NovelToon NovelToon
The Light We Found

The Light We Found

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: Tr_w

Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.

Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.

Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4

"Sepertinya yang khawatir itu bukan aku, tapi kamu. Kenapa? Apa Jordan tidak memilihmu dan malah memilihku? Perlu aku sampaikan lagi pernyataan cintamu padanya?"

"Tirta!" geram Elisa dengan wajah penuh kesal. Entah kenapa, justru dirinya yang terlihat lebih tersulut emosi.

Kenapa aku tidak merasa cemburu sedikit pun? Sejak kapan perasaan ini menghilang?

Apa sudah saatnya aku pergi?

Batinnya mulai mempertanyakan semua yang selama ini terjadi.

Di saat Tirta masih tenggelam dalam pikirannya, entah bagaimana gadis di depannya itu tiba-tiba terjatuh dengan keras ke lantai. Bahkan kursi yang tadi didudukinya ikut bergeser dan membentur lantai dengan suara nyaring.

Brak!

"Akhh!!"

Elisa menjerit sangat keras.

Teman-teman mereka langsung menghampiri dan membantu Elisa berdiri. Mendengar keributan itu, Jordan dan Bobby segera keluar dari belakang restoran.

Sementara Tirta hanya berdiri dengan wajah kebingungan, alisnya bertaut.

Tunggu dulu... apa aku sedang berada di situasi seperti drama-drama itu? Apa gadis bernama Elisa ini terlalu sering menonton sinetron? Tirta justru tersenyum tipis pada pikirannya sendiri.

"Kamu tidak apa-apa, Elis? Kenapa bisa jatuh?" Edwin terlihat begitu panik. Sepertinya pria itu memang memiliki ketertarikan kepada Elisa.

Siapa juga yang tidak tertarik? Elisa memang terlihat sangat cantik, berkulit putih, dan memiliki wajah yang begitu polos.

Meski sayangnya... isi hatinya tidak sepolos penampilannya.

Di dalam lingkaran pertemanan itu, hanya Elisa satu-satunya perempuan. Dan sepertinya ia memang sangat haus akan perhatian sekaligus ingin selalu menjadi pusat perhatian.

"Aku tidak apa-apa. Tadi aku cuma ingin mengobrol dengan Tirta, tapi sepertinya dia tidak mau berteman denganku. Tidak apa-apa... nanti aku coba lagi." Ucap Elisa sambil sesekali mengusap lututnya yang memerah.

Permainan psikologi.

Batinnya langsung memahami arah permainan gadis itu.

"Kamu benar-benar ya, Tirta. Elisa datang dengan niat baik, tapi kamu malah bersikap sombong seperti ini?" Edwin langsung menyudutkan Tirta dengan tatapan yang begitu meremehkan.

"Sudahlah. Dia baru pertama kali datang ke sini, mungkin masih sedikit canggung." Elisa menahan lengan Edwin, seolah ingin menenangkan pria itu.

"Kampungan." Umpat Edwin sambil melengos karena sudah ditenangkan oleh wanita pujaannya.

"Minta maaf saja. Setidaknya dengan begitu semuanya selesai. Elisa bukan orang yang pendendam, dia pasti akan memaafkanmu."

Bobby mencoba menengahi. Ia tidak ingin keributan itu berlangsung lama karena restoran sedang ramai oleh pengunjung.

Tirta kemudian menoleh kepada Jordan.

"Kamu juga ingin aku minta maaf?" Jordan masih diam. Ia sama sekali tidak membela Tirta.

Bahkan... bertanya pun tidak.

Melihat sikap pria itu, Tirta kembali teringat pada kehidupannya selama ini.

Bukan hanya sekarang.

Dulu, di keluarganya...

Lalu di tempat kerjanya...

Tidak pernah ada yang benar-benar bertanya apa yang sebenarnya ia alami. Bagaimana kejadian yang sesungguhnya. Semua orang hanya lebih memilih mendengarkan pihak yang suaranya lebih keras. Validasi yang selama ini ia cari memang terkadang diberikan.

Namun...

Tidak pernah benar-benar dipercaya.

"Minta maaf saja, supaya semuanya cepat selesai." Ucapan Jordan membuat dada Tirta semakin sesak.

"Kamu bahkan tidak bertanya bagaimana aku menjatuhkannya." Suara Tirta mulai bergetar. Tatapannya kini benar-benar lurus menatap Jordan.

"Bukan begitu. Aku cuma ingin semuanya selesai. Hari ini hari yang bahagia. Jangan sampai rusak hanya karena masalah kecil seperti ini." Jordan menggenggam tangan Tirta. Namun tatapan kecewa gadis itu tidak berubah sedikit pun.

"Penyelesaian sepihak?"

Tirta tersenyum tipis.

"Baik. Akan aku lakukan." Tatapan matanya kemudian beralih kepada Elisa. Tatapan yang kali ini dipenuhi kemarahan.

"Maaf, Elisa... karena aku tidak benar-benar mendorongmu." Semua orang langsung terdiam.

"Maaf juga karena saat kamu menyatakan perasaan sukamu kepada Jordan, aku tidak langsung menamparmu." Wajah Elisa perlahan berubah pucat.

"Harusnya sekalian saja aku jambak rambutmu dan menyiram wajah polosmu itu." Suasana restoran langsung menjadi hening. Semua mata kini tertuju kepada Elisa.

"Apa maksud ucapanmu, Tirta?" Jordan tampak panik. Tirta hanya terkekeh pelan.

Jadi... ternyata dia memang sudah tahu.

"Kenapa? Sepertinya kamu sudah tahu tentang itu. Kalau begitu, buat apa aku menjelaskan lagi?"

"Tirta, jangan mengada-ngada. Elisa tidak sepicik dirimu." Edwin kembali menyindir dengan nada penuh kemarahan.

"Aku tidak peduli kalian mau percaya atau tidak." Tatapan Tirta menyapu wajah mereka satu per satu.

"Setidaknya jejak digital tidak akan pernah berbohong."

Ia menunjuk ke arah sudut ruangan.

"Di sini ada banyak CCTV. Tapi lucunya, kalian sudah lebih dulu menuduh orang tanpa bukti." Setelah mengucapkan itu, Tirta langsung berbalik dan berjalan keluar.

Ia sudah lelah.

Terlalu lelah menghadapi semua drama dalam hidupnya.

Sekarang... Masih harus ditambah drama percintaan seperti ini.

"Aku sungguh tidak mengatakan itu..." Tangis Elisa kembali pecah. Tangisan buaya.

Namun Tirta sudah tidak peduli. Lagipula, ia tidak akan rugi hanya karena tidak menanggapi sandiwara gadis itu.

"Aku percaya sama kamu. Tenang saja." Edwin langsung menenangkan Elisa.

Padahal...

Yang sebenarnya ingin ditenangkan oleh gadis itu adalah Jordan. Sayangnya, pria tersebut justru mengejar Tirta keluar restoran.

"Siapa yang salah dan siapa yang benar nanti akan ditentukan oleh rekaman CCTV." Bobby berjalan menuju kasir.

Namun sebelum ia sampai di sana, Elisa yang mulai panik karena takut semuanya terbongkar tiba-tiba memejamkan mata dan berpura-pura pingsan. Seketika suasana restoran kembali menjadi ricuh.

Semua orang panik.

Sementara di luar restoran, sepasang kekasih sedang berada di ujung perpisahan. Tirta tidak lagi ingin mendengar apa pun yang keluar dari mulut Jordan. Ia sudah terlalu muak.

Sudah cukup.

Ia benar-benar lelah.

"Kita putus." Kalimat itu keluar dengan sangat mantap. Keputusan yang akhirnya ia ambil setelah terlalu lama bertahan.

"Enggak! Aku tidak mau! Kita tidak bisa putus." Jordan langsung menolak.

"Berhentilah, Jordan." Suara Tirta terdengar jauh lebih tenang daripada sebelumnya. "Aku lelah."

Ia menatap pria di depannya untuk terakhir kalinya.

"Aku sudah muak. Kesempatan yang kuberikan sudah habis. Sepertinya kita memang tidak berjodoh." Ia menarik napas panjang.

"Kita lanjutkan hidup kita masing-masing saja." Setelah mengucapkan itu, Tirta menaiki motornya dan mengenakan helm.

"Setidaknya biarkan aku mengantarmu pulang. Ini sudah malam." Jordan kembali menggenggam tangan Tirta.

Namun kali ini, Tirta langsung menepisnya dengan kasar.

"Apa kamu sudah lupa? Selama ini aku sering pulang larut malam sendirian." Tatapan Tirta begitu dingin.

"Apa kamu benar-benar sudah melupakan itu?" Tanpa menunggu jawaban, ia menyalakan motornya lalu melaju meninggalkan tempat itu.

"Bro... ternyata memang Elisa yang jatuh sendiri."

Bobby datang sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Raut wajahnya dipenuhi rasa bersalah kepada Tirta. Jordan mengepalkan kedua tangannya.

"Brengsek! Bangsat!!" Amarahnya akhirnya meledak. Ia menendang salah satu pot bunga hingga pecah berkeping-keping. Tanpa berpikir panjang, Jordan kembali masuk ke dalam restoran.

Sepertinya...

Malam ini bukan hanya menjadi akhir hubungan asmaranya.

Melainkan juga awal dari putusnya persahabatan yang selama ini ia pertahankan.

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!