Luna Xaviera, gadis berusia 18 tahun terpaksa harus menikah dengan seorang pria yang tak lain adalah gurunya sendiri Devan Alexander.
Pernikahan yang tanpa di dasari rasa cinta di antara keduanya akankah berakhir dengan bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil dan menuju ke butik milik Vienna, kakak tiri Luna yang berada di tengah kota. Perjalanan yang cukup jauh karena membutuhkan waktu selama satu jam.
Ekhem.
Devan mencoba mencairkan suasana karena sejak tadi tidak ada obrolan diantara mereka berdua. Luna lebih sering melihat keluar jendela sedangkan Devan fokus dengan laptopnya.
"Bisa tolong ambilkan air minum di depan kamu Luna." ucap Devan sengaja membuat tatapan gadis itu teralihkan.
Sedangkan Leon yang sejak tadi fokus menyetir merasa aneh dengan tingkah Devan. Pria itu terlihat mencuri pandang sekilas pada Luna.
Leon tersenyum dan kembali menatap lurus ke depan. Dia lebih baik pura-pura tidak melihat apapun daripada Tuannya yang dingin itu murka padanya.
"Ini....." ucap Luna seraya memberikan satu botol air kemasan dengan tutup berwarna biru. Tapi gadis itu sama sekali tidak menoleh ke arah Devan.
'Ayolah Devan, ada apa denganmu. Kenapa kamu ingin sekali gadis ini melihat ke arahmu'
"Pak botolnya ada di sini," Luna merasa sedikit risih. Bukannya mengambil botol tersebut, Devan malah menggenggam pergelangan tangannya erat.
Puftth!
Leon menahan tawa melihat raut wajah tuan Devan yang menahan malu sekaligus kesal. Bagaimana bisa dia gagal fokus dan malah menggenggam tangan Luna.
"Oh maaf, kamu tahu kan saya sedang fokus bekerja."
Ya, selain bekerja sampingan menjadi Guru. Devan adalah seorang Ceo di salah satu perusahaan ternama. Tidak heran jika waktunya terbagi menjadi dua.
Tak terasa mobil mereka sudah sampai di depan butik milik Vienna. Keduanya turun dan masuk ke dalam.
Di sana, mereka sudah disambut oleh Clarissa dan juga Vienna sendiri yang sengaja meluangkan waktu demi adiknya tersayang.
"Selamat sore Nyonya Clarissa." sapa Devan pada calon Ibu mertuanya.
"Selamat sore Devan. Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Clarissa memeluk sekilas calon menantunya dan bergantian memeluk Luna.
"Seperti yang anda lihat Nyonya."
Luna memutar bola mata malas melihat interaksi di antara keduanya. Bukan karena cemburu, seharusnya ia berada di bioskop dan menonton film kesukaannya bersama Aldo sekarang. Film yang selama ini Luna tunggu rilisnya.
Melihat raut wajah Luna yang kesal membuat Devan menghela nafas. Ia tau apa yang ada di pikiran gadis itu.
"Bisakah kita percepat Nyonya, saya sibuk hari ini."
Clarissa mengangguk dan menyuruh Vienna untuk menyiapkan pakaian yang akan putrinya pakai di hari pernikahan lalu mengajak Luna bersamanya.
Sedangkan Clarissa, ia menemani Devan. Menunggu di luar ruangan ganti.
"Kak, apa aku harus memakai ini?" ucap Luna yang merasa risih karena harus mengenakan gaun tanpa lengan dan sedikit terbuka di bagian dada.
"Tentu saja. Aku yang mendesain sendiri dan pasti sangat cocok saat kamu pakai Luna."
Vienna membantu Luna memakaikan gaun pengantin tersebut. Gaun berwarna putih dengan manik berwarna senada membuat Luna terlihat cantik dan elegan.
''Sekarang keluarlah dan perlihatkan pada calon suamimu.''
''Tapi kak aku malu, ini terlalu terbuka dan seperti bukan diriku sama sekali.'' keluh Luna karena selama ini terbiasa memakai kaos oblong dan sekarang harus memakai gaun.
"Kamu cantik bodoh! Calon suamimu pasti terpesona melihat kecantikan mu yang kamu tutupi selama ini.'' ujar Vienna memapah Luna dan mengajaknya keluar. Bermaksud memperlihatkan apa yang dipakai adiknya pada Devan.
''Permisi tuan Devan, calon mempelai wanita sudah siap.''
Luna berjalan malu-malu dan bersembunyi di belakang Vienna, namun tak berselang lama gadis itu menunjukkannya pada Devan.
Deg.
Devan menganga tidak percaya dan mengedipkan mata berkali-kali saat melihat Luna. Gadis bar-bar yang selalu berpenampilan tomboy berubah dalam sekejap mata bak seorang putri di negeri dongeng.
"Tuan air liur anda." bisik Leon lirih.
Dengan segera Devan mengelap air liurnya yang sedikit menetes dan kembali bersikap cool seakan tidak terjadi sesuatu.
"Bagaimana Devan? Cantik bukan?" tanya Vienna menoleh dagu Luna yang sejak tadi menunduk.
"Biasa saja." jawabnya singkat.
"Bisakah kamu mengganti gaunnya? Tidak cocok sama sekali dengan penampilannya."
"Apa?" Luna tidak percaya dengan apa yang baru saja Devan katakan. Kesal? Tentu saja. Karena membutuhkan banyak waktu hanya untuk memakai gaun itu.
'Enak saja, aku tidak akan membiarkan pria lain melihat tubuh indah mu' batin Devan dalam hati lalu keluar meninggalkan ruangan untuk menghubungi seseorang.
Luna menjejakkan kaki ke lantai karena harus mencoba beberapa gaun lagi untuk ditunjukkan pada calon suaminya yang menyebalkan itu.
*
*
*
Malam menjelang, setelah lelah mencoba beberapa gaun yang menurut Devan cocok dan sesuai dengan kemauannya. Mereka memutuskan untuk pulang. Kini keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Kita pergi ke suatu tempat dulu sebelum pulang." ucap Devan melirik sekilas ke arah Luna. Gadis itu sama sekali tidak bergeming dan fokus pada layar ponsel.
"Siapa yang kamu hubungi Luna." tanya pria itu dengan sedikit menekan ucapannya.
"Bapak kepo! Ini privasi saya jadi--" belum selesai Luna bicara, Devan mengambil ponsel gadis itu dan melemparnya keluar.
Luna melotot melihat apa yang Devan lakukan.
"Ponsel kesayanganku! Apa yang Bapak lakukan! Arghh!" Luna mengacak-acak rambut frustasi lalu memukul dada Devan berulang kali.
"Nanti saya akan mengganti nya dengan yang lebih bagus dan mahal. Kamu tau kan, saya tidak suka jika lawan bicara saya--"
"Puas! Sekarang aku mau turun di sini!" bentak Luna penuh emosi ke arah Devan. Terlihat genangan air mata yang sebentar lagi akan menetes dari kedua sudut matanya.
Bagi Luna bukan masalah berapa harga ponselnya, tapi di sana ada beberapa foto mendiang Ibunya. Karena hanya itu kenang-kenangan yang Luna miliki.
"Turunkan saya disini!"
"Tidak, saya akan tetap mengantar kamu pulang."
"Aku mau turun!" pekik Luna membuat Leon menginjak rem mendadak.
Brakk!
Luna turun dan naik taksi, melewati mobil Devan begitu saja.
"Tuan, sepertinya anda sudah keterlaluan."
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya di lakukan oleh calon suami saat istrinya sibuk membalas chat pria lain."
"Tapi tuan seharusnya anda memaklumi kalau Nona Luna masih ingin bersenang-senang seperti anak seumuran nya." ucapan Leon membuat Devan berpikir sebentar lalu menyuruh asistennya menyusul taksi yang dinaiki Luna.
"Kejar dan jangan sampai kehilangan jejak Leon!"
"Baik Tuan."
...----------------...
ckk.. sok sokan nggak peduli aslinya cemburu