dalam dengan si penjaga istana, sang ratu pergi meninggalkannya dengan memberikan titah pada sang dayang.
“Hormat untuk penjaga istana, sang ratu memerintahkan agar segera mengawal rombongan para bangsawan yang akan keluar perbatasan.”
Siang hari di sambut semilir udara hangat. Beberapa kereta kuda di iringi penjagaan sang penjaga istana. Dia memimpin barisan paling depan, sepanjang perjalanan memikirkan suatu pintu rahasia yang dia temukan di salah satu tempat di istana.
“Kalau saja para pasukan khusus ratu tidak mencegah ku pasti aku tau apa isi di dalamnya” gumam sang penjaga.
Beberapa saat lalu ketika sang penjaga istana melihat sebuah pintu aneh di dekat patung. Dia dia membuka paksa menggunakan kekuatan tenaga dalamnya. Simbol kepala tengkorak, benda itu seolah penghubung menuju ke suatu tempat.
“Penjaga istana, ini adalah wilayah khusus kekuasan ratu yang di tugaskan pada kami.”
......................
Di penjaga bawah tanah.
Bunga masih meringkik menekuk lutut menahan rasa sakitnya. Dia menahan makan dan minum. Mengingat para pengantar makanan para tahanan selalu mencampur pasir atau hewan-hewan kecil di dalamnya. Dia juga menahan dahaga, tetesan samangkuk air yang tampah berwarna putih terasa seperti campuran arah yang sangat menyengat.
“Kalau kau menyiksa diri seperti itu bagaimana bisa kau membalaskan dendam mu?”
“Bagaimana bisa aku membalas dendam dengan keadaan seperti ini?”
“Aku dengar kau bisa merias, seharusnya kau mencari cara agar ratu iblis menempatkan mu sebagai dayang khusus merias wajahnya”
Mendengar perkataannya , Bunga berteriak meminta penjaga membawanya menghadap sang ratu.
Di dalam salah satu sel itu ada seorang wanita yang sebenarnya bukan calon wanita persembahan. Para tahanan dan penjaga tidak menyadari sosok wanita berambut panjang berkuncir satu itu. Selama di dalam sel, dia membaca setiap gerak gerik dan perkembangan apapun di dalamnya. Tepat pada jam watu istirahat, seluruh para tahanan wanita berkumpul di halaman penjara. Tantrum mengamati sebuah pohon yang menjulang tinggi meski tidak di sinari cahaya matahari di atasnya.
Banyak rumor yang mengatakan bahwa penjara istana bawah tanah berada di dalam air yang terhubung di salah satu sungai ataupun kolam yang berada di halaman istana. Tantrum lebih mendekat menyentuh batang pohon. Pandangannya beralih melihat sebuah patung raksasa yang berada di setiap pintu halaman istana.
“Hei mau kemana kau! tetap pada tempat mu!” bentak pengawal mengarahkan senjata ke arahnya.
“Berani juga nyali mu, baru kali ini aku melihat ada gadis yang tampak sedang merencanakan sesuatu.”
“Apa maksud ucapan mu?”
“Kita bisa bekerjasama jika kau mau.”
Pada malam yang larut, Trantrum menggunakan kekuatannya menembuh keluar sel berjalan melewati penjaga. Dia mengambil kunci yang bergantung di pinggangnya. Namun gerakan terhenti mendengar rintihan seorang gadis kecil di salah satu sel lainnya. Trantrum segera meletakkan kunci itu kembali dan masuk ke dalam selnya.
“Hikss,, ibu!”
“Siapa yang menangis? Berisik sekali!” ucap si penjaga membalakak melihat tahanan gadis kecil itu terlihat sedang menggigil kedinginan.
“Penjaga sepertinya dia sedang sakit, tolong bawakan tabib. Dia sudah terlihat sangat sekarat” ucap perempuan yang berada di dalam sel yang sama.
“Apa kau bermimpi? Membawakan tabib sama saja membawa nyawaku sendiri ke sang ratu!”
“Ku mohon kasian anak kecil ini.”
“Diam! Sekali lagi kalian berisik maka aku akan langsung membawa kalian ke kolam kematian!”
Si penjaga melanjutkan tidurnya, dia masih sangat ngantuk cepat sekali dia tertidur dan mendengkur.
......................
Di dalam ruangan kebesaran sang ratu melengos melihat Sida. Dia membungkuk berlutut meminta ampun atas sikapnya. Sida mengatakan ingin menjadi perias wajahnya yang bisa di andalkan. Sang ratu masih sibuk di depan cermin memilih alat rias itu menjawab dari depan cermin.
“Apakah kau tau siapa wanita paling cantik di negeri ini?”
“Tentu saja yang Mulia ratu adalah wanita tercantik nan mempesona dari seluruh negeri” jawab Sida.”
“Apa kau yakin?”
“Ratu, nyawa ku taruhannya jika mengingkari perkataan ku.”
Sang ratu memerintahkan Sida untuk meriasi wajahnya. Dia menyuruhnya memilih alat dan bahan kosmetik yang berkualitas paling bagus. Sida merias wajah sang ratu hanya membutuhkan waktu lima belas menit lamanya. Dia menyodorkan kaca kecil agar sang ratu bisa lebih leluasa mengamati setiap detail polesan riasan itu.
“Mmhhh, lumayan juga riasan mu” ucap sang ratu.
Dia tersenyum melihat kaca itu, pandangan tidak henti menatap kecantikan yang ada padanya. Dia meneguk secangkir minuman berwarna merah yang terletak di atas meja. Aroma amis menyengat membuat Sida ingin mengetahui minuman apa yang konsumsinya. Selesai meneguk habis, sang ratu meletakkan kembali gelas. Sida membungkuk meraih gelas lalu menuju ke sisi dapur ruangan di sebelahnya.